<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364</id><updated>2012-02-15T23:51:38.187-08:00</updated><category term='Mariska Uung'/><category term='Sulialine Adelia'/><category term='Benny Ramdhani'/><category term='Benny Rhamdani'/><category term='Merlin Herlina'/><category term='S. Gegge Mappangewa'/><category term='Joanna Octavia'/><category term='Indra Trenggono'/><category term='Lan Fang'/><category term='Monita Gunawan'/><category term='Reni Erina'/><category term='A. Mustofa Bisri'/><category term='T. Sandi Situmorang'/><category term='Yeni Andriaty'/><category term='Ryana Mustamin'/><category term='Mariana Amiruddin'/><category term='Ganda Pekasih'/><category term='Kurnia Effendi'/><category term='Embar T. Nugroho'/><category term='Gita Nuari'/><category term='Karen Angela'/><category term='BV'/><category term='Sara Nindya'/><category term='Satmoko Budi Santoso'/><category term='Martin Aleida'/><category term='Ade Tenu'/><category term='Pamusuk Eneste'/><category term='Aan Almaidah Anwar'/><category term='Putu Wijaya'/><category term='Lala Novrinda'/><category term='Wayan Sunarta'/><category term='Amril Taufiq Gobel'/><category term='review'/><category term='Nurhayati Pujiastuti'/><category term='SR'/><category term='Dewi Lestari'/><title type='text'>Cerpen ( Cerita Pendek )</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>87</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-1373102803293449305</id><published>2010-04-02T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T21:17:05.502-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SR'/><title type='text'>Online Casino Games Guide for USA Player</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/S7a9UnsUnOI/AAAAAAAAAYM/o02j5VgEytE/s1600/TBL-Go-Casino.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 173px; height: 51px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/S7a9UnsUnOI/AAAAAAAAAYM/o02j5VgEytE/s320/TBL-Go-Casino.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455756160555850978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;You don’t have any idea about what you should do to kill your boredom or spend your spare time. Well, actually there are a lot of things that you can do in this matter as long as you have an access to internet. You must have realized that internet is offering you everything that you need from daily needs that you can purchase online up to some fun.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Talking about fun, why don’t you spend your spare time in a fun way, for instance is playing online game. Casino games are some examples of kind of game that very popular worldwide from poker, blackjack, up to slots are the examples of casino games that you can play online. Some of you might be wondering about &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.lonelyheartscasino.com/2009/list-of-the-best-casino-games/" target="_blank"&gt;how to play casino games ?&lt;/a&gt; Especially casino games online. To answer your question, there is one site that you should give a visit in this matter; it is Lonelyheartscasino.com. Everything that you need to know about online casino games is available in this site.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Furthermore about this site is that they are one of the &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.lonelyheartscasino.com/2009/online-casino-games/" target="_blank"&gt;best online casino games for usa players&lt;/a&gt;. In the other words, if you are a USA player and looks for one good site to play casino games, this site is the best start for you to search.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-1373102803293449305?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/1373102803293449305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2010/04/online-casino-games-guide-for-usa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/1373102803293449305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/1373102803293449305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2010/04/online-casino-games-guide-for-usa.html' title='Online Casino Games Guide for USA Player'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/S7a9UnsUnOI/AAAAAAAAAYM/o02j5VgEytE/s72-c/TBL-Go-Casino.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-129382294943100202</id><published>2010-01-21T00:00:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T00:00:06.540-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karen Angela'/><title type='text'>Lagi-Lagi Uang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/S1fTQxel7fI/AAAAAAAAAXQ/pGklUcezyGs/s1600-h/lagilagiuang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/S1fTQxel7fI/AAAAAAAAAXQ/pGklUcezyGs/s320/lagilagiuang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429040160931442162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagi semua pengantin baru, apalagi pasangan muda, aku rasa honeymoon is a must. Sepertinya kalau bukan karena alasan yang mendesak misalnya jadwal kontrak kerja yang padat, tak sepasang pun pengantin baru ingin menunda atau bahkan melewatkan bulan madu mereka.&lt;br /&gt;Aku dan Andri, suamiku, pun merasa demikian. Walaupun tidak berbudget besar, kami tetap mengupayakan terlaksananya bulan madu kami ke Singapura. Segala persiapan mulai dari membuat paspor, memesan tiket dan penginapan, memilih obyek-obyek wisata yang akan dikunjungi, hingga menyusun koper kami lakoni dengan penuh semangat sebab begitu lewat hari H, kami langsung bertolak.&lt;br /&gt;Hmm... sudah kubayangkan pasti seru rasanya melancong ke tempat baru berdua saja dengan orang yang kita sayangi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipi kiri dan kanan ini masih terasa pegal karena kebanyakan cipika cipiki saat menyalami para tamu yang hadir di perhelatan nikah kami sehari sebelumnya. Namun, girangnya hati membuat tawa canda dan senyum tak henti-hentinya lepas untuk satu sama lain saat pesawat lepas landas meninggalkan bandara Soekarno-Hatta.&lt;br /&gt;Lalu, apakah benar honeymoon itu semanis madu? Seheboh persiapannya? Tak terlupakan sepanjang masa? Ah, itu omong kosong! Lho?&lt;br /&gt;Sungguh, mungkin tak akan ada orang percaya. Di masa honeymoon yang kata orang enak dan berkesan, aku dan Andri bertengkar! Meski tidak sampai berteriak-teriak, ini yang paling pahit dalam hubungan kami. Andri bahkan mengutarakannya saat kami menanti pesta kembang api di River Hong Bao, yang sebelumnya kubayangkan bakal romantis sekali.&lt;br /&gt;Kecewa sudah pasti. Banget, malah. Siapa sih yang ingin impiannya dirusak. Dan penyebab dari semua itu tak lain dan tak bukan adalah uang. Andri merasa 'kaget', bahkan dibuat 'ngeri' dengan pengeluaranku yang menurutnya boros. Padahal, barang-barang yang kubeli itu kebanyakan titipan ortu. Aku bahkan tak sempat membelikan oleh-oleh untuk teman-teman dan saudara-saudaraku yang lainnya.&lt;br /&gt;Dari masalah boros tersebut, dia jadi sangsi mempercayakan pengelolaan uang padaku. Dia juga takut aku membelanjakan uang bersama untuk hal-hal yang menurutnya sekunder. Menurutnya, aku harus menyusun prioritas dalam berkeluarga. Menghabiskan 90.000 rupiah untuk eye shadow merek cukup ternama menurutnya hanya membuang-buang uang, sementara di pasar bisa diperoleh merek lain dengan harga jauh lebih murah. Hello?&lt;br /&gt;Aku tak menampik jika suamiku memang orang yang sederhana. Dia baru mengganti barang jika sudah rusak atau menurutnya tidak layak pakai lagi. Tapi wanita mana yang tak butuh aksesoris penunjang penampilannya? Lagipula, barang-barang bermerek yang kupakai sekarang, sebagian besar diberi ortu. Aku bukan penggila merek, hanya saja terkadang baju yang jatuhnya lebih bagus itu kebetulan bermerek.&lt;br /&gt;Toh, ada juga kaos-kaos milikku yang harganya tak lebih dari 20.000 rupiah per potong. Yang penting bagus dan nyaman dipakai. Kosmetik yang cukup mahal pun, aku beli dengan hasil keringat sendiri. Kecuali pembersih wajah, kebanyakan habis pakai lebih dari setahun. Sebagai salah seorang pembicara di perusahaan, aku rasa wajar bila penampilan perlu sedikit dipoles.&lt;br /&gt;Sejak zamannya masih ditunjang ortu, aku telah terbiasa mandiri untuk pos-pos pengeluaran penunjang penampilan. Aku juga penganut paham yang mengatakan bahwa dengan cinta, semua bisa teratasi. Asal ada cinta, hidup susah pun jadi senang. Ah, naif sekali rasanya sekarang.&lt;br /&gt;Memang logis kalau dia bilang kebutuhan menabung untuk membeli rumah, biaya pendidikan anak kelak, dan hal-hal lain menyangkut keluarga harus diprioritaskan. Tanpa disinggung olehnya pun, aku sudah tahu, mengerti, dan berniat melakukannya. Begitu dini dia memvonisku gila belanja, padahal belum sepeser pun uangnya kuhabiskan untuk berfoya-foya membeli baju, tas atau kosmetik pribadi.&lt;br /&gt;Aku dan Andri sangat jarang bertengkar. Jadi wajar jika tak pernah terlintas dalam pikiranku, di masa honeymoon pun pertengkaran bisa terjadi. Serasa ada benda tajam yang menikam ulu hatiku. Aku merasa terusik oleh kata-katanya, ketidakpercayaannya. Kok tega-teganya ya, dia merusak bulan madu kami gara-gara uang. Ironisnya, kami baru saja melewati Fountain of Wealth... di Suntec City. Bahkan make a wish segala di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kekecewaan yang berlarut, aku jatuh sakit. Mataku bengkak dan perih karena terlalu banyak menangis. Parahnya lagi, badanku demam tinggi. Andri yang awalnya masih bersikap dingin jadi panik saat keesokan harinya, aku tak kunjung membaik.&lt;br /&gt;Mataku merah sekali walaupun lensa kontak telah kulepas. Salahku juga tetap memakai lensa kontak di kala tidur, dan bodohnya aku lupa membawa kacamata cadangan. Di saat aku merasa sedih, sakit, dan lonely itulah, Andri begitu telaten mengurusku. Merasa berdosa kali, pikirku sinis. Dia bahkan membawaku ke rumah sakit, khawatir terjadi sesuatu pada mataku. Padahal ongkos berobat di Singapura kan mahal.&lt;br /&gt;Kami pulang lebih awal dari rencana semula. Repot, sudah pasti. Plus, uang deras mengalir seperti air keran. Dari membiayai rumah sakit, membeli kacamata, mengganti jadwal tiket, semuanya butuh dana ekstra. Sekembalinya ke tanah air, aku benci sekali bila ada yang menanyakan honeymoon kami. Ada yang menyalahkan karena kami terlalu cepat berangkat, bukannya beristirahat dulu sehabis hari H. Ada juga yang menyayangkan sekaligus menghibur bahwa masih ada kesempatan di lain waktu. Aku sih tidak terlalu berharap.&lt;br /&gt;Namun, tak seorangpun tahu alasan sebenarnya. Bahwa telah pertengkaran dengan uang sebagai pemicunya. Memalukan. Dan aku jadi agak pesimis dengan bahtera perkawinan kami selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun berlalu. Terkadang, aku masih sakit hati jika teringat honeymoon perdana kami yang tidak mengenakkan. Tapi, aku memaafkan suamiku. Andri pun nampaknya sudah melupakan hal ini. Toh, aku tidak pernah seenaknya membelanjakan uang bersama. Ada skala prioritas dan penghematan juga sehingga kami selalu dapat menabung. Selain itu, Andri banyak memperbaiki sikapnya sejak aku melahirkan putri pertama kami. Mungkin trauma juga melihatku bersusah payah melahirkan dengan banyak darah.&lt;br /&gt;Menurutku, dia sekarang lebih sabar dan penyayang. Walaupun tidak selalu ikut begadang karena harus bekerja esoknya pagi-pagi sekali, dia cukup perhatian dengan dukungan morilnya di tengah kelelahan fisik yang aku hadapi di bulan-bulan awal mengasuh bayi kami.&lt;br /&gt;Kejadian itu juga telah mengubah pola pikirku. Wanita perlu bekerja, full-time part-time tidak masalah. Tidak bisa seratus prosen bergantung pada suami. Kendati suami tetap menafkahi, untuk kesenangan pribadi, aku lebih suka merogoh kocekku sendiri. Jadi nggak perlu setiap saat bertanya dan meminta pada suami. Kalau barang yang kita minta dikasih sih tidak masalah, tapi kalau harus berargumentasi dulu itu yang bikin malas. Biarpun akhirnya diberi juga kan, rasanya sudah tidak sama lagi.&lt;br /&gt;Aku pun mulai menata kembali perasaanku. Membangun penilaian positif setelah sebelumnya ternoda oleh kenangan pahit. Mencoba mensyukuri apa yang kumiliki sekarang. Andri suami yang rajin, bertanggung jawab, dan setia. Meski tergolong ganteng, dia tidak hobi tebar pesona. Keluarga mertuaku pun welcome sekali. Belum pernah terjadi konflik mertua-menantu pasca pernikahan seperti yang sempat menghantui pikiranku. Di rumah, aku berusaha menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik. Di tempat kerja, aku tetap bisa profesional.&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika, Andri mempertanyakan sebuah buku anak-anak yang baru kubeli untuk Kezia, putri kecil kami. Satu buku kecil sebesar telapak tangan orang dewasa bergambar harganya 20.000 rupiah. Menurutnya itu kemahalan. Aduh! Aku jadi geram.&lt;br /&gt;Aku kira wajar harganya segitu. Buku ini bukan buku biasa, melainkan terbuat dari karton tebal yang antisobek dan tahan air. Yang berukuran lebih besar, harganya lebih mahal lagi. Buntut-buntutnya, aku beli yang mini. Eh, masih kena omel juga.&lt;br /&gt;"Kalau kemahalan, mbok ya dikliping sendiri saja lalu dilem di karton tebal dipotong, dijadikan buku, dan disampul!" sahutku kesal.&lt;br /&gt;Bayangkan, sejak Kezia lahir, Andri hanya pernah sekali membelikan mainan murah. Sampai saat ini, mainan-mainan Kezia semuanya hibah dari sepupu-sepupu dan hadiah dari ortu. Jauh di lubuk hatiku, aku kecewa karena Andri yang notabene bapaknya tidak pernah memperhatikan hal yang satu ini.&lt;br /&gt;Di lain pihak, kakek dan neneknya selalu membelikan oleh-oleh baju, mainan, bahkan susu formula dan pampers. Miris rasanya. Bukankah bapak yang hubungan darahnya lebih dekat dengan anaknya sendiri seharusnya yang lebih memperhatikan? Lebih berperan dalam tumbuh kembang anak? Memangnya anak cuma perlu dikasih makan? Dari buku-buku dan mainan-mainannya kan, anak bisa belajar banyak hal. Mengenal warna, mengenal berbagai jenis binatang. Siapa tahu malah dapat memacunya untuk lebih cepat berbicara dan bertambah pandai. Kekesalanku pun memuncak ke ubun-ubun.&lt;br /&gt;"Kamu pikir, suami mencari uang untuk kesenangan pribadi? Apa gunanya aku capek-capek bekerja dari pagi sampai malam membanting tulang?" katanya berdalih saat aku mempertanyakan rasa sayangnya pada keluarga.&lt;br /&gt;"Kalau begitu, kan tidak ada salahnya membelikan mainan anak yang berkualitas," sahutku.&lt;br /&gt;"Aku bukannya tidak setuju kamu membelikan mobil-mobilan, lego, dan sebagainya. Hanya saja, anak kita belum cukup umur. Percuma kamu membelikannya sekarang. Nanti malah hilang atau rusak saja."&lt;br /&gt;"Tapi terbukti kan, Kezia sekarang jadi lebih pintar. Dia bisa mengenali binatang-binatang yang ada di buku ini."&lt;br /&gt;"Kamu kan bisa mencari yang lebih murah. Nggak harus yang kertasnya tebal anti apa katamu? Tahan air dan antisobek?"&lt;br /&gt;Aku menghela napas.&lt;br /&gt;"Katanya cinta, kok... gara-gara uang kita bertengkar terus. Katanya sayang, kok... untuk urusan uang kamu tidak mau mengalah. Padahal aku nggak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh." kataku meninggi.&lt;br /&gt;Karena gemas, kutinggalkan Andri begitu saja. Belum sempat melangkah keluar pintu, aku mendengar suara kertas koran yang sedang dibaca Andri robek ditarik-tarik oleh Kezia. Wah, kebetulan sekali. Rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, pikiranku mengembara. Aku merenung sendiri di tengah sunyi dan sepi yang kurasakan. Pulau-pulau sisa noda tangisan di bantalku mungkin sudah bertambah lagi. Tatkala mencoba memejamkan mata, aku merasakan kepalaku dibelai. Aih, jujur hati ini rasanya bagai diguyur air sejuk.&lt;br /&gt;Setelah tiga tahun mengarungi bahtera pernikahan kami, aku pikir kendala yang ada seharusnya bukan makin memisahkan melainkan menyatukan kami dan membuat masing-masing pihak lebih mengerti satu sama lain. Memang ada kalanya sifat sulit diubah. Atas nama cinta, saat itulah pengertian kita dituntut.&lt;br /&gt;Anyway, setiap hubungan cinta punya warna tersendiri. Aku pernah mendengar cerita dari seorang sobat ibuku, yang suaminya setiap hari pulang larut malam sekitar jam satu-dua dini hari untuk berkumpul dengan teman-temannya bahkan ada kalanya mabuk. Istrinya sudah kenyang menangis di tahun-tahun awal pernikahan mereka. Sekarang dia sudah dapat menerima dan easy going saja. Salut aku, di tengah keadaannya yang seperti itu dia masih tetap mencintai suaminya.&lt;br /&gt;Andri jauh lebih baik dari suaminya itu. Meski ketat soal uang, masih banyak sifat-sifatnya yang positif. Dia termasuk kepala rumah tangga yang baik. Mungkin, di saat kehidupan kami sudah lebih mapan, dia bakal perlahan-lahan berubah. Satu hal lagi, aku mencoba mengingatkan diriku sendiri bahwa dia adalah jodoh terbaik dari Tuhan.&lt;br /&gt;Sudahlah, memang nobody's perfect. Aku pun terlelap di tengah belaian hangat suamiku. Esok pagi, aku pasti bisa tersenyum kembali.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-129382294943100202?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/129382294943100202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2010/01/lagi-lagi-uang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/129382294943100202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/129382294943100202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2010/01/lagi-lagi-uang.html' title='Lagi-Lagi Uang'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/S1fTQxel7fI/AAAAAAAAAXQ/pGklUcezyGs/s72-c/lagilagiuang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-7900975662743525827</id><published>2009-11-20T06:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T06:17:50.081-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SR'/><title type='text'>The world of Casino</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Known as the most popular game from Italy, Casino seems never find any boundaries to be exist in the world of game. None will say no when they are asked whether they ever heard about casino, yet not all people will say they believe that casino can now be played online. Yes, what the players need is just the computer and internet connection to make them able to find casino online on the vast world of internet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;It is now also very well known by casino players that to &lt;span style="color: rgb(79, 129, 189);"&gt;&lt;a href="http://www.casinoscandinavia.com/03/casino-games/" target="_blank"&gt;play casino games&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; are not merely to find pleasure, but money as well. In the time you can win the bet, there will be likely countless amount of money you may have. Players even will be able to have a big amount of payouts when they &lt;span style="color: rgb(79, 129, 189);"&gt;&lt;a href="http://www.casinoscandinavia.com/03/slot-games/" target="_blank"&gt;play slot games&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;—the popular casino games after roulette. This game, which indeed count on lucks and thus great for fresh players, seems to be the game giving largest income for the casino. &lt;div class="fullpost"&gt;To earn money &lt;span style="color: rgb(79, 129, 189);"&gt;from &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Casino_game" target="_blank"&gt;casino game&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; is no longer a debatable issue. Find Casinoscandinavia.com to prove it by yourself.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10pt;"  &gt;Just find the website on your internet explorer and have the money from playing casino games.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-7900975662743525827?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/7900975662743525827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/world-of-casino.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7900975662743525827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7900975662743525827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/world-of-casino.html' title='The world of Casino'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-4428208000560894183</id><published>2009-11-11T18:59:00.002-08:00</published><updated>2009-11-11T19:05:52.121-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><title type='text'>Where is the Best Place to Apply for Same Day Payday Loans?</title><content type='html'>Same day payday loans are the quickest means of coming up with extra cash during dire financial situations.  With this loan, you are able to solve any urgent financial problems that plague you.  This is especially true if your next paycheck is still far from your grasp. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These loans are unsecured loans (meaning, the lending companies would not require you to submit a collateral) which can be availed by practically anyone.  Even people who are currently suffering from bad credit history would do well to apply for this type of loan.  There should be no cause for worry for people who have lagged behind on their payments; have bad credit due to arrears, IVA, defaults, or even bankruptcy.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In fact, these are the very people that should avail of the similar day &lt;a href="http://www.advanceloan.net"&gt;payday loan&lt;/a&gt; since it can help them get out of the endless loop of debt that they are currently into. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Same Day Payday Loan Explained&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Same day payday loans are also called cash advances, paycheck loans, or &lt;a href="http://www.advanceloan.net/fast-payday-loans.php"&gt;fast payday loans&lt;/a&gt;.  No matter how they are called, these can help individuals in any financial situation.  Just make sure that you meet the following criteria:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o You must not be a minor during the time of the loan application.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o You must have a regular employment (one that provides a steady source of monthly income.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o You must also have a current checking or savings account.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          o You must be willing to provide basic personal information such as your complete name; your address; and your social security number.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyone can borrow ranging from $100-$500 and this loan amount depends on your credit status and your ability to payback the loan in time.  The duration for most repayment schemes is at 2-4 weeks.  If you think that you will not be able to make a payment during these weeks, this should be no cause for alarm as the lenders could extend the term of your loan as long as you discuss it with them.  Loan extensions only require simple payment of fees and it should already be processed.  You have the option to pay using a postdated check or you can authorize the lending company to automatically withdraw money from the bank account that you have provided. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The annual percentage rates (APR) for cash advance payday loan  are quite competitive especially now that more and more lenders are clamoring for customers.  All that you have to do is to look for the companies that offer low interest rates; compare their repayment schemes; and you should be able to make your decision in no time. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payday loan companies do not even ask where and why you would use the money.  This means, you have the option to use this loan on any urgent financial requirements.  Some people even use this amount to pay for a long-needed vacation!  Similar day payday loans get approved in just 24 hours therefore they are ideal for anyone who needs cash and can’t wait to have it. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The best way to apply for a cash advance is through the Internet.  Processing online is much faster and hassle-free as compared to personally going to lending companies and submitting your documents there.  Also, with just one click of your mouse, you’ll be able to see hundreds of lending companies with competitive rates—this should save you time, money and effort!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-4428208000560894183?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/4428208000560894183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/where-is-best-place-to-apply-for-same.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4428208000560894183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4428208000560894183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/where-is-best-place-to-apply-for-same.html' title='Where is the Best Place to Apply for Same Day Payday Loans?'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-5274375096471375401</id><published>2009-11-11T18:59:00.001-08:00</published><updated>2009-11-11T18:59:22.040-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><title type='text'>Web hosting is getting popular nowadays.</title><content type='html'>There are businessmen and social networking geeks who are seeking companies that provide web hosting services to cater with their website needs. &lt;a href=" http://webhostingrating.com/ "&gt; web hosting &lt;/a&gt; can be the best site you can start browsing if you are one of them because they offer helpful information that would be very helpful in your venture. &lt;a href=" http://webhostingrating.com/rating/cms/joomla "&gt; joomla web hosting &lt;/a&gt; and &lt;a href=" http://webhostingrating.com/rating/cms/wordpress "&gt; wordpress web hosting&lt;/a&gt; can help you compare the companies that might help you if ever you would need somebody to set up your very own website.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-5274375096471375401?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/5274375096471375401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/web-hosting-is-getting-popular-nowadays.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5274375096471375401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5274375096471375401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/web-hosting-is-getting-popular-nowadays.html' title='Web hosting is getting popular nowadays.'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-8524140076374352809</id><published>2009-11-11T18:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T18:58:48.819-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><title type='text'>SERVICES ARE REGULARLY UPGRADED</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.121carhirecanada.com/"&gt;car hire canada&lt;/a&gt;earns the reputation in both the national and international market for the standard of their services. Tourists or clients once experience their service express the desire to use in time and again. &lt;a href="http://www.121carhirecanada.com/"&gt;car hire canada&lt;/a&gt;gets the reputation and identity in the international market because of the up gradation of car services and that is at a regular interval. Clients whoever avail the service of  cheap car hire Montreal airport, become tension free once they get in to the luxury car from Montreal airport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.121carhirecanada.com/212.html"&gt;car hire montreal airport&lt;/a&gt;send there cars for regular servicing and up graded the machineries as to avoid any harassment of the clients. Further the servicing enhances the qualitative output of the cars and it can ply for more than twenty four hours at stretch on the roads without creating any problems. &lt;a href="http://www.121carhirecanada.com/234.html"&gt;car hire Ottawa Airport&lt;/a&gt;always send there car with full tanks as to avoid any harassment to be faced by the clients. However, all these first class services are available at an affordable rates and the main mantra of &lt;a href="http://www.121carhirecanada.com/212.html"&gt;car hire montreal airport&lt;/a&gt;and &lt;a href="http://www.121carhirecanada.com/234.html"&gt;car hire Ottawa Airport&lt;/a&gt;is to deliver tension free and hassle free service to the clients whoever availing their service.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-8524140076374352809?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/8524140076374352809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/services-are-regularly-upgraded.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8524140076374352809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8524140076374352809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/services-are-regularly-upgraded.html' title='SERVICES ARE REGULARLY UPGRADED'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-7392688728337635771</id><published>2009-11-08T17:47:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T17:59:59.524-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SR'/><title type='text'>Get Your Personalized Gift Here</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Svd1znzPnMI/AAAAAAAAAWQ/uCg57ydoFVI/s1600-h/logo.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 110px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Svd1znzPnMI/AAAAAAAAAWQ/uCg57ydoFVI/s320/logo.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401915807771892930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Buying a gift for someone can be quite difficult; we have to understand his or her hobby, taste and need. Well, there are no rules on choosing gift, but all of us must want to give the best gift, a gift that can be very special and memorized. Actually, a simple gift can be so special if we give personal touch on the gift. For example, apron and frame are cheap and simple gift, but we can make it special by putting the receiver’s name on the gift. &lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Personalized gift shows that we are having so much attention and put the receiver in a special place in our heart. For the receiver, the personalized gift can be a memorable gift and he or she will still keep it even though the gift is no longer used. &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.designergifts.com/personalized-christmas-gifts.html" target="_blank"&gt;Personalized Christmas gifts&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; can be a perfect choice when we have no more idea of what to buy. On Christmas we must buy so many gifts and when we stuck, we just need to buy simple things and give it a personal touch by putting the receiver’s name. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;To find our personalized gift, we just need to visit Designergifts.com. On the website, we are served with various &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.designergifts.com/christmas.html" target="_blank"&gt;Christmas gift ideas&lt;/a&gt; for every type of person including &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.designergifts.com/gourmet-snack-towers.html" target="_blank"&gt;corporate gifts&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;completed with personalized service. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-7392688728337635771?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/7392688728337635771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/get-your-personalized-gift-here.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7392688728337635771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7392688728337635771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/11/get-your-personalized-gift-here.html' title='Get Your Personalized Gift Here'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Svd1znzPnMI/AAAAAAAAAWQ/uCg57ydoFVI/s72-c/logo.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-501228566964083406</id><published>2009-10-23T04:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T04:44:56.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>Buy Commercial Mailboxes At Mailboxixchange And Join The Affiliate Program Now</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SuGW3x3NBTI/AAAAAAAAAVg/Ne5RBpI5ESY/s1600-h/Salsbury-Freestanding-Rotary-Mail-Center.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 168px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SuGW3x3NBTI/AAAAAAAAAVg/Ne5RBpI5ESY/s320/Salsbury-Freestanding-Rotary-Mail-Center.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395759713588413746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;If you receive important letters frequently, make sure that your mailbox can keep them well. You had better get the new mailbox when the old one can’t give the maximum protection anymore. Shopping for mailboxes is more exciting today since the mailbox store offers more options.&lt;/span&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;When you shop at the Mailboxixchange, you will not only get high quality mailbox but also stylish mailbox. This online store sells both residential and &lt;a href="http://www.mailboxixchange.com/Commercial-Mailboxes-best_selling0-p-1-c-205.html"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Commercial Mailboxes&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. They have great design for &lt;a href="http://www.mailboxixchange.com/Commercial-Mailboxes-best_selling0-p-1-c-205.html"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Commercial Mail boxes&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; so that you can put all your important letters safely. This store always makes sure that the manufacturers use the best material to produce the commercial mailboxes. Therefore, you don’t need to hesitate to choose a &lt;a href="http://www.mailboxixchange.com/Commercial-Mailboxes-best_selling0-p-1-c-205.html"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Commercial Mailbox&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; for your office. Today, this online store gives you a chance to earn extra money by joining their affiliate program. Just link your visitors to Mailboxixchange and get commission if they make a purchase. You will receive $ 20.00 for signing up. That’s a nice start that you should try. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;You can see each product clearly at Mailboxixchange.com. This online store always presents new and complete designs to make your shopping time more enjoyable. Now, you don’t need to worry with the safety of your mails. Mailboxes from this store will keep them well every day.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-501228566964083406?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/501228566964083406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/buy-commercial-mailboxes-at.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/501228566964083406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/501228566964083406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/buy-commercial-mailboxes-at.html' title='Buy Commercial Mailboxes At Mailboxixchange And Join The Affiliate Program Now'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SuGW3x3NBTI/AAAAAAAAAVg/Ne5RBpI5ESY/s72-c/Salsbury-Freestanding-Rotary-Mail-Center.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-6588711711901510034</id><published>2009-10-22T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T00:00:00.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Gegge Mappangewa'/><title type='text'>Leiho, Datanglah Kebajikan bag. 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx8t-uaVOI/AAAAAAAAAVQ/6vLgLJj9wHw/s1600-h/muslimah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx8t-uaVOI/AAAAAAAAAVQ/6vLgLJj9wHw/s320/muslimah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394323583056631010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada saat Nenek dan Kakekku menikah, Leiho telah dua tahun tinggal bersama keluarga barunya.&lt;br /&gt;Ketika baru menikah, Kakek pernah berkata kepada Nenek kalau dia memiliki tiga orang saudara perempuan. Kakak perempuannya bernama Yen Ndui, masih tinggal di China dan seumur-umur belum pernah ditemuinya. Adik perempuannya ada dua orang yakni: Leiho dan Liming.&lt;br /&gt;Awalnya, Nenek tidak pernah tahu bahwa salah satu adik iparnya merupakan anak angkat. Sampai pada suatu hari, tanpa sengaja Nenek mengetahuinya lewat peristiwa berikut.&lt;br /&gt;"Hayo, Kau Ndui, lekas kemari dan makan! Aku akan menyuapimu," Leiho memanggil Liming. Kau Ndui—Gadis Gukguk adalah nama lain Liming.&lt;br /&gt;"Tidak mau! Aku tidak mau makan!" seru Liming.&lt;br /&gt;Kakek yang kebetulan lewat menegur adik bungsunya itu.&lt;br /&gt;"Kau jangan bandel seperti itu, Kau Ndui. Ayo cepat duduk yang manis biar Ciecie Leiho menyuapimu."&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Liming mendelik ke arah Kakek, tak senang. "Siapa bilang dia Ciecie-ku? Aku tak sudi punya Ciecie seperti dia!"&lt;br /&gt;"Kau Ndui!!" seru Kakek dengan keras. "Jangan berkata seperti itu kepada Ciecie Leiho!"&lt;br /&gt;Liming melihat ke arah Kakek dengan pandangan menantang dan tak takut sama sekali. "Lha, kenyataanya memang begitu, kan? Dia cuma anak pungut! Asal-usulnya tidak jelas entah dari mana!"&lt;br /&gt;"Liming!" seru Kakek lagi. "Masih sekecil ini tabiatmu sudah seburuk itu! Aku akan memberimu 'sedikit pelajaran'!"&lt;br /&gt;Kakek mengulurkan tangan hendak menjewer kuping Lnming, tetapi gadis cilik itu dengan cepat berkelit ke arah pintu. Sebelum sosoknya hilang, dia masih sempat berbalik dan melihat ke arah Leiho. Lalu, sambil nyengir dengan gaya kurang ajar, Liming menjulurkan lidahnya keluar mengejek Ciecie-nya itu.&lt;br /&gt;Nenek terpana menyaksikan hal tersebut. Belum pernah dilihatnya bocah perempuan sekurang ajar Liming yang dengan tega mempermainkan kakak perempuannya. Dilihatnya wajah Leiho yang tertunduk lesu, diam-diam menyimpan kepedihannya sendiri.&lt;br /&gt;Dari penampilannya, sukar dipercaya apabila mengatakan Leiho dan Liming bukan kakak beradik. Kedua saudari itu sama-sama berkulit hitam manis dan berperawakan kecil. Hanya saja, apabila dilihat dari dekat, mata Leiho memang lebih besar ketimbang Liming.&lt;br /&gt;Sekarang, Nenek pun mengerti. Pantas saja ketika pertama kali bertemu Leiho, Nenek mendapati gadis itu berbicara terbata-bata sampai-sampai Nenek sempat mengira kalau adik iparnya itu gagap. Tetapi anehnya, terkadang jika sedang bersemangat, Leiho akan berbicara cepat dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh siapa pun. Diam-diam, Nenek menaruh perhatian terhadap Leiho.&lt;br /&gt;Nenek memperhatikan kalau hanya Kakek Buyutlah yang paling memperhatikan Leiho. Sedangkan Nenek Buyut dan Liming tiada hari tanpa memarahi dan mengolok-olok gadis itu. Bukankah Kong Zi—Konfucius pernah berkata, 'Apabila setiap orang menganggap orangtua orang lain seperti orangtua sendiri dan anak orang lain sebagai anak sendiri, maka dunia yang diciptakan bagi semua orang ini pun akan menjadi harmonis'. Sungguh disayangkan apabila hanya karena statusnya sebagai anak angkat Leiho mesti menerima bual-bualan dari Ibu dan adik angkatnya.&lt;br /&gt;Nenek berusaha menjalin hubungan baik dengan adik iparnya yang satu ini. Awalnya, Leiho tidak langsung percaya dan menjaga jarak sebab khawatir Nenek akan bersikap tidak ubahnya seperti Nenek Buyut dan Liming. Tapi lama-kelamaan, akhirnya Leiho mau bersahabat dengan kakak iparnya itu. Nenek membuktikan bahwa sikap tulus dan senyum tanpa pamrih bisa memenangkan kepercayaan dari seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu memutuskan menikah dengan Kakek, Nenek tidak pernah tahu kalau ternyata calon Ibu Mertuanya itu seorang wanita tua yang kolot sekali.&lt;br /&gt;Nenek Buyut masih memegang prinsip kuno orang Tionghoa bahwa seorang Ibu Mertua berkuasa penuh atas menantu perempuannya serta berhak memperlakukan menantunya itu dengan semena-mena, tanpa boleh dibantah.&lt;br /&gt;Maka setelah menikah dengan Kakek, Nenek pun mulai mengalami hal-hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Nenek Buyut menyuruhnya memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Nenek yang sebelum menikah adalah putri orang kaya tak mampu melakukan semua itu. Ayah Nenek adalah seorang penjahit terkenal di pecinan, langganan para Meneer Belanda. Di rumahnya dulu Nenek memiliki banyak pembantu sehingga dia dan adik perempuannya tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga.&lt;br /&gt;Ketika mengetahui hal itu, Nenek Buyut seakan memperoleh kesenangan baru dengan memarahi dan mengolok-olok menantunya itu.&lt;br /&gt;"Orang-orang berkata bahwa aku tentunya beruntung memiliki menantu perempuan yang cantik, putih dan pintar. Tapi tahukah mereka kalau menantuku itu membersihkan rumah dan mencuci pakaian pun tak becus! Bahkan, memasang kayu bakar dan menanak nasi pun dia tak bisa! Haiya... bagaimana mungkin dia bisa disebut wanita sejati?" sindirnya lagi.&lt;br /&gt;Nenek hanya terdiam menelan ludah.&lt;br /&gt;"Ada pepatah lama yang mengatakan: 'Kalau menikah dengan anjing ikut anjing, kalau menikahi orang miskin ikut orang miskin'! Sayang sekali putraku tidak bisa seperti Ayahmu yang menyediakan lusinan pembantu sehingga tugas-tugas rumah tangga ini semuanya mesti kau kerjakan sendiri!"&lt;br /&gt;Nenek mendengar kata-kata itu setiap hari, hampir beberapa jam sekali. Setiap kali apabila Nenek Buyut mendapati kesalahannya, Nenek pun akan memperoleh 'kata-kata mutiara' tersebut. Walau demikian, Nenek sama sekali tidak pernah membantah dan menerima begitu saja celaan-celaan itu.&lt;br /&gt;Leiho terkesan oleh kesabaran Nenek. Karenanya, diam-diam dia membantu kakak iparnya itu. Leiho senantiasa mendampingi Nenek, mangajari serta menasehatinya.&lt;br /&gt;"Shao Shao—Kakak Ipar, jangan membuat kopi dengan cara seperti itu, nanti aromanya akan hilang...."&lt;br /&gt;Nenek mulai belajar sedikit demi sedikit apa yang diajarkan oleh Leiho.&lt;br /&gt;"Shao Shao, coba pakai cara begini sewaktu menjemurnya! Aku pernah melihat Ibu melakukannya. Cara ini lebih praktis dan mudah...."&lt;br /&gt;Nenek mulai beradaptasi.&lt;br /&gt;"Shao Shao, jangan meletakkan barang itu di situ! Nanti Ibu akan memarahimu lagi...."&lt;br /&gt;Demikianlah hubungan Nenek dan Leiho semakin akrab berkat bantuan-bantuan serta aneka tips rahasia yang diberikan olehnya. Lambat-laun, Nenek akhirnya terhindar dari omelan-omelan Nenek Buyut.&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Nenek pun mulai menganggap Leiho sebagai saudara sekaligus sahabat yang paling bisa diandalkan. Hubungan yang erat ini masih terus berlangsung sampai rambut keduanya beruban dan usia mereka bertambah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu siang, Nenek dan Leiho sedang duduk-duduk di dapur.&lt;br /&gt;Sebagian besar tugas dapur hari itu telah selesai. Mereka tinggal menantikan mendidihnya air yang sementara direbus. Di dekat kompor kayu bakar kedua perempuan itu bercakap-cakap.&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini Leiho berkata, "Shao Shao, kudengar kau dulu adalah murid yang cerdas ketika bersekolah dulu. Maukah kau mengajariku membaca dan menulis mandarin? Aku sampai sekarang masih kesulitan berbicara dalam bahasa Guandong Khaiphing, apalagi mandarin...."&lt;br /&gt;"Tentu saja boleh. Aku bersedia mengajarimu," jawab Nenek.&lt;br /&gt;Leiho menggoyang-goyangkan kepala sambil berkata lagi, "Selama ini cuma Ayah dan Kokoh—kakak lelaki, yang mengajariku jika sedang tak sibuk. Ibu jarang peduli. Dia dan Liming malah menertawakanku setiap kali aku salah bicara sehingga aku malu dan takut salah."&lt;br /&gt;Nenek mendengar sambil menggeleng-gelengkan kepala. Nenek jelas tidak setuju dengan orang-orang yang senang menertawakan kelemahan orang lain. Nenek lalu membesarkan hati Leiho.&lt;br /&gt;"Kau jangan malu atau pun takut salah. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan sebelum dia menjadi mahir.Yang perlu kau lakukan hanyalah terus berlatih. Meski keliru pada awalnya tetapi itu masih lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Apa kau paham?"&lt;br /&gt;Leiho mengangguk.&lt;br /&gt;"Baiklah," lanjut Nenek. "Sebagai permulaan, sekarang apa yang hendak kau pelajari?"&lt;br /&gt;Mata Leiho berbinar. "Aku ingin belajar menulis namaku sendiri!" sahutnya.&lt;br /&gt;Maka, Nenek pun mengambil sebatang kayu bakar dari perapian yang ujungnya menghitam. Lalu, di atas dinding dapur yang kekuningan, Nenek menulis nama Leiho dengan kayu arang tersebut.&lt;br /&gt;"Namamu terdiri dari dua kata, lei dan ho Dalam bahasa mandarin, kedua kata ini dilafalkan sebagai lai dan hao. Lei atau lai berarti datanglah, sedangkan ho atau hao berarti kebajikan. Kau dinamakan demikian dengan harapan agar kedatanganmu di rumah ini bisa membawa kebajikan dalam keluarga."&lt;br /&gt;Leiho memandang tulisan namanya di dinding dapur dengan terkesima. "Ya," bisiknya. "Dulu Ayah juga pernah berkata seperti itu padaku."&lt;br /&gt;Setelah memandang tulisan namanya selama beberapa saat, Leiho mulai menirunya. Sembari berusaha menulis kata lei, dia bertanya kepada Nenek.&lt;br /&gt;"Shao Shao, tahukah kau mengapa Liming biasa dipanggil Kau Ndui—Gadis Gukguk? Bukankah itu personifikasi gonggongan anjing, dan maknanya kurang bagus? Masa anak perempuan panggilannya seperti anjing?"&lt;br /&gt;Nenek tersenyum mendengar perkataan Leiho. Dia pun mulai bertutur kepada adik iparnya itu.&lt;br /&gt;"Orang Tionghoa zaman dulu punya sebuah kepercayaan. Apabila seorang anak ketika kecil sering rewel dan sakit-sakitan, hal itu biasanya disebabkan oleh namanya yang bermakna terlalu tinggi. Konon, roh-roh jahat senang mengganggu anak-anak yang namanya indah-indah serta enak didengar. Arti nama Liming sesungguhnya adalah 'elok dan cerdas'. Aku pernah dengar dari Kokoh bahwa sewaktu kecil, Liming sering jatuh sakit. Itu sebabnya Ibu mengubah panggilannya menjadi Kau Ndui—Gadis Gukguk, dengan harapan supaya roh-roh jahat tidak mengganggunya. Ajaibnya, menurutk Kokoh, semenjak dipanggil seperti itu, kesehatan Liming berangsur-angsur pulih, bahkan sampai sekarang dia jarang sakit."&lt;br /&gt;Leiho mendengar kisah itu dengan terkesima. Dengan mata membelalak dia berseru, "Benar-benar cara memberi nama yang aneh!"&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, Leiho kembali menekuni tulisannya. Kali ini dia tengah berusaha menulis huruf ho.&lt;br /&gt;"Ayah biasa memanggilku dengan sebutan Ho Ndui—Gadis Bajik. Aku terkadang malu apabila dipanggil seperti itu. Sebab aku sangsi, apakah memang benar aku anak yang baik?"&lt;br /&gt;Nenek tersenyum lagi sambil menyambung, "Tentu saja kau anak yang baik."&lt;br /&gt;"Ayah juga biasa menyebut hiang kau padaku. Aku tak tahu apa artinya. Akan tetapi aku rasa itu juga berarti baik sebab Ayah mengucapkannya dengan penuh kegembiraan."&lt;br /&gt;"Wah, itu memang pujian, Leiho. Hiang kau berarti penurut dan berbakti. Kau memang pantas disebut seperti itu."&lt;br /&gt;Wajah Leiho memerah karena perkataan yang dilontarkan Nenek. Dia lalu menanggapi.&lt;br /&gt;"Tapi Ibu sering memarahiku. Meski aku tak terlalu paham maksudnya, aku bisa melihat mimik wajahnya yang galak ke arahku. Kadang-kadang dia melontarkan kata-kata pun chuat dan mbo yong padaku. Shao Shao tahu apa arti dari kedua kata-kata itu?"&lt;br /&gt;"Itu...," Nenek berhenti sejenak. 'Ah, kenapa kata-kata itu diucapkan kepada Leiho?' Nenek membatin. Namun tetap diungkapkannya juga dengan terpaksa. "Kedua kata itu maknanya kurang baik," ujar Nenek sedih. "Pun Chuat berarti 'tolol' atau 'bodoh'. Bahasa mandarinnya disebut pen tan. Sedang kata mbo yong, dalam bahasa mandarin disebut mei you yong, keduanya sama-sama berarti 'tidak berguna'."&lt;br /&gt;Leiho berpikir sebentar guna mencerna perkataan Nenek. Tak lama kemudian dia tertawa-tawa sambil bergumam, "Pantas saja Ibu mengatakan itu setiap kali aku salah dalam melakukan sesuatu. Tidak heran pula kalau dia sering mengucapkan kedua kata-kata itu padaku sambil kesal dan menggerutu. Rupanya artinya seperti itu...."&lt;br /&gt;Malamnya, Nenek mendengar pertengkaran antara Leiho dan Liming lagi. Seperti biasa, Liming si Anak Nakal itu tengah mempermainkan Leiho yang hendak menyuapinya. Bukannya duduk baik di atas kursi, Liming malah berlarian ke sana kemari sehingga Leiho mesti mengejar-ngejarnya.&lt;br /&gt;"Aduh, Kau Ndui, jangan mondar-mandir begitu! Bagaimana aku bisa menyuapimu kalau kau berkeliaran terus...," keluh Leiho&lt;br /&gt;Liming melihat ke arah Leiho dan mendengus, "Aku tidak minta kau untuk menyuapiku, kok! Aku kan sudah pernah bilang, aku tidak mau disuapi olehmu!"&lt;br /&gt;Leiho gemas. Dia mulai berkata tegas, "Bisakah kau sesekali mematuhi aku? Kalau kau tidak mau makan, nanti aku yang akan dimarahi Ibu karena dikiranya aku tidak mengurusmu!"&lt;br /&gt;Tingkah Liming semakin menjadi-jadi. "Untuk apa aku harus mematuhimu? Kau kan bukan Ciecie-ku!" Setelah berkata demikian, Liming menjulurkan lidahnya mengejek Leiho.&lt;br /&gt;Kekesalan Leiho memuncak. Piring yang sedang dipegangnya dibanting ke atas meja hingga sendoknya terpelanting. Leiho berkacak pinggang. Kedua matanya dengan tajam memandang ke arah Liming lurus-lurus seolah hendak menelan anak itu bulat-bulat.&lt;br /&gt;"Baiklah, kalau kau tidak mau makan! Biar saja kau kurus kering seperti anak yang kena cacingan! Aku sudah muak denganmu! Aku tak mau menyuapimu makan lagi!"&lt;br /&gt;Liming terkejut dan terpana. Dipandangnya Leiho seolah tak percaya. Selama dua tahun ini Liming tak henti-hentinya mempermainkan, mengejek dan bahkan memarahi kakak angkatnya itu. Namun baru pada hari inilah Liming melihat Leiho tidak lagi menerima begitu saja perlakuannya. Dia melawan!&lt;br /&gt;Leiho melanjutkan amukannya lagi. Dia berkata dengan suara keras, "Siapa juga yang mau punya Meimei—adik perempuan macam kau? Kau nakal, sering berkelakuan tidak sopan dan pembantah! Kau juga pun chuat—bodoh, dan..." Leiho memutar kedua bola matanya, mencari-cari kata-kata yang tepat. ".... Mbo yong—tidak berguna!" seru Leiho menyelesaikan kalimatnya.&lt;br /&gt;Liming benar-benar shock! Matanya membelalak besar sekali dan mulutnya menganga. Beberapa saat kemudian, Liming menangis sembari mencari Nenek Buyut dan melapor.&lt;br /&gt;"Huhuhu... Ibu... Leiho barusan memarahiku! Dia mengataiku.... Katanya... aku ini... 'tidak berguna'! Huhuhu....!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1941, Nenek melahirkan putra sulungnya, Paman Tertuaku.&lt;br /&gt;Ketika Paman Tertua mulai belajar berbicara, Nenek pun mengajarinya memanggil nama-nama anggota keluarga.&lt;br /&gt;"Papa, Mama...."&lt;br /&gt;"Pap... pa, Mam... ma...."&lt;br /&gt;"Akong, Ahu—Kakek, Nenek...."&lt;br /&gt;"A... kung, A... fhu...."&lt;br /&gt;Tiba-tiba Leiho melintas dan melambaikan tangan dengan jenaka ke arah Paman Tertua.&lt;br /&gt;"Chie... Chie...," Paman Tertua mengumam sambil menunjuk ke arah Leiho.&lt;br /&gt;"Siapa yang kau panggil Ciecie?" Nenek bertanya keheranan. Setelah melihat ke arah yang ditunjuk Paman Tertua, barulah Nenek mengerti.&lt;br /&gt;"Oh, ternyata Leiho. Panggilannya bukan Ciecie—kakak perempuan, Nak. Semestinya Gei Ku—Bibi kedua dari pihak Ayah."&lt;br /&gt;"Bukan...! Dia itu Chie Chie...," Paman Tertua bersikeras menolak mengubah panggilannya.&lt;br /&gt;Nenek pada akhirnya menyerah pada keinginan putra sulungnya. Untuk selamanya, Paman Tertua memanggil Leiho 'Ciecie'. Kekeliruan ini diteruskan kepada Paman Kaseng, kemudian Paman Kedua, dan yang terakhir adalah Ayahku sendiri. Akhirnya, keempat putra Nenek tersebut tak ada satu pun yang memanggil Leiho dengan sebutan 'Bibi'.&lt;br /&gt;Keempat putra Nenek sangat akrab dengan Leiho. Sejak kecil mereka sudah sangat dekat dengan 'Ciecie' mereka yang satu ini.&lt;br /&gt;Sebaliknya dengan Leiho, hubungan antara Paman Tertua dengan Liming berlangsung dingin dan senantiasa dipenuhi pertengkaran. Ketika Paman Tertua lahir, Liming berusia sembilan tahun. Sewaktu mengetahui bahwa si Keponakan Baru ternyata lebih 'mencuri' perhatian seluruh keluarga ketimbang dirinya, muncullah perasaan iri dalam diri Liming. Sejak kecil Paman Tertua sering disakiti oleh Liming, terutama jika dia baru saja memperoleh hadiah atau pujian dari Kakek dan Nenek Buyut. Liming tidak segan-segan untuk mencubit, memukul, atau bahkan merusak hadiah Paman Tertua sebagai wujud dari kedengkiannya.&lt;br /&gt;Ketika Paman Tertua mulai belajar bicara, Nenek mengajari Paman Tertua untuk memanggil Liming dengan sebutan Chiang Ku—Bibi Bungsu. Belakangan, ketika Paman Tertua sudah menguasai lebih banyak kata, dia menjuluki Liming dengan sebuah sebutan dalam bahasa mandarin yang dikarangnya sendiri: Siong Te Chiang Ku—Bibi Bungsu nan Galak!&lt;br /&gt;Dan julukan tersebut diwariskannya pula kepada adik-adiknya, termasuk Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal tahun 1940-an, Jepang menduduki kepulauan Nan Yang menggantikan orang-orang Belanda yang sudah hampir dua setengah abad menjajah daerah ini.&lt;br /&gt;Meski pada awalnya tentara-tentara Jepang berlaku cukup ramah kepada para imigran Tionghoa di Nan Yang, namun para Huachiao—Tionghoa perantauan tersebut tetap waspada terhadap mereka. Meski terpisah ribuan kilometer dari tanah leluhur di China, para Huachiao yang bermukim di Nan Yang tetap tahu tentang kebusukan tindak-tanduk para prajurit Jepang, terutama setelah peristiwa pembantaian orang-orang China di Nanjing bulan Desember 1937. (Dunia internasional mengenalnya dengan insiden Nanjing Massacre atau Pembantaian Nanjing 1937).&lt;br /&gt;Dan kecurigaan para Huachiao terbukti. Setelah para tentara Jepang menahan, menyiksa dan membunuh banyak sekali orang-orang Belanda serta peranakan Indo, mereka mulai melirik para Huachiao. Para prajurit Jepang terkenal amat membenci orang-orang terpelajar seperti cendekiawan dan guru. Di China, pada tahun-tahun penjajahan Jepang, orang-orang terpelajar mesti bersembunyi atau menyamarkan identitas mereka. Sebab jika ditemukan oleh tentara Jepang, mereka akan ditangkap dan disiksa tanpa ampun. Tak jarang sebagian besar dari mereka langsung menemui ajal usai penyiksaan itu. Pemerintah Jepang amat membenci kalangan ini karena dianggap sebagai akar pergerakan China melawan Jepang saat itu.&lt;br /&gt;Maka, di Nan Yang para tentara Jepang mulai menangkap satu per satu Huachiao terutama yang berprofesi sebagai guru atau bekas karyawan perusahaan Belanda. Suami dari adik perempuan Nenek yang berprofesi sebagai guru adalah salah satu yang ditangkap, diinterogasi dan disiksa. Kakek juga turut diawasi. Kemampuan Kakek dalam menguasai Bahasa Belanda dan Inggris membuatnya dicurigai oleh para prajurit Jepang sebagai mata-mata. Meski demikian, kecurigaan itu sama sekali tidak pernah terbukti.&lt;br /&gt;Bagi Kakek Buyut sendiri, kedatangan tentara-tentara Jepang merupakan momok, terutama di rumahnya yang memiliki dua orang anak gadis. Para prajurit Jepang senang mengincar anak-anak gadis yang belum menikah untuk dijadikan Jugun Ianfu—pelacur budak perang. Dan, Kakek Buyut sudah mendengar beraneka kekejaman yang dialami oleh para Jugun Ianfu.&lt;br /&gt;Maka, pada tahun-tahun itu, Leiho dan Liming tidak pernah keluar rumah sebab dilarang oleh Kakek Buyut. Meski demikian, hati Kakek Buyut tetap waswas. Terutama jika memikirkan Leiho yang usianya telah menginjak remaja.&lt;br /&gt;Pada tahun 1942, Kakek Buyut memutuskan menikahkan Leiho dengan seorang pengrajin emas bermarga Ciu (Zhou, dalam dialek Hanyu Pinyin). Pernikahannya berlangsung sederhana di tengah suasana penuh tekanan penjajahan. Meski demikian Kakek Buyut sudah merasa lebih lega. Paling tidak, Leiho sudah lolos dari incaran para prajurit Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun berikutnya, Nenek tidak pernah melupakan jasa-jasa Leiho padanya.&lt;br /&gt;Salah satu jasa Leiho yang paling melekat dalam ingatan Nenek adalah ketika Leiho menemukan putri Nenek yang bernama Cuan Ndui, yang semula dikira telah meninggal dan disemayamkan dalam kamar mandi, ternyata masih dalam keadaan hidup. Leiho senantiasa hadir pada saat Nenek dalam keadaan sedih maupun senang. Ketika kakak perempuan Kakek bertemu kembali dengan keluarganya, ketiganya langsung akrab. Dengan segera mereka dijuluki 'Tiga Serangkai dalam Keluarga'.&lt;br /&gt;Dari pernikahannya dengan Ciukong (panggilan untuk suami Leiho), kedua suami-istri ini dikaruniai empat orang anak. Di kemudian hari, cucu-cucu Nenekku (termasuk aku), mengenal keempat bersaudara ini dengan sebutan: Paman A Fang (kelahiran 1943), Bibi Lingsiu (kelahiran 1947), Paman A Cok (kelahiran 1951) dan Bibi A Khau (kelahiran 1961).&lt;br /&gt;Keempat putra-putri Leiho bergaul sangat akrab dengan keluarga Nenek.&lt;br /&gt;Nenek bahkan pernah bercanda dengan mengatakan, "Siapa bilang aku cuma punya empat putra? Datanglah ke rumahku dan Anda akan melihat ada delapan orang anak dari yang umurnya paling besar hingga paling kecil, semuanya berkumpul di rumah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, pertengahan tahun 2001.&lt;br /&gt;Paman Kaseng merupakan satu-satunya saudara Ayahku yang menetap di luar kota Makassar.&lt;br /&gt;Beliau beserta seluruh keluarganya pindah ke Maumere, NTT, pada awal tahun 1970-an. Beliau dan istrinya yang kami panggil Seng Mbu—Bibi Seng, dikaruniai lima orang anak. Salah satu anaknya bernama A Lung.&lt;br /&gt;A Lung adalah putra satu-satunya Paman Kaseng, kelahiran tahun 1971. Dia tinggal di Denpasar, Bali, dan memiliki usaha pembuatan cinderamata sendiri. Pada awal tahun 2000, A Lung adalah tipikal pemuda yang sesuai dengan sebuah pepatah kuno Tionghoa: San She Er Li—pada usia tiga puluh, seorang pria seharusnya sudah mandiri. Dia berwajah tampan dan bertubuh tegap, setidaknya begitulah menurut anggapan kami, para sepupu. Gelar dan ijazah sarjana sudah diperolehnya. Usaha sendiri juga telah memberikan penghasilan finansial yang bisa dibilang melebihi dari cukup. Lantas, apalagi yang kurang?&lt;br /&gt;Yang kurang adalah sampai menjelang usia tiga puluh tahun A Lung masih membujang dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkeluarga. Seluruh keluarga mulai cemas, terlebih Paman Kaseng dan Seng Mbu. Setiap kali jika A Lung berkunjung atau menelepon ke Makassar, dia akan diberondong pertanyaan-pertanyaan.&lt;br /&gt;"Kapan nikahnya? Sudah punya calon? Siapa orangnya?"&lt;br /&gt;Tapi A Lung hanya memberikan senyuman sambil menjawab, "Belum... belum punya calon. Orangnya belum ada...."&lt;br /&gt;Dan pertanyaan berikutnya akan segera menyusul, "Mengapa? Masih tunggu apalagi, sih?"&lt;br /&gt;Biasanya A Lung menjawab dengan masih tetap tersenyum, "Tunggu saja tanggal mainnya, ya?"&lt;br /&gt;Lalu, pada pertengahan tahun 2001 itu, kami mulai mencium ada sesuatu yang disembunyikan A Lung. Dia rajin bolak-balik Denpasar-Makassar, terutama pada waktu weekend. Biasanya A Lung datang pada hari Jumat sore dan baru kembali ke Denpasar Minggu sore. Setiap kali kami menanyakan tujuan kedatangannya, A Lung menjawab kalau dia datang dalam rangka kunjungan bisnis. Anehnya, kami melihatnya datang dengan membawa bagasi yang sedikit sekali dan berpenampilan santai. Sama sekali bukan seperti orang yang hendak mengurus masalah bisnis.&lt;br /&gt;Belakangan kami semakin curiga. Terlebih ketika salah satu dari kami, saudara sepupunya, memergokinya jalan berdua dengan seorang gadis di sebuah mal. Sayang sekali ketika sepupuku itu berusaha melihat lebih dekat gadis tersebut, keduanya telah menghilang masuk ke dalam taksi.&lt;br /&gt;Kami mulai memberondong A Lung dengan pertanyaan-pertanyaan lagi, "Siapa cewek itu? Namanya siapa? Tinggal di mana?"&lt;br /&gt;Namun A Lung tetap merahasiakan identitas gadis itu. "Ah, masih pedekate. Nanti ya, kalau tiba saatnya akan saya beritahu...."&lt;br /&gt;Kami semakin penasaran. Misterius sekali ceweknya si A Lung ini!&lt;br /&gt;Kemudian, penghujung Maret tahun 2002, bertepatan dengan waktu Ching Ming—ziarah kubur, A Lung datang lagi ke Makassar. Kali ini dia tidak sendirian. Ayah-Ibunya turut hadir dari Maumere dan seluruh saudara-saudara perempuannya turut berdatangan kemari. Kami melihat adanya indikasi peristiwa besar sebentar lagi akan terjadi.&lt;br /&gt;"Jadi? Calonnya sudah akan diumumkan, nih?" Kami menggoda A Lung.&lt;br /&gt;A Lung nyengir sambil berkata, "Iya...."&lt;br /&gt;"Siapa? Siapa?"&lt;br /&gt;Nyengir A Lung semakin lebar.&lt;br /&gt;"Kalian kenal kok, orangnya.... Namanya Fonny...."&lt;br /&gt;Kami terpaku mendengar nama itu disebut A Lung. Tiba-tiba salah satu dari kami bergumam, "Jangan-jangan, Fonny anaknya...." Suaranya direndahkan sehingga tidak terdengar jelas, tetapi A Lung sudah sempat menangkap maksudnya. Dia tertawa.&lt;br /&gt;"Ya,betul! Itulah orangnya!"&lt;br /&gt;Sepupu kami yang bergumam itu sontak terkejut, membekap mulutnya sendiri dan berseru, "Masa?! Astaga! Rupanya selama ini kalian berdua pintar sekali merahasiakannya, ya?"&lt;br /&gt;A Lung terus saja tertawa. Dan ketika sepupu kami itu menjelaskan hal tersebut, kami semua bereaksi kurang-lebih sama dengannya. Kami semua terkejut, melayangkan protes ke arah A Lung lewat seruan-seruan.&lt;br /&gt;"Wah! Ternyata...! Selama ini kalian main kucing-kucingan...! Curang! Tapi bagaimana pun, selamat, ya!"&lt;br /&gt;Tentu saja kami mengenal Fonny, pacarnya si A Lung ini. Ketika kecil, kami biasa bertemu dan bermain bersama dalam acara-acara keluarga. Ayahnya adalah sepupu dari Ayah-Ayah kami, dan selama ini kami memanggilnya dengan sebutan: Shu Shu Cok—Paman A Cok. Neneknya juga sudah barang tentu kami kenal. Beliau kini menjadi salah satu tetua yang cukup dihormati di keluarga kami. Kami memanggilnya Ku Hu—Nenek, saudara perempuan Kakek. Dialah Leiho, adik angkat Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Lung dan Fonny menikah pada penghujung bulan November tahun 2002. Resepsinya berlangsung meriah di dua kota: Makassar dan Denpasar.&lt;br /&gt;Pada saat mereka menikah, keduanya dianggap sebagai pasangan yang serasi karena nama mereka sudah mengisyaratkan kalau mereka berjodoh. Nama A Lung berarti naga, sedang di dalam nama Fonny terkandung huruf Fong (Hong dalam bahasa mandarin Hanyu Pinyin), berarti burung phoenix. Naga dan burung phoenix adalah pasangan yang cocok. Kedua binatang ini merupakan mitologi dan simbol pernikahan China, mewakili mempelai pria dan wanita.&lt;br /&gt;Hingga pada saat tulisan ini selesai kurampungkan, sepasang suami-istri itu tengah hidup berbahagia di Denpasar, Bali. Keduanya telah dikaruniai dua orang anak yang masing-masing bernama Kevin dan Karin.&lt;br /&gt;Dengan adanya pernikahan antar anak-anak, hubungan antara Paman Kaseng dengan keluarga Paman A Cok dan Ibunya, Leiho semakin erat. Akan tetapi, Paman Kaseng masih belum bisa mengubah kebiasaannya untuk memanggil Leiho dengan Chin Cia—Keluarga Besan. Dalam beberapa kesempatan, kami justru mendapatinya masih keseleo memanggil Leiho dengan sebutan Ciecie—Kakak Perempuan.&lt;br /&gt;Ehm, apa pun panggilannya, dia tetaplah Leiho, si Putri Adopsi, adik perempuan Kakek yang namanya berarti: Datanglah Kebajikan!&lt;br /&gt;Dan sepertinya nama itu memang tepat dipilih untuknya!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-6588711711901510034?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/6588711711901510034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/leiho-datanglah-kebajikan-bag-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6588711711901510034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6588711711901510034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/leiho-datanglah-kebajikan-bag-2.html' title='Leiho, Datanglah Kebajikan bag. 2'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx8t-uaVOI/AAAAAAAAAVQ/6vLgLJj9wHw/s72-c/muslimah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-5509385356199816372</id><published>2009-10-18T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:49:24.220-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Gegge Mappangewa'/><title type='text'>Leiho, Datanglah Kebajikan bag. 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx7rXx2GjI/AAAAAAAAAVI/EE3G1crKFN4/s1600-h/muslimah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx7rXx2GjI/AAAAAAAAAVI/EE3G1crKFN4/s320/muslimah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394322438730684978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nan Yang – Kepulauan Indonesia, 1937&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan September tahun itu, Kakek Buyutku dari pihak Ayah, Ciang Wengwah, tengah berada di sebuah dataran tinggi yang jaraknya duaratus tigapuluh lima kilometer di sebelah utara kota Makassar. Dataran tinggi tersebut bernama Enrekang.&lt;br /&gt;Semenjak bermigrasi dari Guandong, China, ke Makassar, Nan Yang, duapuluh tujuh tahun silam, Kakek Buyut telah puluhan kali menjejakkan kakinya ke bumi Massenrempulu ini. Beliau sering ke sana terutama untuk mencari barang-barang hasil hutan seperti rotan dan kayu untuk dibawa ke Makassar lalu ditawarkan kepada cukong-cukong pembuat mebel yang sebagian besar juga adalah para imigran Tionghoa dari propinsi Guandong&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Enrekang, Kakek Buyut punya seorang kenalan penduduk setempat, seorang pria yang bernama I Nuhung yang berprofesi sebagai pencari kayu. Dia sering keluar-masuk hutan untuk memperoleh bahan-bahan seperti yang diinginkan oleh Kakek Buyut. I Nuhung bisa berkomunikasi dengan Kakek Buyut dengan baik sebab dia fasih berbicara dalam bahasa Melayu ketimbang penduduk lainnya di daerah tersebut.&lt;br /&gt;Setiap kali kunjungan Kakek Buyut ke Enrekang, beliau pasti akan menginap di rumah I Nuhung yang berupa rumah panggung sederhana dan keseluruhannya terbuat dari kayu. Setiap Kakek Buyut menginap, I Nuhung amat senang dan memperlakukan Kakek Buyut selayaknya tamu kehormatan.&lt;br /&gt;Awalnya Kakek Buyut merasa tidak enak dengan perlakuan tersebut. Beliau merasa sungkan jika setiap kali kedatangannya, akan merepotkan I Nuhung dan keluarganya.&lt;br /&gt;Namun, I Nuhung menepis anggapan Kakek dengan berkata, "Kalau Baba—Tuan, tidak mau tinggal di rumah saya selama berada di sini, itu sama dengan menolak kebaikan saya dan hal itu akan menyinggung perasaan saya...."&lt;br /&gt;Maka Kakek Buyut pun akhirnya menerima undangan I Nuhung untuk menginap di rumahnya setiap kali beliau berkunjung ke Enrekang.&lt;br /&gt;I Nuhung seorang duda. Istrinya meninggal ketika putri mereka satu-satunya, baru berusia setahun. I Nuhung memberi nama putrinya itu: Hasniah. Dan selama bertahun-tahun, tanpa menikah lagi, I Nuhung membesarkan putrinya itu sendiarian.&lt;br /&gt;Kakek Buyut berpendapat Hasniah anak yang baik. Dia sangat patuh juga hormat kepada Ayahnya. Sehari-hari Ayah dan putri itu berbicara dalam bahasa Bugis dialek Enrekang yang artinya kurang begitu dipahami Kakek Buyut. Namun meski tidak menguasai bahasa Melayu sefasih Ayahnya, Hasniah tetap bisa berkomunikasi dengan Kakek Buyut setiap kali beliau datang berkunjung. Kadang-kadang antara tamu dan anak si Tuan Rumah tersebut perlu berbahasa isyarat untuk mempertegas hal-hal tertentu.&lt;br /&gt;Namun, pada kunjungan bulan September tahun itu, Kakek Buyut mendapati keadaan I Nuhung berbeda dari biasanya. Pria pencari kayu itu sedang terbaring sakit. Dia demam dan sekujur tubuhnya menggigil hebat terutama di malam hari. Awalnya semua orang berpendapat kalau I Nuhung hanya sakit biasa. Pada hari ketiga, sakitnya tak kunjung sembuh juga sehingga dia pun pergi mengunjungi sanro (dukun) untuk berobat. Tetapi sepulangnya dari sanro, I Nuhung bukannya sembuh. Sebaliknya, kondisinya semakin parah.&lt;br /&gt;Kakek Buyut melihat gejala-gejala sakitnya I Nuhung dan menarik kesimpulan. "Pak Nuhung, sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit buat memeriksa penyakitmu," ujar Kakek Buyut khawatir.&lt;br /&gt;"Rumah sakit?" ujar I Nuhung dengan tidak percaya. "Di mana ada rumah sakit di Enrekang ini? Rumah sakit terdekat dari sini terletak di Parepare, dan jaraknya hampir seratus kilometer dari sini. Lagipula saya sudah diperiksa sanro. Jangan khawatir Baba, sebentar lagi saya pasti akan sembuh. Saya sudah biasa kena sakit begini!"&lt;br /&gt;I Nuhung berkata di sela-sela usahanya menahan bunyi giginya yang bergemelutuk karena menggigil.&lt;br /&gt;"Jangan menyepelekan sakitmu ini, Pak Nuhung. Kelihatannya, sanro pun sudah tak manjur lagi mengobatinya. Jika saya meilihat gejalanya, ini sepertinya malaria.... "&lt;br /&gt;Namun I Nuhung bersikeras tidak mau berobat ke rumah sakit. Keesokan harinya, kondisinya semakin parah. Dia bahkan tak bisa lagi bangkit dari tempat tidurnya.&lt;br /&gt;"Seluruh badanku terasa ngilu, Baba...." keluh I Nuhung dengan suaranya yang parau. "Baba benar, kali ini sanro sudah tidak mampan mengobati saya. Saya kira... 'waktunya' sudah hampir tiba...."&lt;br /&gt;"Apa maksudnya 'waktunya' sudah hampir tiba? Pak Nuhung, jangan bicara seperti itu!" Kakek Buyut berujar. Tetapi diam-diam beliau mulai cemas memikirkan pembicaraan I Nuhung yang mulai ngelantur itu. Disemangatinya orang sakit itu. "Ingat, masih ada Hasniah, anak perempuanmu satu-satunya. Pak Nuhung harus bisa sembuh demi dia...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut sulit membayangkan Hasniah yang kelak akan menjadi yatim-piatu apabila I Nuhung benar-benar 'pergi' meninggalkannya. Memikirkan kemungkinan itu, Kakek Buyut teringat akan putri sulungnya, Yen Ndui, yang ditinggalkan oleh Nenek Buyut ketika masih berusia tigabelas tahun di Guandong.&lt;br /&gt;"Itulah yang membuatku resah, Baba...." sahut I Nuhung. "Saya tak bisa pergi dengan tenang apabila belum mengetahui Hasniah akan tinggal dengan siapa. Saya sudah tidak punya sanak-keluarga buat menitipkan anak itu. Begini saja...." I Nuhung memandang Kakek Buyut dengan tatapan nanar. "Bersediakah Baba membawa Hasniah ikut bersama Anda untuk tinggal di Makassar, jika sesuatu terjadi dengan saya?"&lt;br /&gt;Kakek Buyut semakin cemas. "Pak Nuhung, saya sudah bilang: 'jangan berpikir yang tidak-tidak'!"&lt;br /&gt;I Nuhung mencengkeram erat pergelangan tangan Kakek Buyut sampai-sampai Kakek Buyut bisa merasakan telapak tangan yang basah dan dingin menekan kulitnya.&lt;br /&gt;"Baba, saya mohon Baba mau berjanji...." ucap I Nuhung sambil tersengal-sengal. "Biarkan Hasniah ikut Baba... dia bisa bekerja di rumah Baba. Dia bisa menjadi pembantu yang baik...."&lt;br /&gt;Hati Kakek Buyut pedih mendengarnya. "Saya tidak akan pernah menganggap atau memperlakukan putrimu sebagai pembantu, Pak Nuhung...," ujar Kakek Buyut. "Kalaupun kelak dia ikut bersama saya, saya pasti akan menjaga dan merawatnya seperti anak sendiri...."&lt;br /&gt;I Nuhung melepaskan genggamannya dan mendesah lega. "Ah, Baba baik sekali...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut memperbaiki posisi tubuh I Nuhung, dan mendesaknya agar tetap berbaring.&lt;br /&gt;"Saya akan ke Parepare sore ini juga buat membelikanmu pil kina. Obat itu paling mujarab untuk sakit malaria. Setelah memperoleh obat tersebut, saya akan segera kembali."&lt;br /&gt;I Nuhung bergumam sesuatu dengan kalimat tak jelas. Kedengarannya dia hendak protes. Akan tetapi Kakek Buyut telah beranjak meninggalkannya.&lt;br /&gt;Sore itu juga, Kakek Buyut berangkat ke Parepare untuk membeli pil kina bagi I Nuhung dengan menumpang sebuah bendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Buyut sampai di Parepare pada waktu tengah malam, dan baru bisa membeli pil kina di rumah sakit kecil milik orang Belanda keesokan paginya.&lt;br /&gt;Usai memperoleh obat tersebut, Kakek Buyut buru-buru menumpang bendi kembali ke Enrekang. Selama perjalanan itu, Kakek Buyut tak henti-hentinya berharap agar dia lekas sampai ke rumah I Nuhung. Namun, jalan sempit berbatu yang dilalui, disertai jalur yang meliuk-liuk pegunungan, membuat perjalanan ini tidak secepat yang diharapkan Kakek Buyut.&lt;br /&gt;Sesampainya Kakek Buyut di Enrekang, hari sudah sore. Ketika Beliau memasuki halaman rumah I Nuhung, Kakek Buyut sungguh terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Begitu banyak orang yang berkumpul di depan rumah panggung tersebut. Di halaman depan terdapat beberapa pria sedang membuat keranda dari bambu. Suara jerit tangis terdengar dari dalam rumah. Salah seorang tetangga I Nuhung berkata kepada Kakek Buyut.&lt;br /&gt;"Baba, Anda terlambat kembali... I Nuhung sudah meninggal siang tadi seusai lohor...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut bergegas menaiki tangga kayu menuju atas rumah. Di ruang dalam rumah panggung tersebut, jenazah I Nuhung telah terbaring, sekujur tubuhya terbungkus oleh kain kafan putih.&lt;br /&gt;"Pak Nuhung!" jerit Kakek Buyut seraya menghambur ke pinggir jenazah yang telah kaku tak bergerak itu. "Kenapa bisa begini...? Kenapa Pak Nuhung tidak menunggu saya pulang membawa obat...?"&lt;br /&gt;Kakek Buyut diliputi keputusasaan. Beliau menyesal sekali mengapa beberapa hari sebelumnya beliau tidak memaksa I Nuhung pergi berobat atau pergi membeli pil kina lebih cepat. Semestinya Beliau tidak langsung mempercayai kata-kata I Nuhung bahwa kondisinya akan baik-baik saja, waktu itu.&lt;br /&gt;Kakek Buyut menengadahkan kepalanya seraya memendam kesedihan di dalam dadanya. Di seberangnya, pada sisi jenazah I Nuhung, Kakek Buyut melihat Hasniah yang tengah menangis sedih. Melihat kondisi gadis itu, hati Kakek Buyut semakin berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Nuhung dimakamkan sore itu juga sebelum magrib.&lt;br /&gt;Usai pemakaman, Kakek Buyut berbicara kepada Hasniah dalam bahasa Melayu yang dimengerti namun tidak bisa dijawab dengan fasih olehnya.&lt;br /&gt;"Hasniah," panggil Kakek Buyut. "Kamu mau ikut dengan saya ke Makassar?"&lt;br /&gt;Mata Hasniah membelalak tak percaya. "Ke... Makassar, Baba?" tanyanya gugup.&lt;br /&gt;"Ya," Kakek Buyut menjawab. "Saya berencana mengangkatmu sebagai anak, Hasniah. Ini sudah saya janjikan kepada Ayahmu sewaktu dia sakit. Sekarang tinggal menunggu keputusanmu, Nak. Kalau kamu setuju, saya dengan senang hati mengadopsimu. Tetapi kalau kamu keberatan, saya tidak memaksa. Hanya saja, Ayahmu pernah bilang kalau kalian sudah tidak punya sanak-keluarga lagi. Jadi, kalau kamu tetap di sini, kamu akan tinggal dengan siapa?"&lt;br /&gt;Hasniah mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;Kakek Buyut tak mau langsung menyimpulkan keputusan gadis itu. Ditanyainya lagi gadis itu dengan lembut, "Jadi, Hasniah betul mau ikut dengan saya ke Makassar?"&lt;br /&gt;Hasniah mengangguk lagi. Kakek Buyut mendesah perlahan. Dielus-elusnya kepala Hasniah dengan perasaan sayang. Melihat Hasniah kala itu, Kakek Buyut kembali membayangkan putri sulungnya, Yen Ndui. Hatinya diliputi kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Buyut membawa Hasniah ke Makassar seminggu usai pamakaman I Nuhung.&lt;br /&gt;Perjalanan kali ini merupakan perjalanan terjauh yang pertama kali dilakukan Hasniah seumur hidupnya, waktu itu. Dia dan Kakek Buyut melewati banyak tempat. Begitu banyak hamparan sawah dan ladang yang dilihat Hasniah. Begitu juga dengan laut dan hutan. Karena selama ini Hasniah dan Ayahnya tinggal di dataran tinggi, melihat laut merupakan pengalaman pertama bagi Hasniah. Untuk pertama kali dalam hidupnya kala itu, Hasniah melihat hamparan air yang begitu luas, memantulkan warna langit biru di atasnya disertai bau hangat dan asin menerpa kulitnya.&lt;br /&gt;Setelah tiga hari berjalan, sampailah Hasniah di rumah Kakek Buyut di kawasan pecinan, Makassar. Sewaktu melihat bangunan rumah itu, Hasniah sempat terheran-heran melihat bangunan bertingkat tiga dan hampir seluruhnya terbuat dari batu bata tersebut menjulang di hadapannya. Kakek Buyut membimbing Hasniah memasuki rumah dan bermaksud mengenalkannya kepada Nenek Buyut.&lt;br /&gt;Nenek Buyut pada awalnya tidak terlalu menyukai Hasniah. Dia mencurigai Kakek Buyut&lt;br /&gt;"Anak siapa dia? Apakah dia salah satu anak dari istri mudamu yang selama ini kau sembunyikan di luar kota?"&lt;br /&gt;Kakek Buyut gusar sekali sewaktu mendengar tuduhan istrinya itu. Beliau menghentakkan kaki.&lt;br /&gt;"Sudah berapa kali kubilang, aku bukan pria seperti itu! Kita sudah puluhan tahun menikah, masa sampai sekarang kau masih tidak mempercayaiku juga? Anak ini bukan anakku dengan wanita lain, tetapi anak salah satu kenalanku di Enrekang. Sebelum dia menjadi yatim-piatu seperti sekarang, aku telah berjanji kepada Ayahnya untuk merawatnya dan mengangkatnya sebagai anak."&lt;br /&gt;Nenek Buyut memicingkan mata. "Oh,begitu?" sindirnya masih dengan nada sinis.&lt;br /&gt;"Kau jangan bersikap penuh curiga seperti itu, Istriku," tegur Kakek Buyut. "Tidakkah kau bersimpati padanya? Mungkin ini sudah kehendak Lao Tian—Tuhan, untuk menitipkan anak ini kepada kita. Kumohon, Istriku, demi putri sulung kita yang dulu kau tinggalkan di Guandong, berbuat baiklah kepada anak ini dengan cara mengadopsinya."&lt;br /&gt;Nenek Buyut menghampiri Hasniah dan memandangnya lekat-lekat dari atas kepala hingga ujung kaki.&lt;br /&gt;"Anak ini kurus sekali," ujar Nenek Buyut sambil memegang pergelangan tangan Hasniah. "Dan kotor pula...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut berkata kepada istrinya, "Harap kau memakluminya, Istriku. Anak ini kan tidak lahir di kota seperti kita, sejak kecil dia dan Ayahnya tinggal di daerah pedalaman yang jauh. Jangankan menyabuni badannya, barangkali mandi saja dia jarang...."&lt;br /&gt;"Haiya, kalau mau menjadi putriku, dia harus rapi dan bersih!" seru Nenek Buyut.&lt;br /&gt;Sejurus kemudian Nenek Buyut menarik Hasniah ke kamar mandi tanpa menghiraukan perkataan-perkataan Kakek Buyut selanjutnya. Di dalam kamar mandi Nenek Buyut mengguyur Hasniah dengan berember-ember air. Dia mulai menggosok kulit Hasniah keras-keras dan mencuci rambutnya sehingga gadis itu meronta-ronta. Hasnih menjerit-jerit dalam bahasa Bugis yang sama sekali tidak dimengerti oleh Nenek Buyut. Aroma wangi sabun mandi memang terasa sangat menyegarkan bagi Hasniah. Namun pengalaman pertama dimandikan oleh Nenek Buyut membuat Hasniah trauma dan tak ingin diulanginya untuk kedua kalinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulai sekarang, panggil aku, Ayah," ujar Kakek Buyut kepada Hasniah usai gadis itu mandi dan mengenakan pakaian bersih. Rambutnya yang lebat dan panjang telah dikepang dua oleh Nenek Buyut. Dengan baju cheongsam yang dikenakannya, siapa pun tak akan menduga kalau gadis itu sesungguhnya bukan orang Tionghoa.&lt;br /&gt;"Dan dia," Kakek Buyut menunjuk ke arah istrinya. "Mulai sekarang dipanggil Ibu."&lt;br /&gt;Hasniah melihat sekilas ke arah wanita yang siang tadi telah menyeretnya dan memandikannya itu. Pandangan sangar wanita itu membuatnya bergidik.&lt;br /&gt;"Nah, kalau ini, Kuangthing. Dia akan menjadi Kokoh—kakak lelakimu."&lt;br /&gt;Hasniah mengikuti telunjuk Kakek Buyut ke arah seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun. Pemuda itu sedang tersenyum ke arahnya. Hasniah dengan canggung membalas senyum itu.&lt;br /&gt;"Lalu, ini akan menjadi Meimei—adik perempuanmu."&lt;br /&gt;Kakek Buyut menarik seorang bocah perempuan berusia lima tahun yang sedari tadi bersembunyi di belakang Nenek Buyut. Gadis cilik itu mencoba menggeliat dan berontak dari cengkeraman Ayahnya. Namun, Kakek Buyut berhasil merengkuh pinggang kecilnya dan menahannya.&lt;br /&gt;"Sini, Liming! Ayo beri salam pada Ciecie—kakak perempuanmu!"&lt;br /&gt;Liming berhenti bergerak dan mengerjap-ngerjapkan matanya memandang Hasniah. Beberapa lama kemudian, dia berteriak, "Aku tak mau memanggilnya Ciecie! Dia bukan Ciecie-ku!"&lt;br /&gt;Hasniah tersentak dengan perkataan itu. Untuk pertama kalinya dia baru menyadari tentang kemungkinan penolakan yang akan diterimanya dari keluarga barunya ini. Dan baru saja calon adik barunya telah menolaknya!&lt;br /&gt;Kakek Buyut berusaha menaklukkan Liming, "Gadis nakal, jangan berlaku tidak sopan terhadap yang lebih tua! Ayo lekas panggil dia Ciecie!"&lt;br /&gt;Liming kembali menggeliat dan kali ini dia berhasil melepaskan diri.&lt;br /&gt;"Tidak mau!" serunya keras kepala, lalu lekas-lekas lari bersembunyi.&lt;br /&gt;Kakek Buyut menghela napas melihat kelakuan putri bungsunya itu. Ditegurnya Nenek Buyut yang sedari tadi tampak diam saja.&lt;br /&gt;"Lihat kelakuannya! Ini akibat kamu yang terlalu memanjakannya, Istriku. Si Liming ini benar-benar mei you li mao—tak punya sopan-santun! Tidak seperti Yen Ndui dulu."&lt;br /&gt;Nenek Buyut mendelik ke arah suaminya seraya berkata, "Lha! Dia kan putrimu juga! Bukankah kamu sendiri juga sering memanjakannya karena menganggapnya sebagai pengganti Yen Ndui? Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab Ibunya seorang, Ayahnya juga turut berperan! Sekarang setelah kelakuannya seperti itu kau bisanya hanya menyalahkanku."&lt;br /&gt;Kakek Buyut gondok karena kalah bersilat lidah dengan istrinya. Apa yang dikatakakan Nenek Buyut memang benar, beliau juga memanjakan Liming demi menebus penyesalannya terhadap putri sulungnya, Yen Ndui. Namun seperti kata orang-orang, 'terlalu memanjakan anak bisa berbahaya'. Di usianya yang baru lima tahun itu, Liming telah menjelma menjadi bocah perempuan pemberang dan nakal. Dia tidak akan sungkan-sungkan untuk ngambek apabila keinginannya tidak terpenuhi.&lt;br /&gt;Kakek Buyut menghela napas dan berkata kembali ke arah Hasniah. "Maafkan kejadian tadi, Nak.Oh ya, ada sesuatu hal yang hendak aku sampaikan padamu. Karena sudah menjadi putriku, maka kamu akan kuberi nama baru. Keluarga kita bermarga Ciang, maka mulai sekarang margamu adalah Ciang. Nama Tionghoa yang akan kamu gunakan mulai sekarang sekarang adalah Leiho. Lei dalam bahasa Guandong Khaiphing berarti datanglah sedang ho berarti baik atau kebajikan. Jadi arti namamu adalah 'datanglah kebajikan'. Sebab aku berharap dengan kedatanganmu ini, ' segala kebajikan akan memenuhi keluarga kita'!"&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan tanggal kelahirannya? Kita harus menentukan apa shio—horoskop China Leiho, bukan?" Nenek Buyut menyelutuk.&lt;br /&gt;"Ah, ya!" Kakek Buyut baru tersadar. "Nak, apakah sebelumnya Ayahmu pernah memberi tahumu kapan kamu dilahirkan?"&lt;br /&gt;Hasniah menggeleng. "Bapak tidak pernah bilang...," ujarnya.&lt;br /&gt;Maka Nenek Buyut pun berkata antusias, "Begini saja, karena tahun ini adalah tahun Ting Chou—Kerbau Api, maka kita anggap saja dia kelahiran tahun kerbau dan telah berusia tiga belas tahun. Itu berarti, Leiho lahir pada tahun Yi Chou—Kerbau Kayu (tahun 1925)."&lt;br /&gt;Kakek Buyut mangut-mangut mendengar usul Nenek Buyut. "Ide yang bagus, aku setuju sepenuhnya dengan pendapatmu, Istriku."&lt;br /&gt;Maka, sejak saat itu Hasniah telah berganti nama menjadi Ciang Leiho. Pada semua surat-surat dokumen, mulai dari KTP hingga Kartu Keluarga di kemudian hari, tertulis bahwa tahun kelahirannya adalah 1925.&lt;br /&gt;Begitulah ceritanya sampai Kakek dan Nenek Buyut memiliki seorang putri lagi yang ber-shio Kerbau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-5509385356199816372?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/5509385356199816372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/leiho-datanglah-kebajikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5509385356199816372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5509385356199816372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/leiho-datanglah-kebajikan.html' title='Leiho, Datanglah Kebajikan bag. 1'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx7rXx2GjI/AAAAAAAAAVI/EE3G1crKFN4/s72-c/muslimah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-8723133861821803142</id><published>2009-10-15T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:43:09.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Gegge Mappangewa'/><title type='text'>Ini Kisahku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx6qCoFwyI/AAAAAAAAAVA/GxnbrPn7YBY/s1600-h/kisahku.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx6qCoFwyI/AAAAAAAAAVA/GxnbrPn7YBY/s320/kisahku.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394321316361126690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat membaca kisah ini, bayangkan lagu Peterpan, Kukatakan, mengalun pelan, mengiringi sekaligus menjadi soundtrack kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan dengan indah&lt;br /&gt;Dengan terluka, hatiku hampa&lt;br /&gt;Sepertinya luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis kisahku, di sini. Pada karang dengan jari telanjang. Perih! Bukan hanya jari, namun seluruh persendianku, terasa dilumuri darah. Teramputasi! Seluruh ruang hatiku, porak-poranda oleh badai airmata yang sesamudera.&lt;br /&gt;Bukan kurutuki takdir. Tak ingin menjadi pendosa dengan mengkufuri nikmat. Beginilah kenyataan. Inilah kisah yang harus kulakonkan, di antara para aktor lain yang begitu mudah mendapat peran jagoan, kaya, cakep... semua! Aku tak boleh bermimpi, aku harus tetap terjaga bahwa aku hanyalah pecundang.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pengecut!"&lt;br /&gt;"Biarin!"&lt;br /&gt;"Kamu tahunya menangis. Bahkan saat Tuhan memintamu tersenyum pun, kamu tetap merasa dicurangi takdir."&lt;br /&gt;"Kamu bukan aku, Sandi. Kamu hanya tahu bahwa aku telah betah dengan tangis. Kamu tak pernah merasa, betapa pedihnya luka yang membuatku menangis."&lt;br /&gt;Pffuihh...! Sandi membuang ludah tanpa melepaskan tatapan sinisnya ke arahku. Emosi!&lt;br /&gt;"Jadi kamu pikir, kemiskinan yang kamu sandang adalah luka? Semua ketidaksempurnaan yang kamu miliki adalah kesalahan Tuhan karena telah pilih kasih?"&lt;br /&gt;"Cukup! Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan," potongku saat untuk yang kedua kalinya dia menyebut nama Tuhan di depanku.&lt;br /&gt;"Lalu kenapa masih mau bersembunyi dari semua orang?"&lt;br /&gt;Desah napas keras seolah mengakhiri napasku. Aku memilih bisu. Benakku tetap merangkai untaian kalimat, sekilau mutiara, saat tertuang dalam kisah puisi ataupun cerpen, semua akan kagum. Mataku tetap menatap wajah Sandi, sahabatku. Sesekali kuburu dan kucari tatapannya, saat dia membuangnya dariku. Sinis!&lt;br /&gt;Sandi satu-satunya yang tahu, jika Rudi Wijaya, yang selama ini digilai penikmat puisi dan cerpen remaja, adalah aku. Dan aku tak ingin, ada yang lain tahu. Aku lebih betah menjadi seorang Safar, nama asliku, daripada seorang Rudi Wijaya, nama pena yang sering kugunakan di setiap tulisanku.&lt;br /&gt;Ya, aku bangga dengan diriku sebagai Safar. Seorang pekerja keras, yang tak pernah puas meski orang telah memujanya. Aku hanya bisa tersenyum, menertawai, ketika semua orang memujiku dan menganggap novel yang kuterbitkan indie, dan terjual laris meski aku pemula, adalah keajaiban.&lt;br /&gt;Bagiku, dunia ini tak lagi menyisakan keajaiban. Semua harus ditukar dengan kerja keras. Terlalu menghina, novel yang kutulis selama tiga tahun, dan mendapat predikat The Best Seller, disebutnya sebagai keajaiban.&lt;br /&gt;Patutkah disebut sebagai keajaiban, jika novel itu awalnya kutulis dalam bentuk steno, di atas kertas buram? Bukan kurang kerjaan, meski memang kekurangan kertas. Juga kekurangan dana, hingga steno itu adalah paket hemat, yang membuat biaya rental komputerku menjadi irit. Aku pernah punya mimpi. Punya komputer, dalam sebuah kamar yang ber-AC. Menarikan jari di atas keyboard komputer, sambil sesekali meneguk kopi susu. Tapi benar-benar hanya mimpi!&lt;br /&gt;Masihkah ada yang mau menyebutnya sebagai keajaiban, jika tahu bahwa novel yang kini di tangannya, membuatnya terkagum-kagum, tertunda terbit karena aku harus menunggu celengan ayamku penuh, lalu kupecahkan. Semua karena harus kuterbitkan indie dan kubiayai sendiri. Tak adakah yang bertanya, mengapa novel yang di tangannya begitu buram, hasil fotocopy, dan terbit pada sebuah penerbitan yang sebelumnya belum pernah terdengar namanya?&lt;br /&gt;Jika bukan keinginan yang keras seorang Safar, novel indie itu takkan pernah ada. Terlebih tak akan ada seorang Rudi Wijaya, yang kini dielu-elukan. Karenanya, aku benci pada diriku sebagai seorang Rudi Wijaya. Tahunya hanya menangis, dan melarikan diri dalam negeri khayalannya.&lt;br /&gt;"Apa lagi yang menghalangimu untuk memiliki Tania? Kamu tinggal bilang, kamu adalah Rudi Wijaya, yang selalu dielu-elukannya selama ini. Kamu tinggal mencopot nama Safar dari dirimu, lalu berganti menjadi Rudi Wijaya."&lt;br /&gt;"Tania terlalu...."&lt;br /&gt;Sandi memotong. "Terlalu tinggi untuk kamu gapai? Begitu? Selamat datang di alam nyata, Safar. Kamu tidak sedang bermain di negeri khayalan yang sering kamu ciptakan. Hanya negeri dongeng yang selalu menjadikan cowok tajir hanya sepadan dengan cewek tajir pula."&lt;br /&gt;Percuma aku jawab. Bicaraku hanya sia-sia. Sandi takkan pernah menyerah untuk memberiku semangat.&lt;br /&gt;Dia benar. Mungkin terlalu lama larut dalam dunia fiksi, hingga aku tak pernah yakin bahwa ada dunia di luar imajinasiku. Dunia nyata. Dunia yang memungkinkan apa pun bisa terjadi. Seperti kejadian yang selalu kuangankan, bahwa Tania yang cantik, kaya, bisa dimiliki oleh seorang Safar yang...? Akh, aku takut melanjutkan kalimatku sendiri.&lt;br /&gt;Tuhan, benarkah ada pungguk yang mewujudkan rindunya pada bulan? Tania bulan yang kumau. Hanya dia! Namanya bersarang di benakku. Sesekali terbang, namun akan selalu kembali dan hinggap di ranting hatiku yang rapuh.&lt;br /&gt;"Aku yakin kamu telah ngaca, Safar. Tapi jangan karena dirimu cakep, lalu memberanikan diri mengirim surat untukku," ucap Tania saat itu.&lt;br /&gt;Tak hanya berucap. Tania juga membanting pintu mobil, lalu menghamburkan sobekan suratku yang telah dicabiknya, Sakit. Butuh perjalanan waktu yang panjang, butuh benang jahitan yang panjang untuk menyatukan kembali bekas akutan luka yang Tania goreskan. Syukurku, saat itu tak ada yang melihatku. Tak sepasang mata pun menyaksikan aku tergeletak. Menggelepar seperti unggas yang terkena peluru.&lt;br /&gt;Luka itu menjadi rahasia hidupku. Tapi tak kumengerti. Disakiti serupa itu, mengapa tetap saja aku mengharap. Tak adakah Tania yang lain, Tuhan? Tak adakah Tania lain yang pantas untukku? Aku tak butuh banyak. Satu saja!&lt;br /&gt;Salahku mencinta pada rupa. Hingga tak bisa memuji, jika tak serupa Tania. Serupa cantiknya. Andai ada Tania lain, aku tak butuh dia berpunya ataupun bermewah-mewahan. Aku hanya butuh Tania yang setiap kudapatkan matanya, seperti kejatuhan bola salju. Luka lalu beku! Aku butuh Tania yang air mukanya selalu memancingku untuk tersenyum, meski telah dilukainya. Bahkan dibekukan!&lt;br /&gt;"Kamu belum jera juga?" begitu kata Tania saat mendapatkan aku menatapnya di kantin yang sepi.&lt;br /&gt;"Jangan karena aku tidak pernah jalan dengan cowok mana pun, hingga kamu dengan berani mau melangkah di sisiku sebagai pacar. Tidak akan, Safar! Aku punya cowok. Bukan di sekolah ini! Dia adalah...." kalimatnya terhenti.&lt;br /&gt;Bukan aku yang memotong kalimat itu. Terhenti sendiri lalu melanjutkan langkah meninggalkanku. Cinta memberiku energi untuk memburunya.&lt;br /&gt;"Siapa cowok itu, Tania? Katakan padaku, tunjukkan dan suruh cowok itu menghajarku habis-habisan. Agar aku jera mencintaimu. Agar aku takut berharap pada mimpi manis yang tidak pernah bisa kukecap. Aku harus bertemu cowok itu. Aku butuh orang yang bisa membuatku terjaga bahwa kamu tidak bisa kumiliki. Siapa orang itu?"&lt;br /&gt;Aku seperti tak sadar apa apa yang kututurkan. Inilah kalimat terpanjang yang kuungkapkan pada Tania selama ini. Bahkan dalam surat untuknya pun, aku cuma berani berkalimat:&lt;br /&gt;Kamu pernah melihat pungguk? Kalaupun pungguk benar-benar ada, tapi bagiku burung itu hanyalah kiasan untuk memberi antonim pada bulan yang cantik. Pungguk itu berkaki dua, tak punya sayap, bagaimana mungkin terbang ke bulan. Pungguk itu bernama Safar, Tania! Aku tak mungkin menggapaimu, maka jatuhlah untukku!&lt;br /&gt;"Jadi kamu mau kenal dengan cowokku?"&lt;br /&gt;Tania membuka tas. Mungkin untuk mengambil HP, lalu memperkenalkanku dengan cowoknya, atau mengambil foto dari tasnya. Tapi apa yang keluar dari tas itu membuatku tersentak.&lt;br /&gt;"Ini dia orangnya!" ucapnya membusung dada.&lt;br /&gt;Mataku terbelalak. Sebuah novel indie berjudul 'Kubawa Senja Pulang', dihempaskannya di meja tepat di depan mataku. Di situ tertulis nama penulisnya, Rudi Wijaya!&lt;br /&gt;Itu namaku, Tania! Bisaku hanya membatin. Nama penaku. Nama seekor burung yang sering disebut sebagai pungguk. Itu adalah aku. AKU! Safar, yang begitu banyak orang meliriknya karena cakep, tapi banyak juga yang terhenyak ketika tahu bahwa aku anak seorang pembantu rumah tangga yang sering dibentak oleh Tania, anak majikannya.&lt;br /&gt;Harusnya giliran aku yang membusung dada, jika Rudi Wijaya itu adalah aku. Safar! Tapi aku takut, Tania hanya menertawaiku. Biarlah, dia memujaku sebagai Rudi Wijaya, mungkin hingga sebuah keajaiban menyatukan kami.&lt;br /&gt;Keajaiban? Aku menggeleng. Keajaiban tak ada!&lt;br /&gt;Aku beranikan tersenyum untuk Tania. Meski dia balas dengan cibiran. Aku minta maaf atas salahku yang terlalu lancang mencintai Tania, anak majikan ibuku. Uluran tanganku tak disambutnya.&lt;br /&gt;Aku bisa mengerti. Tania tak pernah menduga, perlakuannya untukku yang seolah bukan anak pembantu di rumahnya, membuatku salah menterjemahkan kebaikannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membaca kisah ini, bayangkan lagu Peterpan, Kukatakan, tetap mengalun pelan, mengiringi sekaligus menjadi soundtrack kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan dengan indah&lt;br /&gt;Dengan terluka, hatiku hampa&lt;br /&gt;Sepertinya luka&lt;br /&gt;Kau beri rasa yang berbeda&lt;br /&gt;Mungkin kusalah&lt;br /&gt;mengartikannya&lt;br /&gt;Kau hancurkan hatiku... hancurkan lagi&lt;br /&gt;Untuk melihatku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisahku. Bukan sembarang aku mengambil lagu ini sebagai sound track kisahku. Bukan kesamaan kisah, tapi kesamaan rupa antara aku dan Ariel Peterpan. Ya, aku mirip Ariel. Sangat mirip! Esok atau lusa, kamu bertemu Ariel, hati-hati minta tanda tangan dan foto bareng. Jangan sampai salah orang, bukan tak mungkin itu aku, Safar. Penulis yang memakai nama pena, Rudi Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-8723133861821803142?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/8723133861821803142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/ini-kisahku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8723133861821803142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8723133861821803142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/ini-kisahku.html' title='Ini Kisahku'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx6qCoFwyI/AAAAAAAAAVA/GxnbrPn7YBY/s72-c/kisahku.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-3820466973688422718</id><published>2009-10-11T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:40:45.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Gegge Mappangewa'/><title type='text'>Karang Retak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx53JUnY1I/AAAAAAAAAU4/oT5zZI1g8PU/s1600-h/karang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 251px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx53JUnY1I/AAAAAAAAAU4/oT5zZI1g8PU/s320/karang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394320441985164114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Langkah kakinya amat tergesa. Cewek hitam manis itu, kehilangan senyum hari ini. Teman-teman sekolah yang biasa kena cipratan senyum manisnya, kini hanya berdiri mematung, menunggu disenyumi, namun tak juga berani menagih saat tak satu pun di antara mereka yang menuai senyum siang ini.&lt;br /&gt;"Ada apa dengan Andine, ya?"&lt;br /&gt;"Tumben nggak senyum."&lt;br /&gt;"Mungkin ada masalah. Tapi dia pasti bisa mengatasinya."&lt;br /&gt;Semua hanya membatin. Tak ada yang merasa dicueki, meski sebelumnya mereka selalu kebagiaan senyum. Mereka bahkan ingin menahan langkah Andine, tapi mereka sadar jika itu tampaknya mengganggu. Mereka membiarkan Andine berlalu.&lt;br /&gt;Andine, cewek hitam manis itu, memang sedang dalam masalah. Berduka tepatnya! Barusan dia terima sms, jika papa Nia, teman SMP-nya kemarin, baru saja meninggal. Nia sahabat terdekatnya sejak SD, baru berpisah setelah lulus di SMA yang berbeda, jadi wajarlah bila dia ikut kehilangan senyum.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Andine ingin menjadi orang yang pertama berada di sisi Nia, saat hati sahabatnya itu sedang lara. Berbagai rangkaian kalimat telah disusunnya, kelak setelah diucapkan pada Nia, akan lebih bermakna dan lebih indah dari sebuah rangkaian bunga ucapan belasungkawa.&lt;br /&gt;Dia yakin, Nia sangat terpukul dengan kematian papanya yang begitu mendadak. Dua hari yang lalu, Nia meneleponnya kalau papanya masuk rumah sakit. Bahkan saat Andine mau datang membesuknya, Nia masih meyakinkan Andine kalau papanya hanya sakit ringan dan hanya butuh istirahat yang cukup. Tapi dugaan Nia meleset.&lt;br /&gt;"Kamu tabah ya, Nia!"&lt;br /&gt;Andine langsung membawa Nia ke dalam pelukannya.&lt;br /&gt;"Aku tahu kamu sedih, aku juga tahu kamu sekarang rapuh menghadapi musibah, tapi kamu harus tegar, Nia! Jadikan musibah ini sebagai ujian. Dan kamu harus berhasil melaluinya!"&lt;br /&gt;Andine mengeluarkan airmata saat mengucap kalimat itu, tapi dia tak menangis. Suaranya tak serak, terlebih tanpa isak. Di sela airmata itu, dia masih menyempatkan senyum.&lt;br /&gt;"Memang berat, Nia. Tapi waktu akan meringankan beban itu. Kalau saat terpukul seperti ini kamu menyempatkan untuk senyum, besok saat pukulan itu melemah, kamu akan merasa diri sebagai pemenang. Jangan cengeng!"&lt;br /&gt;Nia menatapnya lemah. Dia belum juga bisa tersenyum. Dan senyum itu memang sepertinya mustahil. Nia anak bungsu, kakaknya cuma satu dan baru saja masuk kuliah di sebuah universitas swasta, fakultas Kedokteran lagi! Mau ambil uang di mana untuk menyambung hidup? Dari gaji pensiun peninggalan papanya? Itu semakin mustahil! Mama hanyalah istri kedua dari papanya. Papanya belum mati saja, kakak-kakak tirinya sudah sering datang minta warisan.&lt;br /&gt;Ya, kematian papanya bukan hanya membuatnya kehilangan tapi juga membawa masalah baru. Nia dan kakaknya, begitu pun dengan mamanya, dari dulu selalu menginginkan saudara tirinya bergabung dalam rumah. Mamanya berjanji akan menjadi pengganti ibu mereka yang telah meninggal, tapi semua menganggap kebaikan itu untuk cari muka. Dan kematian papanya kini, tentulah menyisakan masalah yang rumit. Bukan tak mungkin Nia dan mamanya harus angkat kaki dari rumah, jika saudara tirinya menginginkan rumah yang memang sudah ada sebelum pernikahan papanya dengan mama Nia.&lt;br /&gt;Seolah tahu apa yang ada di benak Nia, Andine semakin gencar berperibahasa. Dia tak mengerti jika Nia bersedih. Pelukannya yang tadi terlerai, diikatkannya lagi. Kali ini diiringi dengan gerakan menepuk bahu Nia.&lt;br /&gt;"Aku yakin kamu selalu merasa nggak mungkin, merasa yakin nggak bisa menghadapi semua ini. Hanya persoalan waktu, Nia! Tuhan nggak hanya memberi kita waktu, tapi juga kesempatan untuk menemukan jawaban dari kesulitan yang kita hadapi. Kuncinya hanya satu, kesabaran!"&lt;br /&gt;Nia menghela napas. Panjang. Berat. Di ujung hentakan napas berat itu, dia mencoba tersenyum, tapi bukannya merasa menang, malah menganggap dirinya munafik. Di balik dadanya ada yang terluka. Sakit. Bagaimana mungkin dia bisa tersenyum.&lt;br /&gt;Tapi bukan berarti dia tak menghargai nasihat Andine. Dia mengerti, sahabatnya itu tak ingin dirinya tenggelam dalam sedih, atau malah terapung dan dipermainkan perasaan. Setidaknya, kehadiran Andine mampu mengurangi kesedihannya.&lt;br /&gt;"Terima kasih, Andine! Aku nggak bisa bayangin, gimana jika kamu nggak ada. Paling nggak, aku punya teman berbagi untuk saat ini."&lt;br /&gt;Andine mengangguk. Merasa bangga karena kehadirannya berarti lagi bagi orang lain. Dan itulah yang selalu diinginkan Andine, berarti bagi orang lain! Jangan heran, di sekolah, meski dia baru kelas satu, boleh dibilang dia adalah ujung tombak di kepengurusan OSIS. Dia selalu punya ide brilian yang membuat orang berdecak kagum.&lt;br /&gt;Di setiap perdebatan rapat, Andine selalu bisa jadi penengah yang tak berat sebelah, dan mampu memberi solusi terbaik. Jadi tak berlebihan jika teman-teman sekolahnya merasa diri diberi rahmat saat mendapatkan senyumnya. Senyum yang juga tak berat sebelah! Tarikan dua sudut bibirnya, terbagi untuk semua orang. Seolah bibir manis itu hanya ditakdirkan untuk senyum. Andine tak pernah mengeluh.&lt;br /&gt;"Nia...," ucapnya lagi. "Kamu pasti susah untuk tersenyum. Tapi cobalah! Sekali saja. Sedetik saja. Entah tulus atau nggak, tapi coba rasakan, senyum itu akan sampai di hati."&lt;br /&gt;Nia menurut. Andine tak mengada-ada. Senyum yang dipaksakannya itu, dirasakan mendarat sejenak di hatinya. Meski sejenak, tapi senyum itu seperti menitikkan embun segar di luka hatinya. Perih melayang sejenak.&lt;br /&gt;Senyum itu membuat Andine semakin merasa dirinya sangat berarti bagi Nia kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya selang dua hari, Andine kembali membawa langkah tergesanya. Bedanya, langkah tergesanya kali ini, tidak disaksikan oleh teman-teman sekolahnya. Tak ada yang menunggu senyumnya yang kali ini kaku lagi. Pelajaran sedang berlangsung, saat kepala sekolah datang menemuinya di kelas dan memintanya segera pulang.&lt;br /&gt;Apa kesalahan Andine pagi ini? Itu yang ada di benak teman kelasnya saat Andine disuruh pulang.&lt;br /&gt;"Andine tidak punya salah. Bapak baru saja terima telepon di kantor, mama Andine meninggal!" jelas kepala sekolah setelah kepergian Andine.&lt;br /&gt;Andine sendiri diberitahukan berita itu setelah diajak masuk kantor. Seperti papa Nia, mama Andine pun tak membawa firasat apa-apa sebelum kematiannya. Awalnya dia tak percaya, tapi HP-nya yang di-on-kan setelah off karena sedang belajar, berdering dan suara papanya yang serak memperdengarkan sendiri berita duka itu.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan pulang, dia masih bisa menyatukan, merekatkan bangunan-bangunan ketegarannya yang mendekati roboh. Tapi setelah tiba di rumah, dan mendapatkan mamanya terbujur kaku, Andine goyah. Menangis, teriak, histeris!&lt;br /&gt;"Berat mata memandang, tak seberat bahu memikul," kata peribahasa.&lt;br /&gt;Ya, kemarin Andine sedih melihat Nia dengan kematian papanya, dan meminta Nia untuk tersenyum. Tapi setelah bahunya sendiri yang memikul beban berat itu, dia tak bisa apa-apa!&lt;br /&gt;Dia tak bisa membayangkan bagaimana suasana rumah tanpa mamanya. Bagaimana jika papanya kawin lagi? Di antara empat bersaudara, Andine yang sulung dan satu-satunya cewek. Itu berarti dia harus menggantikan posisi mamanya. Padahal selama ini, dia selalu terima beres dari mamanya. Untuk makan mi instan pun, mamanya yang turun tangan. Tangan kanan itu telah pergi. Andine terpukul!&lt;br /&gt;Saat Nia datang menemuinya, dia tak kuasa menyembunyikan tangisnya. Sebenarnya dia merasa malu untuk menangis. Baru kemarin dia ceramah habis-habisan tapi setelah dirinya yang tertimpa musibah, dia lebih rapuh lagi.&lt;br /&gt;Nia yang melihat kerapuhan itu, mencoba mendekat, memeluk tubuh Andine yang butuh penopang. Nia sebenarnya risih karena tak bisa memberi nasihat apalagi berperibahasa seperti halnya Andine. Tapi kebisuan Nia telah mengingatkan Andine pada seluruh nasihat yang pernah dituturkannya.&lt;br /&gt;Tapi nasihat itu seolah tak bisa diberlakukan untuk dirinya. Dia menangis. Lebih dari tangis Nia kemarin. Terkadang, bahkan selalu, seseorang dapat menasihati orang lain tapi susah menasihati diri sendiri. Saat ini Andine sangat butuh nasihat dari orang lain, bukan dari dirinya, tapi tak satu pun yang bisa memberinya nasihat. Nia beranggapan, apa yang mendera Andine adalah luka sesaat, hanya butuh istirahat. Apalagi dia kenal Andine, kuat, tegar, kokoh, padahal karang pun suatu saat akan hancur karena badai.&lt;br /&gt;Bukan hanya Nia, teman-teman sekolah Andine yang datang, tak banyak yang bisa menuturkan nasihat ataupun memberi semangat.&lt;br /&gt;"Aku yakin kamu tegar!"&lt;br /&gt;"Aku tahu kamu bisa melalui semua ini."&lt;br /&gt;"Kamu nggak sampai terhempas, kan?"&lt;br /&gt;"Aku tunggu senyummu besok!"&lt;br /&gt;Rupanya mengeluh itu perlu, agar saat merasa kalah, orang lain mau memberi semangat. Selama ini Andine tak hanya dikenal lewat senyum dan nasihatnya, tapi juga dari sosoknya yang tak pernah mengeluh. Dia selalu merasa bisa mengatasi permasalahannya sendiri, tanpa butuh bantuan meskipun itu hanya berupa semangat. Tanpa disadarinya, orang sombong bukan hanya yang tak mau mengalah, tapi juga yang tak pernah mengeluh.&lt;br /&gt;Dia kalah kini. Terkapar. Tak ada yang melihatnya menggelepar. Semua menganggapnya tegar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-3820466973688422718?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/3820466973688422718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/karang-retak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/3820466973688422718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/3820466973688422718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/karang-retak.html' title='Karang Retak'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx53JUnY1I/AAAAAAAAAU4/oT5zZI1g8PU/s72-c/karang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-5090297455233430668</id><published>2009-10-08T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:32:20.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Gegge Mappangewa'/><title type='text'>Kado Termahal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx4HPiy5nI/AAAAAAAAAUw/4HNmol-M_zs/s1600-h/kadotermahal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 241px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx4HPiy5nI/AAAAAAAAAUw/4HNmol-M_zs/s320/kadotermahal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394318519509902962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini bulan kedua, aku menunggu kedatangan Benny. Suratnya yang terakhir, tiga bulan lalu, bercerita tentang rencana kepulangannya dari Jepang. Untuk menemuiku. Tentu saja dengan janji memberi kado untukku.&lt;br /&gt;Ada kebohongan yang kusimpan rapi, katanya. Dia selalu dihantui mimpi buruk tentangku. Lalu kenapa dia tak juga pulang hingga kini? Mungkin saja dia telah tahu, kebohongan yang memang selalu tersembunyi rapi untuknya. Aku tak pernah bisa mengungkap kebohongan itu dalam suratku, meski seribu sinyal telah diterima Benny sebagai kecurigaan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kamu tak pernah balas emailku, mengapa harus via surat, sebegitu sibukkah kamu hingga tak bisa menyempatkan diri ke warnet? Dan seribu tanya lagi, yang hanya bisa kujawab dengan diam. Aku tak ingin menjadi beban pikiran Benny. Aku tahu betul, bagaimana besar perhatian Benny terhadapku. Begitu pun aku padanya. Sebagai sahabat, kami memang telah menunjukkan kesetiaan masing-masing.&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, kudengar suara Benny terisak lewat telepon, saat dengan terpaksa aku harus mengundurkan diri untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Aku ingin sekali melihat airmatanya, tapi sungguh tak mungkin. Pihak kedutaan Jepang, langsung mengkarantinakan Benny, setelah menyelesaikan interview dan tes tertulisnya, saat itu.&lt;br /&gt;Tes saat itu sebenarnya, cukup bergengsi. Dari ratusan peserta yang ikut tes dari awal, hanya aku dan Benny yang lolos, dan itu hanya akan dipilih satu orang.&lt;br /&gt;"Aku yakin kamu yang akan berangkat, Radar!" ucapnya semalam sebelum ikut tes.&lt;br /&gt;"Dengan alasan apa?"&lt;br /&gt;"Kamu satu level di atasku, di kursus Bahasa Jepang. Pengenalan Kanji-mu hampir menyamai orang Jepang asli."&lt;br /&gt;"Kamu juga nggak mungkin lolos hingga seleksi akhir, jika nggak ada yang istimewa dari kamu."&lt;br /&gt;Dia terdiam. Malam itu, dia gelisah sekali. Sangat! Aku bahkan menyalakan AC kamar, karena kupikir dia sedang kepenatan. Hanya semenit AC berhembus, dia mematikannya. Gelisahnya tak juga padam. Semakin menjadi. Bahkan sesekali kulihat tatapannya, menancap ke arahku, lalu terbang liar saat tatapan itu kubalas dengan diam.&lt;br /&gt;Aku bisa mengerti. Benny adalah tumpuan harapan orangtuanya. Satu-satunya! Adik-adiknya yang masih kecil, masih butuh perjalanan panjang, untuk mencapai cita-citanya. Benny sendiri pun, sebenarnya terancam tak bisa kuliah setelah lepas SMA. Papanya yang hanya pegawai negeri sipil, tak bisa berbuat banyak, karena mamanya yang sakit-sakitan.&lt;br /&gt;Ikut pertukaran pelajar, adalah jalan alternatif untuk mengurangi sedikit beban orangtuanya. Apalagi, jika dianggap sukses, proyek pertukaran pelajar itu, dilanjutkan dengan pemberian beasiswa, untuk melanjutkan kuliah gratis di Jepang. Tentu saja, Benny semakin menggila. Cita-citanya untuk kuliah di Teknik Mesin, sedikit menemui celah.&lt;br /&gt;Tapi salahkah aku, bila datang menutup celah itu? Menjadi saingan tunggalnya di program pertukaran pelajar itu? Orangtuaku memang mampu membiayai kuliahku, tapi adalah kebanggaan tersendiri yang akan kupersembahkan sebagai anak kepada orangtuanya, jika aku berhasil ke Jepang.&lt;br /&gt;Apalagi, orang-orang di sekitar telah menganggap keluarga kami, sebagai keluarga berantakan. Kak Intan yang bulan lalu masuk penjara karena terbukti sebagai pengguna dan pengedar drugs. Kak Farid yang kerjanya ikut balapan liar, mabuk dan terkadang tak pulang dalam sebulan. Di rumah, hanya ada aku. Belajar dan belajar, untuk membuktikan pada Mama dan Papa, bahwa masih ada aku yang bisa mereka banggakan pada orang lain.&lt;br /&gt;"Aku pulang dulu, Radar," ucapnya. Masih gelisah.&lt;br /&gt;"Tengah malam begini?"&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Gugup! Tatapannya masih menyapu sekilas di wajahku, saat dia menyerahkan STNK dan kunci motorku, yang tadi siang dipinjamnya.&lt;br /&gt;"Motormu sudah kumasukkan di garasi," katanya sambil berlalu pergi.&lt;br /&gt;"Sampai jumpa besok, di tempat tes."&lt;br /&gt;Langkahnya terhenti. Berbalik ke arahku, lalu mengangguk sekali. Ada kesan lirih dalam anggukan itu.&lt;br /&gt;Sepulangnya, gelisah Benny, menular ke jiwaku. Aku tak bisa tidur. Di benakku, ada Benny yang akan tersenyum, meski harus terluka dengan kemenanganku besok. Seperti halnya Benny, aku juga merasa yakin bahwa akulah yang akan berangkat ke Jepang, mengikuti pertukaran pelajar itu. Dan Benny akan, tertinggal, bahkan tak bisa melanjutkan kuliah tahun depan setelah lulus SMA.&lt;br /&gt;Aku harus mengalah! Itu yang akhirnya menjadi obat penenang jiwaku. Tak ada lagi gelisah. Aku masih punya banyak kesempatan untuk membuktikan pada orang lain, juga pada Mama dan Papa, bahwa aku lain dari Kak Intan atau pun Kak Farid, yang hanya bisa menciptakan beban kesulitan bagi keluarga.&lt;br /&gt;Besok pagi, aku akan sengaja terlambat ke tempat tes. Aku tahu betul, etos kerja orang Jepang, yang seolah mendewakan waktu, hingga tak senang dengan orang yang tak menghargai detak jarum detik&lt;br /&gt;Ini adalah keputusan. Tak boleh berubah. Bujukku pada batinku sendiri, yang masih berat untuk menerima keputusan itu.&lt;br /&gt;Besok paginya. Rencana keterlambatanku, berjalan lancar. Aku bahkan tak pernah lagi melihat wajah Benny, hingga saat ini. Aku tak pernah tiba di tempat tes. Aku tiba-tiba terkurung di dunia sepi ini. Dunia sebatas langkah gelindingan ban kursi rodaku.&lt;br /&gt;Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat Mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Aku benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai.&lt;br /&gt;"Radar, kenapa kamu nggak ikut tes? Kamu nggak apa-apa, kan? Panitia pertukaran pelajar, bekerjasama dengan pihak sekolahku, sepakat untuk langsung menerbangkanku ke Jakarta sekarang juga, untuk ikut pelatihan, bersama peserta dari provinsi lain."&lt;br /&gt;Kalimat Benny itu, kudengar saat aku masih terbaring di rumah sakit.&lt;br /&gt;"Aku menabrak truk yang melintasi cepat dari arah berlawanan," ucapku setegar mungkin, agar dia tak gelisah memikirkanku. "Tapi nggak terlalu parah," lanjutku dengan airmata menitik, saat seorang perawat datang membawakan kursi roda untuk tubuhku dengan sebelah tungkai kaki yang telah teramputasi.&lt;br /&gt;Tak ada kalimat dari Benny. Bisu. Entah siapa, aku atau dia yang duluan meletakkan horn telepon. Hingga saat itu, aku kehilangan asa. Trauma. Motor yang kupakai saat kecelakaan pun, kurelakan jadi besi tua di kantor polisi.&lt;br /&gt;Tapi mengapa Benny tak juga datang, hingga kini? Aku ingin melihat dia menangis melihat keadaanku. Padanya, aku akan berbagi duka tanpa ragu dia akan menertawaiku. Untuknya, aku akan persembahkan kado termahal, yakni kesediaanku untuk mengalah saat ikut seleksi pertukaran pelajar dulu. Meski akhirnya nasib buruk memaksaku untuk harus tetap tinggal di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai jenuh menunggu kedatangan Benny. Berlembar-lembar suratnya, yang bercerita tentang Negeri Sakura, telah berkali-kali kubaca. Demi sedikit mengobati rinduku yang memuncak sejak dua bulan lalu. Sejak dia berjanji akan pulang di liburan musim dingin.&lt;br /&gt;"Betul ini rumah Pak Galang Wijaya?"&lt;br /&gt;Aku mengangguk lemah. Polisi datang lagi ke rumah. Tetangga pasti pada mencibir lagi. Jangan-jangan Kak Farid lagi yang membuat masalah di luar, dan harus berurusan dengan polisi. Untung saja, Mama dan Papa, tak ada di rumah. Aku kasihan melihat Mama yang seolah trauma dengan polisi. Harapanku untuk membuat dia tersenyum bangga dengan kesuksesanku, harus berakhir kecewa di atas kursi roda.&lt;br /&gt;Kedua polisi itu mengamati kursi rodaku, juga kakiku yang tak sama panjang. Aku jadi tersinggung dengan tatapan itu. Tapi aku bisanya apa? Rasa tak percaya diriku, kumat lagi.&lt;br /&gt;"Atau, kamu putra Pak Galang yang kecelakaan beberapa bulan lalu. Radar?"&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;"Kami yang menangani masalah Adik."&lt;br /&gt;"Masalah apa? Papa telah menyelesaikan semua kewajiban mengenai peristiwa kecelakaan itu. Tentang motorku yang belum juga diambil, aku yang melarangnya...."&lt;br /&gt;"Itulah masalahnya," salah seorang dari polisi itu, langsung memotong kalimatku. "Dari penyelidikan kami, motor yang Adik pakai, sebelumnya sengaja dirusak dengan memutuskan tali rem. Peristiwa itu bukan murni kecelakaan, ada seseorang yang mendalanginya."&lt;br /&gt;Dadaku berdebar tak karuan. Bayangan Benny yang selalu hadir sebagai sahabat sejati untukku, kini hadir sebagai malaikat maut. Inikah jawaban dari gelisahnya, semalam sebelum kejadian itu? Inikah alamat dari firasat buruk yang selalu kuterka dari tatapannya? Inikah gunanya sahabat? Kesedihan menjalar bebas masuk ke relung hatiku. Ini sedih yang terdalam, luka yang terperih. Lebih dalam dan jauh lebih perih, dibanding saat pertama kutahu, sebelah tungkai kakiku telah teramputasi.&lt;br /&gt;"Papa dan Mama aku nggak ada di rumah," ucapku, lalu langsung berbalik dengan kursi rodaku.&lt;br /&gt;Ada perih mengiris, saat mataku terhalang kabut, memandangi kursi roda yang kutumpangi. Kursi roda ini, kado termahal dari seorang sahabat bernama Benny. Kado ini tak akan kulupa, diberikan padaku demi kebahagiaannya. Lebih mahal dari harga kematian.&lt;br /&gt;Harga mati untuk takdirku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-5090297455233430668?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/5090297455233430668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/kado-termahal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5090297455233430668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5090297455233430668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/kado-termahal.html' title='Kado Termahal'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stx4HPiy5nI/AAAAAAAAAUw/4HNmol-M_zs/s72-c/kadotermahal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-1498093603082625025</id><published>2009-10-04T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:17:31.708-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='S. Gegge Mappangewa'/><title type='text'>Kisah Apel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stxz6ly3vaI/AAAAAAAAAUo/-IwDRrPUq_s/s1600-h/apel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 317px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stxz6ly3vaI/AAAAAAAAAUo/-IwDRrPUq_s/s320/apel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394313904098098594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gerimis merintik. Tak terdengar 'tik-tik-tik'. Hanya laksana potongan benang halus yang terbang dari langit malam, hingga yang kelihatan hanya yang tersorot lampu jalanan. Pengendara motor yang sesekali masih melintas tengah malam, mempercepat laju motornya. Takut, rinai gerimis berubah menjadi hingar-mengguyur-kuyup!&lt;br /&gt;Wanita setengah baya itu, sejam yang lalu mengintip dari balkon rumahnya. Bukan mengintip gerimis. Tak ada pengendara motor yang diintainya. Anak lelakinya yang biasa pulang tengah malam, pun membawa kunci sendiri dan tak perlu ditunggui.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini dia diresahkan oleh lelaki kumal tak berbaju yang sering tidur di emperan rukonya, hingga pagi. Awalnya, anaknya yang pulang tengah malam, bercerita jika lelaki misterius itu tertidur di depan pintu masuk rukonya. Tapi tak digubrisnya. Namanya juga gelandangan! Terlalu kejam jika untuk emperan pun, dia tak mau berbagi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat pagi menjelang dan dia hendak membuka toko kelontongannya, lelaki itu masih tertidur tepat di depan pintu. Berbantalkan lengan, tanpa alas apa pun, lelaki itu masih tetap juga ngorok. Arus lalu lintas di depan ruko, mulai mengalir. Deru mesin, klakson, teriakan kondektur mencari penumpang, tak satu pun mengganggu tidurnya. Bukan hanya nyamuk, beberapa lalat lebih memilih bertengger di tubuhnya daripada mencari makan di tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya meringkuk.&lt;br /&gt;Matanya masih tajam mengawasi gelandangan itu. Pintu rukonya belum terbuka sempurna. Sebuah tahi lalat di pipi kiri lelaki itu, membuka semua file masa lalunya yang pernah dia hapus paksa. File itu ternyata masih tertahan di sebuah recycle bin. Tahi lalat di pipi kiri itu, menjadi pengungkit masa lalunya. Sakit lagi. Meski sebelumnya memang tak pernah dia rasakan bersenang-senang. Dia merakit sendiri. Merangkak, bangun dan menegarkan diri saat dia terjatuh. Hingga dia bangkit lagi seperti kini.&lt;br /&gt;Sebotol air mineral jualannya, diraih lalu ditumpahkan di atas kepala gelandangan itu. Byurrr! Gelandangan yang ternyata juga tak waras itu, bangkit dan berlari dari tempatnya. Terkekeh, bicara sendiri tanpa ada yang tahu makna bicaranya. Tapi matanya, jelas menyorot tajam ke wanita yang baru saja menyiram tubuhnya.&lt;br /&gt;"Pergi!"&lt;br /&gt;Dia berlari kencang, saat wanita itu mengusirnya dengan suara penuh amarah.&lt;br /&gt;Malam ini, wanita itu mengintipnya dari balkon. Gelandangan gila itu, mengais-ngais tempat sampah. Sisa makanan dikumpul lalu dilahapnya dengan tangan kumal. Di bawah sorot lampu jalan yang berada tepat di atasnya, lelaki itu menikmati gerimis yang tak juga reda, pun tak berubah deras. Lelaki itu terdengar seperti mengigau, sesekali.&lt;br /&gt;Harapnya, lelaki itu hanya kebetulan mangkal di depan rukonya. Tapi menelusuri lembaran masa lalu, sepertinya mustahil jika itu sebuah kebetulan. Ini Makassar. Lelaki itu terakhir dilihatnya, ditinggalkan tepatnya, di Surabaya.&lt;br /&gt;Dia ingin menyangkal. Membantah kata hatinya jika lelaki itu mantan suaminya, tapi bukan hanya tahi lalat, pemilik tubuh kumal dan kurus itu masih menyisakan jejak masa lalu dari tatapannya. Dia tak ingin masa lalu itu kembali padanya. Bukan karena lelaki itu telah gila dan jadi gelandangan, tapi karena lelaki itu juga pernah membuatnya mendekati gila. Baginya, itu karma. Dulu dia yang diterlantarkan dengan kehadiran istri kedua, istri simpanan, selingkuhan, dan entah wanita jenis apalagi yang dihadirkan untuk melukainya.&lt;br /&gt;Untungnya dia masih punya ruko warisan orangtua, tempatnya berpulang. Hingga dia bisa menjadi single parent buat anaknya yang kini kuliah di universitas swasta.&lt;br /&gt;Gerimis reda. Dia hendak masuk, membiarkan lelaki dari masa lalunya itu, meringkuk di depan rukonya. Tapi suara motor anaknya yang pulang tengah malam, menghalangi langkahnya untuk beranjak.&lt;br /&gt;Dari balkon, jelas sekali, lelaki itu menghampiri anaknya.&lt;br /&gt;"Ridha, kamu jangan mau disentuh olehnya!" teriaknya dari atas balkon.&lt;br /&gt;Anaknya hanya tersenyum. Untuk yang pertama kalinya dia meragukan ketulusan hati mamanya. Biasanya, mamanya yang selalu mengajarkan dia untuk tidak sombong apalagi bersikap angkuh pada siapa pun. Atau orang gila dan gelandangan adalah pengecualian? Anaknya yang tak tahu masalah, hanya menggeleng.&lt;br /&gt;Wanita itu berlari dari balkon, turun untuk meleraikan anaknya dari pegangan lelaki kumal itu.&lt;br /&gt;"Masuk cepat! Kamu tidak jijik melihat dia? Kamu bisa tertular penyakit gilanya. Cepat cuci tangan yang bersih, kulihat kamu tadi menyambut uluran tangannya."&lt;br /&gt;Prakkk!&lt;br /&gt;Pintu ruko tertutup keras. Lelaki kumal itu tersentak. Anaknya keheranan. Di matanya, perlakuan mamanya lebih gila dari lelaki tak waras tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan mengintip. Bintang mengintai. Tentulah malam remang. Wanita itu gamang. Ragu. Tapi dia tak ingin mengubah keputusannya. Sebuah apel merah, yang telah disuntikkan racun tikus, dibuangnya ditempat sampah. Tentu saja, bukan untuk dimakan tikus, tapi untuk lelaki yang pernah masuk dalam kehidupannya itu. Pikirnya, kalaupun mati tepat di depan rukonya, orang tak akan curiga. Paling juga orang berpikir, mati karena sakit. Lagi pula, siapa yang akan mengurus dan memperdulikan orang gila seperti dia, untuk diotopsi, diselidiki kematiannya. Keluarganya? Dia takkan gila jika masih punya orang yang peduli padanya. Pemerintah? Negeri ini masih banyak urusan. Kematiannya bahkan dianggap mengurangi sedikit masalah.&lt;br /&gt;Sebenarnya dia tak keberatan, lelaki kumal itu menjadikan emperan tokonya sebagai rumah, seandainya tak ada ikatan masa lalu antara mereka. Dia tak keberatan mantan suaminya itu mengetuk kembali pintu hati yang telah dibantingnya keras, andai lelaki kumal itu tak pernah menelantarkan cintanya. Sulit. Luka cinta memang selalu sulit untuk disembuhkan, teramat sulit untuk dimaafkan.&lt;br /&gt;Dia merapatkan telinga di pintu rukonya saat sebuah langkah terdengar dari luar. Lelaki bejat itu, pikirnya. Saat terdengar suara seperti mengigau. Dia mulai berani menggedor pintu, pikirnya.&lt;br /&gt;"Ini yang terkahir kalinya kamu menggedor pintu rumahku! Aku punya apel merah kesukaanmu dulu. Itu untukmu. Pengantar tidurmu!" lanjut batinnya, penuh benci.&lt;br /&gt;"Ma, buka pintu!"&lt;br /&gt;Mama? Bencinya semakin membuncah. Seperti minuman bersoda dalam kaleng, dikocok lalu dibuka tutupnya. Muncrat! Tapi dia mempertahankan bencinya untuk tidak meluncur dulu. Dia biarkan terkocok oleh suara-suara igauan lelaki dari balik pintu rukonya.&lt;br /&gt;Suara igauan itu, kini reda. Berganti suara sampah kertas yang berserakan.&lt;br /&gt;"A-apel me-merah...."&lt;br /&gt;Wanita itu tersenyum. Senyum pengantar kematian buat lelaki yang selama ini dicintainya.&lt;br /&gt;"Sedikit pahit, tapi enak!"&lt;br /&gt;Dasar gila! umpat batinnya, masih tersenyum, sambil berlalu ke tempat tidur. Dia butuh istirahat yang cukup untuk perannya sebagai orang yang tak tahu apa-apa, besok pagi, saat tubuh lelaki itu didapatkan kaku di depan rukonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu rukonya ramai digedor orang. Dia masih menyempatkan diri bercermin. Melatih wajahnya untuk tak menampakkan muka gugup, tanpa dosa. Merasa telah menghayati peran, dia beranjak. Begitu pintu terkuak, orang-orang yang berkerumun, memberi jalan untuknya. Seorang lelaki terbujur kaku, meski sangat mirip, tapi dia yakin jika dia bukan lelaki sasaran racun tikusnya. Dia meradang, saat lelaki yang ingin dibunuhnya semalam, kini berdiri di seberang jalan, dengan mata sembab.&lt;br /&gt;Mayat lelaki yang di depannya kini, adalah putra tunggalnya. Semalam pulang dari pesta minuman keras. Mabuk. Mengingau. Melahap apel merah untuk papanya, saat mamanya tak membukakan pintu untuknya.&lt;br /&gt;Lelaki di seberang jalan, masih menatapnya tajam. Seolah dia menunggu di sana. Di dunia lain. Dunia para orang gila. Kehilangan putra tunggalnya, akan mengantar dia ke dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-1498093603082625025?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/1498093603082625025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/kisah-apel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/1498093603082625025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/1498093603082625025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/kisah-apel.html' title='Kisah Apel'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stxz6ly3vaI/AAAAAAAAAUo/-IwDRrPUq_s/s72-c/apel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-4489726920065697325</id><published>2009-10-02T01:05:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T01:07:15.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>Buy Gold Coins at GoldCoinsGain.com</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsW0g91hBwI/AAAAAAAAATo/ffA_LeMKQ6w/s1600-h/2-5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 80px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsW0g91hBwI/AAAAAAAAATo/ffA_LeMKQ6w/s320/2-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387911007666505474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Gold is the most valuable thing in the  world. From time to time, the value of the gold keeps on increasing  and never going down. Considering the value of the gold, people are  interested in collecting the gold and make it as an investment. They  keep the gold and use it in emergency situation.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;We mostly see the gold as jewelry and  other accessories. Moreover, the &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;gold&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; jewelry shows someone’s wealthy. Another way  of investing money on gold is in a form of &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;gold  coin&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. If you are looking  for the gold coins, you can go to GoldCoinsGain.com. It is an online  aurum advisor that provides information about the gold coins and &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.goldcoinsgain.com/gold-bullion-coins" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;gold bullion&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; coins. In this site, you can find certified  gold coins such as $20 Saint Gaudens Double Eagle and $2.5 Liberty Quarter  Eagle. &lt;div class="fullpost"&gt;The certified &lt;a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;gold  coins&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; enable you to get higher  price when you want to sell it in the future.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Moreover, for the gold &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.goldcoinsgain.com/gold-bullion-coins" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;bullion&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;coins,  they also have so many options including Gold South African Krugerrand,  American Buffalo, Australian Gold Nugget, Austrian Gold Philharmonic,  and many more. You only need to spend a few minutes to take a look at  the gold coins and bullion information to decide the one for your investment.  Just go to the site for more information.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-4489726920065697325?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/4489726920065697325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/buy-gold-coins-at-goldcoinsgaincom.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4489726920065697325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4489726920065697325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/buy-gold-coins-at-goldcoinsgaincom.html' title='Buy Gold Coins at GoldCoinsGain.com'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsW0g91hBwI/AAAAAAAAATo/ffA_LeMKQ6w/s72-c/2-5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-2222644162528397723</id><published>2009-10-02T01:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T19:02:34.964-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>Get the Most of Your Home Entertainment</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsW0OKPB7RI/AAAAAAAAATg/-eaXMPLQ0Is/s1600-h/wikiImageSearch.jsp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsW0OKPB7RI/AAAAAAAAATg/-eaXMPLQ0Is/s320/wikiImageSearch.jsp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387910684577230098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;The technology is growing rapidly. From  time to time we can see new products of technology. Let’s say television  as the product of technology. In the past, we only have standard quality  of sound and picture while now we can find better quality of audio and  video quality of the television.&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;For better quality of audio, you can  make your own home theatre systems. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.shopwiki.co.uk/wiki/Home+Theatre+Systems" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;Home  theatre systems&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; can enhance  the sound effect of your television. With the home theatre systems,  you can get better quality of sound when watching you favorite television  program. If you are looking for home theatre systems, you can go to  &lt;a href="http://shopwiki.co.uk/" target="_blank"&gt;Shopwiki.co.uk&lt;/a&gt;. Shopwiki provide the guide for home theatre systems  so that you can find the perfect one for your need.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;You can also find the components of home  theatre systems such as&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.shopwiki.co.uk/wiki/AV+Receivers" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;AV receivers&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. They provide the top rated AV receiver for  your consideration. You can click on the AC receiver products to get  detail information about each product. Furthermore, they also offer &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.shopwiki.co.uk/wiki/Blu-Ray" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;Blu-ray&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; buying guide to enhance your home video viewing.  So, if you want to get the most of your &lt;a href="http://www.shopwiki.co.uk/wiki/Home+Theatre"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;home&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; entertainment, you can  go to Shopwiki and get the home theatre systems for better audio and  video quality of your television.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-2222644162528397723?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/2222644162528397723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/get-most-of-your-home-entertainment.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2222644162528397723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2222644162528397723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/get-most-of-your-home-entertainment.html' title='Get the Most of Your Home Entertainment'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsW0OKPB7RI/AAAAAAAAATg/-eaXMPLQ0Is/s72-c/wikiImageSearch.jsp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-8022866624187137716</id><published>2009-10-02T00:34:00.001-07:00</published><updated>2009-10-13T07:00:00.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>Direct TV Satellite Television Service</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsWvdnekUoI/AAAAAAAAATA/qd6Gw2j71dI/s1600-h/quote_plushddvr_small.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 95px; height: 71px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsWvdnekUoI/AAAAAAAAATA/qd6Gw2j71dI/s320/quote_plushddvr_small.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387905452566925954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;I think almost all family has at least  a set of television at home. Television has been part of our everyday  life. In the morning before going to the office, we spend time watching  news in television. After working, we also watch television to get entertainment.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Nowadays, television has come to a new  era of satellite television. Satellite television offers better experience  of watching television in digital format. Moreover, satellite television  also offers more television channels to the customers. If you are considering  satellite television for your home, you can choose Direct TV satellite  television. Direct TV is the leader of satellite television provider  in America.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.directsattv.com/directv/packages.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;Direct TV channels&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; are available in high definition for many television  programs. &lt;div class="fullpost"&gt;They offer popolar movie channels like HBO, Cinemax, Starz,  and many more in high definition. For the sports lovers, they can also  experience better quality of watching their favorite sports games in  television.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;You can go to DirectSatTV.com to find  the&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.directsattv.com/directv/packages.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;Direct television&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; packages and special offers. They have premier  package that include more than 265 channels for premium movie and sports  programming. Direct Sat TV offers the best deal for &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.directsattv.com/directv/packages.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;Directv service&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Just go to the site to learn more about the  Direct TV service.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-8022866624187137716?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/8022866624187137716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/direct-tv-satellite-television-service.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8022866624187137716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8022866624187137716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/direct-tv-satellite-television-service.html' title='Direct TV Satellite Television Service'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsWvdnekUoI/AAAAAAAAATA/qd6Gw2j71dI/s72-c/quote_plushddvr_small.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-4391188923769801009</id><published>2009-10-02T00:34:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T00:41:32.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>Running Shoes at Shopwiki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsWuN1LfVCI/AAAAAAAAAS4/tTm_uo8HrKk/s1600-h/aHR0cDovL2RpMS5zaG9wcGluZy5jb20vaW1hZ2VzMS9waS85Mi8wOC9kNy83NTQwNzU1MS0yNTB4MjUwLTAtMF9VbmRlciUyMEFybW91ciUyMFVOREVSJTIwQVJNT1VSJTIwTWVuJTIwcyUyMFByb3RvJTIwUG93ZXIlMjB0cmFpbmUuanBn%3D%3D.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsWuN1LfVCI/AAAAAAAAAS4/tTm_uo8HrKk/s320/aHR0cDovL2RpMS5zaG9wcGluZy5jb20vaW1hZ2VzMS9waS85Mi8wOC9kNy83NTQwNzU1MS0yNTB4MjUwLTAtMF9VbmRlciUyMEFybW91ciUyMFVOREVSJTIwQVJNT1VSJTIwTWVuJTIwcyUyMFByb3RvJTIwUG93ZXIlMjB0cmFpbmUuanBn%3D%3D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387904081855468578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Health is the most important thing in  our life. Being healthy enables us to do our daily activities properly.  There are so many to keep our body healthy. We don’t even have to  spends much money to be healthy. The cheapest way of making our body  healthy is by jogging or even walking around neighborhood in the morning.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Jogging is so cheap because you only  need a pair of shoes then you can start jogging and gain a healthy body.  However, you should find the shoes that are not only good in design  but also well made and durable. If you are looking for the right shoes  for your need, you can go to Shopwiki.com. In this site, you can learn  how to choose &lt;a href="http://www.shopwiki.com/wiki/trail+running+shoes" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;trail  running shoes&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; to the give  you the comfort in running exercise. They also provide some top models  of the trail runnnig shoes for men and women.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Besides the running shoes, you might  also need &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.shopwiki.com/wiki/Pedometers" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;pedomoters&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; that will help you to keep on track on your  steps while you are doing exercise. In Shopwiki, you can also buy the  pedometers to count your steps in the morning. &lt;div class="fullpost"&gt;Furthermore, you can  also find information about&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.shopwiki.com/wiki/Heart+Rate+Monitors" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;u&gt;heart rate monitors&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; to achieve maximum result of your exercise.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-4391188923769801009?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/4391188923769801009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/running-shoes-at-shopwiki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4391188923769801009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4391188923769801009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/running-shoes-at-shopwiki.html' title='Running Shoes at Shopwiki'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SsWuN1LfVCI/AAAAAAAAAS4/tTm_uo8HrKk/s72-c/aHR0cDovL2RpMS5zaG9wcGluZy5jb20vaW1hZ2VzMS9waS85Mi8wOC9kNy83NTQwNzU1MS0yNTB4MjUwLTAtMF9VbmRlciUyMEFybW91ciUyMFVOREVSJTIwQVJNT1VSJTIwTWVuJTIwcyUyMFByb3RvJTIwUG93ZXIlMjB0cmFpbmUuanBn%3D%3D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-7806718330204939476</id><published>2009-10-01T00:00:00.001-07:00</published><updated>2009-10-19T07:10:30.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benny Ramdhani'/><title type='text'>Kidung Camar Pulang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxzRt7CnuI/AAAAAAAAAUg/Y93JRItOap0/s1600-h/merenung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxzRt7CnuI/AAAAAAAAAUg/Y93JRItOap0/s320/merenung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394313201905213154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Badai dan kabut yang berbaur membuat suasana kian mencekam. Vita berusaha menerobos tantangan alam itu cuma dengan lampu senter kabutnya. Ia nggak peduli air hujan yang sudah menyelusup flanelnya, melewati raincoat  kuningnya. Ia harus buru-buru sampai ke arah suara ribut di lembah gunung yang ditapakinya.&lt;br /&gt;"Vita, syukur elo sampai juga! Kita harus segera membawanya turun," Arief menunjuk seorang peserta pendidikan dan latihan dasar yang terbaring.&lt;br /&gt;Bibir cowok itu tampak kelu, sesekali bergetar seperti hendak meneriakkan kesakitannya. Vita langsung menggigit bibirnya sewaktu memeriksa perut cowok itu yang membiru. Ternyata ia tak cuma dehidrasi, tapi juga infeksi lambung.&lt;br /&gt;"Cepat bawa turun! Seharusnya kalian mggak perlu menunggu komando gue! Cepat!" Vita berteriak lantang.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tenggorokannya yang kering kehausan membuat Vita terjaga dari tidurnya. Rupanya bayangan itu telah membuat keringatnya keluar berlebihan. Diliriknya sebentar jam beker di atas meja. Sebentar lagi pukul enam pagi.&lt;br /&gt;Vita mengusap rambutnya ke belakang. Diteguknya air putih yang biasa ia siapkan di atas meja. Masih agak malas Vita meninggalkan kamar. Ia memandang sederatan foto yang memadati dinding kamar.&lt;br /&gt;Matahari terbenam di pantai selatan, sunrise di puncak Gunung Slamet, kawah putih Gunung Patuha, sampai riak Danau Segara Anakan di Rinjani. Semua menjalin keindahan di balik petualangan yang dilakukan Vita.&lt;br /&gt;Mana mungkin gue ninggalin ini semua, Vita membatin.&lt;br /&gt;"Mbak Vit, ada telepon!" teriak lantang dan ketukan pintu yang dilakukan Deza memaksa Vita segera meninggalkan kamarnya.&lt;br /&gt;"Lain kali nggak perlu teriak-teriak begitu, Za!" hardik Vita kesal.&lt;br /&gt;"Kirain Mbak Vita masih tidur."&lt;br /&gt;Vita bergegas ke ruang tengah setelah sekali lagi memelototi adiknya. Diambilnya gagang telepon yang digeletakkan di atas meja kecil.&lt;br /&gt;"Vita di sini. Dengan siapa nih?" sapa Vita seperti biasanya.&lt;br /&gt;"Yola. Ada berita penting, Vit. Kayaknya kami nggak bisa ngajak elo ke Pantai Pangumbahan lusa," suara Yola terdengar ragu.&lt;br /&gt;"Kenapa? Jangan mentang-mentang gue kena skorsing kampus lantas kalian jauhi. Acara kali ini di luar kegiatan klab kita, kan?" sewot Vita.&lt;br /&gt;"Semalam Rob datang ke markas. Dia nggak ngizinin kami ngajak elo."&lt;br /&gt;"Kenapa? Apa alasannya?"&lt;br /&gt;"Dia nggak jelasin apa-apa. Sebaiknya elo temui Rob aja. Sudah ya, Vit!" Yola buru-buru meletakkan horn-nya. Ia nggak mau kebagian getah atas kesewotan Vita.&lt;br /&gt;Usai mengembalikan gagang telepon ke tempatnya, Vita langsung menutup mukanya dengan telapak tangan. Ia masih belum mengerti dengan rentetan kejadian yang tak menyenangkan hatinya.&lt;br /&gt;Diawali saat ia menjabat komandan lapangan pendidikan dan latihan dasar pada kelompok pecinta alam di kampusnya bulan lalu. Vita tak menyangka cobaan yang harus dihadapinya begitu berat. Salah seorang peserta meninggal akibat dehidrasi dan infeksi lambung saat berada di medan. Peristiwa itu membuat rektorat menskoring ketua panitia dan komandan lapangan selama satu semester. Buntutnya, Papa dan Mama, yang memang sejak semula tak mengizinkan Vita menjadi petualang, membuat pilihan untuknya, tetap berpetualang atau tak pernah menginjak lagi rumah ini.&lt;br /&gt;"Maaf, teman-teman, kali ini gue benar-benar akan berhenti. Ini keputusan orangtua gue, kecuali gue bisa menawarnya suatu saat nanti," cetusVita di depan teman-teman klabnya, tiga minggu yang lalu.&lt;br /&gt;"Gue nggak pernah percaya pada burung camar yang bilang bakal berhenti terbang, padahal belum seluruh pantai dia jelajahi," celetuk Dion, si rambut gondrong.&lt;br /&gt;Vita cuma mengangkat bahunya. Ternyata apa yang dikatakan Dion tak keliru. Ia tak betah melewati hari-harinya begitu saja tanpa cerita-cerita petualangan. Maka saat ia mendengar beberapa temannya akan memburu matahari tenggelam di Pantai Ujung Genteng lantas membantu pelepasan penyu ke laut di daerah Pangumbahan, ia buru-buru mendaftarkan diri dalam rombongan.&lt;br /&gt;Dan kini Rob menghalanginya.&lt;br /&gt;"Mbak Vita, minggu depan aku pinjam peralatan hiking-nya ya," suara Deza membuat kepala Vita terdongak.&lt;br /&gt;"Buat apa? Kamu pengen ikut-ikutan kakakmu ini. Memangnya sudah punya izin dari Papa dan Mama? Mendingan kamu sibuk dalam organisasi kayak Mama dan Papa. Mereka nggak pernah suka anaknya naik gunung atau nyusurin pantai!" Mulut Vita terkunci mendadak. Ia baru sadar Mama sedang berdiri di dekatnya sewaktu Deza mengedipkan mata.&lt;br /&gt;"Mama dengar kamu akan jalan-jalan lagi," ucap Mama sambil duduk di dekat Vita. Kalau di hari Minggu pakaiannya serapi itu sudah bisa ditebak Vita. Pasti Mama akan pergi dengan Papa ke pertemuan suatu yayasan sosial.&lt;br /&gt;"Pasti dari Rob?" terka Vita.&lt;br /&gt;"Semalam waktu kamu dan Deza ke bioskop sampai larut malam, Rob datang ke sini. Dia menunggu kamu cukup lama," tutur Mama.&lt;br /&gt;Dan selama menunggu kedatanganku, Mama mencekoki Rob dengan banyak hal, tebak Vita dalam hati. Dapat dibayangkan cara Mama membujuk Rob agar membantu seorang Vita menjauhi gunung. Mama dengan lihai memilih kalimat dan berbagai cara agar Rob bisa mati-matian mencegah Vita pergi ke Pantai Pangumbahan.&lt;br /&gt;"Rob anak yang baik. Mama senang kamu akrab dengannya. Dia juga merencanakan untuk menghentikan hobinya naik gunung dan semacamnya itu."&lt;br /&gt;Vita terhenyak. Nggak percaya. Bagaimana mungkin si Macan Gunung itu berikrar sedemikian rupa? Apa komentar anggota klab pecinta alam yang lain di kampusnya bila mendengar hal ini? Pasti Mama telah menghasut Rob habis-habisan!&lt;br /&gt;"Lho, mau ke mana kamu?" tanya Mama melihat Vita yang sedang diajak bicara malah berdiri. Padahal ada satu hal yang teramat penting yang masih ingin disampaikan kepada Vita.&lt;br /&gt;"Vita mau menemui Rob, Ma."&lt;br /&gt;"Rob janji akan ke sini siang ini."&lt;br /&gt;"Vita ingin menemuinya pagi ini juga," tegas Vita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat pagi, Vit!"&lt;br /&gt;Vita cuma terdiam di ambang pintu kamar kos Rob. Ia pandangi pundak kukuh di depannya. Mestinya sejak setengah tahun lalu ia sudah bisa bersandar di pundak itu bila hatinya galau seperti saat ini. Tapi Vita masih riskan melakukannya.&lt;br /&gt;"Masuklah. Gue ke rumah semalam," ujar Rob.&lt;br /&gt;"Sebelum atau setelah kamu datang ke markas, memaksa teman-teman kita untuk melarang gue pergi bareng mereka?" tanya Vita setelah duduk di salah satu kursi.&lt;br /&gt;"Gue lakuin itu untuk kebaikan kita semua," jelas Rob. Ditatapnya mata tegar gadis di depannya. Mata seekor camar.&lt;br /&gt;"Elo terlalu berlebihan, Rob. Gue pikir itu percuma. Gue tetap akan pergi."&lt;br /&gt;"Sekalipun nyokap nggak kasih izin?"&lt;br /&gt;"Gue nggak akan minta izin," sahut Vita.&lt;br /&gt;"Terserah elo kalau memang demikian. Gue tetap megang amanah nyokap elo. Karena elo tetap bersikeras melanggar ikrar elo dulu, maka jangan salahin kalo gue ninggalin elo," ancam Rob datar.&lt;br /&gt;"Rob!" Vita tak percaya kalimat itu akan dilontarkan Rob. Pengorbanan cinta dan hobi Rob untuknya benar-benar mengada-ada, seperti keputusan pemuda cengeng belasan tahun.&lt;br /&gt;"Gunung, pantai, camar... semua pun akan kutinggalkan," susul Rob samar. Ia menyembunyikan alasan kuat yang mendorongnya mengucapkan semua itu. Satu-satunya yang ia inginkan, Vita mengurungkan niatnya kembali berpetualang.&lt;br /&gt;Vita berdiri buru-buru. Sebelum meninggalkan kamar Rob ia masih sempat berkata, "Baik, Rob, kalau itu keputusan elo. Gue hargai. Tapi gue harap elo nggak nyesel dengan keputusan yang tergesa-gesa itu!"&lt;br /&gt;Entah berapa kerikil yang ditendang Vita dalam perjalanan pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terlalu gelap sebenarnya untuk ke luar tenda. Vita yang mulanya ingin mengawali pagi ini dengan menapaki pantai taman laut Ujung Genteng memilih tempat lain di sebelah barat. Didudukinya bibir dermaga kecil Belanda yang tinggal puing-puing.&lt;br /&gt;Angin pagi yang berhembus membuat Vita menyipitkan matanya. Mata yang masih lelah karena semalam ia tak cukup tidur.&lt;br /&gt;Tadi malam untuk kedua kalinya tidur Vita menyajikan ulang peristiwa satu bulan yang lalu. Ia bangun dari tidurnya dan menafsirkan maksud alam mengulangi mimpi itu.&lt;br /&gt;Apakah ini semata-mata karena kegelisahanku? Vita membatin. Karena aku telah melanggar ikrarku sendiri? Karena Rob meninggalkan aku?&lt;br /&gt;Sejujurnya, Vita memang nggak tenang sejak keberangkatan kemarin subuh. Berangkat dari rumah, ia membawa beban batin atas pelanggaran ikrar yang dibuatnya sendiri. Vita belum tahu apakah Mama dan Papa akan mengusirnya begitu mereka tahu putrinya kembali berpetualang.&lt;br /&gt;Lalu Rob. Teman-temannya seperti tahu kejadian yang dialaminya bersama Rob. Mereka memandang Vita dengan mata menyalahkan. Vita sudah berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa mereka harus menghargai keputusannya.&lt;br /&gt;"Pokoknya kalian nggak perlu pusing-pusing mikirin aku dan Rob. Soal Rob kemudian berhenti berpetualang itu juga urusannya. Siapa tahu itu cuma gertak sambalnya. Kita semua tahu kan, bagaimana gilanya ia naik gunung. Dan soal aku sendiri, kalau ada apa-apa yang terjadi denganku, aku akan menanggungnya sendiri. Nggak perlu kalian merasa bersalah," tutur Vita panjang lebar.&lt;br /&gt;Vita cuma yakin ia tak akan apa-apa pergi tanpa Rob. Walau kemudian pada perjalanan baru menyadari bahwa ia merasa kehilangan seseorang yang selalu menemaninya berpetualang. Mati-matian ia menepis perasaan kehilangannya.&lt;br /&gt;Vita memandang sekeliling pantai. Ia berharap perjalanannya kali ini tak diganggu beban apa-apa lagi. Dihirupnya udara pantai segar. Matahari mulai menebarkan cahayanya, menyibak keindahan pantai.&lt;br /&gt;Vita ingin sekali sesekali membawa Mama dan Papa ke pantai atau gunung. Agar mereka dapat mengerti mengapa Vita begitu menyukai gunung dan pantai. Keindahan alam itu tak bisa ia bawa ke rumahnya cuma dengan foto belaka.&lt;br /&gt;Dilihatnya di kejauhan Dion dan Akuy tengah membawa kakap merah hasil belian dari nelayan. Vita bermaksud meninggalkan dermaga menuju taman laut. Tapi mendadak Akuy menyodorkan HP-nya. Rupanya sinyal portal yang dipakai Akur lumayan kuat juga.&lt;br /&gt;"Vit, elo harus pulang!" suara Rob.&lt;br /&gt;"Kenapa? gue baru sehari." Vita bingung.&lt;br /&gt;"Mama meninggalkan kita kemarin sore...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teruskan saja petualanganmu, Vit. Lupakan larangan Mama. Sesaat sebelum pergi, Mama sudah menyadari kekeliruannya melarangmu berpetualang. Papa juga tak berhak melarangmu."&lt;br /&gt;Itu kalimat yang dilontarkan Papa saat menyambut kepulangan Vita ke rumah. Hati Vita semakin giris karena kalimat itu terus membayanginya saat ia bersimpuh di makam Mama.&lt;br /&gt;"Maafkan Vita, Ma," Vita bergumam dengan mata basah. Tangisnya sudah habis dalam perjalanan pulang. Ia merasa ada setumpuk dosa yang menghimpitnya. Bagaimana mungkin putri satu-satunya melewati upacara pemakaman yang sakral itu.&lt;br /&gt;"Nggak usah nangis, Vit," pinta Rob halus. Ia memberi kekuatan pada Vita dengan genggaman tangannya.&lt;br /&gt;"Mengapa elo nggak segera nyeritain soal penyakit Mama kalo elo emang udah tahu, Rob?" sesal Vita tanpa maksud menyudutkan Rob.&lt;br /&gt;"Mama yang meminta agar gue nggak ngasih tau. Mama nggak ingin kelihatan lemah di depanmu. Gue pikir, ketegarannya menurun pada elo, Vit."&lt;br /&gt;Vita termangu. Siapa yang menyangka jantung Mama sudah rapuh, padahal sehari-hari ia tampak sehat dan penuh aktivitas. Kalau saja ia tahu sebelumnya, Vita akan terus berada di sisi Mama.&lt;br /&gt;"Elo akan meneruskan petualanganmu, Vit?" usik Rob.&lt;br /&gt;Vita menggeleng. "Gue bisa ninggalin hobi gue itu, asal elo janji nggak ninggalin gue, Rob," kata Vita.&lt;br /&gt;"Gue janji!"&lt;br /&gt;Tanpa ragu-ragu Vita menyandarkan kepalanya di bahu Rob. Sejak pagi tadi di pantai Ujung Genteng, ia menyadari betapa berartinya bahu Rob saat kegalauannya hadir. Pada sosok Rob, Vita akan membawa akhir semua petualangannya.&lt;br /&gt;Vita dan Rob meninggalkan makam yang masih gembur itu. Senja telah larut ditelan malam. Vita berdoa dalam-dalam agar dukanya turut larut bersama senja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-7806718330204939476?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/7806718330204939476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/kidung-camar-pulang.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7806718330204939476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7806718330204939476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/10/kidung-camar-pulang.html' title='Kidung Camar Pulang'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxzRt7CnuI/AAAAAAAAAUg/Y93JRItOap0/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-4270442252702660403</id><published>2009-09-27T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:07:17.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benny Ramdhani'/><title type='text'>Selubung Gurat Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxyQRVUgNI/AAAAAAAAAUY/XfUlxUHndVg/s1600-h/gurathati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 220px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxyQRVUgNI/AAAAAAAAAUY/XfUlxUHndVg/s320/gurathati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394312077539311826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Peluit time out  dibunyikan wasit di sisi lapangan. Pertandingan basket itu terhenti sejenak. Klub Rajwali yang menempati sisi kanan kelihatan agak tegang. Mereka sudah memimpin angka sejak awal pertandingan, namun klub lawan kini mulai mengejar.&lt;br /&gt;"Arlan, kamu diganti dulu sama Cali," pelatih yang keringatnya hampir menyamai para pemain itu memberi instruksi sesuai dengan yang direncakanannya.&lt;br /&gt;Arlan mengangguk. Ia mengambil tempat duduk di barisan untuk pemain cadangan. Matanya terarah ke sudut tribun penonton. Mencari sosok yang memporakporandakan konsentarasi bertandingnya tadi.&lt;br /&gt;Cewek berambut panjang dengan blus biru itu tak ada lagi di tempatnya.&lt;br /&gt;"Permainanmu kacau sekali, Lan," komentar Mas Aji yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Arlan. Ia agak senewen melihat permainan muridnya tadi. Tembakan three point yang biasa dihasilkan semuanya gagal.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Janji deh, nanti kalo dipasang lagi nggak bakalan kayak tadi," timpal Arlan. Ia meneguk sebagian air minerlah miliknya.&lt;br /&gt;"Pamit sebentar mau ke belakang ya, Mas."&lt;br /&gt;Pelatih itu cuma mengangguk sambil tetap memandang ke tengah lapangan. Pertandingan kian seru.&lt;br /&gt;Arlan berjalan cepat. Yang ditujunya bukan kamar kecil, ia malah menembus pintu ke luar. Matanya terus mencari-cari Cewek yang dilihatnya di tribun tadi. Kalo ia menghilang dari tribun itu mestinya ia pergi ke luar.&lt;br /&gt;"Arlan! Kamu bukannya lagi bertanding? Kok di luar sih?" suara tanya itu mengejutkan Arlan. Seorang Cewek manis berambut sebahu mendekatinya.&lt;br /&gt;"Aku lagi nggak kepake dulu. Ya, keluar cari angin sebentar kan nggak dilarang. Bagaimana rapat senatnya tadi?" Arlan teringat kesibukan Ratri sore ini.&lt;br /&gt;"Agak tersendat dibandingkan sebelumnya. Makanya aku telat datang kemari," jawab Ratri. Ia menjajari langkah Arlan ke dalam gelanggang olah raga.&lt;br /&gt;"Kamu duduk di sini saja. Biar nggak susah aku nyari kamu nanti. Eh, mau nunggu sampai aku pulang, kan?" tanya Arlan sambil membiarkan Ratri duduk di barisan paling depan.&lt;br /&gt;"Iya. Asal kamu main bagus!" Ratri tersenyum.&lt;br /&gt;Arlan kembali ke bangku cadangan bergabung dengan tim lainnya. Baru sepuluh menit kemudian ia sudah dipanggil lagi untuk mengisi lapangan. Sebuah tembakan three point diciptanya semenit kemudian.&lt;br /&gt;Ratri terpekik girang melihat aksi Arlan. Matanya terus melekat pada sosok cowok itu. Bukan pada permainan basket yang sebenarnya memang tak pernah ia sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di taman kecil depan perpustakaan kampus kerap dilakukan Arlan bila tak tahu apa yang harus dikerjakannya sambil menunggu kuliah berikutnya. Mengedarkan pandangan sambil melamun memang jadi keasyikan tersendiri buatnya.&lt;br /&gt;Nggak jarang matanya tertumbuk pada sosok cewek cantik. Tapi hatinya buru-buru menyisihkan hasrat yang kemudian timbul. Sebuah nama di masa lalu telah menciptakan kenangan yang menggurat di hatinya....&lt;br /&gt;Maharani jadi siswa baru kelas dua. Ia langsung populer dengan kecantikannya ditambah lagi mobil mewah yang bergantian mengantar-jemputnya. Banyak cowok berusahan mendekati, tapi semua harus puas dengan mimpi mereka saja tanpa berhasil mewujudkannya. Sementara sebagian dari mereka mimpi pun sudah tak berani, termasuk Arlan yang duduk di belakang Rani.&lt;br /&gt;Sampai suatu siang sepulang sekolah, sewaktu Arlan hendak menghidupkan motornya.&lt;br /&gt;"Arlan, mau nolong aku nggak?" suara Rani mengejutkannya.&lt;br /&gt;"Asal aku sanggup."&lt;br /&gt;"Aku harus buru-buru ke rumah. Tapi jemputanku belum datang juga. Aku...."&lt;br /&gt;"Mengantarmu dengan motorku ini? Apa kamu nggak risih?"&lt;br /&gt;"Sudahlah. Mau apa nggak?"&lt;br /&gt;Arlan langsung menyambar helm yang tergantung di stang motor di sebelahnya. Ia menyodorkan helm itu kepada Rani. "Ayolah. Tapi kalo kamu masuk angin aku nggak tanggung," Arlan menghidupkan motornya dan membiarkan membonceng.&lt;br /&gt;Ternyata itu jadi sebuah awal dari jalinan manis antara mereka. Beberapa kali Rani membonceng Arlan. Sampai akhirnya Arlan merasa perlu mengungkapkan isi hatinya.&lt;br /&gt;"Kamu mau jadi pacarku, Ran?" tanya Arlan sehabis mengajak Rani menyaksikan pertandingan basket antarkelas.&lt;br /&gt;Rani mengangguk dan tersenum. "Tapi dengan syarat kamu jangan sampai datang ke rumahku," katanya kemudian.&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Papa melarangku pacaran."&lt;br /&gt;"Backstreet juga okelah," angguk Arlan mantap. Siapa tahu waktu mengubah hal itu.&lt;br /&gt;Tapi waktu tak pernah memberi kesempatan untuk mengubah hubungan mereka menjadi lebih baik. Lima bulan berlalu tetap saja mereka harus pacaran umpet-umpetan. Malah tiba-tiba waktu mengubahnya menjadi amat pahit.&lt;br /&gt;Arlan membonceng Rani sepulang sekolah. Dan kecelakaan yang tak pernah diinginkan siapa pun itu terjadi. Arlan lukan gores di tangan dan kaki. Tapi Rani sampai gegar otak.&lt;br /&gt;Langit buat Arlan benar-benar runtuh kemudian. Rani menghilang entah ke mana. Usaha yang dilakukannya cuma membuat panjang kepedihannya.&lt;br /&gt;Rani....&lt;br /&gt;Arlan tersentak dari lamunannya. Sekelebat ia melihat bayangan punggung seorang cewek. Ia berambut panjang. Dan gaun biru yang dipakai itu sama persis dengan gaun yang dibelikan Arlan di hari ulangtahun Rani yang ke tujuhbelas.&lt;br /&gt;Arlan berlari mengejar sosok itu ke dalam perpustakaan. Tapi di pintu masuk langkahnya tertahan.&lt;br /&gt;"Arlan, aku cari-cari kamu dari tadi," Ratri langsung mendekatinya. "Bagaimana dengan final invitasi antarklub itu?"&lt;br /&gt;"Jadi besok malam. Kamu mau nonton?"&lt;br /&gt;"Kebetulan nggak ada kegiatan. Sudah makan siang? Ke Gelael yuk. Lapar, nih."&lt;br /&gt;Arlan menurut saja. Sulit untuk menolak setiap ajakan Ratri. Cewek ini memang seperti hampir kebanyakan anak orang berada, semua kemauannya harus dipenuhi. meski Ratri berusaha menutupinya dengan berorganisasi di senat, sifat manja itu amat dirasakan Arlan. Tapi lepas dari itu semua, Arlan lagi-lagi harus bersyukur bisa dekat dengan cewek yang diincar banyak temannya. Seperti dulu seperti Rani....&lt;br /&gt;Arlan mendesah mengingat nama itu. Dan siapakah cewek bergaun biru itu?&lt;br /&gt;"Kamu kelihatan gelisa, Lan?" tanya Ratri.&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa," sembunyi Arlan.&lt;br /&gt;"Sungguh?"&lt;br /&gt;"Sungguh." Arlan menatap bola mata Ratri agar lebih meyakinkan. Dan hatinya senantiasa bergetar usai menatap binar bola mata itu. Binar itu mirip sekali dengan milik Rani.&lt;br /&gt;Mereka masuk ke Lancer merah Ratri. Sambil menghidupkan mesin Ratri berujar, "Dulu kamu pernah cerita SMA kamu, SMA 5, kan?"&lt;br /&gt;"Iya. Lumayan ngetop di Bandung sini. Kalo SMA di Jakarta barangkali bisa disamain dengan SMA kamu itu."&lt;br /&gt;"Biasanya sekolah ngetop pada cakep-cakep ceweknya," lanjut Ratri&lt;br /&gt;"Memang."&lt;br /&gt;"Masak sih, kamu benar-benar nggak punya pacar di sana?"&lt;br /&gt;Arlan tak menjawab. Ia memang selalu berupaya merahasiakan jalinan cintanya dengan Rani.&lt;br /&gt;"Pasti kamu pernah patah hati ya, sampai akhirnya kebawa ke masa kuliah. Patah hati sih boleh aja, asal jangan jadi dingin, Lan."&lt;br /&gt;"Dingin?"&lt;br /&gt;"Lho, kamu nggak ngerasa kalo kamu tuh cowok yang dingin. Nggak pernah ngobrol dengan siapa pun di kampus selain aku. Mainnya aja cuma sendirian di taman perpustakaan."&lt;br /&gt;Arlan cuma tersenyum. Ia yakin Ratri tengah memancingnya untuk cerita soal masa lalunya. Sudah sering Arlan membaca gelagat itu. Belum, belum tiba saat untuk itu semua, Arlan membatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tahu, sampai berapa lama lagi kau bisa bertahan begini. Mencari, menunggu, mengejar bayanganmu yang hilang entah ke mana. Sementara sisi hatiku telah hampa begitu lama. Akankah kamu salahkan aku bila saat ini sebuah nama hadir mengisi kehampaan itu? Nggakkah kamu akan merutukku tak setia dan mengutukku agar mengalami luka itu lagi?&lt;br /&gt;Kalo saja nggak kulihat lagi kelebat bayangmu belakangan ini, aku sudah memasukkan namanya pada hari-hariku. Dan bila bayangmu itu tak juga dapat kuraih, akan kuakhiri penantianku ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arlan menutup buku catatannya. Buku yang isinya melulu tentang Rani dan sejuta harapan yang menggurat di hatinya. Hampir dua tahun penantian itu terjadi.&lt;br /&gt;Ia beranjak untuk bersiap ke gelanggang olahraga. Rani... Ratri... nama itu terus mengiringi desah napasnya. Satu sisi hatinya ingin agar Arlan segera memberi kepastian kepada Ratri tentang hubungan yang mereka jalin. Sementara sisi lain hatinya justru ingin mempertahankan kasih Rani.&lt;br /&gt;Briefing yang diberikan pelatih menjelang pertandingan final invitasi antarklub bola basket se-Bandung nyaris tak digubris Arlan. Begitu masuk ke sisi lapangan matanya langsung mengitari tribun penonton.&lt;br /&gt;"Nyari pacarmu, Lan?" usik si Jangkung, Oki.&lt;br /&gt;"Sembarangan. Ratri bukan pacarku," kilah Arlan.&lt;br /&gt;"Tapi setia banget, ya. Cuma kali ini kayaknya telat lagi."&lt;br /&gt;Arlan cuma nyengir. Bangku yang biasa diduduki Ratri sudah diisi orang lain. Tapi bangku di sudut lain itu masih kosong. Tempat favorit Rani bila menyaksikan Arlan bertanding.&lt;br /&gt;Priit. Peluit wasit memanggil peserta berbunyi. Arlan bersama timnya langsung memenuhi lapangan. Rebutan bola segera dimulai seiring tiupan peluit.&lt;br /&gt;Lawan kali ini cukup tangguh. Lima menit pertama nyaris dilalui Arlan hanya dengan mengover bola. Baru kemudian akhirnya ia mendapat bola tanpa dihadang. Ada kesempatan untuk menciptakan three point. Cuma saat bola itu diangkat mata Arlan menangkap sosok cewek bergaun biru di tempat duduk kosong itu. Tempat yang sama diduduki cewek itu saat babak penyisihan lalu.&lt;br /&gt;Lemparan bola Arlan tak sampai ring, untungnya sempat diraih Tio. Tapi peluit wasit berbunyi lantaran pelatih klub Rajawali meminta time out.&lt;br /&gt;"Konsentrasimu kacau sekali, Lan!" hardik Mas Aji saat timnya mendekat.&lt;br /&gt;"Sori, Mas. Diganti dulu deh," usul Arlan.&lt;br /&gt;"Pacarnya belum datang sih, Mas," celetuk Tio.&lt;br /&gt;Mas Aji setuju. Ia memanggil Alford yang tingginya 185 senti. Pertandingan dimulai lagi.&lt;br /&gt;Arlan langsung mengarahkan pandangannya ke tribun penonton di seberangnya. Agak sulit juga untuk menyidiki wajah cewek yang masih terduduk di sana itu. Apalagi wajahnya menunduk, seolah tahu sedang diamati Arlan.&lt;br /&gt;Cewek itu beringsut ke pinggir dan berjalan cepat meninggalkan tempat duduknya. Arlan reflek berdiri.&lt;br /&gt;"Mas, saya pamit ke belakang sebentar," izin Arlan.&lt;br /&gt;"Dasar beser! Baru main beberapa menit!"&lt;br /&gt;Arlan bergegas mengayunkan langkahnya. Cewek itu pasti keluar. Siapakah dia? Ranikah? Mengapa begitu misterius?&lt;br /&gt;Sampai di ambang pintu keluar, Arlan masih sempat menangkap kelebat bayangan cewek itu menuju tempat parkir mobil. Arlan menyusul. Tapi napasnya tertahan sewaktu melihat cewek itu meluncur dengan Katana biru.&lt;br /&gt;"Arlan!" suara khas itu mengejutkan Arlan.&lt;br /&gt;Ratri baru hendak keluar dari Lancernya.&lt;br /&gt;"Jangan turun. Antar aku," Arlan langsung menyerbu masuk ke dalam mobil. Suatu kebetulan yang menguntungkan.&lt;br /&gt;"Ada apa ini?" Ratri bingung melihat Arlan panik.&lt;br /&gt;"Kamu lihat Escudo tadi, kan? Tolong disusul."&lt;br /&gt;"Orang di dalam mobil itu beberapa kali menguntitku. Aku penasaran. Kurasa kita belok kiri, Rat. Nah, itu mobilnya!" Arlan mengarahkan jarinya ke depan, nyaris menembus kaca.&lt;br /&gt;Mobil yang mereka kejar melaju kian kencang, masuk ke jalan agak besar. Ratri membelokkan mobilnya tiba-tiba. Arlan tercengang.&lt;br /&gt;"Kenapa membelok, Rat?" tanya Arlan.&lt;br /&gt;Ratri tak menjawab. Ia malah membawa mobilnya ke jalan yang agak sepi sampai akhirnya ke pelataran parkir sebuah kompleks pemakaman umum. Suasana hening menyergap mereka.&lt;br /&gt;"Ada yang ingin kuutarakan padamu, Lan. Barangkali aku terlalu lancang...." Ratri menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Arlan.&lt;br /&gt;Tahu Arlan hanya membisu, Ratri keluar dari mobil. Tubuhnya lantas bersandar pada badan mobil. Arlan dihinggapi sejuta tanya. Belum terpecahkan persoalan yang satu, sudah muncul soal lainnya.&lt;br /&gt;"Barangkali aku harus menceritakannya dari pertama padamu," Ratri membuka mulutnya lagi. "Dimulai dari perkenalan kita. Terus terang kamu langsung menyita perhatianku begitu kukenal. Tentu saja aku punya batasan untuk mengungkapkan perasaanku itu."&lt;br /&gt;Arlan merasakan hal itu.&lt;br /&gt;"Cara yang kulakukan untuk menarik perhatianmu kupikir sudah tepat. Tapi rupanya ada selubung misteri yang menutupi hatimu. Segala upaya kulakukan untuk memancingmu, tapi kamu seperti enggan membukanya. Katakanlah, kenapa, Lan?"&lt;br /&gt;"A-aku... aku tak bisa menceritakannya...."&lt;br /&gt;"Kurasa kini memang tak perlu lagi, Lan. Waktu yang membelaku memberitahukan itu semua. Satu bulan lalu aku main ke tempat Oom-ku. Kutempati bekas kamar sepupuku. Tanpa sengaja aku menemukan tempat rahasia menyimpan buku harian sepupuku itu, Lan. Isinya banyak bertutur tentangmu dan cerita cinta rahasia kalian berdua...."&lt;br /&gt;"Rani? Dia sepupumu? Di mana dia sekarang?"&lt;br /&gt;"Setahun yang lalu dia telah meninggalkan kita," nada suara Ratri melemah.&lt;br /&gt;Arlan mendongakkan kepalanya ke langit. Gara-gara kecelakaan itukah?&lt;br /&gt;"Kamu tak perlu merutuki dirimu sendiri, Lan. Tanpa kamu ketahui, sebenarnya kesehatan Rani memang rapuh. Itu sebanya Papanya amat ketat mengawasi. Ada kanker di otaknya. Dulu pernah dioperasi di Belanda, tapi kemudian tumbuh lagi. Operasinya yang kedua gagal."&lt;br /&gt;Arlan menahan airmata yang hampa keluar.&lt;br /&gt;"Setelah tahu itu semua, aku masih bersabar diri, Lan. Aku ingin satu bentuk kejujuran darimu. Sebagai orang yang dekat, tadinya kupikir kamu mau mengungkapkan itu semua. Tapi harapanku sia-sia. Dan itu menimbulkan ide gila untuk menganggumu...."&lt;br /&gt;"Cewek bergaun biru itu?"&lt;br /&gt;"Ya, cewek itu bagian dari permainanku. Tapi ternyata aku tak sanggup untuk terus mempermainkanmu. Tuntutan untuk jujur kepadamu amat menyiksaku," Ratri berupaya untuk tetap tegar mengeluarkan kata-katanya.&lt;br /&gt;"Kamu...."&lt;br /&gt;"Apa pun pandanganmu padaku saat ini akan kuterima. Tapi beri aku kesempatan untuk mengantarkanmu melihat makam Rani," Ratri mulai tak kuat menahan isaknya. Ia tahu resiko apa yang paling berat yang akan diterimanya. Bisa saja Arlan membencinya lantas menjauhinya tanpa secuil maaf.&lt;br /&gt;Tanpa diduga Arlan malah merengkuh Ratri ke pelukannya. Tentu saja isak Ratri makin tak terbendung. Ia tumpahkan gundah yang mengganjal perasaannya selama ini.&lt;br /&gt;"Aku yang salah, Ratri. Aku bukan cuma nggak jujur pada hatiku sendiri. Aku telah mendustai banyak hal. Kesalahanku amat banyak. Aku harus menebus sakit hati yang kubuat padamu. Aku... mencintaimu, Ratri. Sesungguhnya perasaan itu timbul sudah lama. Tapi aku terlalu takut menghadapi resiko. Aku takut gurat luka yang ada di hatiku menganga lagi," tutur Arlan sambil mengusap uraian rambut Ratri.&lt;br /&gt;Ratri mengangkat mukanya. Jarinya menghapus airmata yang masih keluar. "Sebaiknya kita segera ke makam Rani. Berdoa sejenak di makamnya barangkali akan menenteramkan hati kita berdua. Lagipula, kamu kan harus kembali bergabung dengan timmu itu," kata Ratri kemudian.&lt;br /&gt;Arlan terperangah. Ia baru menyadari dirinya masih memakai kostum klub basketnya. Segera dirangkulnya bahu Ratri dengan tangan kanannya.&lt;br /&gt;"Ayolah, kita bergegas. Mudah-mudahan aku masih sempat membuat three point. Tembakan itu akan kubuat spesial untukmu," ucap Arlan dengan kelegaan yang tiada tara. Entah ke mana larinya selubung yang menutup rapat hatinya. Entah ke mana hilangnya gurat luka itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-4270442252702660403?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/4270442252702660403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/peluit-time-out-dibunyikan-wasit-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4270442252702660403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4270442252702660403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/peluit-time-out-dibunyikan-wasit-di.html' title='Selubung Gurat Hati'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxyQRVUgNI/AAAAAAAAAUY/XfUlxUHndVg/s72-c/gurathati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-7670827441873404036</id><published>2009-09-24T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:02:49.729-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merlin Herlina'/><title type='text'>Kisah di Balik Sebuah Reuni bag. 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxxQBahKgI/AAAAAAAAAUQ/7b5o-W-J550/s1600-h/reuni.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 235px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxxQBahKgI/AAAAAAAAAUQ/7b5o-W-J550/s320/reuni.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394310973754518018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cerita ini kupersembahkan kepada Anda, segenap Pembaca. Yang dengan setia mengikuti kisah Yen Ndui, dari awal hingga akhir....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, Yen Ndui diboyong oleh Tuan Sun ke Xinhui.&lt;br /&gt;Xinhui terletak di sebelah timur Khaiphing. Dulunya, Xinhui juga merupakan sebuah Kabupaten. Namun kini di bawah pemerintah Komunis China, Xinhui, Khaiphing dan tiga wilayah lain yang saling berdekatan: Thaishan, Heshan dan Enphing, digabung ke dalam satu distrik bernama Jiangmen.&lt;br /&gt;Xinhui terletak di sebelah barat daya Zhujiang—Sungai Mutiara, yang terkenal di Propinsi Guandong. Tanahnya subur sehingga baik untuk bercocok tanam. Hasil pertaniannya yang amat terkenal adalah beras dan jeruk. Konon, jeruk sunkist yang terkenal itu berasal dari sini.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yen Ndui tinggal bersama seluruh keluarga suaminya di sebuah rumah besar milik juragan jeruk tersebut. Benar kata Nenek Buyut, Tuan Sun memang masih memiliki seorang Ibu. Nyonya Tua Sun berusia pertengahan enam puluhan. Tubuhnya masih tegap dan dari parasnya masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Rambutnya masih lebat meski beberapa helai di antaranya telah memutih. Namun, pulasan semir rambut hitam buatan Prancis berhasil menyamarkan uban-uban tersebut.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan, Yen Ndui menyadari kalau Ibu Mertuanya itu welas asih serta memiliki integritas yang amat mendalam. Ketika pertama kali melihat Yen Ndui, Nyonya Tua Sun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ditegurnya Tuan Sun.&lt;br /&gt;"Astaga! Putraku, apakah kali ini kau tidak salah memilih mempelai? Lihat usianya yang masih belia itu! Dia bahkan hanya setahun lebih tua dari Yingying, putri sulungmu!"&lt;br /&gt;Tapi Tuan Sun berlagak tidak peduli dengan perkataan Ibunya.&lt;br /&gt;Yen Ndui pun memulai kehidupannya sebagai seorang istri. Dandanannya mulai berubah selayaknya wanita yang sudah menikah. Hal ini menyebabkan Yen Ndui terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.&lt;br /&gt;Menjadi istri muda seorang juragan kaya jika dilihat dari luar tidak jelek-jelek amat. Tuan Sun menyediakan segala kebutuhan materi. Sandang dan pangan tercukupi. Bahkan Tuan Sun memberi Yen Ndui dua orang pelayan wanita untuk membersihkan kamar, menyisir rambutnya serta mencucikan baju-bajunya.&lt;br /&gt;Namun di balik semua itu, seorang istri muda juga punya kesukaran sendiri. Yen Ndui tak mampu mengelak dari isri-istri lain suaminya yang senantiasa memandangnya seperti duri dalam daging. Belum lagi sikap canggung yang diterimanya dari anak-anak Tuan Sun yang usianya nyaris sebaya dengannya. Dua putra sulung Tuan Sun dari istri pertama malah empat, dan dua tahun lebih tua daripada Yen Ndui. Sewaktu pertama kali diperkenalkan kepadaYen Ndui, keduanya tampak ragu-ragu memanggilnya dengan sebutan Asim—Bibi.&lt;br /&gt;Tapi Nyonya Tua Sun adalah Ibu Mertua yang baik dan penuh pengertian. Dia senantiasa membimbing Yen Ndui. Dia tidak pernah bermaksud pilih kasih terhadap para menantunya yang lain. Nyonya Tua Sun hanya mempertimbangkan karena usia Yen Ndui masih sangat muda, masih banyak hal yang belum dipahami olehnya. Yen Ndui terkadang merasa justru Ibu Mertuanya ini memperlakukannya lebih baik ketimbang Ibu kandungnya sendiri. Pada masa itu, di China memiliki semacam tradisi dimana orang yang paling berkuasa atas wanita yang sudah menikah adalah sang Ibu Mertua. Seorang Ibu Mertua berhak memperlakukan menantu perempuannya dengan sewenang-wenang, dan sang Menantu tidak diperkenankan membantah, melainkan dia harus patuh. Memperoleh ibu mertua seperti Nyonya Tua Sun merupakan berkah tersendiri bagi Yen Ndui.&lt;br /&gt;Ada pula satu kebiasaan di keluarga Tuan Sun yang cukup disenangi Yen Ndui.&lt;br /&gt;Pada sore hari menjelang matahari terbenam, biasanya kaum-kaum perempuan di kediaman tersebut duduk-duduk berkumpul di halaman sambil menunggu para pria kembali dari ladang. Di halaman yang cukup luas itu, ada sebuah pohon banyan besar berdaun rindang. Di bawah pohon itulah para wanita biasanya duduk-duduk menghabiskan waktu di sore hari.&lt;br /&gt;Situasi pada sore hari seperti itu biasanya sangat kondusif. Para istri Tuan Sun saling bercengkrama dan menyapa Yen Ndui dengan ramah. Meski demikian, Yen Ndui curiga semua sikap baik itu hanya sandiwara belaka sebab pada saat seperti itu, Nyonya Tua Sun juga turut hadir bersama mereka. Pada kesempatan ini, biasanya mereka berkelakar atau saling bertukar gosip&lt;br /&gt;Kadang-kadang pula, putri sulung Tuan Sun, Yingying, hadir di tengah-tengah mereka. Yingying gemar membacakan cerita-cerita klasik dari buku-buku yang dikirimkan oleh salah satu saudara lelaki Ibunya dari Hongkong. Favorit keluarga Sun adalah kisah klasik Hong Lou Meng—Impian dari Kamar Merah. Yen Ndui amat suka dengan gaya Yingying dalam bercerita, terutama jika gadis itu membaca sajak. Yingying menguasai teknik pin pin ce ce (naik turun nada ketika membaca sajak klasik mandarin) dengan amat sempurna. Ada sebuah sajak dalam Hong Lou Meng yang paling sering diulang Yingying. Bunyi syairnya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Hari ini aku menabur bunga dan orang itu menertawakanku&lt;br /&gt;Tahun ini dia akan dikubur, apakah aku tahu siapa orangnya?&lt;br /&gt;Suatu pagi di musim semi warna merah semakin tua&lt;br /&gt;Kapan bunga berguguran dan manusia berpulang, aku dan dia tak tahu!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak itu kemudian menjadi satu-satunya syair klasik Tionghoa yang diingat Yen Ndui selama sisa hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun setelah menikah dengan Yen Ndui, Tuan Sun meninggal dunia karena sakit.&lt;br /&gt;Waktu itu usia Yen Ndui baru sembilan belas tahun, masih muda dan cantik. Hal ini membuat Nyonya Tua Sun prihatin. Terlebih, tidak seperti istri-istri Tuan Sun yang lain, dari pernikahannya ini, Yen Ndui tidak dikaruniai seorang pun putra maupun putri.&lt;br /&gt;Usai upacara pemakaman, Nyonya Tua Sun memanggil Yen Ndui. Diajaknya menantunya itu berbicara empat mata.&lt;br /&gt;"Anakku," panggil Nyonya Tua Sun dengan lembut. "Setelah acara berkabung selesai, apa yang hendak kau lakukan?"&lt;br /&gt;Alis Yen Ndui berkerut. "Apa maksud Ibu? Yen Ndui tidak mengerti."&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun berdeham sejenak agar suaranya menjadi lebih jelas. "Maksudku, apakah kau punya rencana untuk masa depanmu?"&lt;br /&gt;Yen Ndui terpana, kemudian menundukkan kepala sambil menggeleng. Seumur-umur, baru kali ini Yen Ndui ditanya soal masa depannya.&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun melanjutkan, "Aku bermaksud mengembalikanmu ke rumah orangtuamu...."&lt;br /&gt;Yen Ndui terkejut. Ditengadahkan kepalanya menatap Nyonya Tua Sun kembali. Pada masa itu, seorang wanita yang dikembalikan ke rumah orangtuanya merupakan ungkapan halus untuk kata 'cerai'.&lt;br /&gt;"Kamu jangan salah paham dulu, Nak," ujar Nyonya Tua Sun begitu melihat perubahan di wajah Yen Ndui. "Maksudku baik. Tidakkah kau sadar kalau kau masih muda? Jalanmu di depan masih panjang. Amat sangat disayangkan apabila kau hanya menghabiskan sisa hidupmu sebagai janda di rumah ini. Dengan kembalinya kamu ke rumah orangtuamu, aku berharap mereka dapat mengatur pernikahanmu dengan pria lain yang lebih sepadan, dan kalian akan membentuk keluarga bahagia"&lt;br /&gt;"Tapi Ibu, suamiku baru saja meninggal. Aku tak berniat memikirkan untuk menikah lagi," tukas Yen Ndui.&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun menghela napas. "Aku mengerti mengapa kau berkata seperti itu. Dalam pandangan masyarakat kita, tidak terlalu pantas bagi seorang wanita untuk menikah dua kali meski dia telah berstatus janda. Namun zaman mulai berubah. Aturan semacam itu kini tak bisa terlalu diikuti lagi. Aku ingin menegaskan padamu, Nak. Kau berhak untuk hidup bahagia!"&lt;br /&gt;Yen Ndui memandang wajah Nyonya Tua Sun seolah-olah tak percaya. Lalu sejurus kemudian dia berkata.&lt;br /&gt;"Aku paham dengan maksud Ibu sekarang. Namun, jika Ibu benar-benar hendak mengembalikanku kepada orangtuaku, aku tidak tahu akan pulang kemana lagi. Ayah dan Ibuku sudah tidak berada di Tiongkok. Mereka berdua telah pergi ke Nan Yang." (Nan Yang merupakan sebutan untuk Indonesia sebelum zaman kemerdekaan).&lt;br /&gt;"Oh, jadi kedua orangtuamu semuanya sudah pindah ke Nan Yang?" Nyonya Tua Sun tampak terkejut. "Kukira dulu hanya Ayahmu saja yang pergi, dan Ibumu tetap tinggal."&lt;br /&gt;"Tidak, Ibu menyusul Ayah ke Nan Yang tidak lama setelah aku menikah."&lt;br /&gt;"Apakah kamu tahu tepatnya di Nan Yang sebelah mana kedua orangtuamu tinggal sekarang?"&lt;br /&gt;Yen Ndui berpikir sejenak kemudian menggeleng lemah.&lt;br /&gt;"Ayah pergi ke Nan Yang sewaktu aku berusia lima tahun. Kejadiannya sudah limabelas tahun yang lalu, dan selama itu pula aku tidak pernah mendengar kabar berita tentangnya. Ibuku pun demikian. Usai kepergiannya enam tahun yang lalu, beliau belum pernah mengirim surat apapun kepadaku sehingga aku tak tahu Ibu kini berada di mana. Apakah Ibu telah bertemu dengan Ayahku atau tidak, aku juga tidak tahu."&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun tampak tepekur mendengar penuturan Yen Ndui. Lalu dia mengajukan pertanyaan lagi.&lt;br /&gt;"Apakah kau merindukan kedua orangtuamu, Nak?"&lt;br /&gt;Yen Ndui mengangkat wajah dan memandang Ibu Mertuanya dalam-dalam. Matanya seketika terlihat mulai berair.&lt;br /&gt;"Tentu saja, Ibu. Hampir setiap waktu aku memikirkan mereka. Aku sering bertanya-tanya seperti apa rupa mereka sekarang setelah sekian lama tak bertemu. Jika aku muncul di hadapan mereka, apakah mereka masih bisa mengenaliku? Aku sering mengimpikan mereka dalam tidurku. Jika Ibu bertanya apa yang paling ingin kulakukan usai kepergian suamiku, aku akan menjawab bahwa aku ingin sekali pergi mencari Ayah-Ibuku."&lt;br /&gt;Airmata Yen Ndui tidak terbendung lagi. Di hadapan Nyonya Tua Sun, dia menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun bangkit dari kursinya lalu menghampiri Yen Ndui. Dengan lembut dia memeluk menantu termudanya itu seraya menepuk-nepuk punggungnya perlahan-lahan. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nyonya Tua Sun berikrar untuk membantu Yen Ndui agar bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat, kabar tentang pembicaraan Nyonya Tua Sun dengan Yen Ndui tersiar keluar.&lt;br /&gt;Tanpa mengetahui secara rinci apa isi pembicaraan tersebut, para janda Tuan Sun yang lain mulai mengambil kesimpulan sendiri dan mempergunjingkan Yen Ndui.&lt;br /&gt;"Kudengar, Nyonya Tua hendak 'membebaskan' Yen Ndui dan mengembalikannya kepada orang tuanya," ujar Istri Ketiga Tuan Sun memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;"Hah! Aku sangat yakin kalau hal itulah yang ditungu-tunggu oleh Nyonya Keempat kita," sindir Istri Kedua Tuan Sun. "Dia kan masih muda, dengan 'pembebasannya', dia bisa mencari lelaki lain dan menikah lagi...."&lt;br /&gt;Terdengar derai tawa di antara kedua perempuan itu.&lt;br /&gt;Istri Pertama Tuan Sun yang mendengar percakapan itu mendengus, "Huh! Dasar wanita tak tahu malu!" hinanya. "Pada zaman dahulu, seorang janda biasanya bunuh diri untuk menyusul suaminya ke alam baka atau menggunduli rambutnya menjadi biksuni. Jika Nyonya Keempat seorang wanita yang setia, seharusnya dia melakukan salah satu dari dua hal di atas, bukan begitu?"&lt;br /&gt;Kedua istri Tuan Sun yang lain mengangguk setuju.&lt;br /&gt;Ketika pembicaraan ini terdengar sampai ke telinga Nyonya Tua Sun. Nyonya tua itu amat marah. Dengan geram dia berkata.&lt;br /&gt;"Siapa yang begitu lancang mengeluarkan kata-kata seperti itu tentang Yen Ndui? Apakah kalian ingin menekannya? Apakah kalian senang jika melihatnya mati dalam kesengsaraan? Kuperingatkan, selama aku masih hidup, tak ada satu pun wanita yang kubiarkan mati merana lalu menjadi arwah penasaran dalam keluarga ini!" semprotnya gusar. "Barang siapa yang berani berkata-kata buruk tentang Yen Ndui, aku akan membuat perhitungan dengannya!"&lt;br /&gt;Sejak saat itu, ketiga istri Tuan Sun tidak ada yang berani mengungkit perihal 'pembebasan' Yen Ndui lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun berlalu.&lt;br /&gt;Masa berkabung bagi Tuan Sun telah usai. Upacara Yuan San—peresmian kubur, juga telah dilaksanakan. Nyonya Tua Sun memanggil Yen Ndui sekali lagi dan bicara empat mata dengannya.&lt;br /&gt;"Aku memiliki sebuah rencana yang hendak kurundingkan denganmu, Anakku. Jika kau setuju, aku akan membantumu mengurus semua hal yang diperlukan."&lt;br /&gt;"Rencana apakah itu, Ibu?" tanya Yen Ndui penasaran ingin tahu.&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun memandang Yen Ndui penuh arti. "Kau masih ingin mencari orangtuamu, bukan?"&lt;br /&gt;Yen Ndui membalas tatapan ibu mertuanya dengan mata berkilat-kilat.&lt;br /&gt;"Ya, tentu saja saya masih memiliki niat itu, Ibu!"&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun tersenyum sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang akan membuat perasaan Yen Ndui melambung tinggi.&lt;br /&gt;"Anakku, jika kau kuizinkan pergi ke Nan Yang buat mencari orang tuamu, apakah kau siap?"&lt;br /&gt;Mata Yen Ndui membelalak. Digenggamnya tangan Nyonya Tua Sun erat-erat.&lt;br /&gt;"Ke Nan Yang?! Anda mengizinkan aku ke Nan Yang?!"&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun mengangguk.&lt;br /&gt;"Ah! Sie Thien Sie Ti—terima kasih Langit dan Bumi!" seru Yen Ndui bersyukur. "Ibu, bagaimana... bagaimana aku berterima kasih dan membalas jasa-jasa Anda?"&lt;br /&gt;Suara Yen Ndui tercekat dirundung haru. Nyonya Tua Sun yang turut merasakan kebahagiaan Yen Ndui menenangkan menantunya sejenak, lalu mulai menjelaskan rencananya secara rinci.&lt;br /&gt;"Aku mempunyai kerabat yang tinggal di Nan Yang. Mereka adalah sepasang suami istri bermarga Chen. Suami-istri itu lebih dulu pergi ke Nan Yang lima tahun lalu untuk memulai suatu usaha. Sekarang karena usahanya sudah maju, mereka bermaksud menjemput kedua anak mereka yang sebelumnya dititipkan pada salah satu kerabat buat pindah ke Nan Yang."&lt;br /&gt;Mata Yen Ndui tampak mulai berkaca-kaca. Disimaknya takzim ulasan Ibu Mertuanya yang baik hati tersebut.&lt;br /&gt;"Aku merasa, ini adalah kesempatan yang tepat. Karena suami-istri Chen masih terhitung sanak keluarga, maka aku bisa tenang menitipkanmu kepada mereka. Kau akan pergi ke Nan Yang bersama mereka minggu depan. Mereka juga telah setuju agar kau tinggal bersama mereka sampai kau menemukan kedua orangtuamu."&lt;br /&gt;Yen Ndui tak mampu berkata-kata mendengar mendengar penjelasan Nyonya Tua Sun. Dipandanginya wajah ibu mertuanya itu dengan penuh perasaan bahagia. Airmatanya menitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari kemudian, Yen Ndui telah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah keluarga Sun.&lt;br /&gt;Sekitar pukul delapan pagi, Yen Ndui keluar rumah dengan didampingi Ibu Mertuanya. Ketiga janda mendiang suaminya yang lain hanya memandang dari kejauhan dan enggan mendekat. Beberapa pelayan membantu menaikkan kopor-kopor Yen Ndui ke atas kereta kuda. Keluarga Chen yang terdiri atas sepasang suami istri beserta kedua anak mereka yang berusia sepuluh dan sebelas tahun telah tampak menunggu.&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun mengantar Yen Ndui sampai ke depan kereta. Yen Ndui berbalik, menatap wajah Ibu Mertuanya dalam-dalam seolah hendak merekamnya dalam ingatan.&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun membelai wajah Yen Ndui sambil berkata lembut. "Mulai sekarang, kau adalah wanita yang merdeka. Berjuanglah untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, dan semoga kau bisa cepat bertemu dengan kedua orangtuamu di Nan Yang...."&lt;br /&gt;Yen Ndui masih memandang wajah Ibu Mertuanya. Matanya mulai berkaca-kaca ketika dia berujar.&lt;br /&gt;"Seumur hidupku, aku tidak akan pernah melupakan budi baik Ibu. Jika aku tak diberi kesempatan membalasnya dalam kehidupan ini, semoga aku diberi kesempatan membalasnya pada kehidupan yang akan datang...."&lt;br /&gt;"Anakku, dalam hidup manusia, perjumpaan dan perpisahan adalah hal yang biasa terjadi," tukas Nyonya Tua Sun. "Tapi, jika kehidupan akan datang itu memang ada, aku akan memohon kepada Lao Tian—Tuhan—agar kau diizinkan menjadi putriku dan hidup berdampingan bersamaku lagi...."&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun tak dapat menahan airmatanya yang juga telah merebak ke pelupuk matanya.&lt;br /&gt;Yen Ndui berkata lagi, "Setelah perpisahan ini, aku tidak tahu kapan bisa bertemu dengan Ibu lagi. Oleh karena itu, izinkan aku ber-kowtow kepada Ibu sebagai tanda bakti dan terima kasih atas jasa-jasa Ibu kepadaku selama ini."&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun bermaksud mencegah. Akan tetapi Yen Ndui telah menjatuhkan lututnya dan membungkuk. Dahi menyentuh tanah berpasir dan dia menghormat kepada Ibu Mertuanya itu sebanyak tiga kali.&lt;br /&gt;Airmata Nyonya Tua Sun bercucuran deras. Setelah Yen Ndui berdiri, dipeluknya menantu termudanya itu untuk yang terakhir kalinya sambil berkata terisak-isak. "Anakku, jaga dirimu baik-baik...."&lt;br /&gt;"Ibu juga... harus merawat diri baik-baik...."&lt;br /&gt;Nyonya Tua Sun melepaskan pelukannya dan Yen Ndui mulai beranjak. Dia bersama keluarga Chen menaiki kereta kuda. Setelah di dalam kereta, Yen Ndui menyibak tirai jendela dan menatap rumah keluarga Sun untuk yang terakhir kalinya. Sebab sejak hari itu, Yen Ndui tidak pernah lagi ditakdirkan untuk kembali ke China ataupun bertemu dengan keluarga Sun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yen Ndui dan keluarga Chen berangkat menuju Nan Yang melalui pelabuhan Hongkong.&lt;br /&gt;Keluarga Chen ternyata tinggal di sebuah kota yang terletak di ujung utara Pulau Celebes—kini Sulawesi. Setelah naik kapal selama kurang lebih sebulan, sampailah Yen Ndui di kota tersebut: Manado.&lt;br /&gt;Yen Ndui tinggal bersama keluarga Chen di rumah mereka yang terletak pada salah satu gang sempit di wilayah Malalayang. Suami-istri Chen sangat baik. Mereka tidak segan-segan membantu Yen Ndui beradaptasi dengan lingkungan barunya.&lt;br /&gt;Dengan segera Yen Ndui merasa bakal betah dan akan menyukai kota itu. Penduduk lokalnya ramah-ramah dan ringan tangan membantu. Wanita-wanitanya cantik dan berkulit putih mirip gadis-gadis Tionghoa. Sebagian besar penduduk lokalnya beragama Nasrani. Satu kebiasaan penduduk di sana yang awalnya membuat Yen Ndui tercengang adalah: mereka senang pesta dan dansa! Kebiasaan itu bahkan menular sampai kepada para imigran yang datang ke Manado.&lt;br /&gt;Kebiasaan penduduk Manado lainnya yang menurut Yen Ndui mirip dengan kebiasaan orang-orang Tionghoa suku Guandong adalah menikmati kuliner ekstrim. Daging-daging anjing, kelelawar, kucing serta tikus dijual bebas di pasar-pasar. Penduduk setempat dengan begitu mahir mengolah daging-daging tersebut dalam bumbu-bumbu khas menjadi makanan yang bagi sebagian orang bahkan menyebutnya lezat.&lt;br /&gt;Meski keluarga Chen sangat baik, Yen Ndui tetap merasa tidak enak apabila dia hanya berpangku tangan menumpang di rumah mereka. Kebetulan Nyonya Chen mempunyai usaha kecil-kecilan membuat kue basah tradisional Tionghoa. Yen Ndui dengan senang hati membantunya. Mula-mula dia hanya membantu dalam proses pembuatan, sampai akhirnya dia juga turut menjajakan kue-kue tersebut dari satu rumah ke rumah yang lain. Sewaktu menjual kue, Yen Ndui menggunakan kesempatan ini buat mencari kedua orangtuanya. Setiap kali ada orang yang membeli kuenya, Yen Ndui pasti akan bertanya.&lt;br /&gt;"Tuan, Nyonya... kenalkah Anda dengan pria bernama Ciang Wengwah? Dia berasal dari dusun Liu Cun Mei, desa Sha Kok, kabupaten Khaiphing, propinsi Guandong. Dia adalah Ayahku.... Kami berpisah belasan tahun yang lalu tanpa saling memberi kabar, dan kini aku datang untuk mencarinya...."&lt;br /&gt;Meski belum mendapat titik terang mengenai keberadaan orangtuanya, namun Yen Ndui tidak pernah berputus asa.&lt;br /&gt;"Paman, Bibi... apakah Anda pernah bertemu dengan seorang wanita bermarga Ciu yang tengah mencari suaminya yang bernama Ciang Wengwah? Jika Anda mengenalnya, aku mohon sudi kiranya memberitahuku dimana dia berada sebab dia adalah Ibuku...."&lt;br /&gt;Demikianlah Yen Ndui terus mencari kedua orangtuanya sembari menjajakan kuenya ke seantero Manado. Terkadang dia berjualan di pelabuhan. Jika ada kapal merapat, khususnya kapal-kapal yang memuat orang-orang Tionghoa perantauan, Yen Ndui akan berusaha memperhatikan satu-persatu penumpang yang turun dengan seksama. Dan jika dia menjumpai salah seorang kenalannya yang akan berangkat ke kota lain, Yen Ndui akan berusaha menitipkan pesan yang sama kepada mereka.&lt;br /&gt;"Jika Anda bertemu dengan pria bernama Ciang Wengwah atau wanita bermarga Ciu dari Guandong, tolong tanyakan kepada mereka: 'Apakah kalian punya putri bernama Yen Ndui?' Jika mereka menjawab iya, berarti merekalah Ayah dan Ibuku."&lt;br /&gt;Yen Ndui terus memakai cara-cara itu buat mencari orangtuanya hingga berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, namun semuanya belum membuahkan hasil. Sampai suatu hari, ketika Yen Ndui sudah dua tahun menetap di Manado, salah seorang tetangga keluarga Chen datang tergesa-gesa mencari Yen Ndui di rumah.&lt;br /&gt;"Yen Ndui, lekas kemari! Aku sudah menemukan Ayahmu! Ayo cepat ikut aku!"&lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang, Yen Ndui segera memperbaiki penampilannya ala kadarnya dan melesat mengikuti tetangganya yang seorang wanita paruh baya. Wanita itu membawa Yen Ndui ke sebuah rumah di gang sebelah, yang diketahui Yen Ndui sebagai rumah salah satu kerabat wanita tersebut.&lt;br /&gt;"Itu dia," bisik wanita itu di telinga Yen Ndui ketika mereka sampai di rumah tersebut.. "Dia adalah keluarga jauh istri kerabatku itu. Marganya Ciang dan namanya Wengwah. Dia baru tiba pagi tadi kemari dan konon sedang mencari putrinya yang hilang. Ayo lekas kau hampiri dia...."&lt;br /&gt;Yen Ndui dengan gugup memasuki rumah dan berjalan menghampiri sosok seorang pria yang tengah duduk memunggunginya. Pria itu langsung berdiri dari kursinya sewaktu mendengar seseorang mendekat dan dia berbalik....&lt;br /&gt;"Ayah..." Secara refleks Yen Ndui memanggil, namun sejurus kemudian dia terdiam.&lt;br /&gt;"Apa?" Pria di hadapan Yen Ndui tampak kebingungan. "Maaf, Nona. Kau memanggilku apa tadi...?"&lt;br /&gt;Yen Ndui merasa wajahnya merah karena malu. Buru-buru dia berkata, "Ah, maaf! Saya salah orang rupanya.... Maaf!"&lt;br /&gt;Yen Ndui menatap wajah pria itu dengan lebih seksama lagi. Pria itu kurus tinggi dengan wajah cekung berusia empat puluhan dan mempunyai tahi lalat besar di bawah pelupuk mata sebelah kirinya. 'Ah, bodohnya aku!' makinya dalam hati. 'Mana mungkin ini Ayah?'&lt;br /&gt;Dengan langkah gegas, Yen Ndui meninggalkan rumah tersebut. Sesampainya di rumah, Nyonya Chen menanyainya.&lt;br /&gt;"Bagaimana, apakah dia betul Ayahmu?"&lt;br /&gt;Kekecewaan Yen Ndui tumpah dalam bentuk airmata keputusasaan. "Bukan!" pekiknya lirih. "Pria itu bukan Ayah.... Dia hanya orang yang dikirim Lao Tian buat mengolok-olok diriku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan yang dialaminya waktu itu tetap tidak membuat Yen Ndui surut berusaha. Dia terus saja gigih mencari, terus bertanya dan percaya bahwa suatu hari nanti dia pasti akan bertemu dengan Ayah-Ibunya.&lt;br /&gt;Suami-istri Chen mengagumi ketekunan Yen Ndui sekaligus prihatin padanya.&lt;br /&gt;"Bukannya aku bermaksud menjatuhkan semangatmu, Yen Ndui," kata Tuan Chen suatu hari. "Nan Yang ini sangat luas, dan Manado bukanlah kota satu-satunya di Nan Yang."&lt;br /&gt;"Menurutku, kedua orangtuamu sudah pasti tidak berada di kota ini. Kemungkinan besar mereka tinggal di kota lain, seperti Medan di Pulau Andalas—kini Sumatra."&lt;br /&gt;"Atau jangan-jangan di San Pao Long—Semarang, Pulau Jawa," celutuk Nyonya Chen.&lt;br /&gt;"Bisa juga mereka sekarang di Singkawang, Pulau Borneo—kini Kalimantan," sambung Tuan Chen lagi. "Bahkan di selatan Pulau Celebes ini ada sebuah kota yang juga banyak dihuni oleh pendatang Tionghoa, namanya Makassar."&lt;br /&gt;Begitu mendengar Tuan Chen menyebutkan aneka nama kota di Nan Yang, untuk sejenak Yen Ndui bergeming. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pencarian kedua orangtuanya ini ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Walau perlahan-lahan semangat Yen Ndui yang semula besar menjadi surut, keinginannya untuk mencari kedua orangtuanya tidaklah benar-benar hilang.&lt;br /&gt;Setelah tiga tahun Yen Ndui tinggal di Manado, suami-istri Chen mencomblanginya dengan seorang duda berusia akhir tiga puluhan. Pria itu juga bermarga Chen dan masih terhitung famili Tuan Chen. Chenlang—panggilan Yen Ndui kepada calon suaminya ini di kemudian hari, berprofesi sebagai pengrajin emas. Istri pertamanya meninggal karena sakit sewaktu masih di Guandong, dan setelah kematian istrinya itulah Chenlang memutuskan untuk merantau ke Nan Yang.&lt;br /&gt;Yen Ndui dan Chenlang akhirnya menikah. Dan baru pada pernikahan keduanya ini Yen Ndui benar-benar merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga. Chenlang memang bukan pria kaya yang bisa memberi kelimpahan materi kepada istrinya. Namun dalam kehidupan perkawinan mereka itu, Chenlang senantiasa mengasihi dan menghargai Yen Ndui.&lt;br /&gt;Yen Ndui pun amat mengasihi Chenlang. Kehidupan keluarga mereka berlangsung langgeng dan bahagia. Keduanya dikaruniai dua orang anak, yakni sepasang putra dan putri yang masing-masing diberi nama: A Loi dan Chaiyin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, Agustus 1945.&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari ini Kakek Buyut tampak gelisah.&lt;br /&gt;Dia tak bisa duduk diam atau berselera melakukan apapun. Sepanjang hari wajahnya muram dan senantiasa mendesah.&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin hatinya bisa tenteram sementara dalam kepalanya Kakek Buyut sibuk berpikir?&lt;br /&gt;Semenjak dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh Sekutu, situasi semakin tidak menenteramkan. Sewaktu-waktu, sirene tanda bahaya berbunyi meraung-raung, memberi tanda kepada seluruh penduduk agar segera berlindung di bawah lubang-lubang yang dibuat di halaman lalu ditutup dengan dedauan atau tanaman lainnya. Suara-suara pesawat tempur membahana di atas langit sana dan sesekali, terdengar ledakan bom yang meski meledak di tempat yang cukup jauh, suara dan getarannya terasa sampai ke lubang-lubang perlindungan tersebut.&lt;br /&gt;Ketika suasana semakin chaos dan tak dapat dibendung lagi, penduduk kota Makassar sebagian besar mengungsi ke daerah pinggiran kota. Kakek Buyut beserta seluruh keluarganya juga turut mengungsi. Dalam hatinya, Kakek Buyut merasa perih sekali melihat istri, anak-anak, menantu beserta cucu-cucunya berhari-hari berjalan kaki ke tempat pengungsian. Hal ini tentunya tidak pernah dibayangkan Kakek Buyut sewaktu pertama kali beliau memutuskan untuk hijrah ke Nan Yang. Niat Kakek Buyut sebelumnya adalah untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, tidak tahunya sekarang beliau bersama seluruh keluarganya mengalami nasib yang hampir sama dengan separuh populasi dunia saat itu: terjebak dalam pusaran Perang Dunia II. Ternyata kesimpulannya, di mana pun manusia berada, asal dia masih hidup di dunia ini, yang namanya kesulitan serta cobaan tidak akan pernah berhenti menghampiri.&lt;br /&gt;Kakek Buyut memikirkan nasib keluarganya. Semenjak Nenek Buyut berhasil menyusulnya ke Nan Yang duapuluh tujuh tahun yang lalu, mereka kembali dikaruniai dua orang anak. Anak kedua Kakek dan Nenek Buyut adalah seorang putra kelahiran tahun 1919 bernama Kuangthing. Kuangthing inilah yang kelak menjadi Kakekku dari pihak Ayah. Anak bungsu Kakek Buyut adalah seorang putri kelahiran 1932 yang diberi nama Liming. Selain Kuangthing dan Liming, Kakek dan Nenek Buyut juga mengadopsi seorang putri angkat bernama Leiho.&lt;br /&gt;Pada saat Perang Dunia II meletus, Kuangthing dan adik angkatnya Leiho sudah menikah. Istri Kuangthing bernama Cungho, putri seorang penjahit kaya di pecinan Makassar. Sampai pada tahun 1945, Kuangthing dan Cungho telah dikaruniai tiga orang putra. Leiho sendiri menikah dengan seorang pengrajin emas bermarga Ciu (Zhou dalam mandarin Hanyu Pinyin), dan mereka juga baru dikaruniai seorang putra.&lt;br /&gt;Selain memikirkan keluarganya yang ada di Makassar, pikiran Kakek Buyut juga melayang memikirkan putri sulungnya, Yen Ndui yang entah kini berada di mana. Sewaktu pertengahan 1930-an, Kakek Buyut pernah mengutus seseorang buat mencari Yen Ndui ke Xinhui. Akan tetapi orang itu kembali ke Makassar sambil membawa berita miris.&lt;br /&gt;"Aku tidak berhasil menemukan putrimu, Tuan! Rumah besar milik keluarga Sun itu kini telah berganti pemilik. Tuan Sun telah meninggal duapuluh tahun lalu, dan semenjak itu putra-putranya saling memperebutkan harta warisan hingga rumah tersebut dijual. Seluruh keluarga Sun kini tercerai-berai dan hidup berpencar. Menurut bekas tetangga Tuan Sun, putrimu, Yen Ndui, telah dibebaskan oleh Ibu Mertuanya setahun setelah kematian suaminya. Dia lalu ikut salah satu kerabat Nyonya Besar ke Nan Yang. Hanya saja, di kota Nan Yang sebelah mana tak seorang pun yang tahu, sebab semenjak kepergiannya, Yen Ndui tidak pernah lagi mengirim kabar tentang dirinya."&lt;br /&gt;Semangat Kakek Buyut seolah terbang usai mendengar penuturan orang suruhannya itu. Harapannya untuk bisa mengetahui keberadaaan putri sulungnya kini nyaris pupus sudah. Pada malam-malam chaos perang, di barak pengungsian, Kakek Buyut tak henti-hentinya bermimpi didatangi sosok seorang wanita muda yang bertampang mengerikan dan sekujur tubuhnya berlumuran darah.&lt;br /&gt;"Ayah...," panggil wanita itu. "Aku putrimu, Yen Ndui. Lihatlah akibatnya Ayah meninggalkanku dulu.... Ibu menikahkanku terlalu cepat dengan Tuan Sun, dan aku telah menjanda. Sekarang, aku menjadi arwah penasaran... tubuhku hancur karena terkena pecahan bom. Ayah... aku ingin tubuhku kembali... aku memintanya padamu karena kau adalah Ayahku...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut biasanya baru terbangun setelah Nenek Buyut mengguncang-guncang tubuhnya.&lt;br /&gt;"Suamiku, bangun! Kau mengigau...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut membuka mata dan melihat istrinya. Setelah itu, barulah beliau agak tenang. Diceritakannya mimpinya itu kepada istrinya. Namun Nenek Buyut hanya menanggapi ringan.&lt;br /&gt;"Ah, itu kan cuma mimpi. Belakangan ini, kita memang sering melihat pemandangan mengenaskan. Mayat-mayat korban bom tergeletak di mana-mana. Pemandangan seperti itu akhirnya merasuki sampai ke alam bawah sadarmu, hingga akhirnya kau mimpi buruk."&lt;br /&gt;"Tapi bagaimana kalau itu memang benar? Bagaimana kalau ternyata Yen Ndui benar-benar telah meninggal akibat serangan bom?"&lt;br /&gt;"Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak, Suamiku. Putri kita anak yang baik. Lao Tian pasti melindunginya sama seperti terhadap anak-anak kita yang lain...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut memendam amarah dan kesedihan dalam dada. Dengan lirih dia menyebut nama putri sulungnya itu. "Yen Ndui.... Oh, Yen Ndui...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manado, setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari ini Yen Ndui dan suaminya, Chenlang, diliputi keresahan. Putra sulung mereka yang berusia delapanbelas tahun, A Loi, baru-baru ini mengutarakan keinginannya untuk pindah ke kota Makassar.&lt;br /&gt;"Ayah, Ibu, mengapa kita tidak pindah saja ke Makassar? Menurut teman-temanku yang sudah pindah ke sana, di Makassar peluang untuk usaha dan bisnis saat ini sangat bagus. Mengapa kita tidak mencoba untuk ikut mengadu peruntungan di sana?"&lt;br /&gt;"Anakku, kau jangan keburu nafsu," ujar Yen Ndui bijak. "Belum tentu kalau kita pindah di sana peruntungan kita akan semakin baik."&lt;br /&gt;"Tidak istriku, A Loi benar," Chenlang menyela. "Aku pun sebenarnya sudah lama berkeinginan pindah ke sana, hanya saja terhalang oleh suasana kacau-balau sehabis perang. Aku sudah sering mendengar banyak orang yang meramalkan Makassar akan menjadi kota pelabuhan yang besar, bahkan yang teramai di sebelah timur Nan Yang ini."&lt;br /&gt;Yen Ndui tepekur. Pindah dari Manado berarti meninggalkan kota yang selama ini telah dianggapnya sebagai kampung halaman kedua setelah Guandong. Itu berarti pula Yen Ndui akan berpisah dengan sahabat-sahabatnya yang telah duapuluh tahun dikenalnya sehingga sudah bagaikan sanak-saudara.&lt;br /&gt;Chaiyin, adik perempuan A Loi yang berusia limabelas tahun menggamit lengan Yen Ndui. Dengan setengah memohon, Chaiyin berkata. "Mengapa Ibu masih menimbang-nimbang? Kalau memang Ayah dan Kakak sudah setuju, mari kita sekeluarga pindah saja ke Makassar...."&lt;br /&gt;Yen Ndui terdiam mendengar perkataan-perkataan suami dan anaknya itu silih berganti. Tiba-tiba Yen Ndui teringat dengan perkataan Tua Chen kepadanya belasan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;"... bahkan di selatan Pulau Celebes ini ada sebuah kota yang juga banyak dihuni oleh pendatang Tionghoa, namanya Makassar...."&lt;br /&gt;Tiba-tiba sesuatu muncul dalam benak Yen Ndui. 'Ah, kenapa tidak kugunakan kesempatan ini buat mencari orang tuaku sekali lagi?' Lalu, Yen Ndui manatap ke arah suaminya yang juga tengah memandangnya.&lt;br /&gt;"Bagaimana, Chenlang? Apakah kau benar-benar ingin pindah ke Makassar?"&lt;br /&gt;Chenlang menatap Yen Ndui dengan penuh arti. "Kalau kau menyetujuinya, Istriku, kita semua pasti akan mengikutinya," jawab Chenlang.&lt;br /&gt;Mata Yen Ndui seketika bercahaya dan bibirnya menyunggingkan senyum. "Baik! Keputusanku bulat! Aku setuju kita sekeluarga pindah ke Makassar!"&lt;br /&gt;Perkataan itu meluncur keluar dari bibir Yen Ndui dengan lancar. Tak lama berselang, terdengar sorak kegembiraan A Loi memenuhi seluruh ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yen Ndui beserta seluruh keluarganya akhirnya pindah ke Makassar.&lt;br /&gt;Chenlang berhasil menyewa sebuah rumah dengan harga yang pantas di daerah pinggiran pecinan, dekat dengan pelabuhan. Rumah-rumah di lingkungan tersebut berjejer-jejer dan modelnya serupa. Tetangga di sekitar rumah mereka berasal dari berbagai daerah. Kebanyakan memang keturunan Tionghoa, namun ada pula penduduk lokal Bugis-Makassar yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.&lt;br /&gt;Bangunan pada sisi sebelah kanan rumah Yen Ndui dihuni oleh keluarga Hokkian bermarga Ma. Keluarga Ma terdiri atas sepasang suami-istri muda yang memiliki seorang putra berusia balita. Tuan Ma bekerja sebagai karyawan di toko onderdil sepeda milik Ampek -nya (bahasa Hokkian untuk kakak lelaki dari pihak Ayah), yang terletak di tengah pecinan kota Makassar. Istrinya, Nyonya Ma, ibu rumah tangga biasa. Keluarga Yen Ndui dengan segera dapat akrab dengan suami-istri Ma ini. Apalagi mereka dengan sukacita mau membantu keluarga Yen Ndui untuk mengenalkan lebih jauh tentang kota Makassar.&lt;br /&gt;Keluarga Ma telah menetap di Makassar kurang lebih tujuh tahun. Paling tidak, kenalan mereka di Makassar lebih banyak ketimbang Yen Ndui dan Chenlang. Yen Ndui lalu memutuskan untuk menceritakan tentang 'misi' lainnya ke Makassar. Selain mengadu peruntungan yang lebih baik di kota baru ini, dia memang bermaksud mencari kedua orangtuanya. Keluarga Ma mendengarkan dengan seksama sewaktu Yen Ndui menyebutkan nama lengkap Ayah-Ibunya, beserta ciri-ciri mereka yang samar-samar masih melekat di ingatannya.&lt;br /&gt;"Suamiku, apakah kau punya kenalan yang seperti diceritakan Kakak Yen Ndui?" tanya Nyonya Ma kepada suaminya usai mendengar Yen Ndui bercerita.&lt;br /&gt;Tuan Ma mangut-mangut. "Sayangnya, aku tidak punya kenalan yang berciri-ciri seperti itu," jawabnya sambil mengingat-ingat. Lalu dia berkata ke arah Yen Ndui. "Kota Makassar sekarang sudah tidak sekecil dulu. Ada begitu banyak pendatang di kota ini, khususnya orang-orang Tionghoa. Ada yang datang dari Guandong, Hokkian, Khe (Hakka), Hainan, dan lain-lain. Kebanyakan orang-orang Tionghoa itu pun tidak semuanya saling mengenal satu lain."&lt;br /&gt;Yen Ndui sedikit kecewa. Namun seperti biasa, dia hanya menyimak pasrah.&lt;br /&gt;"Kebanyakan dari mereka hanya berinteraksi lewat hubungan dagang atau bertetangga seperti kita sekarang. Selain dari itu, masing-masing bergabung dalam paguyuban-paguyuban sesuai dengan propinsi tempat asal mereka di Tiongkok dulu. Aku sendiri ikut paguyuban keluarga Hokkian dari daerah Hing Hua. Sedangkan orang-orang Guandong, setahuku memiliki tiga paguyuban besar di sini: Guandong Khaiphing, Guandong Thaishan, dan Guandong Xinhui...." tambah Tuan Ma, detail menjelaskan.&lt;br /&gt;"Kalau begitu, aku bisa pergi ke rumah ketua pengurus paguyuban Guandong Khaiphing buat menanyakan perihal Ayah-Ibuku," seru Yen Ndui dengan mata berbinar-binar. "Tuan Ma, tahukah Anda di mana alamatnya?"&lt;br /&gt;Tuan Ma mendesah lalu menggeleng-geleng. "Sayang sekali aku tak tahu, Kak. Kebanyakan paguyuban tersebut tidak mempunyai kantor resmi, dan biasanya hanya memakai rumah salah satu anggota buat mengadakan pertemuan atau acara-acara penting lainnya secara bergilir. Tapi Kakak tidak perlu khawatir, aku akan tetap mencoba membantu Kakak. Di toko tempatku bekerja, ada banyak pelanggan orang Tionghoa sering keluar-masuk. Jika aku kebetulan menemukan pelanggan yang ternyata adalah orang Guandong Khaiphing, aku akan coba menanyakan perihal orangtua Kakak pada mereka."&lt;br /&gt;Yen Ndui amat berterima kasih atas bantuan Tuan Ma.&lt;br /&gt;Dan waktu terus bergulir. Di kota yang baru ini, Chenlang dan A Loi harus berusaha dari awal lagi. Untuk sementara waktu mereka magang di sebuah toko emas di jalan Klenteng—kini nama jalan itu Sulawesi. Sementara itu, Yen Ndui yang sudah terbiasa sibuk, tak tahan apabila hanya berdiam diri saja di rumah. Kebetulan, kemampuannya dalam membuat kue-kue basah tradisional Tionghoa sudah tidak diragukan lagi. Dengan sedikit uang dari tabungannya, Yen Ndui memulai usahanya menjual kue. Nyonya Ma mendampinginya ke pasar, memberitahunya di toko mana menjual tepung yang harganya murah dengan mutu bagus, atau toko mana yang menjual gula pasir dalam jumlah banyak dengan potongan harga, dan juga memberitahu pedagang mana yang menjual kacang hijau terbaik untuk dibuat taosa—jenang dari kacang hijau. Nyonya Ma juga membantu Yen Ndui mengolah kue-kue tersebut kemudian menjajakannya. Awalnya mereka berjualan hanya di daerah sekitar tempat tinggal saja. Kue-kue buatan Yen Ndui dalam waktu singkat menjadi populer dan laris karena rasanya memang enak. Melihat kemajuan itu, Nyonya Ma mengusulkan untuk ekspansi.&lt;br /&gt;"Mengapa Kakak tidak mencoba membuat lebih banyak kue, dan menjualnya ke tengah-tengah pecinan? Pasti lebih banyak orang yang membeli."&lt;br /&gt;'Ah, usul yang bagus!' pikir Yen Ndui. Maka, dia dan Nyonya Ma pun membuat lebih banyak kue lagi untuk dijajakan.Yen Ndui dan Nyonya Ma berbagi daerah jualan. Kalau Nyonya Ma berjualan di daerah sekitar tempat tinggal mereka saja, maka Yen Ndui-lah yang berjualan ke daerah tengah pecinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Yen Ndui menjajakan kue-kue dagangannya ke daerah tengah pecinan.&lt;br /&gt;Setelah satu-dua kali ikut Nyonya Ma, Yen Ndui pun akhirnya bisa menghafal sedikit-sedikit kawasan ini.&lt;br /&gt;"Jangan khawatir bisa sampai tersesat di daerah ini," Nyonya Ma memberi tahu, suatu ketika. "Daerah ini sangat mudah diingat karena jalan-jalannya lurus dan tembus-menembus hingga ke jalan-jalan utama. Tapi kalau Kakak masih bingung jalan kembali ke rumah, jangan sungkan-sungkan bertanya kepada orang-orang yang tinggal di sini. Mereka biasanya dengan senang hati mau memberi tahu jalurnya."&lt;br /&gt;Pagi itu, menjelang pukul sepuluh, Yen Ndui membawa tampah kue di atas kepalanya sambil berjalan melewati Je'ra Cinayya (bahasa Makassar untuk pekuburan Tionghoa). Menurut Nyonya Ma pula, pekuburan Tionghoa itu usianya sudah hampir dua abad, menampung ratusan atau bahkan hampir ribuan jenazah para pendatang Tionghoa di kota Makassar. Tapi belakangan ini tersiar kabar bahwa pemerintah kota Makassar yang baru mulai berencana hendak menggusur tanah pekuburan tersebut. Je'ra Cinayya yang baru akan dipindahkan ke daerah Panaikang di sebelah timur kota Makassar, bersamaan dengan pekuburan Nasrani yang terletak di sebelah selatannya. Di atas tanah bekas Je'ra Cinayya yang lama akan dibangun rumah-rumah tinggal, pertokoan, dan pasar sentral. Wilayah ini nantinya menjadi salah satu cikal-bakal daerah perdagangan teramai di pecinan kota Makassar .&lt;br /&gt;Yen Ndui terus melangkahkan kaki sepanjang tembok pembatas Je'ra Cinayya dengan jalan raya. Pada sebuah perempatan, Yen Ndui berhenti sejenak mengamati sebuah bangunan bertingkat tiga di seberang Je'ra Cinayya tersebut. Melihat hiolo—paidon, tempat merancap dupa—yang menempel pada salah satu sisi pintu, Yen Ndui menyimpulkan kalau pemilik rumah tersebut pasti merupakan orang Tionghoa. Ketika Yen Ndui sedang asyik berpikir, tiba-tiba pintu rumah yang tadinya tertutup, dibuka oleh seorang wanita. Wanita itu sepertinya seorang ibu muda dengan seorang anak lelaki yang berusia empat atau lima tahun berdiri di sampingnya. Rumah, wanita dan anaknya itu bagaikan magnet yang menarik Yen Ndui. Dia menyeberangi jalan dan mencoba menghampiri ibu dan anak itu.&lt;br /&gt;"Thai Thai—Nyonya," sapa Yen Ndui santun dalam bahasa mandarin. "Maukah Anda membeli kue-kue saya?"&lt;br /&gt;Wanita Muda itu pada awalnya sedikit terkejut disapa Yen Ndui. Namun belum sempat dia berkata-kata, anak lelaki di sampingnya telah sibuk menarik-narik roknya sambil berceloteh.&lt;br /&gt;"Ibu, A Hong mau makan kue! Bibi ini sepertinya menjual kue-kue yang enak. Ayolah, Ibu, belikan A Hong, ya?"&lt;br /&gt;Yen Ndui terkejut mendengar anak laki-laki itu berbicara dalam bahasa Guandong Khaiphing yang fasih. Dipandanginya ibu anak tersebut, si Wanita Muda tadi yang kini tengah memandang putranya dengan penuh kasih.&lt;br /&gt;"Kau ingin makan kue? Baiklah, akan Ibu belikan. Ayo, lekas ambil piring di dalam."&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu melesat masuk ke dalam rumah, dan dalam waktu singkat dia telah keluar membawa sebuah piring besi. Yen Ndui menurunkan tampah kuenya dan membuka kain penutupnya. Anak lelaki itu mulai sibuk memilih, didampingi ibunya.&lt;br /&gt;Tapi sang Ibu tidak sepenuhnya mengawasi putranya. Sebaliknya, dia melihat Yen Ndui seolah menyelidik. 'Dari mana asalnya wanita ini?' Mungkin itu yang sedang dipikirkannya. Melihat cara berpakaian Yen Ndui, Wanita Muda itu pasti kebingungan. Setelah bertahun-tahun tinggal di Manado, Yen Ndui telah mengganti baju chipao dan cheongsam-nya dengan kebaya dan kain sarung. Sebuah perbedaan yang mencolok antara Tionghoa perantauan yang berkembang di Makassar dan kota-kota lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;Dari sudut matanya Yen Ndui melihat Wanita Muda itu seolah sedang berpikir, �Apakah wanita ini seorang Guandong, Hokkian atau Khe? Jangan-jangan dia seorang Chiaushen—Tionghoa peranakan. Atau barangkali wanita Manado? Bahasa mandarinnya lumayan bagus....'&lt;br /&gt;Yen Ndui pura-pura tidak memperhatikan Wanita Muda tersebut, dan hanya melayani si Bocah Lelaki kecil yang sibuk memilih kue.&lt;br /&gt;"Aku mau kue yang berwarna merah dan bentuknya seperti kura-kura itu.... Aku mau kue bolu kukus merah muda yang ini.... Aku juga mau kue wijen goreng yang ini...."&lt;br /&gt;Kali ini barulah si Wanita Muda menoleh pada putranya sambil berkata heran, "A Hong, kau membeli sebanyak itu untuk kau habiskan sendiri?"&lt;br /&gt;Anak lelaki itu memandang ibunya dengan wajah mungilnya yang lugu. "Tentu saja tidak! Aku hanya akan makan satu. Yang lainnya akan kuberikan kepada Kakek, Nenek, dan Ayah...."&lt;br /&gt;"Wah, anak yang baik...," puji Yen Ndui. "Thai Thai, Anda beruntung punya putra secerdas ini."&lt;br /&gt;Ibu anak itu tersenyum simpul. Ketika Yen Ndui sudah hampir selesai memindahkan kue-kue pilihan si Bocah Lelaki ke dalam piring, dari dalam rumah muncullah wanita lain—seorang gadis berusia empatbelas atau limabelas tahun. Tubuhnya kurus dan kulitnya hitam manis. Tapi sepasang mata sipitnya memberi tahu Yen Ndui bahwa dia seorang gadis Tionghoa, terlebih ketika dia berbicara dengan bahasa Guandong Khaiphing yang fasih.&lt;br /&gt;"Shao Shao—Kakak Ipar, sedang membeli apa?"&lt;br /&gt;Si Wanita Muda menoleh ke arah adik iparnya itu seraya berkata, "Eh, Liming, kau rupanya! Aku sedang membeli kue. Apakah kau juga mau?"&lt;br /&gt;Gadis yang bernama Liming itu menghampiri tampah. Setelah melihat-lihat beberapa saat, dia menunjuk sebuah kue yang berwarna putih dan bentuknya menyerupai bakpao.&lt;br /&gt;"Pawa ini isinya apa?"&lt;br /&gt;Kakak iparnya tidak tahu bahwa Yen Ndui mengetahui pembicaraan mereka, menerjemahkan pertanyaan Liming dalam bahasa Guandong ke dalam bahasa mandarin. Yen Ndui pun menjawab dalam bahasa mandarin pula.&lt;br /&gt;"Pawa ini berisi cacahan kacang tanah dan gula pasir, dicampur wijen, Thai Thai."&lt;br /&gt;Liming mengambil pawa sambil berkata, "Baik, kuambil yang ini saja."&lt;br /&gt;Si Wanita Muda itu lalu mengambil dompet kecil yang tersimpan dalam sakunya. Dibayarnya semua kue yang dibeli oleh putra dan adik iparnya. Setelah saling mengucapkan terima kasih, si Wanita Muda itu sudah akan memasuki rumah bersama dengan putra dan adik iparnya. Tiba-tiba Yen Ndui merasa seluruh keberaniannya terkumpul buat menanyai si Wanita muda tadi. Dia berjalan menghampiri Wanita Muda itu, mencegat langkahnya dan berkata.&lt;br /&gt;"Thai Thai, tunggu sebentar! Bolehkah saya bertanya?"&lt;br /&gt;Wanita Muda itu berbalik, begitu pula dengan adik iparnya yang bernama Liming itu. Putranya juga ikut berhenti dan memandangi Yen Ndui dengan perasaan ingin tahu.&lt;br /&gt;"Iya, Cie Cie—kakak perempuan? Adakah yang bisa saya bantu?" Si Wanita Muda menjawab pertanyaan Yen Ndui dengan pertanyaan pula.&lt;br /&gt;"Apakah Nyonya berasal dari Guandong Khaiphing?" tanya Yen Ndui, kali ini dalam bahasa Guandong Khaiphing.&lt;br /&gt;Si Wanita Muda dan Liming membelalakkan mata.&lt;br /&gt;"Saya dan suami saya sudah merupakan orang-orang Tionghoa kelahiran Makassar, Cie Cie," jawab si Wanita Muda. "Hanya orangtua kami yang memang masih berasal dari Guandong Khaiphing."&lt;br /&gt;"Anu...,"Yen Ndui merasa lidahnya agak kelu. "Sebenarnya, saya pun berasal dari Guandong Khaiphing. Tepatnya dari dusun Liu Cun Mei, desa Sha Kok. Sudah duapuluh tahun ini saya mencari kedua orangtua saya. Ayah saya pergi ke Nan Yang ini ketika saya baru berusia lima tahun, dan Ibu saya menyusulnya sewaktu saya berusia tigabelas tahun. Sejak kepergian Ayah, tak satu pun kabar berita yang saya peroleh tentangnya. Begitu pula dengan Ibu. Itu sebabnya saya tidak tahu di mana kini mereka berada, apakah masih hidup atau sudah meninggal...."&lt;br /&gt;Si Wanita Muda itu menyimak dengan seksama. Ketika Yen Ndui berhenti berbicara karena menyaput sudut matanya yang mulai basah dengan punggung tangannya, si Wanita Muda itu berkata.&lt;br /&gt;"Kedua mertua saya juga berasal dari dusun Liu Cun Mei, desa Sha Kok, di Guandong Khaiphing. Siapakah nama kedua orangtua Cie Cie? Beritahu saya supaya saya bisa menanyakannya kepada kedua mertua saya. Siapa tahu mereka mengenalinya."&lt;br /&gt;Yen Ndui menatap si Wanita Muda. "Ayah saya bermarga Ciang, bernama Wengwah.... Ibu saya bermarga Ciu, dia tak punya nama dan orang-orang dulunya hanya memanggilnya 'Anak Perempuan Ketiga'...."&lt;br /&gt;Tiba-tiba Wanita Muda itu mundur sejenak, dan menatap Yen Ndui dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut.&lt;br /&gt;"Maaf, Cie Cie, kalau boleh tahu, siapakah nama Anda?"&lt;br /&gt;"Marga saya, Ciang. Nama saya Yen Ndui. Dulu sebelum Ibu pergi menyusul Ayah saya ke Nan Yang ini, saya dinikahkan dengan seorang pria bermarga Sun dari Xinhui. Enam tahun kemudian suami saya meninggal, dan saya 'dibebaskan' oleh Ibu Mertua saya. Saya lalu ikut salah satu kerabat ke Nan Yang ini buat mencari orangtua saya. Namun di kota tempat saya tinggal dulu, sebelum menetap di kota ini, saya sama sekali belum berhasil menemukan mereka. Sekarang duapuluh tahun sudah berlalu semenjak kedatangan saya ke Nan Yang ini, saya masih terus berusaha mencari...."&lt;br /&gt;Yen Ndui terus bercerita sampai dia memperhatikan mimik muka Liming yang mendadak berubah. Gadis itu tampak terpana dan membelalakkan matanya sebesar bola pingpong. Kakak Iparnya, yang sedari tadi menyimak juga tampak shock. Apa yang barusan dikatakan Yen Ndui benar-benar telah mengejutkan mereka semua.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, tanpa mendengar penjelasan Yen Ndui lebih lanjut lagi, Liming berlari masuk ke dalam rumah. Dia berteriak keras.&lt;br /&gt;"Ayah! Ibu! Lekas keluar! Di depan pintu ada wanita yang mengaku bernama Yen Ndui! Dia... dia... sedang mencari kalian!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek dan Nenek Buyut tadinya seolah tidak percaya dengan teriakan Liming.&lt;br /&gt;Kedua orang tua itu bergegas mengikuti Liming keluar buat menemui wanita yang mengaku bernama Yen Ndui. Di depan pintu, Kakek Buyut melihat menantu perempuannya masih terbengong-bengong menatap sosok seorang wanita berkebaya dan bersarung. Dan, sekarang wanita itu berdiri tepat di hadapan Kakek dan Nenek Buyut!&lt;br /&gt;Kakek dan Nenek Buyut terdiam beberapa saat. Mereka menyipitkan mata memandang dengan seksama wanita yang juga sedang balas menatap mereka. Sejurus kemudan terdengar suara-suara teriakan yang hampir bersamaan.&lt;br /&gt;"Putriku?!"&lt;br /&gt;"Ayah?! Ibu?!"&lt;br /&gt;"Lao Tian! Ini, ini... benar-benar putriku!"&lt;br /&gt;Dan kemudian tangis kebahagiaan pecah di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah di balik sebuah reuni. Kisah tentang seorang anak perempuan yang tak pernah berputus asa mencari Ayah-Ibunya, yang telah dipisahkan oleh jarak dan waktu selama duapuluh tahun.&lt;br /&gt;Makassar merupakan kota terakhir yang ditinggali Yen Ndui hingga akhir hayatnya, dan kisah tentang dirinya telah diceritakan turun-temurun dalam keluargaku hingga pada generasiku sekarang. Untuk menutup kisah reuni ini, izinkan aku mengakhirinya dengan sebuah puisi dari zaman Dinasti Ming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ketika kepahitan berakhir, manis mulai terasa&lt;br /&gt;Setelah kemalangan, datanglah bahagia&lt;br /&gt;Sepasang Pedang Fengcheng telah berpadu&lt;br /&gt;Mutiara Hepu kembali ke tempat semula&lt;br /&gt;Pelajar lanjut usia lulus ujian negara&lt;br /&gt;Pengemis menemukan harta terpendam&lt;br /&gt;Bagai bunga yang mekar, si Wanita memperoleh suaminya kembali&lt;br /&gt;Bagai rumput yang bertunas, anak yatim menemukan Ayahnya&lt;br /&gt;Kebahagiaan ini melebihi bertemu kawan di rantau&lt;br /&gt;Sambutannya melebihi hujan yang ditunggu setelah kemarau panjang&lt;br /&gt;Bagai sepasang angsa yang terpisah bertemu kembali di lautan&lt;br /&gt;Pertemuan, bisa terjadi di mana saja.'&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-7670827441873404036?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/7670827441873404036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/kisah-di-balik-sebuah-reuni-bag-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7670827441873404036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7670827441873404036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/kisah-di-balik-sebuah-reuni-bag-2.html' title='Kisah di Balik Sebuah Reuni bag. 2'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/StxxQBahKgI/AAAAAAAAAUQ/7b5o-W-J550/s72-c/reuni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-7389684295512191076</id><published>2009-09-20T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T06:59:16.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merlin Herlina'/><title type='text'>Kisah di Balik Sebuah Reuni bag. 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stxv870NkvI/AAAAAAAAAUI/qqPHr42cY88/s1600-h/reuni.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stxv870NkvI/AAAAAAAAAUI/qqPHr42cY88/s320/reuni.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394309546322531058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kakek Buyutku dari pihak Ayah bernama Ciang Wengwah atau Zhang Wenhua dalam dialek mandarin Hanyu Pinyin.&lt;br /&gt;Beliau lahir pada tahun 1880, di sebuah dusun bernama Liu Cun Mei, Kecamatan Sha Kok, Kabupaten Khaiphing, Propinsi Guandong, China bagian Selatan.&lt;br /&gt;Kakek Buyut terlahir sebagai putra sulung dari dua bersaudara dimana adiknya yang beberapa tahun lebih muda juga adalah seorang lelaki. Kedua orangtua Kakek Buyut hanyalah sepasang suami-istri petani miskin, yang tenaganya disewa oleh tuan-tuan tanah kaya guna menggarap sawah-sawah mereka.&lt;br /&gt;Seingat Kakek Buyut, ketika masih kecil ada seorang pria berwajah cendekiawan yang mengajarinya membaca dan menulis. Pria itu adalah salah seorang tetangganya. Namun pada dasarnya Kakek Buyut tidak terlalu senang belajar. Kemungkinan besar karena kurang termotivasi oleh Ayah-Ibunya.&lt;br /&gt;Kedua orangtuanya senantiasa berujar, "Sekolah bukanlah hal yang utama bagi keluarga miskin seperti kita. Yang paling penting adalah, kau cepat tumbuh besar dan cukup kuat untuk bekerja di sawah supaya kita bisa makan."&lt;br /&gt;Demikianlah pemikiran sederhana keluarga miskin Tionghoa zaman dulu. Perut lebih penting ketimbang pendidikan. Akibatnya, Kakek Buyut hanya bisa mengenali sedikit sekali huruf.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kakek Buyut menikah pada usia duapuluh dua tahun. Mempelai wanitanya seorang gadis bermarga Ciu (Zhou dalam dialek mandarin Hanyu Pinyin), dan baru berusia empatbelas tahun. Nona Ciu juga berasal dari keluarga petani miskin di dusun yang sama dengan Kakek Buyut. Kedua orangtuanya memiliki kebiasaan untuk tidak menamai anak perempuan. Nona Ciu yang kemudian menjadi Nenek Buyutku ini biasanya hanya dipanggil Ai Sam Ndui—anak perempuan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek Buyut tidak pernah bersekolah maka dari itu beliau buta huruf.&lt;br /&gt;Karena bukan berasal dari keluarga terpandang, Nenek Buyut beserta saudari-saudarinya tidak pernah menjalankan ritual 'membebat kaki'.&lt;br /&gt;Pada masa itu di Tiongkok, seorang gadis baru dianggap menarik apabila memiliki kaki 'San Chun Cing Lien' – teratai emas tiga inci. Namun untuk memiliki kaki seperti itu sungguh tidak mudah. Sejak usia dua tahun, seorang bocah perempuan harus menahan sakit yang luar biasa, dimana kedua telapak kaki mereka ditekuk, lalu diikat dengan kain yang amat panjang. Proses tersebut berlangsung selama bertahun-tahun, menyebabkan patahnya tulang-tulang telapak kaki dan rasa sakit yang luar biasa apabila berjalan jauh. Diam-diam, Nenek Buyut bersyukur tidak mengalami siksaan semacam itu.&lt;br /&gt;Pada awal pernikahan mereka, Kakek dan Nenek Buyut dikaruniai dua orang anak lelaki namun usia keduanya tidak lama. Putra pertama mereka meninggal ketika masih berupa janin usia enam bulan. Waktu itu Nenek Buyut kurang berhati-hati menjaga dirinya dan masih memaksakan diri untuk bekerja di sawah sementara perutnya semakin membesar. Akibatnya, janinya pun keguguran. Putra kedua meninggal sebelum mencapai usia setahun. Kali ini akibat over dosis. Ketidakmampuan Kakek dan Nenek Buyut dalam membaca menyebabkan mereka tidak bisa memberi obat dengan dosis tepat kepada putra mereka yang sedang sakit. Pikiran mereka sederhana sekali. Putra mereka pasti akan lekas sembuh apabila diberi dosis obat beberapa kali lebih banyak dari anjuran tabib.&lt;br /&gt;Pada saat Nenek Buyut mengandung untuk ketiga kalinya, beliau diawasi dengan ketat oleh seluruh keluarganya. Bayinya lahir dengan selamat, bertepatan pada hari festival Chong Yang – festival bunga yang jatuh pada tanggal sembilan bulan sembilan lunar. Pada hari itu, orang-orang Tionghoa biasanya pelesir ke tempat-tempat tinggi seperti gunung-gunung atau bukit-bukit. Mereka menikmati arak Chrysantemum serta memakai daun tumbuhan dogwood sebagai hiasan pada rambut mereka.&lt;br /&gt;Semula Kakek dan Nenek Buyut tidak terlalu senang karena anak ketiga ini adalah seorang perempuan. Namun lama-kelamaan, Kakek Buyut menjadi semakin menyukainya. Bayi perempuan itu berkulit putih halus, mungil, lucu dan cantik. Kakek Buyut senang sekali menggendongnya dan membawanya berkeliling. Orang-orang yang melihat anak perempuan itu tak satu pun yang tidak memuji kalau anak itu cantik&lt;br /&gt;Anak perempuan itu diberi nama Yen Ndui (Yannu, dalam mandarin Hanyu Pinyin), yang berharfiah 'Gadis Walet'. Ketika hampir mencapai usia setahun, Kakek Buyut iseng-iseng membawa Yen Ndui ke seorang peramal untuk diramal Ba Zi atau nasib masa depannya. Peramal tersebut menghitung-hitung berdasarkan tahun, bulan, tanggal serta jam kelahiran Yen Ndui. Setelah melakukan perhitungan, peramal itu menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Bagaimana hasil ramalannya, Shifu – guru?" tanya Kakek Buyut.&lt;br /&gt;Peramal itu menjawab, "Angka sembilan ganda dalam tanggal kelahirannya terlalu kuat bagi seorang anak perempuan seperti putrimu, Tuan. Kalau saja dia seorang lelaki, kelak dia akan menjadi orang terpandang. Tapi karena dia seorang perempuan, yang terjadi justru sebaliknya...."&lt;br /&gt;Wajah Kakek Buyut berubah keruh ketika beliau menggendong Yen Ndui meninggalkan tempat si Peramal. Dipilihnya untuk tidak mempercayai kata-kata dari peramal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Yen Ndui berusia lima tahun, Kakek Buyut memutuskan untuk merantau keluar dari Tiongkok.&lt;br /&gt;Sebelumnya, Kakek Buyut sempat bimbang antara dua pilihan, pergi ke Amerika atau ke Nan Yang – nama lama untuk kepulauan Indonesia dalam bahasa mandarin. Tapi kemudian beliau memantapkan diri memilih Nan Yang. Di Amerika, seorang pria Tionghoa miskin dan tidak mengenal banyak huruf seperti dirinya hanya akan menjadi kuli tambang emas di San Fransisco atau menjadi buruh pembuat rel kereta api di California dan Texas. Sebaliknya, di Nan Yang peluang untuk memperoleh pekerjaan yang layak lebih besar. Kakek Buyut telah mendengar dari rekan-rekan sekampungnya yang merantau di Nan Yang dan kembali sebagai orang sukses. Kakek Buyut mengimpikan hal serupa. Beliau bercita-cita memutuskan rantai kemiskinan yang telah mendera keluarganya turun-temurun. Apakah ini salah? Tentu tidak! Bukankah hak dasar bagi setiap manusia untuk memperoleh kehidupan lebih baik?&lt;br /&gt;Pada hari baik yang telah dipilih, Kakek Buyut berpamitan dengan seluruh kerabatnya, istri dan putrinya serta adik laki-lakinya. Kakek Buyut juga menziarahi makam kedua orangtuanya untuk yang terakhir kali. Setelah itu, beliau berangkat ke Macao, sebuah kota pelabuhan yang jaraknya sekitar seratus kilometer di sebelah Timur Khaiphing. Dari sana, Kakek Buyut bersama beberapa kenalannya berangkat menuju Nan Yang.&lt;br /&gt;Di atas kapal, Kakek Buyut mengikuti saran beberapa kawannya untuk memotong kepang rambutnya.&lt;br /&gt;"Di Nan Yang, tak ada lagi pria Tionghoa yang memelihara kuncir," kata mereka.&lt;br /&gt;Maka Kakek Buyut pun memotong pendek rambutnya dan membuang kepangnya di laut lepas untuk menandai satu awal baru dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kepergian Kakek Buyut,Yen Ndui praktis hanya diasuh oleh Ibunya.&lt;br /&gt;Nenek Buyut mendidiknya dengan kolot sekali. Ketika anak-anak seusianya, baik lelaki maupun perempuan sudah mulai bersekolah, Yen Ndui tetap tinggal di rumah. Belakangan, Nenek Buyut menawarkannya kepada seorang tuan tanah untuk dijadikan pelayan kecil sewaktu Yen Ndui berusia tujuh tahun. Awalnya, si Majikan hanya menyuruh Yen Ndui melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Tapi lama-kelamaan disuruhnya bocah perempuan itu untuk mencuci berember-ember pakaian, membersihkan jendela dan pintu rumahnya yang tinggi-tinggi, sampai menggembalakan kambing-kambing miliknya.&lt;br /&gt;Yen Ndui paling suka dengan pekerjaan mengembalakan kambing. Sebab, di dekat padang rumput tempat kambing-kambing digembalakan ada sebuah sekolah. Gurunya adalah seorang pria paruh baya berwajah ramah. Beliau senantiasa sabar dalam mendidik murid-muridnya yang berusia antara lima hingga empatbelas tahun. Beliau mengajar membaca dan menulis dalam bahasa mandarin. Guru tersebut tak pernah mengeluh walau harus mengajar murid-murid yang sebagian besar berasal dari keluarga petani kurang mampu, dan kadang-kadang hanya bisa membayarnya dengan beberapa liter beras atau hasil kebun lainnya.&lt;br /&gt;Karena tidak diizinkan untuk bersekolah, maka yang bisa dilakukan Yen Ndui hanyalah mengintip ke ruang kelas jika proses belajar-mengajar sedang berlangsung. Yen Ndui sebenarnya dianugerahi sebuah otak yang encer. Dengan cepat ditangkapnya ajaran-ajaran Sang Bapak Guru. Dalam tempo singkat, Yen Ndui telah dapat melafalkan huruf-huruf dalam bahasa mandarin dengan fasih dan menuliskannya di atas tanah dengan sebatang ranting pohon.&lt;br /&gt;Yen Ndui mengikuti kelas secara sembunyi-sembunyi dan khawatir kepergok. Tapi pada suatu hari, Sang Bapak Guru mendapatinya sedang menjulur-julurkan leher di luar jendela mengikuti pelajaran. Yen Ndui begitu malu ketika tertangkap basah. Dia sudah bergegas hendak lari ketika sebuah suara menghentikannya.&lt;br /&gt;"Hei, berhenti! Jangan pergi dulu, Nak!"&lt;br /&gt;Rupanya suara Sang Bapak Guru. Beliau dengan tergesa-gesa keluar dari kelas untuk mencegat Yen Ndui.&lt;br /&gt;"Siapa namamu? Di mana kamu tinggal?" tanyanya ramah.&lt;br /&gt;"Nama... namaku... Yen Ndui....," ujar Yen Ndui terbata-bata. "Ak-aku... tinggal di sana...."&lt;br /&gt;Yen Ndui menunjuk arah rumahnya, dan Bapak Guru itu mengangguk.&lt;br /&gt;"Apakah kamu senang dengan sekolah?" tanya Bapak Guru itu lagi.&lt;br /&gt;"Ya, saya senang!" jawab Yen Ndui sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.&lt;br /&gt;"Lalu, kenapa kamu tidak sekolah?"&lt;br /&gt;Yen Ndui melongos. "Karena Ibu tidak mengizinkan aku untuk sekolah...."&lt;br /&gt;Bapak Guru itu merasa iba. Dibiarkannya Yen Ndui pergi karena melihat bocah itu gelisah. Usai jam sekolah, Sang Bapak Guru pergi mencari rumah Yen Ndui. Dan setelah bertanya kepada orang-orang, ditemukannya juga rumah gadis cilik itu.&lt;br /&gt;Bapak Guru itu menemui Nenek Buyut. Diutarakannya keinginannya untuk menerima Yen Ndui sebagai muridnya. Akan tetapi Nenek Buyut menolak.&lt;br /&gt;"Kami hanya keluarga petani miskin dan kini suamiku sedang merantau. Kebutuhan untuk makan sehari-hari saja sulit kami penuhi, apalagi biaya untuk sekolah," Nenek Buyut berkomentar.&lt;br /&gt;"Kalau masalahnya adalah biaya, itu tak jadi soal, Nyonya," jawab Bapak Guru sopan. "Meski tak dibayar sekalipun, saya tetap bersedia mengajar putri Anda."&lt;br /&gt;"Tapi apakah itu ada gunanya?" ledek Nenek Buyut. "Anak perempuan seperti Yen Ndui suatu hari nanti akan menikah dan hanya akan menjadi ibu rumah tangga biasa. Pada waktu itu, apakah semua pelajaran yang Bapak Guru ajarkan akan dipakainya? Menyekolahkannya sama saja dengan membuang waktu dengan sia-sia!"&lt;br /&gt;"Nyonya jangan berpikiran seperti itu," ujar Bapak Guru dengan sabar. "Tidakkah Nyonya mendengar kalau wanita-wanita Eropa dan Amerika yang datang ke Tiongkok semuanya pintar-pintar? Mereka semua mahir membaca dan menulis. Tidakkah Nyonya ingin suatu hari nanti putri Anda bisa seperti mereka? Lagipula di masa mendatang, wanita tidak lagi hanya sekedar sebagai ibu rumah tangga biasa. Suatu hari nanti mereka akan menjadi perawat, dokter atau bahkan guru seperti saya...."&lt;br /&gt;Kuping Nenek Buyut panas mendengar ceramah Sang Bapak Guru.&lt;br /&gt;"Pokoknya, aku tetap tidak mengizinkan Yen Ndui untuk bersekolah!" sahutnya keras kepala.&lt;br /&gt;Sang Bapak Guru hanya bisa menghela napas dan pulang dengan penuh rasa sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berukutnya Yen Ndui tidak takut-takut lagi mengintip pelajaran dari luar kelas.&lt;br /&gt;Bapak Guru itu tampak begitu baik. Beliau tidak pernah memarahi atau mengusir Yen Ndui. Sebaliknya, beliau tampaknya merestui usaha Yen Ndui sekaligus prihatin padanya. Pada musim hujan, Sang Bapak Guru memaksa Yen Ndui untuk masuk ke dalam kelas supaya dapat mengikuti pelajaran tanpa kebasahan. Yen Ndui amat girang. Terlebih ketika dia diberikan sebuah papan dan kapur tulis untuk menulis pertama kalinya.&lt;br /&gt;Nenek Buyut sendiri mulanya tidak mempedulikan urusan Yen Ndui masuk sekolah atau pergi bekerja. Hingga pada suatu hari, majikan tempat Yen Ndui bekerja mendatanginya sambil marah-marah.&lt;br /&gt;Pria kaya itu berkata ketus, "Putrimu sungguh tidak berguna! Hasil pekerjaannya senantiasa tidak becus! Disuruh mencuci, pakaianku kadang-kadang hanyut di sungai. Disuruh mengembalakan kambing, dia bukannya menjaga kambing-kambingku melainkan ngeloyor pergi mengintip anak-anak yang sedang bersekolah!"&lt;br /&gt;Nenek Buyut memendam amarah terhadap putrinya.&lt;br /&gt;Majikan Yen Ndui kembali berteriak-teriak di hadapan Nenek Buyut, "Nyonya, aku mengupah putrimu untuk bekerja, dan bukan hanya sekedar makan gaji buta! Kalau kau memang ingin menyekolahkannya, sebaiknya kau bilang saja. Aku pasti akan memecatnya sekarang juga!"&lt;br /&gt;Nenek Buyut terkejut sekaligus cemas mendengar kata-kata itu. Jika Yen Ndui berhenti bekerja, 'penyumbang nasi dalam periuk' keluarga ini akan berkurang. Nenek Buyut geram, memutar otak agar putrinya itu tetap bekerja.&lt;br /&gt;Sore itu, seperti biasa Yen Ndui pasti sedang bersama Ibunya. Kedua Ibu dan anak itu duduk di bawah atap rumah mereka yang menghadap halaman kecil berpagar bambu. Nenek Buyut sedang menyiangi kacang kedelai untuk dibuat tahu sementara Yen Ndui mengambil sebilah ranting kayu bakar dan mulai menulis di atas tanah.&lt;br /&gt;"Ibu, hari ini aku belajar menulis huruf xiao – berbakti. Huruf ini sungguh unik, coba Ibu lihat!"&lt;br /&gt;Yen Ndui mulai menggores-gores tanah dengan ranting membentuk sebuah huruf sementara mulut mungilnya terus berceloteh kecil.&lt;br /&gt;"Huruf xiao ini bentuknya seperti seorang anak yang membopong orangtuanya. Kata Pak Guru, huruf ini merupakan gabungan antara huruf lao – orangtua, dengan huruf zi – anak."&lt;br /&gt;Nenek Buyut yang sedari tadi diam menahan amarah tak lagi mampu menahan diri. Disampirkannya tampah yang berisi kacang kedelai lalu bangkit menghampiri Yen Ndui. Ranting yang sedang dipakai Yen Ndui untuk menulis dirampas olehnya lalu dipakai untuk menyabet dan mencambuk putrinya itu. Nenek Buyut pun menumpahkan kemarahannya.&lt;br /&gt;"Siapa yang menyuruhmu untuk sekolah, hah? Siapa yang meyuruhmu untuk mempelajari huruf-huruf konyol itu? Apa kau pikir dengan mempelajari semua itu, kau akan berubah menjadi naga atau burung hong – phoenix?" (Naga atau burung hong merupakan simbolitas kejayaan dan kemakmuran bagi orang Tionghoa. Mereka sangat percaya kalau sepasang simbolik berupa binatang berbentuk ular naga dan burung hong—sejenis cenderawasih berbulu ekor panjang—penghuni surga tersebut merupakan totemis yang mendukung nilai-nilai tersebut).&lt;br /&gt;"Kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik! Tadi siang majikanmu kemari dan marah-marah kepada Ibu. Kau harus tahu kita ini keluarga susah dan tak punya cukup uang! Sekolah tidak bisa mengenyangkan perutmu! Tapi kalau kau bekerja, kau akan punya uang buat membeli makanan! Apa kau paham soal itu? Apa kau mengerti tentang itu?"&lt;br /&gt;Nenek Buyut terus berteriak memarahi Yen Ndui sambil mencecar putrinya itu dengan sabetan-sabetan ranting.Yen Ndui yang tidak sigap dengan reaksi Ibunya tak bisa melarikan diri. Dia berusaha menangkis sabetan-sabetan yang diarahkan kepadanya seraya menangis memohon ampun.&lt;br /&gt;"Ampun, ampun, Ibu! Yen Ndui tahu, Yen Ndui bersalah! Yen Ndui janji tak akan mengulanginya lagi... Yen Ndui janji...."&lt;br /&gt;Nenek Buyut baru berhenti memukul setelah mendengar Yen Ndui berjanji dan menangis tersedu kesakitan!&lt;br /&gt;Yen Ndui berlari masuk ke dalam rumah sebelum para tetangga yang menyaksikan peristiwa tadi menghampiri untuk menghiburnya. Di dalam kamarnya Yen Ndui menangis keras-keras sambil bergumam lirih.&lt;br /&gt;"Kalau Ayah ada, aku pasti tak akan dipukul! Kalau Ayah ada, aku pasti tidak menjadi pembantu di rumah orang! Kalau Ayah ada... aku pasti bisa sekolah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Yen Ndui tidak berani menghampiri gedung sekolah.&lt;br /&gt;Sang Bapak Guru heran melihat perubahan sikapnya. Tapi belakangan sewaktu melihat bilur-bilur luka di sepanjang pergelangan tangan, kaki, dan wajah anak itu, serta mendengar cerita dari salah seorang muridnya yang kebetulan adalah tetangga Yen Ndui, Bapak Guru itu pun mafhum.&lt;br /&gt;Tapi bukan Yen Ndui namanya kalau dia tidak berusaha untuk mencoba lagi. Kali ini, Yen Ndui lebih berhati-hati. Diurusnya kambing-kambing gembalaannya baik-baik baru kemudian menghampiri kelas yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;Sang Bapak Guru amat senang melihat Yen Ndui di luar jendela meski tak diungkapkannya. Tiba-tiba saja beliau mengumumkan kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau hari ini kita belajar tentang nama-nama binatang?" lontarnya.&lt;br /&gt;Para murid mulai celingak-celinguk bersemangat. Bapak Guru melanjutkan lagi, "Bagaimana kalau kita mulai dengan hewan unggas, yang bisa terbang. Burung, misalnya?"&lt;br /&gt;Seorang murid perempuan dalam kelas mengacungkan tangan kanannya dan berseru, "Pak Guru, bagaimana bentuk huruf kanji untuk yanzi—burung walet?"&lt;br /&gt;"Aha!" sahut Bapak Guru. "Pertanyaan bagus, Nak! Aku akan menuliskannya di papan tulis ini. Coba perhatikan baik-baik."&lt;br /&gt;Sang Bapak Guru pun mulai menggoreskan kapur di atas papan tulis menulis huruf yanzi.&lt;br /&gt;Murid perempuan itu mengacung lagi sambil berseru, "Pak Guru, apakah huruf yan ini sama dengan huruf yen dalam nama Yen Ndui—tetanggaku itu? Sebab kata orang-orang, nama Yen Ndui berarti Yanzinu – gadis walet. Apakah itu benar, Pak Guru?"&lt;br /&gt;Bapak Guru mengangguk seraya berujar, "Betul sekali, Nak! Kedua huruf itu memang sama. Lihat, aku akan menambah huruf nu – Ndui, yang berarti gadis atau anak perempuan. Nah, inilah huruf dari nama Yen Ndui...."&lt;br /&gt;Di luar jendela, Yen Ndui memperhatikan dengan seksama Sang Bapak Guru sewaktu menulis namanya. Dipungutnya sebatang ranting dan dia mulai menggores namanya di atas tanah.&lt;br /&gt;Akhirnya, Yen Ndui berhasil menulis namanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, waktu melesat bagaikan anak panah.&lt;br /&gt;Tanpa terasa, sudah tujuh tahun berlalu sejak kepergian Kakek Buyut di Nan Yang.&lt;br /&gt;Sejak saat itu pula, tak pernah ada satu kabar pun diterima oleh sanak keluarganya di kampung halaman. Nenek Buyut mulai khawatir, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Kakek Buyut di tanah rantau. Atau lebih buruk lagi, Kakek Buyut telah melupakan dirinya dan Yen Ndui. Siapa tahu di Nan Yang, Kakek Buyut menikah lagi dengan wanita lain serta memiliki anak-anak lain dari wanita itu—seperti yang biasa didengar oleh Nenek Buyut tentang pria-pria Tionghoa di perantauan. Nenek Buyut tak sanggup membayangkan dirinya dimadu, apalagi kalau membayangkan dirinya dilupakan begitu saja oleh suaminya.&lt;br /&gt;Nenek Buyut mulai berpikir untuk menyusul suaminya ke Nan Yang. Mencari di mana letak pastinya suaminya berada tidak jadi soal. Namun yang menjadi masalah adalah, Nenek Buyut tidak punya ongkos buat naik kapal ke Nan Yang. Berhari-hari Nenek Buyut pusing memikirkan solusi dari masalahnya itu. Sampai pada suatu hari, seseorang datang seolah membawa harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Sun dari Kecamatan Xinhui, pada suatu hari datang menemui Nenek Buyut. Dia seorang juragan jeruk kaya-raya sekaligus pemilik tanah perkebunan jeruk yang luas sekali di Xinhui.&lt;br /&gt;Pada hari Tuan Sun datang menemui Nenek Buyut, dia bermaksud untuk melamar Yen Ndui sebagai istri keempatnya. Tuan Sun telah berusia awal empat puluhan dan dia tertarik melihat paras Yen Ndui yang manis. Nenek Buyut tidak berpikir panjang. Atas keputusannya sendiri, beliau menyetujui lamaran Tuan Sun untuk menikahi putrinya.&lt;br /&gt;Yen Ndui amat terkejut ketika diberitahu akan segera menikah. Dia sempat protes kepada Ibunya, namun Nenek Buyut mengemukakan alasan.&lt;br /&gt;"Anak gadis yang telah dipinang, tak boleh menolak. Jika dia sampai menolak pinangan sebanyak tiga kali, maka untuk selamanya dia akan menjadi perawan tua."&lt;br /&gt;"Tapi usiaku baru tigabelas tahun, Ibu."&lt;br /&gt;"Ah, itu bukan apa-apa. Dulu sewaktu Ibu menikah dengan Ayahmu, usia Ibu hanya beberapa bulan lebih tua darimu sekarang. Lagipula, di keluarga kita cukup banyak anak gadis yang menikah sejak usia dua belastahun."&lt;br /&gt;Wajah Yen Ndui memucat karena takut. Berikutnya, hampir setiap hari dia menangis. Yen Ndui benar-benar belum siap untuk menikah. Malang benar gadis itu, tak ada seorang pun yang bisa menolongnya keluar dari permasalahnya. Para ayi – bibi dari pihak Ibu, tak mampu mempengaruhi keputusan saudari mereka. Sedangkan shu shu – paman, adik lelaki Ayah, tidak berwewenang membatalkan rencana pernikahan ini.&lt;br /&gt;Pada malam sebelum hari pernikahannya, Yen Ndui justru dimarahi oleh Nenek Buyut, "Bisakah kamu berhenti menangis? Lihat kedua matamu bengkak seperti mata ikan maskoki. Pria mana yang mau punya mempelai seperti itu?"&lt;br /&gt;Seorang ayi mendengarnya, dan menegur Nenek Buyut, "Meimei – adik perempuanku, jangan terlalu keras memarahi putrimu. Dia tentu saja cemas sebab besok akan menjadi pengantin. Sebaiknya biarkan dia cepat tidur malam ini."&lt;br /&gt;Tapi sepanjang malam itu, Yen Ndui justru tak bisa tidur nyenyak. Keesokan subuhnya dia dibangunkan oleh salah satu ayi. Yen Ndui lalu dibawa ke kamar mandi, dimandikan dalam gentong berisi air hangat dicampur daun jeruk. Setelah itu dia dibawa kembali ke kamar untuk didandani. Seorang wanita uzur menyisir rambut Yen Ndui sambil mengumandangkan pantun-pantun perkawinan. Wanita uzur itu adalah seorang wanita yang telah menikah selama puluhan tahun dan telah memiliki banyak anak serta cucu. Pantun-pantun yang diucapkannya merupakan pantun dalam ritual 'menyisir rambut sang mempelai perawan'. Konon dengan dipilihnya wanita uzur ini sebagai penyisir rambut, sang mempelai diharapkan memiliki usia pernikahan yang panjang dengan dianugerahi banyak anak dan cucu nantinya.&lt;br /&gt;Ketika matahari menyingsing, Yen Ndui telah berdandan lengkap dengan atribut-atribut pengantinnya. Dia duduk diam sambil berjuang keras menahan airmatanya agar tidak tumpah melunturi bedaknya. Ketika waktu si – jam ular (antara pukul 9-11 pagi) baru dimulai, datanglah rombongan tandu pengantin kiriman Tuan Sun buat menjemput Yen Ndui. Para ayi lekas-lekas menutup wajah Yen Ndui dengan kerudung merah lalu membimbingnya memasuki tandu. Sebelum tandu berangkat, Nenek Buyut menyeruakkan kepalanya masuk ke dalam tandu dan menyingkap sedikit kerudung putrinya sambil berkata.&lt;br /&gt;"Mulai sekarang, kau jangan bertingkah seperti anak kecil lagi. Sesampainya di rumah suamimu kau harus patuh. Ibu dengar kalau Tuan Sun masih memiliki seorang Ibu. Belajarlah melayani Ibu Mertuamu dengan baik, mengerti?"&lt;br /&gt;Yen Ndui mengangguk pelan dalam kebisuannya. Sebelum Nenek Buyut menutup kerudungnya, Yen Ndui sempat melihat Ibunya itu menggigit bibir menahan airmata yang hendak jatuh di pelupuk matanya. Ah, rupanya Ibunya pun merasa berat dengan perpisahan ini.&lt;br /&gt;Selama perjalanan menuju tempat Tuan Sun, Yen Ndui tak henti-hentinya menangis dalam tandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan nasib Kakek Buyut setelah merantau di Nan Yang?&lt;br /&gt;Awalnya, tidak semulus seperti yang diduga sebelumnya. Rupanya Nan Yang merupakan sebuah kepulauan yang amat luas dengan banyak kota-kota besar di masing-masing pulau. Kakek Buyut sempat berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya sampai akhirnya merasa kalau kota Makassar yang terletak di sebelah selatan pulau bernama Celebes, merupakan tempat yang paling cocok buat menetap.&lt;br /&gt;Sesampainya di Makassar pun, Kakek Buyut tidak langsung menetap secara permanen. Beliau lebih sering ke daerah-daerah pedalaman Celebes buat mencari hasil-hasil bumi seperti kayu, coklat dan cengkeh. Karena merasa selalu berpindah-pindah tempat tinggal, Kakek Buyut merasa belum saatnya untuk menulis surat memberitahu keberadaannya di Nan Yang kepada keluarga di kampung.&lt;br /&gt;Selain itu, pada tahun-tahun awal kedatangannya di Nan Yang, Kakek Buyut tertimpa musibah. Perbedaan iklim di Nan Yang yang cenderung lebih panas dan lembab ketimbang di Guandong menyebabkan Kakek Buyut jatuh sakit. Bukan hanya itu, setahun kemudian Kakek Buyut mendirikan usaha kongsi dengan salah seorang kenalannya. Namun kenalannya itu bukannya bekerjasama, melainkan menipunya dan membawa kabur seluruh uang milik Kakek Buyut. Akibatnya, Kakek Buyut harus mulai dari bawah lagi. Kejadian ini memberi pelajaran bagi Kakek Buyut. Beliau bertekad bahwa kelak suatu hari nanti jika memiliki putra, anak itu harus disekolahkannya agar mengenal huruf—supaya tidak mengalami penipuan seperti yang dirasakannya.&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit dikumpul akan menjadi banyak, usaha yang tidak putus-putus akan mendatangkan hasil. Setelah bertahun-tahun hidup di Makassar, Kakek Buyut menjadi kerasan di kota itu. Beliau kini memiliki banyak kenalan dan mulai bisa berbicara dalam bahasa Melayu, Makassar dan Belanda. Usaha hasil buminya mulai menanjak dan Kakek Buyut sudah bisa membeli sebidang tanah di daerah pecinan untuk dibangun rumah sederhana.&lt;br /&gt;Kini, Kakek Buyut mulai memikirkan istri dan putrinya. Delapan tahun sudah beliau meninggalkan mereka. Kini saatnya untuk pulang dan menjemput mereka buat tinggal bersama di Nan Yang. Bagaimana kira-kira rupa istrinya sekarang? Apakah masih sejudes dulu? (Nenek Buyut dulu terkenal karena kegalakannya). Bagaimana pula kabar putri mereka Yen Ndui? Sewaktu Kakek Buyut keluar dari China, anak itu baru berusia lima tahun. Kini anak itu pasti telah menjelma menjadi remaja putri berusia empatbelas tahun yang cantik.&lt;br /&gt;Ah, ingin sekali Kakek Buyut lekas-lekas kembali ke China menemui istri dan anaknya itu. Beliau dengan bangga akan berkata kepada mereka agar segera ikut bersamanya ke Nan Yang. Sebelum berangkat naik kapal, Kakek Buyut akan membawa Yen Ndui singgah terlebih dahulu di Hongkong. Di Hongkong nantinya, Yen Ndui akan dibelikan baju-baju baru yang indah-indah beserta sepatu-sepatu cantik, sebagai wujud permintaan maaf Kakek Buyut karena telah meninggalkannya terlalu lama.&lt;br /&gt;Tapi sepertinya Kakek Buyut tak perlu repot-repot harus menempuh perjalanan seperempat bumi buat kembali ke Guandong. Seminggu sebelum keberangkatannya, pintu rumahnya digedor-gedor oleh seseorang. Dan ketika membuka pintu, Kakek Buyut nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nenek Buyut berdiri tepat di depan pintu, di hadapannya!&lt;br /&gt;"Hah? Apakah benar-benar kau...." Kakek Buyut sampai mengucek-ngucek matanya mengira dia sedang bermimpi. "Tidak mungkin...."&lt;br /&gt;"Ya, ini aku istrimu, Suamiku!" seru Nenek Buyut histeris. "Aku datang kemari untuk menyusulmu. Tahukah kau betapa susahnya mencarimu?! Aku sempat tersesat di dua kota sebelumnya...."&lt;br /&gt;Nenek Buyut berkata sambil terisak-isak.&lt;br /&gt;"Astaga! Lao Tian – Ya, Tuhan! Padahal aku telah bermaksud minggu depan akan pulang ke Guandong buat menjemput kalian. Kenapa justru sekarang kau yang lebih dulu kemari?"&lt;br /&gt;Nenek Buyut menjawab dengan baur amarah, rindu, sedih sekaligus bahagia.&lt;br /&gt;"Aku sangat cemas memikirkanmu karena bertahun-tahun kau pergi tanpa kabar berita. Aku cemas... jangan-jangan terjadi sesuatu denganmu, atau kau menikah lagi dan melupakan kami di China...."&lt;br /&gt;Mendengar alasan terakhir istrinya itu, Kakek Buyut protes. "Istriku, aku bukan tipe pria yang 'mengganti teman ketika diriku semakin berkuasa dan mengganti istri setelah semakin kaya'. Aku tidak seperti itu!"&lt;br /&gt;"Ya, tetapi siapa yang bisa menduga kejadian apa yang akan menimpamu, sementara tak ada selembar surat pun yang kau kirimkan kepada kami di kampung...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut mendesah. Ternyata beliau juga melakukan kekeliruan. Seharusnya beliau bisa meminta seorang kenalan untuk menulis surat buat keluarganya di Guandong. Surat itu nantinya pasti bisa dibacakan kepada keluarganya oleh salah satu tetangga mereka yang melek huruf. Kenapa juga hal itu tidak terpikirkan sebelumnya?&lt;br /&gt;"Sudahlah, kita tak perlu saling menyalahkan. Aku senang dengan kedatanganmu kemari, Istriku. Sekarang, aku tinggal membatalkan keberangkatanku saja. Oh ya, di mana Yen Ndui? Mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi?"&lt;br /&gt;Wajah Nenek Buyut langsung pucat begitu suaminya menyebut nama putri mereka. Mendadak, Nenek Buyut merasa tidak siap untuk menjelaskan perihal Yen Ndui.&lt;br /&gt;Kakek Buyut menangkap perubahan pada wajah istrinya.&lt;br /&gt;"Kau tidak membawanya? Atau kau meninggalkannya di penginapan, barangkali?"&lt;br /&gt;Nenek Buyut tetap bungkam.&lt;br /&gt;"Ada apa sebenarnya? Mengapa kau diam saja, Istriku?"&lt;br /&gt;Akhirnya, Nenek Buyut mengumpulkan keberanian untuk menjawab. "Yen Ndui... dia sudah kunikahkan...."&lt;br /&gt;"Apa? Menikah?" Kakek Buyut terperanjat bukan main. "Ka-kapan? Dengan siapa?!"&lt;br /&gt;"Kira-kira setengah tahun yang lalu. Dia kunikahkan dengan Tuan Sun dari Xinhui."&lt;br /&gt;"Hah?! Tuan Sun, si Juragan Jeruk itu?!" Kakek Buyut semakin terperanjat. "Yang benar saja?! Masa...."&lt;br /&gt;Kakek Buyut tak dapat meneruskan kata-katanya. Nenek Buyut mulai cemas melihat perubahan sikap suaminya. Selama ini, diketahuinya suaminya itu seorang penyabar. Akan tetapi begitu emosinya meledak, Kakek Buyut akan berubah menjadi sosok yang amat menakutkan.&lt;br /&gt;"Putri kita itu baru berusia tigabelas tahun, dan kau sudah menikahkannya! Tuan Sun bahkan lebih tua beberapa tahun dari aku, dia lebih cocok jadi ayah Yen Ndui ketimbang suaminya! Istriku, di mana kau letakkan akal sehatmu itu?!"&lt;br /&gt;Nenek Buyut tak berani memandang wajah suaminya yang sedang murka itu.&lt;br /&gt;Dengan terbata-bata, Nenek Buyut berkata, "Ak-aku... terpaksa menikahkannya karena... aku butuh uang buat ongkos mencarimu kemari...."&lt;br /&gt;Mata Kakek Buyut membelalak. "Jadi kau memanfaatkan putri kita dengan cara menikahkannya, dan memakai maskawinnya buat menyusulku kemari?!"&lt;br /&gt;Nenek Buyut mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;"Ya ampun... Lao Tian.... " Kakek Buyut menepuk jidatnya keras. "Aku sama sekali tidak menyangka... putriku...." teriak Kakek Buyut murka.&lt;br /&gt;Nenek Buyut lunglai, dan menangis ketakutan.&lt;br /&gt;Kakek Buyut shock, menghentak-hentakkan kakinya kalap. Dia mengacung-acungkan tangannya ke atas, memanggil-manggil nama putrinya sembari mengucurkan airmata.&lt;br /&gt;"Yen Ndui...! Oh, Yen Ndui...!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-7389684295512191076?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/7389684295512191076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/kisah-di-balik-sebuah-reuni-bag-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7389684295512191076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7389684295512191076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/kisah-di-balik-sebuah-reuni-bag-1.html' title='Kisah di Balik Sebuah Reuni bag. 1'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Stxv870NkvI/AAAAAAAAAUI/qqPHr42cY88/s72-c/reuni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-2098467430589945053</id><published>2009-09-18T18:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T02:06:03.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>Editing and Creating PDF Files Easily</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SrQ6FB-S6BI/AAAAAAAAASw/zqOGn-wSZ8o/s1600-h/PDF.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 197px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SrQ6FB-S6BI/AAAAAAAAASw/zqOGn-wSZ8o/s320/PDF.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382991312718063634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Digital world, which causes people to be more mobile than ever before. Yes, most people who work with computers. Seldom has the use of paper and pencil. Carry out tasks such as making reports, papers, books, or even plans for a proposed computer. You do not have any data to print head, or wherever they want, when they want their clients. All data on their computers can be divided into soft files.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;To make the transfer and exchange data quickly and securely can by using&lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.pdfconverted.com/"&gt; Adobe PDF&lt;/a&gt;. This means that the independent data in PDF format to a portable computer and can be read on any operating system. Types of data can be created using the &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.pdfconverted.com"&gt;PDF conversion&lt;/a&gt;. With this tool will change the data from &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.pdfconverted.com"&gt;Word to PDF&lt;/a&gt;. And if you do not know about the hardware and software, you can learn in www.Pdfconverted.com. This site will also help you &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.pdfconverted.com/"&gt;convert PDF to Word&lt;/a&gt;. This is a difficult task for those who are not familiar with this program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, immediately visit www.Pdfconverted.com to change your data, either PDF or Word is the same. Do not worry if you do not have adequate knowledge in this program, because users can do this job too easy and safe step by step. Quick visit their website immediately and get the &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.pdfconverted.com"&gt;PDF software&lt;/a&gt;. Guaranteed you will not lose!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-2098467430589945053?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/2098467430589945053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/editing-and-creating-pdf-files-easily.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2098467430589945053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2098467430589945053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/editing-and-creating-pdf-files-easily.html' title='Editing and Creating PDF Files Easily'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SrQ6FB-S6BI/AAAAAAAAASw/zqOGn-wSZ8o/s72-c/PDF.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-6673174843933202556</id><published>2009-09-17T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-17T00:00:02.804-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lala Novrinda'/><title type='text'>Cerita Tiga bag. 6</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SqJzUWIPGII/AAAAAAAAASo/2NmDBU53Ggc/s1600-h/heart_orange.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SqJzUWIPGII/AAAAAAAAASo/2NmDBU53Ggc/s320/heart_orange.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377987698408495234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maret, 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 05.06 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekitar seminggu aku tidak bertandang, bahkan bertemu dengan Donaldson di tempat-tempat kami biasa bersama. Donaldson tampaknya benar-benar marah kepadaku. Dia mungkin merasa kecewa padaku yang sama sekali tidak menghargai perubahan yang telah dilakukannya itu. Mungkin juga aku yang salah. Untuk urusan percintaan, tampaknya merupakan hak mutlak Matahari sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari salah, sekalipun dia sudah berumah tangga. Dan mengubah Donaldson sebagai sosok 'asing', yang tampak tak karib dalam akrab hari-hariku. Sungguh, seharusnya semuanya merupakan pilihan hidup mereka yang tak memerlukan intervensi diriku!&lt;br /&gt;Toh aku bukan siapa-siapa, dan apa-apa mereka.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun riak renjana membuatku tidak bertahan lama. Akhirnya aku nekat datang ke kamar Donaldson di lantai atas. Tanpa menghubunginya terlebih dahulu, aku harap aku bisa memberikannya kejutan 'perdamaian'. Tetapi aku terkesiap di muka bingkai pintu yang tertutup. Tanganku mengambang di udara, tak jadi memencet bel kamar apartemennya. Kusimak suara dua orang yang telah kuakrabi sekian lama. Suara dua orang yang sedang bertengkar.&lt;br /&gt;"AKU TIDAK MAU TAHU, DONALD. AKU SAYANG KAMU... SUDAH DARI PERTAMA PERTEMUAN KITA WAKTU ITU! KAMU YAKIN TIDAK MAU AKU?! AKU YAKIN BETUL, KAMU INI BUKAN GAY!! KAMU BOHONG!"&lt;br /&gt;Sementara itu, suara Donaldson menjawab, "AH, IT'S YOUR OWN BUSINESS! I'M ALONE NOW... ITU GARA-GARA KAMU! DAN JUJUR SAJA, AKU TIDAK PERNAH TEGA MENYAKITI HATI PEREMPUAN. ESPECIALLY, PEREMPUAN YANG AKU CINTAI!"&lt;br /&gt;Suara perempuan itu menanggapi. "TERUS, KAMU MENUNGGU APA LAGI, DONALD?! AKU, PEREMPUAN YANG KAMU CINTAI INI, SUDAH ADA DI DEPAN MATA KAN? KENAPA KAMU PAKAI-PAKAI ALASAN GAY SEGALA? KENAPA? HANYA KARENA AKU SUDAH BERSUAMI DAN KAMU MENYERAH BEGITU SAJA?! KENAPA KAMU INI, HAH?! KAMU ADALAH LAKI-LAKI YANG AKU DAMBAKAN SELAMA INI!"&lt;br /&gt;Aku hanya menelan ludah. Aku tidak tahu betapa cintanya Matahari terhadap Donaldson. Perempuan yang aku bangga-banggakan sebagai seorang Ibu Rumah Tangga yang baik itu, jatuh cinta terhadap seorang gay? Tetapi kenapa lagi-lagi harus sahabatku?! Kenapa orang-orang terdekatku yang harus berperan juga dalam kehidupan kami, kehidupan antara aku dan Donaldson?! Salah apa aku ini?!&lt;br /&gt;"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYAKITI PERASAAN PEREMPUAN YANG AKU CINTAI. IT MEANS, PEREMPUAN ITU BUKAN KAMU, MATAHARI. TOLONG MENGERTI AKU, YA?" jawab Donaldson dengan tegas, namun bernada menenangkan. Menenangkan Matahari, dan secara tidak langsung menenangkanku tentunya!&lt;br /&gt;Aku kemudian tahu bagaimana sebenarnya Donaldson. Dari percakapan itu, aku bisa simpulkan betapa bodohnya aku menuduh Donaldson yang bukan-bukan. Dia sahabatku. Tentu saja aku harus berada di pihaknya. Apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;Aku beranikan diri memencet bel di samping pintu kamar Donaldson. Percakapan keduanya hilang tak berlanjut, dan aku dengar suara Donaldson menanyakan 'siapa?' di balik pintu.&lt;br /&gt;Aku jawab saja, "Bee...."&lt;br /&gt;Donaldson tampak sedih. Sambil membukakan pintu, wajahnya terlihat berantakan. Pakaiannya yang biasanya rapi sudah kusut dan tercabik. Sepertinya Matahari sudah beraksi memaksa dan menarik-narik bajunya, layaknya anak kecil yang menarik baju sang Bunda karena meminta sesuatu.&lt;br /&gt;"Bee... I'm sorry. I missed you so bad, Bee...." katanya kemudian memelukku dengan erat.&lt;br /&gt;Sementara itu, Matahari yang terlihat kaget melihatku, mendadak menjerit.&lt;br /&gt;"Tri... ak-aku... dibawa Donald ke sini. Dia memaksaku datang ke sini. Dia bilang dia pingin menikah sama aku. Aku disuruh kabur dari rumah. Untung kamu datang!" ujarnya dengan wajah pasi.&lt;br /&gt;"Aku tahu, Matahari. Makanya aku maklum, dan mau memaafkan Donald. Tetapi tolong jangan lupa kalau dia ini sahabatku juga. Aku sudah kenal dia jauh sebelum kamu kenal dia. Jadi, aku bisa mengerti kok, bagaimana perasaanmu. Aku anggap ini semua sudah berakhir. Dan aku tidak akan bilang ini ke Ranu, atau siapa pun...." sahutku berusaha bijak sembari memegang kedua pundak Matahari.&lt;br /&gt;Namun Matahari tidak menanggapi dengan baik kalimatku. Rupanya dia memang tergila-gila terhadap Donaldson.&lt;br /&gt;"Ah, kamu ini tahu apa, Tri?! Jelas-jelas dia yang paksa aku datang ke sini. Dari Bali ke Surabaya. Ke apartemen ini! Kenapa kamu masih bisa bisanya membela dia?! Aku hendak diperkosa! Aku tidak terimaaa! Aku mau telepon Ranu! Kebetulan, dia juga sedang ada di Surabaya! Aku mau bilang sama Ranu sekarang!" katanya berontak.&lt;br /&gt;"Matahari... kamu ini ngomong apa?!" bentakku dengan kesal.&lt;br /&gt;"Ranu, Sayang! Aku hendak diperkosa! Tri menyelamatkan aku yang hendak diperkosa Donald! Kamu ternyata benar, Sayang! Donaldson memang bejat! Habis gandeng Tri ke sana kemari, dia nekat merayu aku! Aku lagi ada di apartemennya sekarang, Sayang... Ini aku kasih tahu alamatnya...." lapornya di ponselnya, lalu mengirim SMS alamat apartemen Donaldson setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Ranu.&lt;br /&gt;Aku makin kesal dibuat Matahari. "Matahari, apa yang sedang kamu lakukan?! Kamu membual! Hentikan omong-kosong ini semua! Kamu yang mulai, bukan?! Kamu tahu betul bagaimana Ranu! Dia bakal menghabisi Donaldson... menghabisi Donaldson untuk seorang istri yang tidak setia! Kamu gila, Matahari! Kamu sudah memfitnah!"&lt;br /&gt;"BIAR! BIAR SELURUH DUNIA TAHU BAGAIMANA BEJATNYA SEORANG BULE BERNAMA DONALDSON INI.. KAYA, PINTAR, TETAPI BODOH! HAHAHA... BIAR HABIS SEKALIAN, BERANI MENOLAK CINTAKU!" katanya seperti orang yang sedang kesetanan.&lt;br /&gt;Aku tidak percaya, Matahari yang cantik dan ceria itu, kini berubah menjadi seseorang yang egois dan berhati iblis. Untuk sebuah keinginan dicintai saja, dia harus mengorbankan segalanya. Kulihat Donaldson terpekur tidak percaya dengan rasa iba. Matanya berkaca-kaca, menahan amarah karena telah difitnah Matahari.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa menahan Matahari yang masih saja berusaha mendekati Donaldson. Seolah-olah ingin memegang wajah Donaldson. Ingin memegang rambutnya. Dan memeluknya. Sementara itu, Donaldson hanya bisa menggumam sedih dan lirih seolah pasrah dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Dia tersudut, dan entah harus berbuat apa. Dia tidak memiliki alibi untuk membela diri. Semua akan menyalahkannya dan membenarkan bahwa dialah yang hendak memperkosa Matahari. Seorang lelaki bule dan seorang perempauan di dalam sebuah apartemen sang Bule. Hah! Tak ada yang bakal meringankan hukuman bagi Donaldson! Ini fitnah!&lt;br /&gt;Aku menjerit marah, mendamprat Matahari yang pura-pura menangis tadi. "Kamu sudah memfitnah, Matahari!"&lt;br /&gt;"INGAT, MATAHARI! KAMU SUDAH PUNYA SEGALANYA! KAMU ADALAH ISTRI DARI SEORANG SUAMI YANG TERHORMAT! KAMU TIDAK PANTAS MENGORBANKAN SEGALANYA! TIDAK MALU KAMU, HEH?" tambah Donaldson di sela-sela ketidakberdayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, seseorang menelepon handphone Donaldson. Ternyata, Ranu. Dan Ranu sudah berada di lobi apartemen. Rupanya Ranu memaksa Donaldson untuk turun.&lt;br /&gt;"Baik, aku turun.... Maaf, maaf sebelumnya. Tetapi ada yang mesti kamu tahu, Ranu. Semua ini tidak benar. Demi Tuhan, Ini fitnah. Ada yang harus aku jelaskan...." jawab Donaldson pada Ranu lewat ponselnya.&lt;br /&gt;Donaldson kemudian meninggalkan kamarnya, setelah mengatakan, "Matahari, suatu hari kamu akan sangat menyesal! Ak-aku... sangat mencintai Bee... dan kamu selalu berusaha merusak hubungan kami. Apapun yang terjadi, Bee adalah perempuan yang tak akan tergantikan oleh siapa pun meski kamu gunakan cara fitnah seperti tadi!"&lt;br /&gt;Aku kaget dengan kalimat Donaldson. Aku yang dicintainya selama ini?!&lt;br /&gt;Beberapa saat Ranu datang bersama Donaldson. Mereka jalan berjauhan. Lalu saat masuk kamar, Ranu berlari menuju Matahari yang masih menangis tersungkur di atas ranjang. Matahari membisikkan sesuatu pada Ranu, entah apa yang dibisikkannya. Setelah itu, tanpa disangka-sangka, Ranu bangkit berdiri dan memukul wajah Donaldson dengan keras. Donaldson tidak membalas. Dia pasrah.&lt;br /&gt;"Bangsat kamu, Bule! Kamu tidak tahu diri, merebut istri orang! Kamu juga tidak tahu diri, main asal bawa perempuan. Kamu boleh bawa Tri, tetapi jangan istriku. Sebab istriku bukan pelacur seperti Tri?!" makinya, menghina.&lt;br /&gt;Donaldson tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Dia kalap dan balas memukul wajah Ranu. Ranu tersungkur di atas ranjang dengan mengerang kesakitan. Rahangnya mungkin retak.&lt;br /&gt;"Ini fitnah, Ranu!" teriak Donaldson. "Kamu boleh menghina aku apa saja. Kamu boleh memaki-maki aku. But, please... tetapi jangan bawa-bawa nama Bee...!"&lt;br /&gt;Aku sudah tidak tahan oleh kelakuan jahat Matahari. "AKU SUDAH MUAK SAMA KAMU, MATAHARI! AKU TIDAK TAHU KAMU JUGA PINTAR MENGHASUT ORANG LAIN! PELACUR APA MAKSUDNYA, MATAHARI?! KAMU LANGSUNG NGOMONG SAMA AKU! TIDAK USAH FITNAH-FITNAH ORANG!" teriakku.&lt;br /&gt;Matahari berdiri dengan sikap pongah. "Siapa juga yang fitnah?! Aku tahu kok, kamu pernah jadi pelacur di sini! Tidak usah sok suci, deh! Kamu introspeksi diri, deh! Kamu itu siapa? Selain Jusuf, kekasihmu yang sudah pergi ke alam baka itu, siapa yang selalu membawamu? Tak terhitung, kan? Kamu juga sering nongkrong di dekat kampus berprofesi menjadi 'ayam kampus', kan?"&lt;br /&gt;Aku terkesiap. Kerongkonganku memerih. Ya, Tuhan! Mengapa Matahari demikian kejamnya mengungkap masa laluku yang kelam ketika semuanya ingin kukubur dalam-dalam? Rasanya, aku ingin mati di tempat saat ini juga!&lt;br /&gt;Perlahan, kenangan lama terkuak kembali.&lt;br /&gt;Menguakkan kembali luka lama yang sudah mulai mengering.&lt;br /&gt;Aku tersungkur, dan duduk lemas di lantai apartemen Donaldson tanpa dapat bicara apa-apa lagi selain menangis dan menangis. Donaldson sertamerta memelukku, juga dengan berurai airmata. Hari ini, tiba-tiba dunia menjadi begitu jahat kepada kami, dua hati yang ingin menjadi arif.&lt;br /&gt;Tak kupedulikan lagi Ranu dan Matahari yang pergi meninggalkan kami dengan perasaan benci. Tak kupedulikan semua itu. Karena aku dan Donaldson hanya dapat meratapi nasib naas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pergi meninggalkan Surabaya setelah hari itu. Selama dalam masa pengasinganku di Bali bersama Donaldson, aku beberapa kali jatuh sakit. Dan ketika pada suatu saat aku berobat ke dokter, alangkah terkejutnya aku, dan lebih memilih untuk mati pada saat itu juga!&lt;br /&gt;Aku didiagnosis oleh dokter terjangkit virus HIV.&lt;br /&gt;Hatiku kembali berdarah.&lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk menjauhi Donaldson yang tetap menyertaiku dengan setia dan penuh kasih. Dan mengungkapkan terus terang bahwa aku sudah terjangkit virus HIV entah dari siapa. Namun aku sadar, pekerjaan nistaku yang dulu merupakan kerentanan yang tak dapat dielakkan. Yang merupakan satu-satu alasan pandemik penyakit mematikan tersebut terhadap diriku.&lt;br /&gt;Namun Donaldson tetap teguh dengan cintanya. Dan seperti mukjizat, dia tak meninggalkan aku! Dia menerima aku apa adanya! Dan, mengungkap jatidirinya yang sebenarnya, yang membuatku hampir pingsan tak percaya!&lt;br /&gt;"AKU SEBENARNYA BUKAN GAY, Bee!"&lt;br /&gt;"Un-untuk apa semuanya ini, Don?! Untuk apa kamu mengaku sebagai seorang gay?!" tanyaku tergagap.&lt;br /&gt;"Aku mencintaimu, Bee. Aku jatuh hati padamu saat pandangan pertama. Inilah caraku satu-satunya agar kamu tidak risih berjalan denganku. Agar aku dapat menyelami hatimu selayaknya perempuan. Maafkan aku, Bee. Tetapi semua itu aku lakukan demi kamu, ya demi kamu!"&lt;br /&gt;Maaf. Aku lupa bercerita tentang siapa diriku sebenarnya. Karena semua ini sebenarnya sama sekali tidak menyenangkan buatku.&lt;br /&gt;Namaku Tiga Larasati.&lt;br /&gt;Aku adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak-kakakku entah pergi kemana. Mereka lebih memilih bekerja dan hidup makmur ketimbang merawat aku, adiknya yang masih kecil ini.&lt;br /&gt;Aku adalah seorang yatim piatu sejak berusia tiga tahun. Tetapi aku tidak kemudian menjadi gelandangan. Beruntunglah aku punya paman yang baik hati. Dia merawatku selayaknya anak kandungnya sendiri. Wajah dan kepribadiannya mirip sekali dengan Jusuf. Itu sebabnya aku tidak pernah bisa melupakan seorang Jusuf. Ketika pamanku meninggal, aku melihat Jusuf sebagai pamanku yang terlahir dalam diri pemuda gagah nan tampan itu. Dan ketika kutahu lelaki itu hanya mempermainkanku, aku malah membiarkannya. Mengacak-acak kehidupanku hingga terluka dan menjadi nista.&lt;br /&gt;Lalu, bertemu dengan seorang Donaldson adalah sebuah anugerah di penghujung sisa usiaku. Bagaimanapun, aku merasa Tuhan telah berlaku demikian adil bagiku. Meski pada akhirnya aku hanya diberi usia pendek, namun Tuhan memberiku sebuah kenangan yang akan terukir abadi sepanjang masa lewat cinta sejati seorang Donaldson!&lt;br /&gt;Setelah aku didiagnosis terjangkit HIV beberapa tahun lalu, Donaldson resmi menyuntingku sebagai istrinya. Dia tidak peduli, bahkan ketika aku menceritakan kelam masa laluku sebagai seorang perek jalanan di Surabaya. Dia tetap menikahiku secara baik-baik. Mempersembahkanku sebuah rumah mewah yang sangat artistik, yang berlokasi di New York—kota megapolitan tempat kelahiran Donaldson. Dia bahkan memberikanku sepasang anak kembar yang lucu. Satu laki-laki dan satu perempuan.&lt;br /&gt;Setiap malam aku pasti berdoa bercucuran airmata, dan bersyukur atas anugerah Ilahi.&lt;br /&gt;Donaldson adalah karunia terindah yang pernah hadir dalam hidupku!&lt;br /&gt;Oya, aku hampir lupa. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah jatuh cinta kepada seorang pria yang bertemu denganku di dekat kampus. Kami belum mengenal satu sama lainnya—heh, tentu saja aku tidak pernah mau peduli siapa laki-laki yang mengencaniku. Namun, jika aku ceritakan, Anda pasti akan kaget! Tahukah siapa orangnya?!&lt;br /&gt;Namanya, Donaldson.&lt;br /&gt;Dialah satu-satunya laki-laki yang menolak 'berkencan' denganku meski sudah kurayu habis-habisan!&lt;br /&gt;Astaga, aku sendiri baru ingat!&lt;br /&gt;Dia bule.&lt;br /&gt;Tampan.&lt;br /&gt;Dan bermata teduh!&lt;br /&gt;Saat itu baru kali pertama menginjak Surabaya setelah iseng-iseng traveling dari Bali.&lt;br /&gt;Hei, mungkin dia juga sudah lupa. Entahlah. Mungkin juga dia masih ingat, tetapi pura-pura lupa. Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-6673174843933202556?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/6673174843933202556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-6.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6673174843933202556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6673174843933202556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-6.html' title='Cerita Tiga bag. 6'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SqJzUWIPGII/AAAAAAAAASo/2NmDBU53Ggc/s72-c/heart_orange.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-5277941119049877181</id><published>2009-09-13T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T00:00:01.137-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lala Novrinda'/><title type='text'>Cerita Tiga bag. 5</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SqJyrDLSECI/AAAAAAAAASg/Lu9qOBky_pU/s1600-h/heart_orange.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SqJyrDLSECI/AAAAAAAAASg/Lu9qOBky_pU/s320/heart_orange.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377986988946362402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maret, 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 04.01 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mau banyak ikut campur urusan Donaldson sebelumnya, tetapi kali ini harus. Harus mau.&lt;br /&gt;Kalau saja Matahari tahu, apa saja yang sudah aku lalui setelah kepergian Jusuf.&lt;br /&gt;Pudar kemudian lamunanku setelah mendengar Donaldson membuka pintu kamar mandinya. Itu tandanya handphone Donaldson sudah harus kukembalikan ke posisi semula. Aku tidak ingin dia marah duluan gara-gara kelancanganku.&lt;br /&gt;"Don... tadi ada SMS. Nih.... " seruku sembari menyodorkan ponselnya.&lt;br /&gt;"Oh, thanks, Bee," sambutnya, sembari masih mengkibas-kibaskan rambutnya yang basah.&lt;br /&gt;Donaldson lalu membacanya, mengernyitkan dahinya dan segera meletakkan kembali ponselnya ke meja. Bukan ke aku. Setelah itu dia hanya jalan mondar-mandir dekat meja tadi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seolah tidak terjadi ada apa-apa.&lt;br /&gt;Aku hanya memandangi gerak-geriknya. Memastikan reaksi lebih lanjut darinya karena SMS dari 'MTHR' tadi.&lt;br /&gt;Ah, aku tidak kuat lagi! Aku harus cepat-cepat menanyakan perihal SMS Matahari padanya, tentang semuanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Donaldson, kenapa kamu tidak mau cerita tentang Matahari?" tanyaku sedikit gugup.&lt;br /&gt;"What? Bee... ngomong apa kamu ini?" tanyanya seolah tidak mengerti.&lt;br /&gt;"Ya, itulah. Soal apa lagi? Soal MTHR-lah? Maaf... aku tidak bisa bohong lagi. Aku baru saja membaca semua SMS-nya. I mean... SMS sebelum-sebelumnya di inbox kamu!" kataku, sedikit lebih lega setelah menahan degup jantung yang bertalu lebih cepat dari biasanya.&lt;br /&gt;"Bee... aku sudah pernah bilang kan sama kamu. Urusanku sama Matahari hanya sebatas orangtua dan calon guru dari anaknya. Sekedar itu. Kalau sampai kamu baca sesuatu yang di luar itu, artinya dia yang punya urusan, bukan aku. Mengerti?" jawabnya penuh dengan keyakinan.&lt;br /&gt;Aku langsung terdiam. Dia tidak akan pernah tahu bagaimana 'maksud' pertanyaanku: cemburu! Tetapi tidak sulit untuknya menjawab pertanyaanku. Sebenarnya, Donaldson ini laki-laki tulen atau memang masih gay? Terus terang aku bingung. Bingung dibuat olehnya.&lt;br /&gt;Donaldson lalu mendatangiku. Duduk di sebelahku. Dan kemudian memelukku. Sambil berkata sesuatu yang lembut.&lt;br /&gt;"Aku hanya tahu satu perempuan. Dan perempuan itu ada di depan mataku. Jadi ada urusan apa antara masa lalu dan masa datang? Hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas aku berusaha mewujudkannya. Hingga semuanya berjalan seperti yang aku mau. Dan aku yakin. Kamu juga pasti mau, Bee..."&lt;br /&gt;Aku pasrah. Lunglai di pelukannya. Donaldson adalah seorang sahabat gay yang sudah mengenal aku luar dan dalam. Tetapi tidak pernah sedalam ini. Aku pasrah dan bingung. Siapa sebenarnya Donaldson ini? Kenapa dia bisa begitu gentlemen? Apa karena di gay? Aku sangat takut menanyakan hal sesensitif ini. Aku tidak mau dia kemudian marah hanya gara-gara hal sensitif ini.&lt;br /&gt;Dia kemudian bangkit lagi, melepas pelukannya. Dan mengambil handphone di meja tadi. Kemudian dia menelepon seseorang.&lt;br /&gt;Aku tidak peduli apa yang dilakukannya sekarang. Aku hanya peduli apa yang ada di pikiranku sekarang. Siapa sebenarnya Donaldson buatku?&lt;br /&gt;"Matahari... aku cuma mau bilang sama kamu, betapa bodohnya seseorang yang sudah memiliki segalanya dan melepaskannya begitu saja. Betapa bodohnya seseorang yang tidak segera melaksanakan tugasnya yang dapat dilakukannya pada saat itu juga. Kamu pasti tahu dengan benar maksudku. Aku hanya seorang gay, Matahari. Andai saja kamu tahu apa yang kamu lakukan selama ini...." katanya dengan kalimat berbaur amarah.&lt;br /&gt;Percakapannya dengan Matahari pada waktu itu, menjawab pertanyaanku. Donaldson adalah seorang 'Susan' Donaldson. Ternyata aku hanya terbawa suasana hati saja.&lt;br /&gt;Aku tertawa kecil. Menyadari kebodohanku, menyangkal siapa sebenarnya Donaldson ini. Gay bakal tetap menjadi seorang gay saja. Kecuali menjadi orang yang lebih baik tentunya. Selebihnya, dia tidak akan pernah berubah menjadi seorang yang... mencintaiku. Itu yang sebenarnya aku harapkan darinya.&lt;br /&gt;"... terima kasih atas usahamu, Matahari. Tetapi aku percaya, kamu sudah mendapatkan kehidupan yang layak. Jadi jangan rusak kehidupanmu. Thanks atas pengertianmu!" lanjut Donaldson pada Matahari, yang tampaknya hanya bisa diam saja dan tidak berkata apa-apa pada Donaldson ini, pikirku.&lt;br /&gt;Klik! Setelah itu Donaldson cepat-cepat menutup teleponnya.&lt;br /&gt;Donaldson melihat padaku dengan wajah yang senang dan puas. Dia kemudian lalu berlari dan lompat ke arahku. Dan lagi-lagi memelukku erat.&lt;br /&gt;"Apa itu tadi, Donaldson? Kamu bicara apa sama Matahari?" tanyaku, menampik pelukannya.&lt;br /&gt;"Dia hanya iseng saja, Bee. Sudahlah. Lupakan saja dia," jawabnya enteng.&lt;br /&gt;Aku menampik lagi cubitan darinya setelah menyelesaikan kalimat entengnya. Kali ini aku benar-benar serius dengan pertanyaanku. Dan aku benar-benar ingin tahu. Kalau memang dia baru sekarang mengaku gay pada Matahari, kenapa setelah sekian banyak SMS? Kenapa tidak langsung mengatakan pada Matahari saja? Sebelum terlalu jauh?&lt;br /&gt;"OK, Bee... kamu mau marah sekarang? Boleh. Marahlah? Karena aku sama sekali tidak mau membahas tentang ini semua. Matahari sudah cukup meyakinkanku bahwa aku adalah pria yang terlalu sabar dalam bertindak. Untuk hal apapun. Jadi aku minta tolong pengertianmu, Bee... please, jangan membahas soal Matahari lagi. Trust me, dia bukan apa-apaku, kok!" ungkapnya, memandangku. Kali ini dengan wajah serius setelah menguncupkan senyumnya.&lt;br /&gt;Aku sendiri heran menyaksikan reaksi Donaldson yang berubah-ubah. Tetapi keresahan seperti memberondong aku dengan eradiksi berjuta pertanyaan di benak. Semestinya memang harus kutuntaskan kepenasaran ini!&lt;br /&gt;"NO! Maaf, tetapi aku tidak tahu dengan benar bagaimana kamu sebenarnya, Donaldson! Di Bali aku tahu kamu adalah sosok pria yang kalem dan dewasa, juga sabar. Tetapi setelah ketemu sama Matahari waktu itu, kamu tiba-tiba punya keinginan untuk berubah. Keinginan yang aku sama sekali tidak tahu dari mana datangnya. Aku bingung dan tidak tahu siapa sebenarnya kamu. Aku tidak tahu kalau seorang gay bisa begitu misterius untuk satu hal. Dan yang aku tahu, kamu dulu tidak begini. Kamu jadi aneh!" paparku berterus terang.&lt;br /&gt;Amarahku meruap. Kecemburuan telah membakar hatiku, dan tak dapat terpadamkan dengan asumsinya yang berubah-ubah. Aku bangkit berdiri dari ranjang, dan membereskan barang-barangku yang berserakan di atas sofa kamarnya.&lt;br /&gt;"Hei... mau kemana, Bee? Kita kan bisa cerita pelan-pelan, dan menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin. Maafkan aku, aku sudah membuat kamu merasa aneh dengan sosokku yang sekarang. Tentang Matahari, tentang... anything! Tetapi aku tidak bilang ingin berubah setelah bertemu Matahari dan suaminya itu! Aku punya alasan sendiri kenapa aku ingin berubah... dan aku ingin kamu menghargai niatku itu. Aku ingin berubah karena memang aku ingin berubah tanpa dilandasi oleh keinginan yang lain. No, no! Bukan karena Matahari, bukan karena siapa-siapa. Just... dari hati aku sendiri! Aku berubah karena aku ingin menjadi lebih baik, hidup normal dan tidak melanggar norma. Aku muak dicaci dunia, Bee! Tolong dukung aku! Please, believe me. Aku butuh waktu. Aku butuh sokongan."&lt;br /&gt;Aku bingung diaduk rasa. Lelaki yang kukaribi ini tak ada bedanya dengan manusia asing yang bertambah asing di benakku.&lt;br /&gt;Aku meninggalkan kamarnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Agaknya inilah yang disebut dengan persahabatan yang sedang diuji. Naik-turun dan naik-turun lagi, seperti gelombang laut. Aku bisa maklumi kalau ini yang memang harus kami hadapi berdua. Hanya saja, perubahan yang dia lakukan terhadap kehidupannya yang kemudian mempengaruhi kehidupan orang lain (Matahari), jelas membuatku bagai pegila yang benar-benar sudah gila dan tidak waras lagi.&lt;br /&gt;Dan satu-satunya cara agar aku dapat lepas dari jerat enigma adalah: menjauhi dirinya.&lt;br /&gt;Paling tidak untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-5277941119049877181?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/5277941119049877181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5277941119049877181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5277941119049877181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-5.html' title='Cerita Tiga bag. 5'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SqJyrDLSECI/AAAAAAAAASg/Lu9qOBky_pU/s72-c/heart_orange.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-821075213444459897</id><published>2009-09-10T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T00:00:00.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lala Novrinda'/><title type='text'>Cerita Tiga bag. 4</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9sOCB8LCI/AAAAAAAAASQ/FJec3t2kJn4/s1600-h/heart_orange.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9sOCB8LCI/AAAAAAAAASQ/FJec3t2kJn4/s320/heart_orange.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377135468422638626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maret, 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 03.03 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menjaga hubungan persahabatan yang tidak diniati sebelumnya, adalah sebuah tindakan yang paling tulus yang pernah ada. Buktinya, Susan dan aku masih awet saja berteman sampai sekarang. Entah apakah karena karakter orang gay itu loyal? Atau memang kita ini sudah layaknya soulmate? Yang unseperatable?&lt;br /&gt;Susan yang berencana tinggal nomaden di Surabaya, Bali, dan New York itu, sekarang punya pekerjaan tetap, yaitu sebagai seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah Internasional. Aku bangga sama Susan. Dia sama sekali tidak pernah mengeluh soal pekerjaan, tetapi sejak dapat pekerjaan, Susan seperti orang yang keranjingan kerja. Sama sekali tidak mengalami 'jetlag'. Maksudku, sebelumnya dia tidak pernah bekerja. Selain menjadi wisatawan dan designer kecil-kecilan di Bali, tidak ada yang dia lakukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Susan memutuskan untuk tinggal di satu apartemen yang sama di Surabaya. Satu apartemen, tetapi beda kamar. Untuk alasan budaya, aku sengaja tidak ingin membagi kehidupan dengan 'Susan' Donaldson. Yah, walaupun kita sudah sedekat suami dan istri sekalipun.&lt;br /&gt;Kamar Susan ada di lantai enam, sedangkan kamarku ada di lantai tiga. Sekalipun lumayan jauh, jiwa kita tidak pernah jauh. Dia masih gay, namun aku tidak risih dengannya. Dia teman yang sangat baik. Jauh melebihi kebanyakan teman-temanku yang normal.&lt;br /&gt;"Don, kamu sudah tidak ada acara lagi, kan?"&lt;br /&gt;Sejak 'Susan' alias Donaldson tinggal di Surabaya, aku membiasakan diriku untuk memanggilnya dengan nama aslinya.&lt;br /&gt;"Nope, Bee! Ayo kita sama-sama makan. Aku yang jemput kamu, ya? Kita makan di tempat biasa...." ujarnya, lalu mengajak.&lt;br /&gt;"Oke, Donaldson!" jawabku antusias kepada 'Susan' yang mulai kuarahkan untuk menjadi pria yang normal.&lt;br /&gt;Klik. Komunikasi via ponsel kuakhiri. Dan menunggu dia menjemput kemudian.&lt;br /&gt;Sejak punya apartemen di Surabaya, Donaldson sudah tidak mau lagi dipanggil Susan. Entah karena dia memang ingin membuktikan janjinya waktu di Bali atau bukan—untuk dapat hidup normal, aku sungguh tidak tahu. Yang jelas, dia memang menepati omongannya. Menjadi Donaldson yang sesungguhnya. Yang mulai tertarik kepada lawan jenisnya!&lt;br /&gt;Aku hargai perubahan itu. Dia benar-benar tidak pernah bercerita lagi tentang laki-laki lagi, yang dikencaninya atau apalah. Satu-satunya yang dia rajin cerita tidak lain dan tidak bukan adalah pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan.&lt;br /&gt;"Bee... aku tadi sudah ngobrol sama orang kantor. Katanya akan ada libur bersama akhir bulan nanti. Aku pikir, kenapa tidak kita pergi ke New York, together? Mumpung bisa...." ajak Donaldson di mobil setelah dia menjemputku.&lt;br /&gt;"New York? Kenapa tidak? Eh, tetapi aku juga masih ada urusan sama client minggu-minggu ini. Kamu tidak keberatan mengurus semuanya, kan?" tanggapku, antusias.&lt;br /&gt;Hening sejenak. Lima detik setelah itu Donaldson menjawab manja, "Apa sih yang tidak bisa buatmu, Bee?"&lt;br /&gt;Aku dan Donaldson tertawa mengakak.&lt;br /&gt;Tidak bisa bohong. Kadang-kadang aku memikirkan kehidupan pribadiku apabila terlalu dekat dengan Donaldson. Suasana menyenangkan ini, membuatku merasa tidak harus pergi kemana-mana mencari tahu siapa yang akan mengajakku ke pelaminan. Donaldson adalah pilihan yang tepat kalau boleh aku simpulkan. Dia adalah warga negara asing yang rela mengubah aksen bahasa asalnya menjadi bahasa Indonesia. Bahasa yang tidak seharusnya dipakainya sehari-hari. Aku bisa saja membiasakan ngomong bule sama dia. Tetapi dia selalu melarang. Dengan alasan, Donaldson kepingin bisa jadi orang Indonesia. Walaupun wajahnya tidak bisa bohong, bule sekali.&lt;br /&gt;Selain itu, Donaldson juga rajin melakukan ritual yang aku lakukan. Mengaji setelah sholat. Well... aku lupa, belum cerita kalau Donaldson ini adalah warga negara asing yang beragama Islam juga. Orang tuanya punya dua agama. Ayahnya Irlandia-Amerika, Katolik. Ibunya Uzbekistan-Pakistan, tetap Islam. Aku tidak tahu tentang peraturan menikah beda agama di luar negeri sana. Tetapi yang aku tahu, aku beruntung sekali bertemu Donaldson.&lt;br /&gt;Pemikiran bodoh yang pernah aku punya selama bersama Donaldson adalah: In Case, kita menikah... tidak perlu repot!&lt;br /&gt;Siang itu aku dan Donaldson makan di cafe yang lokasinya lumayan jauh dari apartemen. Sebenarnya tempat itu tempat biasa kita makan, tetapi aku sendiri suka diam-diam menganalisa, 'ada apa' dengan tempat itu, sampai-sampai Donaldson senang makan di situ. Ternyata usut punya usut, Donaldson tahu betul makanan favoritku, dan hanya ada di situ saja menu Sapo Tahu kesukaanku.&lt;br /&gt;"Bee... gara-gara Sapo Tahu ini yang bikin aku betah makan sama kamu di sini! Hehehe... in case you wanna know...." katanya tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Oalah... Mas, Mas! Ta' pikir opo..." tanggapku dengan logat Jawa medokku.&lt;br /&gt;"Ehm, aku mau ke belakang dulu, ya. Sebentar, deh," katanya sambil mengedipkan mata.&lt;br /&gt;Tiba-tiba telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja, persis tepat di depan piringku, berbunyi. Ada SMS rupanya.&lt;br /&gt;Aku biasa saja. Cuma aku sempatkan untuk mengintip sedikit. Dan ternyata bukan sedikit yang aku dapat. Ada nama MTHR di layar ponselnya. MATAHARI?!&lt;br /&gt;"Don, kamu SMS-an sama Matahari, ya? Heh... ternyata, ya?" tanyaku enteng dengan suara sedikit cemburu, ketika dia sudah duduk di hadapanku tidak lama kemudian.&lt;br /&gt;"Apa? Oh... ada SMS, ya? Iya, dari Matahari. Tetapi cuma mau tanya-tanya sekolah buat anak-anaknya saja kok, Bee. Tidak ada apa-apa, kok," jawabnya, berusaha setenang mungkin. Namun demikian, dia tidak dapat menutupi rasa keterkejutannya.&lt;br /&gt;Aku berusaha menenangkan diriku dengan tersenyum. "Oh, begitu. Iya, nih. Pasti dia ingin menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang bonafid. Kamu kan guru di sekolah Internasional?"&lt;br /&gt;Donaldson mengangguk. Sepasang bola mata kebiruannya menyorot lega.&lt;br /&gt;"Ibu yang baik bagi anak-anaknya seharusnya memang begitu. Iya kan, Bee?"&lt;br /&gt;Kali ini aku yang mengangguk. Masih berusaha meredam ruap cemburu yang memenuhi dadaku.&lt;br /&gt;Padahal kalimatnya hanya sekedar pendapat, aku tahu. Tetapi entah kenapa, aku cemburu. Donaldson yang sudah bertransformasi menjadi laki-laki yang baru itu benar-benar berhasil bikin aku percaya kalau dia sudah berubah menjadi Donaldson yang baru.&lt;br /&gt;"Bee... cuma kamu gadis yang bikin aku bahagia selama ini. Can you believe I've just said that?!" katanya, lalu tersenyum simpatik.&lt;br /&gt;Aku cuma bisa balas senyumnya. Aku sengaja buat dia tahu kalau aku memang cemburu. Malah, aku tidak begitu yakin tentang perkataannya itu. Tentang Matahari yang ingin menanyakan perihal sekolah Internasional seperti yang dia bilang. Apa yang Matahari SMS waktu itu membuatku penasaran dan ingin menyelidikinya lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku sengaja main ke kamar Donaldson. Aku temani dia ngobrol panjang lebar, dan kutunggu dia sampai masuk ke kamar mandi. Aku benar-benar penasaran dengan SMS Matahari.&lt;br /&gt;Donaldson kemudian meninggalkanku dengan cerita lucu seputar muridnya di sekolah. Lalu kemudian dia bilang mau mandi dulu.&lt;br /&gt;Handphone Donaldson yang sedang kudekap, langsung aku buka folder message-nya.&lt;br /&gt;Ternyata... bukan pertama kali Matahari SMS Donaldson. Ternyata, ini sudah kesekian kalinya. Herannya, SMS-SMS Matahari hanya berbeda sedikit dengan SMS yang terkirim atas namaku....&lt;br /&gt;AKU HANYA KEPINGIN BILANG KALAU RESIKO ITU ADA DI TANGAN KITA, DONALD. DON'T LET ME DOWN.&lt;br /&gt;Short Message Service berikutnya:&lt;br /&gt;AKU INGIN KAMU, DONALD!&lt;br /&gt;Berikutnya:&lt;br /&gt;AKU MAU KAMU BILANG KE BEE, BETAPA AKU SAYANG KAMU....&lt;br /&gt;... dan berikut-berikutnya yang serupa, seperti:&lt;br /&gt;AYO, KITA KETEMUAN! KANGEN!&lt;br /&gt;Aku tersentak kaget. Menggigit bibirku dengan hati perih.&lt;br /&gt;Aku pikir, apa sebenarnya yang sedang Matahari lakukan terhadap kehidupannya yang sudah makmur itu? Suami yang setia dan perhatian, plus dua anak yang lucu-lucu. Kehidupan yang dia inginkan beberapa tahun lalu itu, sudah dia dapatkan semuanya. Tetapi punya Pria Idaman Lain yang seorang gay ini...? Apa yang dia lakukan?! Apa tujuannya?! Apa lagi sih yang ingin dia cari?!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-821075213444459897?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/821075213444459897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/821075213444459897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/821075213444459897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-4.html' title='Cerita Tiga bag. 4'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9sOCB8LCI/AAAAAAAAASQ/FJec3t2kJn4/s72-c/heart_orange.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-4093384282028977360</id><published>2009-09-06T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-06T00:00:01.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lala Novrinda'/><title type='text'>Cerita Tiga bag. 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9Pn9jdZII/AAAAAAAAASI/o5W5dnEzqU4/s1600-h/heart_orange.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9Pn9jdZII/AAAAAAAAASI/o5W5dnEzqU4/s320/heart_orange.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377104028060443778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mei, 2003&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pukul 01.02 WITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukannya aku takut sama dia, tetapi... ehm... aku cuma... aku sudah lama tidak ketemu dia. Jangan-jangan, kapan hari aku dikasih tahu kabar, kalau aku merupakan perempuan yang pantas dibawa kemana saja sama sembarang laki-laki. Yah, aku bilang saja tidak, wong aku tidak pernah dibawa kemana-mana."&lt;br /&gt;"Then what?! Are you really sure about that? I mean.... That are closely like this, you know. You don't have to be pretending like that. Just tell him what are you wanting from him. Then you can get along... free as you want it to be...." kata Susan padaku yang tetap menunjukkan jari kelingkingnya, sekalipun sudah selesai kalimatnya.&lt;br /&gt;"Aku cuma... gemas," ujarku mengakhiri percakapan di sore itu.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suasana pura dan bau khas setanggi ladan di sepanjang jalan membuatku berada di tempat baru lagi. Sudah hampir seminggu ini aku di sini. Tetapi sepertinya sudah lama sekali aku kenal kota Bali. Warung-warung tempat makan membuatku teringat lagi sama yang dulu-dulu. Bukan perkara aku tidak mau lupa sama yang dulu-dulu. Hanya saja, aku buta sekali sama kenangan 'jadul'. Zaman waktu masih muda dulu. Dimana kulitku masih sehalus bayi. Dimana sekitar pelipisku belum dikerubuti kerutan seperti saat ini. Tetapi tidak apa. Toh bukankah uzur ketuaan merupakan hukum alam yang tak dapat dipungkiri manusia?&lt;br /&gt;Intinya, mungkin aku tidak muda lagi.&lt;br /&gt;Namun, sekarang aku sudah punya kehidupan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bee, if you are promise to keep me to be as your best buddy ever, then you can just show me anything behind this all, you know. You don't have to. I just... want to know you well. More than anybody else, Dear...." Lagi-lagi Susan berujar padaku dalam bahasa Inggris yang terdengar legit di sepanjang Kuta di pagi buta.&lt;br /&gt;"Susan, listen to me! Aku ini perempuan biasa yang hanya kepingin punya kehidupan biasa pula. Perempuan biasa, normal dan berusaha memberikan yang terbaik bagi orang lain dan diriku sendiri. Dan, dia juga berupaya meraih yang terbaik untuk apa yang diinginkannya. Sama, bukan? Just same as you did!" balasku sambil tersengal-sengal.&lt;br /&gt;Kita sedang jogging waktu itu.&lt;br /&gt;"Pokoknya aku tidak mau tahu. Kamu tidak boleh merasa yang paling ini, paling itu. Paling benar, paling menyedihkan, atau paling apa saja. Susan tidak inginkan itu. Susan peduli sama kamu...." lontarnya dalam bahasa Indonesia dengan logat kebule-bulean itu.&lt;br /&gt;"OK! OK! AKU TIDAK LAGI MAU MENGELUH SAMA KAMU!" balasku sengit, singkat. Aku sebal diceramahi orang. Apalagi notabene hanya orang baru dalam kehidupanku. Peduli kucinglah dia!&lt;br /&gt;"Apa? I mean... aku tahu sekali siapa kamu. Jadi jangan pernah meragukan kalimat that I've told you before. Ok! I am serious... totally care about you. Kamu mengerti?!" tanggapnya, memaksa.&lt;br /&gt;Jujur aku tidak mau tahu tujuan dia sebenarmya. Aku ada di mana sedang apa, benar-benar urusanku, bukan? Maksudku, siapa yang mau peduli sama bule homo yang baru tinggal di Bali selama dua tahun dan seorang teman baru ketemuan di hotel? No one, I believe! He's just a gay anyway!&lt;br /&gt;Maaf, aku belum cerita. Susan adalah seorang teman yang aku temui di lobi hotel pada hari pertama kedatanganku di Bali. Dia punya tampang yang goodlooking. Karena goodlooking tadi, aku tawarkan tempat duduk di sebelahku, kala menunggu taxi driver menjemput. Ternyata dia memberanikan diri untuk ngobrol terlebih dahulu. Kemana tujuanku, sama siapa perginya. Dasar gay! Sejak pertama kenal saja sudah langsung ketahuan! Tidak bisa bohong... nama aslinya adalah Donaldson. Tetapi karena kita sudah terlalu dekat, jadilah aku panggil dia Susan. Dan dia sama sekali tidak keberatan. Itulah yang menyebabkan kedekatan kami selama ini. Si Susan alias Donaldson ini punya jiwa yang tulus, dan legawa.&lt;br /&gt;Ah, coba dia bukan gay. Well, anyway... aku lupa sampai mana dialognya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK, Donaldson! Aku cuma kepingin mencoba kesempatan kedua. Aku sama sekali tidak tahu ada orang mirip Jusuf di sini. Bukan salahku juga, kan? Pertanda, boleh juga kalau ternyata dia juga jodohku, kan? Jodohku, mungkin? Orang yang mirip sekali dengan Jusuf? Just... let me do my way... then if I failed, maybe you can treat me like your own baby again. Bagaimana?" ungkapku, menawar. Donaldson adalah panggilan 'kesayangan' ku buatnya di kala dia mulai atau sangat menjengkelkan.&lt;br /&gt;"OK, Darling... I just.... OK, nevermind...." kata Susan sambil berpaling. Wajahnya tiba-tiba melengos dari pandangannya yang semula lurus ke depan.&lt;br /&gt;Hari kesekian aku di Bali, aku tetap merasakan kesepian yang teramat sangat. Sembari mengerjakan tugas dari kantor, pertemuanku dengan seseorang yang mirip sekali dengan Jusuf itu kembali menghantui. Di layar TV di kamar hotel, di kaca kamar mandi, di jalan-jalan. Seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Aku maklum sekali dengan ini. Bali adalah tempat pertemuanku dengan Jusuf untuk pertama kalinya. Dan walaupun dia sudah tenang di sisi-Nya sekarang, aku yakin sekali Jusuf memandangku dengan senyum saat ini. Aku harus berani melupakannya. Tetapi aku tetap tidak bisa bohong. Aku masih begitu mencintainya. Sebagai siapa pun dia, aku sama sekali tidak peduli.&lt;br /&gt;Aku ambil kotak kecil di koper. Aku keluarkan semua isinya. Lalu aku buang semua barang yang ada di dalamnya. Kotak kecil yang selalu aku bawa kemana-mana itu adalah kotak abadi buat Jusuf. Dimana ada kotak itu, di situ ada Jusuf di dalamnya. Dan, aku memberanikan diri untuk membuang 'Jusuf' yang ada di dalamnya. Maafkan aku, Jusuf... ini sudah lebih dari dua tahun. Aku hanya perempuan biasa. Perempuan biasa layaknya perempuan lain. Dimana segala sesuatunya selalu berlandaskan hati. Dan lagi-lagi karena hati itulah, perempuan bisa bertahan dari segala macam kehidupannya yang pahit. Sepahit apapun itu, perempuan hanya bisa mengandalkan hati. Aku bahkan tidak bisa membuka hati untuk seorang pria, siapa pun. Aku tidak bisa seperti Bulan, Matahari, yang berani menikah dan punya kehidupan yang baru lagi setelah bertemu dengan seorang Jusuf. Aku hanya kepingin punya Jusuf saja. Tidak ada yang lain. Walaupun tidak bisa. Atau tidak mau? Aku tidak mau tahu. Walaupun bisa, aku sudah tidak mau mencoba lagi. Kalau Matahari dan Bulan mau dan berani mencoba, bangkit lagi. Aku tidak mau. Aku hanya mau Jusuf.&lt;br /&gt;Bukankah itu cinta sejati?&lt;br /&gt;"Bee... Kamu bagaimana? Sudah baikan? Hehehe...." tanyanya sambil memelukku.&lt;br /&gt;Susan hobi memanggilku Bee. Dengan alasan, sejak bertemu denganku, Susan rajin minum madu. Bukan karena dia ingin awet muda dengan terus minum madu, tetapi karena aku memang punya bisnis kecil-kecilan di bidang ternak lebah tersebut. Dan dia adalah pelanggan pertamaku di Bali.&lt;br /&gt;"I'm fine. Bahkan tadi malam, tugas-tugas dari kantor, bisa aku selesaikan semuanya. Oya, nanti malam ada meeting sama client di lobi hotel. Would you like accompany me after that? We go chat then have fun after that...." ajakanku buat Susan.&lt;br /&gt;Entah kenapa, belakangan Susan jarang sekali terlihat pergi atau cerita seputar kedekatannya dengan seorang pria. Atau sedang tidak punya seseorang? Aku tidak pernah tahu.&lt;br /&gt;Susan termasuk orang yang introvert untuk urusan ini. Hehehe... awalnya sih sangat-sangat terbuka. Cerita panjang lebar tentang siapa dirinya dan dari mana asalnya. To the point bahkan sedetail-detailnya. Tetapi belakangan, Susan jadi pemurung.&lt;br /&gt;Melihat perubahan sikapnya itu, aku sedikit senang. Paling tidak aku tidak lagi merasa kesepian, karena ada dia.&lt;br /&gt;Tiba- tiba dia cerita sesuatu.&lt;br /&gt;"Aku harus cerita ini ke kamu. Aku tidak tahu bagaimana pendapat kamu tentang ini. Aku merasakan perubahan yang extra ordinary than before, Bee! Kamu mau tahu kenapa?" Susan semangat.&lt;br /&gt;"Eh...? Cepat sekali nyerocosnya? Ada apa?" jawabku kaget.&lt;br /&gt;"Aku... ingin sekali berubah. Berubah menjadi seseorang yang lebih baik...." katanya bikin kaget lagi.&lt;br /&gt;"Okay... details, please?" tanggapku, singkat.&lt;br /&gt;"Aku ingin jadi Donaldson yang baru. Aku ingin jadi orang itu, Bee... orang yang bisa bikin orang di dekatnya senang dan whole! Do you know what I mean?" jawabnya lagi dengan kalimat yang terdengar 'aneh'.&lt;br /&gt;"Aku cuma ingin berubah. Kepingin berubah, normal... dukung aku saja, ya?!" tambah 'Susan' alias Donaldson yang semakin aneh.&lt;br /&gt;"Sebenarnya, ya... semua orang itu selalu harus bisa berubah. Menjadi orang yang lebih baik lagi. Menjadi orang yang jauh lebih bijak dari sebelumnya, menjadi orang yang jauh lebih religius dari sebelumnya. Memang begitu bukan hakikat manusia? Do you need me to say an English to you, Susan?" tanyaku memastikan.&lt;br /&gt;"OK, then. I love you... see you around what? 9? 10?" ujarnya, balik tanya sambil angkat badan dari kursi.&lt;br /&gt;"9 sharp, yeah?" jawabku sambil senyum. Mungkin dia dapat kritik dari 'mantan' terdahulunya tentang bagaimana kebiasaannya sehari-hari. Jadi dia tanya itu ke aku.&lt;br /&gt;Aku kembali ke kamar. Mempersiapkan penampilanku untuk bertemu dengan client nanti malam. Susan tidak tahu, client yang akan aku temui nanti malam adalah orang yang sama sekali tidak ingin dilihat olehnya. Ranu, yang tidak lain adalah suami Matahari. Aku bekerja di perusahaan swasta, sedangkan Ranu adalah seorang wirausahawan yang bergerak di bidang yang sama. Dan Ranu ini punya wajah yang mirip sekali dengan Jusuf. Tuhan memang punya cara yang lucu dalam menyampikan pesan buat hambanya. Siapa yang tahu aku akan bertemu suami dari seorang Matahari yang notabene mirip dengan Jusuf?&lt;br /&gt;Lewat pertemuan ini, aku yakin aku akan bertemu lagi dengan Matahari. Aku yakin, ini adalah apa yang diharapkan Jusuf kalau dia masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ranu... kamu di mana sekarang? Sudah bawa semua perlengkapannya? Kamu sama Matahari nanti, bukan?" tanyaku pada Ranu di telepon genggam.&lt;br /&gt;Tidak lama berselang, terdengar suara familier di horn ponselku. "Halo, Tri! Akhirnya kita ketemu juga, ya? Oke, ini aku sudah on the way, kok. Sudah bareng Matahari juga. Tetapi kayaknya sampai larut malam nanti, nih. Soalnya, ada yang mau kangen-kangenan!" jawabnya, lalu tertawa renyah.&lt;br /&gt;"Oke, Bos! Nanti aku kenalkan teman aku yang kapan hari itu kamu kritik habis-habisan. Hehehe... si Bule...."&lt;br /&gt;"Yah, sama si Bule itu lagi? Ya, sudah. Penasaran nih ingin tahu bagaimana orangnya. Hehehe... bye!" Klik! Jawabnya tidak sopan. Mungkin karena Ranu juga benci sama 'Susan', jadilah seperti itu reaksinya. Sebab dia 'gay'!&lt;br /&gt;Aku seperti harus menjelaskan lagi tentang kronologis kejadian kenapa Ranu membenci Susan. Singkat saja. Dari luar, Susan yang seorang bule ganteng ini tampak seperti seorang Flamboyan. Tidak ada yang bisa disalahkan, masalahnya itu hanya phsycally saja. Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Ya, kecuali kalau memang sudah kenal dia.&lt;br /&gt;Ranu adalah satu dari sekian banyak teman laki-laki yang aku punya. Matahari sendiri yang memperkenalkan suaminya padaku. Dengan harapan yang sama mungkin. Agar Jusuf senang melihatnya.&lt;br /&gt;Setelah sekian kali bertemu, aku pikir, aku bisa mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana perasaan Matahari saat itu. Apakah dia juga sama seperti aku, yang masih menggilai Jusuf. Atau tidak? Entahlah.&lt;br /&gt;Ternyata misi kecil ini rupanya diketahui Susan dari agenda kecil yang ada di tasku. Bule satu ini juga gila. Dia rajin update soal kegiatanku sehari-hari. Ah, seandainya saja dia bukan....&lt;br /&gt;"Perkenalkan, aku Donaldson. Nice to meet you...." sapa Susan santun, memperkenalkan diri kepada Ranu dan Matahari.&lt;br /&gt;Ranu mendadak serius wajahnya. Cuek. Lalu duduk.&lt;br /&gt;Matahari tidak. Dia tersenyum tulus. Dan tidak buru-buru duduk seperti Ranu dengan sikap 'antipati'. Malah di antara kita berempat, Matahari yang paling terlambat duduk di kursinya. Seolah-olah terpana melihat ketampanan Susan.&lt;br /&gt;Aku tak ambil pusing. Aku langsung membicarakan pekerjaan dengan Ranu yang duduk berhadapan denganku.&lt;br /&gt;Hingga sudah hampir ada sejaman, aku mulai melihat Susan rajin menjawab pertanyaan Matahari. Tampaknya mereka sudah asyik dengan pembicaraan mereka. Matahari bahkan sesekali memukul kecil tangan Susan. Sedikit aksi konyol rupanya, yang menandakan bahwa mereka sudah semakin akrab.&lt;br /&gt;Aku lega.&lt;br /&gt;Paling tidak, dengan melihat itu, Ranu bisa menjadi berkurang perasaan bencinya. Tetapi bisa saja malah sebaliknya. Semakin benci. Siapa yang tidak? Ranu benci setengah mati melihat Susan karena menurutnya aku digandeng kemana-mana. Apalagi istrinya.&lt;br /&gt;"Akhirnya selesai juga, ya?" ujarku, mengakhiri perihal pekerjaan dengan Ranu yang masih belum tersenyum barang sekejap dari awal pembicaraan.&lt;br /&gt;"Iya. Bagaimana kalau sekarang aku dan Matahari langsung pulang saja, Tri?" tanyanya sebal tanpa melihat wajahku.&lt;br /&gt;"Ranuu...!" jeritku sambil menendang kakinya.&lt;br /&gt;Terus terang, aku tidak suka melihat kecemburuan Ranu terhadap Susan dan istrinya, Matahari. Mereka sekedar mengobrol saja. Tidak ada apa-apa, kok! Namun, di luar dugaan ia melontarkan pertanyaan yang dapat membuatku pipiku memerah. Of course, tentu saja juga Si Donaldson.&lt;br /&gt;"Ehm... oke, oke. Langsung saja kita bincang-bincangnya. Sebenarnya kalian ini pacaran, ya? Atau sudah menikah?" tanya Ranu pada Susan. Dia sama sekali tidak melihat wajahku.&lt;br /&gt;"What? I mean.... Ya, ya, kita berteman baik. You know, like brother and sister. Dan kita seperti sudah mengenal lama begitu. Is there something wrong about that, Ranu?" jawab Susan lancar, tidak menunjukkan ketersinggungan.&lt;br /&gt;Hm, untung Si Donaldson ini pintar sekali berperangai. Aku tahu betul kalau Susan adalah seorang penakut. Paling tidak kalimatnya tidak bisa selancar itu, apabila ditanya soal status dan tetek bengeknya.&lt;br /&gt;"Oh, hehehe... tidak sama sekali. Saya mengenal Tri mungkin setelah kamu, ya? Jadi, ya saya hanya ingin tahu saja. Sebagai teman. Bukan begitu, Matahari?" Ranu meminta dukungan dari istrinya.&lt;br /&gt;"Oh, iya, Sayang. Ranu ini orangnya concern terhadap siapa saja yang jadi temannya, Donald. Eh, nama kamu lucu sekali, ya? Bagaimana tak senang Tri punya teman lucu begini. Hehehe...." Ranu mendapat dukungan lebih rupanya.&lt;br /&gt;Ranu kaget. Susan yang tadinya tegang, jadi ketawa mengakak. Tetapi tetap saja berwibawa.&lt;br /&gt;Aku hanya diam saja, walaupun agak aneh juga melihat sikap Matahari.&lt;br /&gt;Matahari malam itu terlihat sangat cantik. Tidak berubah dari beberapa tahun yang lalu. Di antara teman perempuan yang aku punya, Matahari adalah salah satu yang tercantik di antaranya. Aku tidak heran kalau dulu Jusuf rela balik lagi sama dia. Dia punya karakter feminin dan keibuan.&lt;br /&gt;Hanya satu mungkin yang berubah dari dia, malam itu. Matahari tidak pernah sebahagaia itu. Sejauh yang aku tahu, Matahari selain cantik juga seorang pemalu yang pernah aku kenal. Jadi kalau ada adegan pukul-pukul tangan dengan Susan tadi, boleh jadi Matahari kagum sama Susan.&lt;br /&gt;Matahari lalu bangkit dari kursinya. Mengajak Susan berdiri juga dan menyalaminya. Ranu kaget lagi. Dan kemudian menggandeng tangan istrinya itu.&lt;br /&gt;"Baik kalau begitu, aku dan Ranu pergi dulu, Tri." Matahari berujar, memandangku lalu ganti memandang Susan. "Donald, senang ketemu dengan kamu."&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;"Anyway, sampai kapan kamu di Bali, Tri?" tanya Ranu kepadaku, menyembunyikan rasa cemburunya dengan bersikap seperti tidak ada apa-apa.&lt;br /&gt;Aku angkat bahu. "Kurang pasti. Tetapi, mungkin beberapa hari lagi. Kalau aku sampai ditelepon kantor dan harus balik, baru aku balik. Matahari tahu bukan, aku masih tinggal di Surabaya?" jawabku, lalu balik bertanya kepada Matahari.&lt;br /&gt;"OK, then. Keep in touch, yeah?" Matahari pamit, matanya melirik ramah ke arah Susan.&lt;br /&gt;Perlahan Ranu dan Matahari pergi. Sementara itu, aku dan Susan terjebak dalam suasana hening sambil bergandengan tangan. Tak lama kemudian, setelah Ranu dan Matahari menjauh dari pandangan, aku dan Susan tertawa berdua. Tertawa sepuas-puasnya.&lt;br /&gt;Ternyata kita berdua menyadari betul, betapa Matahari tergila-gila pada Susan.&lt;br /&gt;Dan malam itu, aku habiskan waktu ngobrol bersama Susan di kamarnya. Membicarakan tentang bagaimana membuang kotak Jusuf yang masih ada di koper, dan membongkar isi kamar hotel Susan yang hanya beda satu lantai saja dengan kamarku.&lt;br /&gt;Sampai kita berdua tertidur pulas. Layaknya dua perempuan yang sedang patah hati, menghabiskan waktu bersama dan curhat, lalu terlelap.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-4093384282028977360?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/4093384282028977360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4093384282028977360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4093384282028977360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-3.html' title='Cerita Tiga bag. 3'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9Pn9jdZII/AAAAAAAAASI/o5W5dnEzqU4/s72-c/heart_orange.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-321674473738790983</id><published>2009-09-03T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T00:00:05.954-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lala Novrinda'/><title type='text'>Cerita Tiga bag. 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9OOzSDPiI/AAAAAAAAASA/x-G2j2zSDDU/s1600-h/heart_orange.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9OOzSDPiI/AAAAAAAAASA/x-G2j2zSDDU/s320/heart_orange.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377102496294714914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Januari, 2002&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 03.33 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan cinta dan hati yang patah telah memurukkan aku dalam lembah nista. Aku terjebak di dalam 'permainan' yang diciptakan oleh rasa sakit dan dendam. Sampai suatu saat aku tersadar oleh satu hal.&lt;br /&gt;Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, terlebih setelah menyadari dengan sangat terlambat apa dan bagaimana rasanya gagal. Cerita yang akan Anda baca beberapa saat setelah ini adalah sebuah pelajaran berharga untuk aku. Well... aku berharap akan menjadi sebuah pelajaran yang berarti dan berharga pula nantinya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu dengan seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan ternama yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus. Dari awal aku sudah sedikit memperhatikan raut wajahnya yang tidak terawat tetapi kalau diperhatikan lebih lama lagi, sepertinya dia tampan. Kita bertemu saat dia tidak sengaja (atau sengaja?) menabrakku yang tengah berbicara dengan seorang teman di kampus depan. Bukannya minta maaf, dia malah mengajakku minum di kedai kopi di mal dekat kampus. Aneh. Tetapi sebuah keberuntungan agaknya. Buatku.&lt;br /&gt;Dia mulai bercerita panjang lebar tentang siapa dia, apa pekerjaannya, dan kebiasaan apa yang dilakukannya setiap datang ke kedai kopi itu.&lt;br /&gt;Masa bodoh.&lt;br /&gt;Sepertinya dia tidak terlalu pintar bercerita. Paling tidak, pura-pura menyenangkan saja. Kalau tidak karena wajah dan wanginya yang maskulin itu, tidak bakal aku sudi menyanggupi ajakannya waktu itu.&lt;br /&gt;Stuck. That's all I can say!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mulai menunjukkan pukul 00.05 dinihari.&lt;br /&gt;Bukan perkara malam, hanya saja suasana saat itu benar-benar membuatku ingin cepat-cepat beranjak dari situ. Bagaimana tidak? Dia menyebalkan. Seperti anak kecil yang menggebu-gebu merengek sesuatu terhadap Sang Bunda. Tetapi kemudian tetap merengek, sekalipun wajah Sang Bunda sudah memberi tanda untuk jawaban tidak. Aku sengaja membiarkannya. Mengikuti apa yang akan dilakukannya padaku.&lt;br /&gt;Akhirnya beberapa saat setelahnya, setelah kedai kopi tutup, dia menawarkan untuk mengantarkanku pulang.&lt;br /&gt;Aku langsung mau. Tidak ragu.&lt;br /&gt;Sampai di depan rumahku, aku ragu untuk turun.&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Masih kepagian untuk tidur."&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Mungkin memaklumi kalimatku sebagai penolakan untuk pulang meski waktu telah merangkak dinihari. Pemuda itu mengangguk, dan menawarkanku untuk ikut jalan-jalan bersamanya. Itu pun jika aku tak keberatan.&lt;br /&gt;Aku jelas mau. Entah kenapa, semakin malam semakin tampan saja wajahnya. Lagi-lagi aku berubah pikiran. Seperti biasanya.&lt;br /&gt;Dia tidak bisa bohong, dia pun mengatakan betapa senangnya dia ditemani oleh seseorang yang baru dikenlanya dalam kurun waktu setengah hari.&lt;br /&gt;Jujur. Aku tidak begitu senang karena dia kurang agresif. Dan hal itu berarti membuang-buang demikian banyak waktu. Seharusnya waktu-waktu yang 'terbuang' itu sudah masuk dalam tahap 'chek-in'.&lt;br /&gt;Tetapi entah kenapa beberapa saat setelahnya, wajah tampannya memaksaku untuk mengatakan, "Oke, bagaimana kalau kita ke apartemenmu...."&lt;br /&gt;Dia kaget. Joknya sampai berderak.&lt;br /&gt;"Takut? Istrimu...."&lt;br /&gt;"Aku belum menikah...."&lt;br /&gt;Tetapi tidak butuh waktu lama untuk menanggapi pertanyaanku tadi.&lt;br /&gt;Dia menyanggupinya dengan cara... mengelus pipiku.&lt;br /&gt;Jadi aku pikir tidak ada salahnya kemudian jika aku melanjutkan perhatian di antara dua insan asing yang baru bertemu tidak lebih dari setengah hari, untuk saling mengenal lebih jauh sebelum sampai ke apartemennya.&lt;br /&gt;Aku cium pipinya, genit. Satu kebiasaan yang telah kukaribi setelah cinta melantakkan aku ke dasar jurang terdalam. Setelah cinta merenggut segalanya dariku.&lt;br /&gt;Aku lanjutkan dengan melingkarkan tanganku ke pinggangnya sembari menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia seperti apatis, tetap mengemudikan mobilnya dalam laju normal.&lt;br /&gt;Sesekali dia bilang, "Hm... bahagia rasanya bisa bersama gadis secantik kamu."&lt;br /&gt;Aku tetap tak peduli setan dengan kalimat-kalimatnya. Sejauh ini dia masih kelihatan orang baik-baik. Hei, berbeda dengan beberapa pemuda yang telah kukencani. Dia terlalu pasif seperti kucing nan malu-malu. Tidak beringas seperti harimau jantan.&lt;br /&gt;Aku lanjutkan aksi pendekatan lagi.&lt;br /&gt;Aku mulai belai rambutnya yang wangi dan teratur rapi semenjak awal kita bertemu.&lt;br /&gt;Dia memandangku tajam, memarkir mobil di bahu jalan, lalu dia balas dengan ciuman maut. Sebuah french kiss yang lembut. Dan tidak pernah aku rasakan sebelumnya.&lt;br /&gt;Aku makin menjadi.&lt;br /&gt;Aku balas ciumannya dengan ciuman dahsyat andalanku. Penuh hasrat tentunya.&lt;br /&gt;Kali ini berbeda. Dia mengelak.&lt;br /&gt;Kurang ajar! Baru kali ini aku ditolak! Semua orang tahu tidak akan ada yang mampu menolak pemberianku. Harusnya dia pun tahu itu!&lt;br /&gt;Tetapi aku tetap diam saja. Tidak bereaksi marah atau kesal. Biar. Aku hanya ingin tahu apa maunya lelaki 'aneh' ini.&lt;br /&gt;"Kamu cantik... tetapi buat apa ini? Aku tidak merasakan perasaan sayang. Buat apa?" tanyanya, terlihat munafik.&lt;br /&gt;"Hah, buat apa? Ya, buat perkenalan kita berdua, Mas. Buat apa lagi? Apakah Mas mau yang lain selain tadi? Mungkin ini, coba?"&lt;br /&gt;"Ini apa?!" tanyanya sambil melepas tangannya secara paksa dari genggaman di dadaku.&lt;br /&gt;"Ini... yang aku kasih ke Mas. Ini! Apalagi, coba? Munafik sekali kamu, Mas!" rutukku kesal.&lt;br /&gt;"Ka-kamu...! Aku pikir kamu gadis baik.... Eh, kok ternyata begini...."&lt;br /&gt;"Baik? Terus kamu pikir aku gratisan begitu?! Ya, tidaklah! Belum pernah kenal saja kok minta gratisan? Kamu pikir aku murahan apa?!"&lt;br /&gt;"Aku tidak bilang kamu murahan, tetapi...." jawabnya tak rampung, mulai melunak dan sedikit menyesal telah melontarkan kalimat 'menyinggung' begitu.&lt;br /&gt;"Aku kecema sama kamu, Mas! Kamu aneh!" Aku naik pitam setelah setelah aksi penolakannya.&lt;br /&gt;"Maksudmu?" Dia kaget lagi.&lt;br /&gt;"Mas maunya apa, sih?" Aku melototkan mata. "Kalau tidak penting, jangan buang-buang waktuku. Oke, oke. Kita langsung bicara tarif."&lt;br /&gt;"Ta-tarif? Memangnya...."&lt;br /&gt;"Mas jangan sok bego, ya?" Aku mulai tidak sabaran. "Mas cari gadis penghibur, kan?"&lt;br /&gt;Dia sontak kaget. Matanya kini yang melotot. "Tidak semua laki-laki sepicik di otakmu!"&lt;br /&gt;"Ja-jadi... untuk apa...?"&lt;br /&gt;Dia diam, tidak bicara apa-apa. Dan langsung menyalakan kembali mobilnya.&lt;br /&gt;"Aku antar kamu ke rumahmu...."&lt;br /&gt;Aku bingung. Seumur-umur, inilah lelaki yang paling aneh yang pernah kutemui. Dia bukan kucing jantan yang beringas melihat 'ikan segar' yang diangsurkan di hadapan. Aku mengangguk dengan hati belah, menyetujui usulannya untuk mengantarkan aku pulang.&lt;br /&gt;Tetapi kemudian, tanpa disangka-sangka ia menciumi pipiku.&lt;br /&gt;"Maaf, aku sudah menyakiti hatimu. Tetapi, aku bukan lelaki hidung belang yang biasa kamu kenal. Aku harap kita dapat bersahabat secara wajar, dan bukannya dengan cara seperti tadi...."&lt;br /&gt;Mataku berkaca-kaca diruap haru. Sama sekali tidak pernah menyangka dia akan berkata selembut itu. Tidak munafik seperti sangkaku tadi.&lt;br /&gt;"Maaf, aku bukannya men-justice kamu. Tetapi, kenapa sih kamu melakoni perkerjaan seperti ini? Padahal, kamu masih demikian muda, dan masa depanmu masih sangat panjang...."&lt;br /&gt;"Ak-aku...." Suaraku tercekat. Tangis yang kutahan seolah menohok dadaku dan memerihkan tenggorokanku.&lt;br /&gt;"Kalau kita berjodoh, suatu saat kita akan bertemu lagi. Ini kartu namaku, kapan-kapan kalau kamu butuh teman untuk curhat, kamu boleh kontak aku," ujarnya simpatik sembari menyodorkan selembar kartu nama dari saku bajunya.&lt;br /&gt;Aku menggigit bibir. Masih adakah cinta sejati di dunia ini? Cinta telah menghancurkan aku. Merampas sesuatu hal yang paling hakiki dari hidupku. Dan ketika aku demikian mengantipati cinta, seorang pemuda yang baru saja kukenal memaparkan cinta sesuci melati!&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah menganggap kamu 'murahan'! Kamu layak mendapat pendamping yang baik, yang akan mengawal dan merawatmu kelak sampai di hari tua. Suatu saat, ya suatu saat, kamu akan mendapat lelaki yang baik sebagai suami kamu."&lt;br /&gt;Ya, Tuhan!&lt;br /&gt;Aku sudah tidak mampu membendung airmata. Aku jatuh cinta pada pemuda yang berada di sampingku ini. Dia seperti malaikat beraura putih yang diturunkan dari langit untuk menyesali perbuatan nistaku selama ini!&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, dia menghentikan laju mobilnya tepat ketika tiba di muka rumahku.&lt;br /&gt;"Aku yakin kamu sebenarnya gadis yang baik...."&lt;br /&gt;Aku tak memedulikan pemuda itu lagi. Aku tidak ingin dia melihatku bercucuran airmata. Kubuka pintu mobil, keluar separo berlari. Masuk ke rumah dan mengunci diriku di dalam kamar. Di sana, aku menumpahkan airmata sepuas-puasnya. Tiba-tiba aku merasa sangat nista.&lt;br /&gt;Tetapi sesungguhnya, aku telah jatuh hati pada pemuda itu!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-321674473738790983?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/321674473738790983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/321674473738790983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/321674473738790983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/09/cerita-tiga-bag-2.html' title='Cerita Tiga bag. 2'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9OOzSDPiI/AAAAAAAAASA/x-G2j2zSDDU/s72-c/heart_orange.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-1139363727800393521</id><published>2009-08-30T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T22:00:49.187-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lala Novrinda'/><title type='text'>Cerita Tiga bag. 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9M-H2yBZI/AAAAAAAAAR4/-GNweWSgqDg/s1600-h/heart_orange.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9M-H2yBZI/AAAAAAAAAR4/-GNweWSgqDg/s320/heart_orange.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377101110248080786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maret, 2001&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 03.12 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan pernah mengenal betul siapa dia, sebelum aku tahu betul siapa saja orang yang sudah disakiti hati olehnya.&lt;br /&gt;Perkenalkan, namanya Jusuf.&lt;br /&gt;Laki-laki yang punya kelebihan di sekitar wajah itu punya daya tarik yang kuat sekali. Saking kuatnya, sampai-sampai satu sampai dua saudara sepupu perempuannya sendiri ngantri dipacari sama dia. Benar-benar kuat sekali magnetnya. Dan untungnya dia adalah seorang laki-laki yang sangat beruntung. Dengan track record-nya, orangtuanya nyaris percaya kalau dia adalah seorang anak laki-laki yang baik. Bedanya, bagi mereka, dia adalah anak yang baik-baik.&lt;br /&gt;Bukan tampan. Seperti namanya.&lt;br /&gt;Perkenalkan lagi. Namanya Bulan.&lt;br /&gt;Perempuan yang punya banyak sifat baik itu punya banyak peluang untuk berteman dengan siapa saja dia mau. Apalagi dia punya banyak kebaikan di wajahnya. Belum lagi perangainya yang selalu tersenyum. Perangainya yang terkenal tidak pernah mau terlihat sedih atau kesal oleh teman-teman di sekitarnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perangai yang menyenangkan, bukan?&lt;br /&gt;Selain itu dia adalah seorang artist. Ehem... maksud saya seorang artist dengan artian bule. Yaitu seorang seniman. Dia adalah seorang perempuan yang gigih melakukan apapun dan rajin melakukan riset kecil-kecilan untuk bahan pamerannya sendiri. Kebetulan dia memang ingin menjadi seorang seniwati muda yang punya pameran tunggal di kotanya.&lt;br /&gt;Aku akui, dia memang hebat. Iri lebih tepatnya&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Dia sama sekali tidak punya latar belakang kesenian apa-apa. Benar-benar melatih bakatnya lewat media bernama otodidak.&lt;br /&gt;Iya. O-T-O-D-I-D-A-K.&lt;br /&gt;Hehehe... aku ingin menekankan kata itu agar dia terkesan istimewa.&lt;br /&gt;Selain Bulan, aku juga ingin memperkenalkan seseorang bernama Matahari. Nama yang bagus dan dahsyat bukan? Percaya sajalah. Dia memang seseorang yang dahsyat. Dia adalah seorang perempuan yang berani menunjukkan pada dunia siapa dirinya. Bagaimana ambisiusnya dia. Bagaimana cantiknya dia. Dahsyat! Sampai-sampai ketika dia tahu ada seseorang yang meng-'gali'-nya agar bisa kenal dan lebih dekat dengannya dengan harapan menjadi seorang pacar, dia berani datang langsung ke rumah si secret admirer tadi untuk menanyakan secara langsung tentang kebenarannya. Hehehe.... Dahsyat, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kala Jusuf berkata padaku.&lt;br /&gt;"Hei... aku punya cerita bagus tentang seseorang. Namanya Bulan. Mau aku kenalkan?"&lt;br /&gt;"Mau. Anak mana? Kamu mau bawa dia ke hamparanku? Terima kasih... aku akan sangat senang sekali, Jusuf...," kataku.&lt;br /&gt;"Seseorang yang sudah aku kenal lama. Seseorang yang aku tahu dia akan selalu ada untukku sampai kapan pun. Seseorang yang.... Sudah, ah! Nanti juga kamu tahu!" jawabnya penuh tanda tanya. Seolah-olah akan memberiku sebuah kejutan.&lt;br /&gt;"Oke, aku menunggunya!" kataku, lalu kutinggalkan dia dengan wajah senyum.&lt;br /&gt;Aku tahu benar dia sedang jatuh cinta. Aku cukup kenal banyak sikap laki-laki yang sedang jatuh cinta. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Aku cemburu. Melihat teman laki-lakiku jatuh cinta tiba-tiba.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Dia satu-satunya teman dekat yang aku punya saat itu.&lt;br /&gt;"Iya, aku tahu kamu sedang buru-buru, Jusuf. Tapi tidak cukup butakah kamu memperkenalkanku yang sedang berpakaian compang-camping bau bantal ini ke hadapan permaisurimu, heh?" tanyaku pada Jusuf, yang pagi-pagi benar mendadak menjemputku tanpa pemberitahuan di hari sebelumnya.&lt;br /&gt;"Sudah kamu, ah... buat apa tanya-tanya begitu kalau kamu sendiri yang pamit sama Mama-Papa kamu untuk mau pergi sama aku?" jawabnya cepat dan lagi-lagi tersenyum.&lt;br /&gt;Aku diam sebentar. Memikirkan apakah jawabannya cukup masuk akal buatku. Ternyata memang masuk akal. Tapi tidak kujawab pertanyaannya. Aku hanya manggut-manggut saja. Jujur, semakin cemburu aku.&lt;br /&gt;"Perkenalkan... wahai kedua dari kalian...." kata Jusuf membuka perkenalan di pagi buta itu.&lt;br /&gt;"Hei, aku teman Jusuf," ujarku, menyodorkan telapak tangan kanan.&lt;br /&gt;"Iya, aku Bulan. Sudah sarapan?" tanyanya aneh, tapi manis untuk seorang yang baru berkenalan.&lt;br /&gt;"Terima kasih sudah menanyakan. Tapi sayang sekali belum. Jusuf memaksaku ikut dengannya saat aku masih terlelap di tidur. Kamu benar-benar spesial buatnya," ulasku cepat, dan membalas tersenyum.&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban atas pertanyaan yang bermisi tertentu itu padanya. Namun satu hal yang tidak bisa aku lupakan darinya. Senyum selalu. Ceria selalu.&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, aku berangkat ke Jakarta untuk bekerja di sana.&lt;br /&gt;Aku tidak terlalu mengingatnya dengan betul.&lt;br /&gt;Maksudku Jusuf.&lt;br /&gt;Seorang teman dekat yang sedikit banyak, astaga! Kucintai dia diam-diam dan cidaha (cinta dalam hati).&lt;br /&gt;Oya, aku lupa dan belum cerita. Aku dan dia sebelumnya tidak hanya sekedar menjalani hubungan pertemanan biasa saja. Tepat saat lima tahun hari jadinya dengan si Bulan, diam-diam dia lupa. Walaupun sebenarnya aku tahu, aku hanya diam saja. Sengaja untuk tidak mengingatkan.&lt;br /&gt;Aku ingat, hari itu dia sedang kesal-kesalnya bercerita tentang seseorang bernama Matahari kepadaku. Dia bilang hari itu, dia hanya ingin berdua saja denganku, karena dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri: seseorang bernama Matahari, telah menyakiti hatinya! Matahari menggandeng laki-laki lain di hadapannya. Ternyata diam-diam, Jusuf sudah pernah resmi pacaran dengan seseorang bernama Matahari yang konon belum aku kenal sebelumnya.&lt;br /&gt;Dasar bego! Dia muntahkan semua cerita itu di hadapanku yang sudah terlalu dekat dengan si Bulan ini.&lt;br /&gt;Aku langsung tegang. Dan sontak kaget. Padahal aku tahu betul bagaimana Bulan itu. Bulan yang sudah menyerahkan segala-galanya untuknya itu, adalah benar-benar seseorang yang setia. Bahkan tetap mengabdi pada seorang laki-laki bernama Jusuf. Seorang laki-laki yang aku tahu betul bahwa dia tidaklah setampan dan sebaik namanya, Jusuf.&lt;br /&gt;Hari itu aku sedikit marah dan kesal padanya. Tapi aku pendam. Aku biarkan saja. Aku pikir, selama dia tidak menyakiti hatiku, aku akan biarkan dia menjelajah dan bergerilya menjadi seorang Cassanova muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though deep down inside... I'm kind a desperately in love... desperately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, ah. Aku bosan sama cerita kamu yang itu-itu saja, Jusuf!" seruku, memotong kalimat tidak pentingnya tentang seseorang bernama Matahari.&lt;br /&gt;Jujur saja, sekalipun aku sayang dan jatuh cinta padanya, pada saat aku mengenal betul siapa dan bagaimana Bulan yang sebenarnya... aku juga mulai jatuh cinta. Pada kepribadiannya yang menawan itu.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Bulan rela menerima kembali cinta Jusuf ketika banyak perempuan yang membenci tingkah dan kelakuan Jusuf setelah tiga tahun berturut-turut. Menyaksikan kisah ini, aku... seperti hamba sahaja yang dimabuk asmara.&lt;br /&gt;Dan memang aku dimabuk asmara oleh Jusuf. Setelah Jusuf memberikan kado terindah untukku di hari ulangtahun Matahari.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu kenapa aku tega melakukannya.&lt;br /&gt;Tapi pada suatu hari, Matahari diperkenalkan padaku oleh Jusuf dalam sebuah acara ulangtahun. Matahari sebagai seorang mantan kekasih.&lt;br /&gt;Aku melihat mereka berpelukan sambil menangis.&lt;br /&gt;Dan kemudian, aku yang tidak tahu apa-apa itu, digandeng dan kemudian diajak pergi oleh Jusuf yang usai melepaskan pelukannya dengan Matahari yang terpaksa itu. Aku juga sedikit menangis.&lt;br /&gt;Aku merasakan bagaimana perasaan Jusuf. Dan kemudian, Jusuf memandangku. Menengokkan wajahku ke hadapannya dengan sepasang tangannya yang kekar. Dan mengatakan padaku tegas.&lt;br /&gt;"Hapus airmatamu yang meleleh itu. Aku tahu perasaan menunggumu. Aku tahu ini, Sayang," bisiknya, kemudian mencium bibirku yang bergetar oleh tangis.&lt;br /&gt;Dan kau pasti tahu bagaimana kejadian di hari-hari setelahnya.&lt;br /&gt;Benar sekali.&lt;br /&gt;Sebuah happy ending untukku. Yang sama sekali tidak aku rencanakan.&lt;br /&gt;Tapi saat ini, saat itu semua hanya masa lalu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya seseorang yang nyata untukku saat ini. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, maka aku tahu siapa yang layak berdampingan dengan kita sampai menutup mata! Hm, kukira kamu pun mendamba pendamping yang baik dengan segebung cinta sejati, bukan?&lt;br /&gt;Kabarnya saat ini, Jusuf ditinggal LAGI oleh keduanya.&lt;br /&gt;Bulan dan Matahari tentunya. Setelah mereka melalui bermacam kerikil tajam dalam kisah cinta segitiga mereka.&lt;br /&gt;Bulan akhirnya berhasil berhubungan baik denganku, bahkan hingga saat ini. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota kami, dan menikah dengan sahabat masa kecilnya yang rajin menghiburnya di saat Jusuf meninggalkannya. Sedangkan Matahari menikah dengan calon pilihan Ibunya. Pengusaha real estate ternama di Bali. Dan kemarin berhasil ngobrol panjang lebar denganku melalui telepon, sekedar menyapa dan memberitahukan kabar gembira bahwa saat ini dia sudah dikaruniai dua orang anak yang cantik-cantik.&lt;br /&gt;Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;Kalau saja aku tahu dengan benar siapa Jusuf yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Tapi darinya, aku belajar dengan baik tentang semua ini. Tentang seseorang yang sama sekali tidak peduli terhadap perasaan seseorang yang tulus mencintai.&lt;br /&gt;Tentang bagaimana seharusnya menghargai seseorang yang tulus.&lt;br /&gt;Adalah sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dilakukan, tetapi tidak dilakukannya. Hingga akhirnya merugikan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Jusuf meninggal di sebuah rumah sakit setelah didiagnosis terjangkit virus HIV.&lt;br /&gt;Dan hari ini adalah tepat seratus hari kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Goodbye, Dearest. My Cassanova...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-1139363727800393521?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/1139363727800393521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/cerita-tiga-bag-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/1139363727800393521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/1139363727800393521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/cerita-tiga-bag-1.html' title='Cerita Tiga bag. 1'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sp9M-H2yBZI/AAAAAAAAAR4/-GNweWSgqDg/s72-c/heart_orange.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-725431473017222822</id><published>2009-08-27T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T21:40:20.444-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewi Lestari'/><title type='text'>Pacarku Ada Lima</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpbonuYSI9I/AAAAAAAAARo/onR3TbyD4ew/s1600-h/ilustrasi_c_pacarkuadalima.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 203px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpbonuYSI9I/AAAAAAAAARo/onR3TbyD4ew/s320/ilustrasi_c_pacarkuadalima.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374738974475690962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Merayap pelan di Jalan Katamso, Jakarta, saat jam bubar sekolah merupakan pelatihan observasi yang baik. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, kecepatan lambat memungkinkan kita menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, angkot yang mengulur waktu untuk menelan penumpang sebanyak-banyaknya, pedagang kaki lima yang bersesak memepet jalan aspal, dan manusia... lautan manusia.&lt;br /&gt;Di balik kerumunan atap rumah, menyembul matahari yang membola sempurna. Oranye. Mata saya seketika melengak ke atas, sejenak meninggalkan pemandangan Jalan Katamso yang menguji kesabaran mental. Langit berwarna-warni khas senja. Campur aduk antara kelabu, biru, ungu, merah jambu, jingga. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terukur dan tertakar akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia materi, jasad, partikel, mengundang jiwa kita menjemput tubuh untuk ditumpangi dan kembali mengalami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan mabuk asmara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan situasi yang terus berganti.&lt;br /&gt;Langit senja di jalanan macet ini menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak terganti, yang meski hidup sedang busuk dan menyebalkan, saya tahu kemurnian ini selalu menyertai jiwa saya. Untuk hal-hal inilah jiwa saya tergoda untuk kembali, dan kembali. Atau, minimal, hal-hal ini menjadi jaminan penghiburan jiwa saya selagi menjalani berbagai peran dan ragam drama yang harus dimainkan dalam hidup. Dan inilah daftar tersebut, dalam susunan acak:&lt;br /&gt;Langit senja. Tertawa. Minum air putih. Suara hujan. Bergandengan tangan.&lt;br /&gt;Dalam kelima hal itu, ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak bersuaka. Riak dan gelombang boleh turun dan pasang, pasangan saya boleh berganti, sehat-sakit-susah-senang boleh bergilir ambil posisi, tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan untuk menatap langit senja, untuk tertawa lepas, untuk mengalirkan air putih segar lewat tenggorokan, untuk mendengar derai hujan yang beradu dengan bumi, untuk merasakan hangat kulit manusia lain lewat genggaman. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.&lt;br /&gt;Sungguh saya tergoda berkata, kelima hal itu adalah kekasih saya sesungguhnya. Pacar-pacar gelap tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan kemacetan bubar sekolah di Jalan Katamso yang sempit tak mampu membendung cinta ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-725431473017222822?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/725431473017222822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/pacarku-ada-lima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/725431473017222822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/725431473017222822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/pacarku-ada-lima.html' title='Pacarku Ada Lima'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpbonuYSI9I/AAAAAAAAARo/onR3TbyD4ew/s72-c/ilustrasi_c_pacarkuadalima.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-9165862352279264249</id><published>2009-08-23T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T13:06:28.446-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sara Nindya'/><title type='text'>Love for Mother Earth</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpbnHTfPfxI/AAAAAAAAARg/WL8WvaaiKhg/s1600-h/ibu_pertiwi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpbnHTfPfxI/AAAAAAAAARg/WL8WvaaiKhg/s320/ibu_pertiwi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374737317989678866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah seminggu ini SMA Perwira Nasional mengadakan aksi hijau di lingkungan sekolah. Banyak juga yang mendukung, namun yang tampak cuek dan ogah-ogahan juga tidak kalah jumlahnya.&lt;br /&gt;"Kurang kerjaan." Iitulah pendapat yang keluar dari mulut Wira, ia termasuk ke kelompok yang terkesan tidak peduli dengan aksi go green di sekolahnya.&lt;br /&gt;Ketika jam istirahat dimulai, Litha memilih berkeliling mengingatkan teman-temannya untuk membuang bungkus makanan mereka ke tempat sampah yang sudah disediakan. Ia bahkan menjelaskan untuk membuang sampah ke tong sesuai jenis sampahnya.&lt;br /&gt;Wira sedang asyik mengunyah kripik kentangnya ketika melihat Litha sibuk wira-wiri mengingatkan orang-orang.&lt;br /&gt;"Kenapa sih dia? Sok peduli banget!" cibir Wira di hadapan teman-teman segengnya.&lt;br /&gt;"Tau tuh! Katanya, dia yang ngusulin aksi hijau di sekolah kita," sahut Nando, teman Wira yang juga apatis akan aksi cinta bumi di SMA Perwira Nasional ini.&lt;br /&gt;"Oh ya?" tanya Wira sambil memandang sosok di seberangnya dengan sinis.&lt;br /&gt;"Gue denger dia jomblo lho, Wir. Aneh ya? Padahal Litha cantik banget, kan?" sahut Nando, yang kedengaran nggak nyambung.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Maksud lo apa nih, Nan?" tanya Wira kesal. Ia merasa tersindir, karena sudah hampir lulus SMA masih belum juga mendapatkan seseorang yang spesial di hatinya. Seseorang yang nggak cuma cantik fisiknya tapi juga cantik hatinya. Padahal dia sudah dikenal sebagai cowok yang paling banyak fansnya, sayangnya dari fans yang berjibun itu dia belum juga menemukan yang dicarinya. Cewek-cewek yang mengejarnya kebanyakan hanya tertarik dengan harta dan tampilan fisiknya saja. Ia ingin seseorang yang tidak melihat itu semua dari dirinya, ia ingin seseorang yang bisa membuatnya lebih baik.&lt;br /&gt;Wira nggak pernah mengutarakan kriteria cewek idamannya ini ke siapapun, termasuk Nando sahabatnya sejak kelas satu. Somehow, ia merasa sulit mendapatkan cewek dengan kriteria itu dengan reputasinya sekarang—tukang bikin onar, sering skip pelajaran, hobi nongkrong di kantin, dan selalu skeptis terhadap semua kegiatan sekolah. Sehingga ia memutuskan untuk menyimpan impiannya itu rapat-rapat, entah kapan harus dibuka. Mungkin bila sudah menemukan yang tepat.&lt;br /&gt;Tanpa terasa bel masuk berbunyi. Wira dan teman-temannya memutuskan untuk kembali ke kelas.&lt;br /&gt;"Yuk ah, balik. Pelajarannya Pak Rahmat nih. Gue nggak mau kena skorsing lagi," ajak Wira pada Nando sambil meninggalkan bungkusan bekas kripik kentang dan kaleng Cola-nya di atas meja kantin.&lt;br /&gt;Ketika berbalik, ada yang menepuk bahunya dari belakang. Refleks ia berbalik kembali dan menemukan sosok yang membuat mood-nya nggak enak akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;"Kalo udah selesai makan dan minum, bungkus plastik sama kalengnya tolong dibuang ke tong sampah ya," ujar Litha ramah sembari menyodorkan bungkus kripik kentang dan kaleng Cola yang tadi ditinggalkan begitu saja oleh Wira.&lt;br /&gt;Merasa disulut amarahnya, Wira mengambil bungkus plastik dan kaleng di tangan Litha dengan kasar lalu membuangnya ke tong sampah di dekat kantin.&lt;br /&gt;"Puas?" kata Wira jutek sambil menatap Litha penuh amarah. Berikutnya ia pergi menyusul teman-teman segengnya yang sudah lebih dulu masuk ke kelas.&lt;br /&gt;Litha memiringkan kepalanya tidak mengerti. She's wondering, apa yang sudah diperbuatnya sampai membuat Wira sedemikian marah kepadanya. Seingatnya, Wira memang terkenal sebagai tukang pembuat onar meski anehnya teman-teman ceweknya banyak yang ngefans gara-gara tampang Wira yang good looking. Namun, dia dan Wira tidak pernah bermasalah sebelumnya.&lt;br /&gt;Sang mentari perlahan beranjak ke sisi lain bumi, membuat pemandangan menjadi bersemu jingga dan meninggalkan kesan hangat. Usai main squash bersama ayahnya, Wira yang sedang menikmati segarnya jus jeruk dingin dari kulkas menyambar majalah Bunda yang tergeletak di ruang tengah, majalah yang memuat tentang pola hidup sehat, penyakit populer, info-info kesehatan sampai kondisi bumi saat ini. Entah kenapa Wira tertarik untuk membaca sebuah artikel mengenai Global Warming. Judul artikel itu "Bumi sedang Koma", Wira penasaran mengenai isinya. Menurutnya, mana ada benda mati yang bisa mengalami koma. Jadi ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang dimaksud penulis dengan mencantumkan judul yang tidak rasional menurutnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sore-sore begini sudah menjadi hobi Litha untuk menyirami tanaman-tanaman kesayangannya di belakang rumahnya. Kebetulan ibunya juga hobi merawat tanaman, terutama bunga Anggrek. Sehingga terkadang Litha pun berkebun berdua bersama ibunya, seperti sore hari ini.&lt;br /&gt;Sambil menyirami pot-pot euphorbia, Litha bercerita tentang kejadian di sekolah hari ini. Mengenai temannya yang diperingatkan untuk membuang sampah malah marah-marah dan membuatnya sedikit ketakutan karena tatapan matanya yang tajam.&lt;br /&gt;"Apa kamu yakin nggak pernah membuat temen kamu itu marah sebelumnya?" tanya Ibu sambil menyemprot air ke koleksi Anggreknya yang digantung-gantung di bawah net khusus green house.&lt;br /&gt;"Duh, Ibu. Aku selalu berusaha menghindari konflik dari dia. Dia itu terkenal bad boy di sekolah, Ibu kan tahu aku paling benci bikin masalah. Sebisa mungkin aku menghidari masalah," terang Litha.&lt;br /&gt;"Iya, Ibu ngerti. Tapi usul kamu tentang program go green itu, apa semua setuju? Kamu yakin tidak ada yang merasa kontra dengan usul kamu itu, Lit? Biasanya, setelah sebuah pendapat muncul, pro dan kontra pasti akan mengikuti berikutnya."&lt;br /&gt;Litha pun seperti tersadarkan, selama ini ia mengira usulnya untuk mencanangkan program go green di sekolah bakal mulus-mulus saja. Apalagi ia mendapat persetujuan langsung dari Kepala Sekolah, tanpa mengajukan proposal lewat OSIS terlebih dahulu. Ia menganggap, ini kan program untuk kebaikan, bukan program hura-hura yang cuma menghabiskan duit, pasti banyak yang mendukungnya. Ibu seolah baru saja menunjukkan bahwa beberapa pihak, sekecil apapun jumlahnya, pasti ada yang kontra.&lt;br /&gt;"Tapi... Wira kan paling cuek sama kegiatan sekolah," gumam Litha sambil menerawang.&lt;br /&gt;"Namanya Wira? Cowok ya, Lit?" tanya Ibu dengan raut excited. Litha mengangguk menjawab pertanyaan ibu.&lt;br /&gt;"Mungkin dia naksir kamu, Lit. Cowok kan suka usil kalo lagi naksir cewek," goda Ibu yang langsung membuat pipi Litha bersemu kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya di sekolah, Sang Ketua OSIS, Fahri, tengah sibuk menata pot tanaman yang kini menghiasi teras depan ruang OSIS. Litha yang sedang melintas pun tertarik untuk menikmati pemandangan baru di sekolahnya ini.&lt;br /&gt;"Wah, pemandangan di sini jadi segar nih!" ujar Litha sambil membantu memindahkan pot-pot kecil berisi bunga.&lt;br /&gt;"Iya, saya juga meletakkannya hampir di teras semua ruangan. Masih baru sebagian sih, sisanya datang nanti siang. Kamu mau membantu?" Fahri membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot usai membungkuk menata pot-pot tadi.&lt;br /&gt;"Ya, tentu saja!" ujar Litha bersemangat. Ini kesempatan bisa memandang sang Ketua OSIS dari dekat, diam-diam dia naksir teman sekelasnya ini.&lt;br /&gt;Wira yang baru saja datang, melintas di depan ruang OSIS, di mana Fahri dan Litha sibuk membawa pot-pot tanaman ke depan ruang guru yang ada di sebelah ruang OSIS.&lt;br /&gt;Tak sengaja lengan Wira menyenggol bahu Litha sampai pot bunga yang ada di tangannya terjatuh dan pecah.&lt;br /&gt;"Oops... sori." Spontan Wira minta maaf.&lt;br /&gt;Begitu mendapati Wira yang berdiri di sebelahnya, raut wajahnya langsung berubah menjadi keras.&lt;br /&gt;"Mau kamu sebenarnya apa sih? Saya tau kamu nggak mendukung aksi go green di sekolah ini, tapi nggak perlu bikin kacau dong!" semprot Litha.&lt;br /&gt;Wira bingung harus menjawab apa, karena ia benar-benar tidak sengaja melakukannya. "Gue nggak sengaja tau! Lo jangan asal tuduh ya!" seru Wira akhirnya dan menghambur pergi meninggalkan Litha yang masih kesal akan perbuatannya barusan.&lt;br /&gt;"Udah ngejatuhin, nggak bantuin pula!" Litha ngomel-ngomel sambil membersihkan pecahan pot.&lt;br /&gt;"Sudah, nggak apa-apa, Litha,." kata Fahri sembari membantu Litha.&lt;br /&gt;"Maaf ya, Fahri," balas Litha dengan nada tidak enak hati.&lt;br /&gt;Fahri tersenyum memaklumi.&lt;br /&gt;"Saya dengar pot-pot ini dananya dari kamu pribadi ya?" tanya Litha ketika pot yang pecah selesai dibersihkan. Fahri agak terkejut mendengar pertanyaan Litha.&lt;br /&gt;"Kamu dengar dari mana, Lit?" tanya Fahri tanpa menatap lawan bicaranya. Ia pura-pura merapikan pot di samping kakinya.&lt;br /&gt;"Ya... dari anak-anak. Tapi emang bener ya?" Litha menatap Fahri intense.&lt;br /&gt;Fahri tidak langsung menjawab, ia memutuskan untuk meletakkan pot terakhirnya dulu. "Cuma sedikit rasa terima kasih kepada bumi kok, Lit. Nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu yang udah berani mempelopori aksi go green ini. Kamu hebat banget!"&lt;br /&gt;Pipi Litha bersemu merah dipuji begitu. Dalam hati ia membatin, Fahri nggak cuma cakep, pintar dan populer, ia juga berhati emas. Kalo dibandingin sama Wira sih, bagaikan bumi dan langit. Yah meskipun sama-sama cakep dan populer, tapi Fahri jelas punya nilai plus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini akan diadakan Green Day, dimana semua warga sekolah diwajibkan untuk ikut kerja bakti membersihkan sekolah dan menanam beberapa pohon di halaman sekolah yang sebelumnya gersang.&lt;br /&gt;Litha tampak lebih bersemangat hari ini, mata bulatnya berbinar-binar indah, memancarkan kecantikannya. Ia tampak sibuk menanam tanaman hias di pot besar di teras depan kelasnya bersama beberapa teman sekelasnya.&lt;br /&gt;"Litha," tiba-tiba ada yang memanggilnya.&lt;br /&gt;"Ya?" ujar Litha sembari berdiri dari posisi jongkoknya. Ketika melihat sosok yang berdiri di depannya, her face's turning into a frown. Ia mengira yang memanggilnya tadi adalah Fahri. Namun nyatanya yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini.&lt;br /&gt;"Gue emang nggak bisa beli pot-pot tanaman buat menghias sekolah kayak Fahri," ujar Wira dengan raut serius.&lt;br /&gt;Litha yang tadinya pengen langsung nyemprot, berpikir dua kali untuk benar-benar melakukannya.&lt;br /&gt;"Tapi gue punya ini buat elo, Lit. Maafin gue ya?" Wira menyodorkan sebuah pot bunga kepada Litha. "Ini sebagai ganti pot yang udah gue pecahin kemarin."&lt;br /&gt;Litha menerima pot bunga itu ragu, ia masih tidak percaya Wira berubah 180 derajat begini.&lt;br /&gt;"Well, thanks." kata Litha sambil tersenyum, menimbulkan gejolak aneh di perut lawan bicaranya.&lt;br /&gt;"Tapi ini bukan buat saya, ini buat bumi. Kamu cinta bumi kan?" tanya Litha di luar dugaan. Wira sempat nggak ngeh dengan maksud perkataan Litha, namun kemudian ia tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;"Iya, gue cinta bumi," kata Wira akhirnya, di mana ada elo di dalamnya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Litha menarik tangan Wira untuk mengikutinya mengambil pot-pot berukuran agak besar di suatu sudut di depan kelasnya. Ia minta Wira membantunya mengangkat pot-pot itu bersamanya, karena ia tak kuat mengangkatnya sendirian. Wira pun menyanggupi permintaan Litha.&lt;br /&gt;Somehow Wira merasa inilah saatnya membuka kembali impiannya yang sudah ia pendam rapat-rapat itu.&lt;br /&gt;I think I found her, batin Wira.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-9165862352279264249?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/9165862352279264249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/love-for-mother-earth.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/9165862352279264249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/9165862352279264249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/love-for-mother-earth.html' title='Love for Mother Earth'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpbnHTfPfxI/AAAAAAAAARg/WL8WvaaiKhg/s72-c/ibu_pertiwi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-2325230271481825416</id><published>2009-08-20T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T13:00:32.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sara Nindya'/><title type='text'>30 Years, It's Just Too Early</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpblukGfJVI/AAAAAAAAARY/-ZHsVXVPCtY/s1600-h/early.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 319px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpblukGfJVI/AAAAAAAAARY/-ZHsVXVPCtY/s320/early.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374735793440892242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Diperkirakan 30 tahun dari sekarang, bumi dikhawatirkan akan mengalami kehancuran."&lt;br /&gt;Begitulah kutipan kalimat dalam sebuah artikel suratkabar yang dibaca Kania. Ditutupnya koran yang ia pegang kemudian ia mengkalkulasikan umurnya saat ini dengan perkiraan waktu bumi akan hancur.&lt;br /&gt;"Berarti waktu aku umur 47 tahun dong! Haaaaaaaaahhh?!" jerit Kania histeris, membuat Bunda yang melintas di depannya terkejut melihat putrinya menjerit heboh.&lt;br /&gt;"Ada apa, Ka?" tanya Bunda bingung.&lt;br /&gt;Kania teringat langkah pencegahan global warming dari artikel yang baru dibacanya. "Mulai besok aku mau ke sekolah naik sepeda aja, Bun," kata Kania.&lt;br /&gt;"Kan sepedanya dibawa Mas Bima ke Bandung," timpal Bunda.&lt;br /&gt;"Bukan sepeda motor, Bun. Tapi sepeda pancal yang udah lama nggak pernah dipake itu," terang Kania.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Hah?" Bunda terkejut dengan penjelasan Kania yang terdengar agak nyeleneh itu. "Sekolahmu kan lumayan jauh, Ka. Apa nanti kamu nggak terlambat datangnya?" tanya Bunda, masih tidak mengerti maksud di balik rencana putrinya itu.&lt;br /&gt;"Aku kan bisa berangkat lebih pagi, sekalian olahraga, Bun. Lagipula, aku pernah baca di koran, Pemkot aja udah mencanangkan Bike to Work. Kenapa aku nggak Bike to School? Demi kelangsungan bumi kita tercinta, Bunda." Kania mengakhiri perkataannya sambil tersenyum, Bunda pun dibuat amazed akan jawaban Kania. Beliau kagum putrinya concern juga masalah kondisi bumi yang semakin gawat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya di sekolah.&lt;br /&gt;Kania sudah menjadi pusat perhatian sejak ia mulai mengayuh sepedanya melewati pintu gerbang sekolahnya, bahkan satpam penjaga gerbang saja sampai tercengang.&lt;br /&gt;"Kania?" sebuah suara menyapa Kania yang sedang mengunci sepeda pancalnya di tempat parkir motor.&lt;br /&gt;"Hai, Lintang," sapa Kania, degup jantungnya mendadak semakin cepat. Diam-diam ia naksir sang Ketua Kelas di hadapannya ini.&lt;br /&gt;"Kamu naik sepeda ke sekolah?" tanya Lintang sambil melirik sepeda yang masih tampak mulus di samping Kania.&lt;br /&gt;Kania mengangguk. "Aku nggak mau mati muda soalnya," jawab Kania sambil berlalu, meninggalkan Lintang yang masih belum menangkap maksud jawaban Kania.&lt;br /&gt;Lintang pun mengejar Kania yang melenggang masuk ke dalam sekolah. "Maksud kamu? Kamu nggak sedang mengidap penyakit parah, kan?" tanya Lintang setengah khawatir.&lt;br /&gt;"Nggak kok, Lintang. Ini cuma supaya bumi kita nggak cepat hancur, aku baca di koran prediksinya 30 tahun dari sekarang. Masih banyak yang mau aku lakukan, masih pengen keliling dunia. Duh, pokoknya mati umur 47 masih terlalu muda!" Kania berseru histeris.&lt;br /&gt;Lintang pun dibuat terdiam akan jawaban Kania yang polos itu. Selama ini ia tidak pernah notice hal-hal tentang global warming meski media juga tengah gencar menyiarkan. Tapi, penjelesan sederhana dari cewek yang selama ini ia kagumi ini ternyata mampu menyadarkannya tentang seberapa gawat keadaan bumi sekarang.&lt;br /&gt;30 tahun? Gue juga masih pengen hidup di umur 47, batin Lintang.&lt;br /&gt;"Ka, kamu kan Ketua Osis. Kenapa nggak bikin program aja buat menyelamatkan bumi? Kalau nggak salah kan Pemkot bikin Bike to Work, kita bikin aja Bike to School." Lintang mengusulkan.&lt;br /&gt;Gosh, Lintang. Kenapa kita bisa berpikiran sama sih? batin Kania.&lt;br /&gt;"Boleh. I've been thinking about that actually. Makasih ya usulnya," kata Kania sambil tersenyum manis. Membuat jantung Lintang berdebar kencang saat melihatnya.&lt;br /&gt;"Ka, aku denger kamu naik sepeda ke sekolah," todong Bonie, salah satu sahabat Kania.&lt;br /&gt;Bel istirahat berdering, para siswa SMA Perwira Nasional berhamburan menuju kantin sekolah yang mungil tapi punya tempat makan favorit siswa yang nyaman karena outdoor di area taman. Tidak terkecuali Kania dan ketiga sahabatnya.&lt;br /&gt;"Iya, emang kenapa?" tanya Kania sambil menyeruput es jeruk nipis kesukaannya kala matahari sedang terik-teriknya seperti sekarang.&lt;br /&gt;"Apa kata anak-anak entar, Ka. Masa Ketua Osis naik sepeda? Emang bokap udah nggak mau nganter lagi?" tanya Prita yang selalu mementingkan image di depan orang lain.&lt;br /&gt;"Kalo gue sih cuek aja, Ka. Bodo amat apa kata orang! Di Jakarta, orang yang nekat kayak elo jarang banget. Terusin aja, Ka. Besok gue juga naik sepeda deh ke sekolah." Berbeda dengan pendapat kedua temannya yang lain, Hera yang asli Jakarta malah mendukung Kania.&lt;br /&gt;Kania pun menceritakan tentang artikel yang dibacanya kemarin. "Kalian nggak harus ngikutin caraku kok, kalian boleh ke sekolah naik apa aja sesuka kalian. Tapi usahain jangan bikin polusi semakin meningkat," lanjut Kania.&lt;br /&gt;"Oh gitu ya, Ka. Kemarin aku juga baca artikel kayak gitu juga sih. Ngeri emang ngebayangin kalo bumi kita hancur dalam waktu dekat," sahut Bonie.&lt;br /&gt;"Berarti kita mati muda dong?! NO...!" seru Prita heboh. "Aku kan masih pengen jadi bintang film di Hollywood. Kalo 30 tahun lagi bumi udah hancur, aku nggak bisa ke Hollywood dong!"&lt;br /&gt;"Ya udah, besok lu berangkat ke sekolah naik bemo aja, Prit," kata Hera asal, membuahkan tawa yang mendengarnya. Naik angkutan umum adalah hal yang paling nggak mungkin Prita lakukan. Pikiran-pikiran parno mengenai bemo pun langsung menyergapnya. Prita pun memandang Kania, minta pertolongan.&lt;br /&gt;"Kalo nggak mau naik bemo ya naik sepeda aja, Prit," usul Kania yang malah membuahkan tawa yang semakin keras dari teman-temannya. Membayangkan Prita mengayuh sepeda bakal sama seperti membayangkan betapa lucunya seorang putri manja yang naik sepeda pancal ke sekolah.&lt;br /&gt;"Atau kamu bisa bareng sama aku ke sekolah, Prit. Emang sih mobilku nggak senyaman Mercedez-mu. Apalagi aku barengan sama dua adikku yang masih SD, tapi masih ada tempat kosong kalau kamu mau nebeng. Gimana?" Bonie memberi usul yang kali ini masih agak masuk akal.&lt;br /&gt;"Iya, Prit. Rumah kalian kan sekomplek, barengan aja kan lebih efisien," timpal Kania.&lt;br /&gt;Prita pun mengiyakan. "Ini semua demi mimpiku ke Hollywood," kata Prita menerawang. Kania, Bonie dan Hera pun tertawa terbahak melihat tingkah temannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya di sekolah.&lt;br /&gt;Ketika sedang antri untuk memarkirkan sepedanya, Kania dibarengi seorang cowok yang juga naik sepeda pancal ke sekolah. Saat menoleh ke samping, ternyata cowok itu adalah Lintang.&lt;br /&gt;"Lintang? Kamu...." tanya Kania takjub, tak menyangka Lintang yang tampak berwibawa ini akan mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;"Aku juga nggak mau mati muda. Still have lots of things to do," jawab Lintang sembari tersenyum.&lt;br /&gt;Kania dan Lintang pun memarkirkan sepedanya bersebelahan, hal itu tanpa mereka sadari menarik perhatian Hera yang tengah melintas usai memarkirkan sepedanya tepat di depan mereka.&lt;br /&gt;"Duh, romatis bener! Sepedanya sampe diparkir sebelahan gitu," goda Hera sambil melenggang pergi.&lt;br /&gt;Kania pun jadi blushing mendengarnya, ia lihat Lintang juga tampak bingung menyembunyikan wajahnya yang merona.&lt;br /&gt;30 years is just too early for God's sake!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-2325230271481825416?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/2325230271481825416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/30-years-its-just-too-early.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2325230271481825416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2325230271481825416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/30-years-its-just-too-early.html' title='30 Years, It&apos;s Just Too Early'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SpblukGfJVI/AAAAAAAAARY/-ZHsVXVPCtY/s72-c/early.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-5197914007068942902</id><published>2009-08-16T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T00:00:02.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ganda Pekasih'/><title type='text'>Derai Buih Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3d5eC4EBI/AAAAAAAAAPM/DN7V4BeGu94/s1600-h/hati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3d5eC4EBI/AAAAAAAAAPM/DN7V4BeGu94/s320/hati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367690310282907666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau Ivan sudah berada di dalam Mercy E Class 230 New Eyes-nya yang biru metalik—berseliweran di jalan-jalan utama Jakarta, orang-orang seperti ingin segera melihat siapa yang duduk di belakang kemudinya. Tapi Ivan tak ingin mereka tahu. Ivan malah takut, karena Ivan nggak suka pamer.&lt;br /&gt;Di kesejukan AC mobilnya yang nyaman, dengan sound-system bersuara merdu yang menendang lembut telinganya, Ivan malah kadang tersiksa melihat ibu-ibu mengejar-ngejar bis kota, bapak-bapak tua yang berpanas-panasan di pinggir jalan, apalagi bila melihat anak-anak sekolah yang tak diangkut oleh metromini atau bis umum lainnya karena mereka cuma membayar murah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ivan wara-wiri sepanjang hari. Pulang sekolah, biasanya Ivan les di LIA. Ivan nggak mau jadi orang bodoh, meskipun semua orang mau berteman padanya. Ivan juga nggak pernah mau memanfaatkan mobilnya untuk nyari cewek, padahal kalau Ivan mau, cewek banyak antri untuk mendapatkannya. Ivan juga merasa dia nggak pernah punya musuh, kecuali mereka yang iri melihat segala fasilitas yang dia miliki.&lt;br /&gt;Setiap hari, bila Ivan pulang sekolah, dia suka menggratiskan mobilnya ke anak-anak cewek yang bingung pulang karena nggak dapat mobil angkutan. Terkadang Ivan mengantarkan salah seorang dari mereka sampai ke rumahnya.&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, Ivan juga terpaksa mengantarkan Nita ke rumahnya.&lt;br /&gt;"Nita, apa Roni nggak marah kalau aku nganterin kamu?" tanya Ivan, lalu tersenyum kepada semua teman-teman Nita yang juga ikut nebeng mobilnya.&lt;br /&gt;"Marah? Emangnya Roni itu siapa?" ketus Nita.&lt;br /&gt;"Pacar kamu, kan?" balas Ivan.&lt;br /&gt;Nita memonyongkan bibirnya beberapa senti. "Enak aja, aku nggak ada apa-apanya dengan cowok itu. Ya kan, Mil, Os?" tanya Nita ke temannya.&lt;br /&gt;Mila dan Osi langsung mengangguk tanda setuju.&lt;br /&gt;Nita kemudian memandang belakang kepala Ivan yang sedang asyik melihat ke depan. Seandainya Roni adalah Ivan, pikir Nita dalam hati. Ah... pasti indah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua kali Ivan mengantar Nita, Mila dan Osi pulang sekolah. Ivan sama sekali nggak peduli kalau ada berpasang-pasang mata yang sedang cemburu bila melihatnya juga mengantarkan Nita. Sampai yang ketiga kali, Ivan melihat ada Roni di teras depan rumah Nita.&lt;br /&gt;"Wah, asyik. Sudah ada yang nungguin," ujar Ivan saat mobilnya memasuki pekarangan rumah Nita.&lt;br /&gt;"Siapa?" tanya Nita kaget.&lt;br /&gt;"Alaaah, pura-pura nggak tahu? Siapa lagi kalau bukan Roni," jelas Ivan.&lt;br /&gt;Nita tersentak kaget, selama ini dia tahu kalau Roni naksir padanya, tapi main ke rumah?! Roni belum pernah. Baru kali ini! Nekat juga dia, pikir Nita.&lt;br /&gt;"Oke, Nita. Aku langsung aja, ya?" ujar Ivan saat Nita turun dari mobil.&lt;br /&gt;"Nggak minum dulu, Van?" tawar Nita.&lt;br /&gt;"Nggak usah deh, nggak enak sama Roni," balas Ivan, lalu menjalankan New Eyes-nya kembali.&lt;br /&gt;Dengan perasaan sebal, Nita masuk ke rumahnya, sama sekali dia nggak memberi senyum kepada Roni.&lt;br /&gt;"Nita," hadang Roni dengan suara perlahan.&lt;br /&gt;"Nita menoleh. "Ya...?"&lt;br /&gt;"Sori, aku kemari nggak bilang-bilang...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bel tanda istirahat berdentang nyaring. Ivan segera keluar dari kelasnya, menuju kantin. Untuk menuju kantin, Ivan harus melewati kelasnya Roni. Saat Ivan lewat, Ivan mendengar banyak ucapan miris yang ditujukan pada dirinya.&lt;br /&gt;"Ron, itu Ivan! Katanya kamu mau ngadepin dia!"&lt;br /&gt;"Hei, Ivan? Cowok itu bawa mobil mewah ke sekolah kan cuma mau ngegaet cewek orang!"&lt;br /&gt;"Sudahlah, Ron! Kamu ngalah aja, mana mungkin kamu bisa menang sama anak yang tongkrongannya Mercy!"&lt;br /&gt;"Iya, Ron. Masih banyak kok, cewek di sekolah ini yang mau menerima cinta kamu. Apalagi kamu nggak jelek-jelek banget. Dibandingin Ivan, kamu masih lebih cakep, Ron!"&lt;br /&gt;"Huuu... yang naksir Si Nita kan, Roni? Kok dia yang gebet sih?!"&lt;br /&gt;Ivan cuek saja dengan suara-suara nan nyelekit itu. Dipercepatnya langkah kakinya menuju kantin.&lt;br /&gt;Sampai di kantin, Ivan segera memesan jus jeruk kesukaannya. Mereka salah duga, pikir Ivan. Aku mengantarkan siapa saja yang merasa perlu aku antar, batin Ivan lagi. Sejak aku dibelikan mobil sama Papi, aku nggak manfaatin mobil itu untuk nyari cewek, untuk nyombong, apalagi untuk pamer. Sebelum aku dibelikan mobil, Papi pernah bilang:&lt;br /&gt;"Van, nggak usah terlalu sering bawa Mercy, karena nggak semua temanmu memiliki fasilitas seperti kamu. Papi percaya, kamu baik kepada siapa saja, rendah hati. Jangan karena ada mobil itu, kamu kehilangan banyak teman. Justru dengan fasilitas itu semua, kamu bisa menolong teman-temanmu."&lt;br /&gt;Ivan masih ingat dengan jelas kata-kata Papinya itu, dan banyak lagi petuah lain yang disampaikan Papi untuk kebaikan Ivan.&lt;br /&gt;Ivan tersentak kaget, saat Roni tiba-tiba sudah berada di depan mejanya. Ivan tersenyum. "Hai, Ron. Minum, yuk?" ajaknya.&lt;br /&gt;Roni tersenyum sinis. "Hebat ya, kamu! Selalu mengantarkan Nita pulang sekolah. Kamu tahu nggak sih Van, kalau Nita itu kan cewek aku!"&lt;br /&gt;Ivan tersenyum lagi. "Aku tahu. Bahkan sejak lama aku tahu kalau kamu punya hubungan yang serius sama Nita. Tapi niat aku kan baik, daripada mereka kemalaman di jalanan, mending aku antar pakai mobilku. Kan, aman."&lt;br /&gt;"Tapi... kamu kelihatan akrab banget sama Nita. Aku nggak setuju, dan nggak suka kalau kamu naksir sama Nita. Kamu sudah cukup puas sebenarnya, karena kamu telah mengalahkan popularitas siapa aja di sekolah ini. Tapi Nita yang biasa-biasa aja itu kenapa juga kamu ambil?! Masih banyak kan, cewek yang lebih segala-galanya di sini selain Nita? Tolonglah aku, Van. Aku nggak bisa kehilangan cewek itu."&lt;br /&gt;Ivan tertawa.&lt;br /&gt;"Siapa juga yang ngambil cewek kamu itu? Aku nggak bakalan pacaran sama Nita, Ron. Walaupun aku masih menjomblo, tapi aku nggak bakal jadian sama Nita. Nita bukan tipe cewek idaman aku, Ron. Percayalah omongan aku!" tegas Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan cerita Ivan, Nita tesenyum kecil sambil membayangkan wajah Roni, yang kata teman-temannya, lebih cakep ketimbang Ivan. Tapi jujur Nita lebih senang sama Ivan. Soalnya, Ivan itu baik hati!&lt;br /&gt;Tapi kalau mengingat apa yang dikatakan Ivan bahwa dia nggak akan mengambil Nita dari harapan Roni, perasaan Nita jadi sedih dan kosong!&lt;br /&gt;"Roni memang sudah lebih setahun naksir aku, Van. Tapi nggak aku balas, soalnya aku nggak cinta sama dia," desah Nita. "Ke rumah aku aja dia baru sekali itu, waktu seminggu yang lalu ketemu kamu pas nganterin aku pulang. Dia sangat takut kamu jadian sama aku."&lt;br /&gt;"Kalau begitu, Roni bertepuk sebelah tangan dong?" Ivan melucu.&lt;br /&gt;Nita melayangkan pandangannya ke wajah yang menyembulkan mimik riang tersebut. "Iya...."&lt;br /&gt;"Kasihan Roni, dong. Padahal, udah lama banget usahanya ngejar kamu sampai...." desah Ivan dengan kalimat tak rampung.&lt;br /&gt;Nita menanggapi. "Ya, biarin aja, Van. Cowok kan gampang nyari cewek."&lt;br /&gt;"Oke deh. Kalau begitu aku pulang dulu, ya?" Ivan bersiap-siap naik ke Mercy-nya.&lt;br /&gt;"Van, nggak nganterin aku?!" Nita setengah berteriak.&lt;br /&gt;Ivan memandang sekejap, lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Nita sendirian di lapangan parkir.&lt;br /&gt;Biarlah Roni terus berjuang mendapatkan Nita, pikir Ivan. Aku nggak akan mengganggunya, dan aku nggak akan mengantar Nita lagi.&lt;br /&gt;Nita hanya bisa memandang mobil keren Ivan yang berlalu. Hari pun mulai menggelap. Sudah petang menjelang malam.&lt;br /&gt;Ah, Ivan... walaupun kamu nggak sekeren Roni, aku tetap cinta sama kamu! Bukan karena kamu pakai Mercy. Bukan! Tanpa Mercy itu pun aku cinta sama kamu. Sedari dulu. Jauh, jauh sebelum Roni mengejarku!&lt;br /&gt;Karena sedari dulu aku memang telah jatuh hati padamu!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-5197914007068942902?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/5197914007068942902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/derai-buih-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5197914007068942902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/5197914007068942902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/derai-buih-hati.html' title='Derai Buih Hati'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3d5eC4EBI/AAAAAAAAAPM/DN7V4BeGu94/s72-c/hati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-4988489951835131142</id><published>2009-08-13T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T00:00:10.994-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ganda Pekasih'/><title type='text'>Carikan Aku Perkutut Berjambul Bunga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3cGdVCgmI/AAAAAAAAAPE/wJXnUPPe1b4/s1600-h/merpati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 258px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3cGdVCgmI/AAAAAAAAAPE/wJXnUPPe1b4/s320/merpati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367688334405698146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mulanya aku begitu bersemangat untuk apel malam Minggu ini ke rumah Lili, tapi kalau mengingat apa yang telah terjadi malam Minggu kemarin, aku merasa sedikit ragu. Malah setelah kupikir-pikir dengan cermat, kelihatannya Lili nggak naksir padaku.&lt;br /&gt;Untunglah malam Minggu kemarin itu, nggak kulihat seorang pun yang juga apel menemui Lili. Kesimpulanku, dia memang belum punya cowok, seperti yang dikatakannya Sabtu pagi sebelum apelku yang pertama.&lt;br /&gt;"Li, aku mau main ke rumah nanti malam," kataku berani.&lt;br /&gt;"Main aja," jawab Lili dengan ceria seperti biasa.&lt;br /&gt;"Udah ada yang ngapelin belum?" kejarku&lt;br /&gt;"Kalau udah ada yang ngapelin, emangnya kenapa?" Lili balik nanya.&lt;br /&gt;"Hm...." Aku tersenyum. "Kamu nggak ke mana-mana kan, nanti malam?" kejarku semakin bersemangat.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak ke mana-mana, emangnya kenapa?" Malah bertanya, dan tersenyum kemudian sambil terus berjalan meninggalkan halaman sekolah.&lt;br /&gt;"Aku serius nih, Li...."&lt;br /&gt;"Emangnya aku nggak serius?"&lt;br /&gt;"Oke, kalau begitu kamu ngizinin aku apel dong?"&lt;br /&gt;"Apel aja," katanya lagi lantas tertawa, seolah ingin terus membuatku penasaran.&lt;br /&gt;Setelah berpisah di halte dan kami naik metromini masing-masing, aku sudah memantapkan tekad, malam Minggu ini adalah apelku yang pertama ke rumah Lili. Ya, setelah enam bulan lebih aku terus berusaha mengenalnya. Kini tibalah saatnya semua mimpi-mimpiku menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi, begitu aku dipersilakan masuk ke rumahnya, aku dibawanya berkeliling halaman depan dan belakang rumahnya yang penuh dengan kandang-kandang burung berbagai jenis.&lt;br /&gt;"Kami sekeluarga pencinta burung, terutama Bokap. Burung apa saja ada di sini. Ada kepondang, nuri, puyuh, merak, sampai ayam hutan dan anak burung unta. Eh, kamarin Bokap sedih banget, burung beonya yang dari pulau Nias mati. Sampai sekarang belum ada gantinya," jelas Lili tanpa kuminta.&lt;br /&gt;Aku manggut-manggut penuh minat mendengarkan cerita Lili.&lt;br /&gt;"Nah, ini nih, Den. Ini burung garuda, burung yang sangat langka. Banyak legenda menyertai kisahnya. Zaman dahulu kala... ah, panjang kalau diceritain. Pokoknya, dia sangat perkasa sehingga menjadi lambang negara kita."&lt;br /&gt;Aku kembali mengangguk, lalu menoleh ke kandang besar yang berisi berbagai burung kecil yang bulunya berwarna-warni.&lt;br /&gt;"Ini burung kakatua jambul kuning, atau cacatua suephurea. Nah, ini nih. Ini jalak Bali, sudah hampir punah. Di hutan lindung yang di Bali aja ditaksir tinggal limapuluh ekor. Di luar Bali ada sekitar sepuluh pasang. Sepasang ada di tangan Bokap. Eh, Bokap termasuk kolektor burung yang beken itu lho, Den."&lt;br /&gt;Aku kembali mengangguk, dan menatap berkeliling halaman rumah Lili yang besar dan luas serta asri, banyak tanaman serta pepohonan.&lt;br /&gt;Akhirnya kami sampai di pinggir kolam renang yang nggak terlalu besar. Beberapa ekor burung tampak mengantuk. Melihatku tertarik, Lili langsung nyerocos. "Ini burung elang jawa, atau circus aeruginoseus. Sudah hampir punah dan sulit berkembang biak."&lt;br /&gt;Itulah sekelumit kejadian malam Minggu kemarin, selama hampir dua jam Lili nggak menyinggung masalah lain, kecuali burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mengambil keputusan kembali apel ke rumah Lili, meskipun aku akan mndengar celotehnya tentang jenis-jenis burung serta legenda yang menyertai kisahnya, tapi menurutku, barangkali itulah adalah bagian dari kisah cintaku dengan Lili.&lt;br /&gt;Aku sampai di rumah Lili, beberapa orang sedang asyik memandikan anak burung unta, beberapa orang menyemprotkan antihama di samping rumah. Sedangkan Lili kulihat tengah membaca di teras. Melihat kehadiranku, dia langsung bergegas menyambutku. Setelah dekat, kulihat sampul buku di tangannya bergambar burung. Lagi-lagi burung!&lt;br /&gt;Seperti Minggu kemarin, Lili kembali duduk di dekat sebuah kandang burung sebesar kamar Mbok Iyah, pembantu di rumahku.&lt;br /&gt;"Dulu perkutut ini cuma beberapa ekor lho, Den. Karena pemeliharaannya benar, dia berkembang biak jadi banyak begini. Ada tigapuluh ekor, kali. Belum lagi yang dikasih Bokap ke teman-teman kantornya."&lt;br /&gt;"Perkutut bangkok, ya?"&lt;br /&gt;"Iya. Kok kamu tahu?" tanya Lili sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Cuma pernah dengar aja."&lt;br /&gt;"Eh, kamu punya burung nggak di rumah?"&lt;br /&gt;Aku menggeleng. "Prinsipku, daripada seribu ekor burung di pohon, lebih baik satu di tangan."&lt;br /&gt;"Maksudnya?" tanya Lili penarasan.&lt;br /&gt;"Itu pribahasa Jawa, yang artinya...."&lt;br /&gt;"Setiap cowok emang punya satu burung," Lili tergelak setelah dia menjawabi sendiri kalimatku yang belum rampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini malam Minggu ketiga aku apel ke rumah Lili. Tadi pagi di sekolah, dengan susah payah aku menemui Lili di kelasnya. Kubilang padanya, nanti malam aku nggak mau mendengarkan cerita tentang burung lagi. Aku ingin soal-soal yang lebih pribadi, kataku pada Lili.&lt;br /&gt;Lili cuma menjawab enteng sambil tersenyum. "Oke, aku tunggu. Emangnya aku takut?"&lt;br /&gt;Nah, sekarang aku sudah duduk di teras rumah Lili. Cewek itu duduk manis di hadapanku.&lt;br /&gt;"Seperti yang kukatakan pagi tadi, aku ingin kamu tahu bahwa aku...?"&lt;br /&gt;Kulihat Lili tersenyum mendengar ucapanku yang terus terang.&lt;br /&gt;"Aku mengerti, Den. Tapi ada syaratnya. Kalau kamu bisa memberiku seekor perkutut berjambul bunga maka... aku bersedia jadi...."&lt;br /&gt;"Perkutut berjambul bunga?!"&lt;br /&gt;"Iya, burung itu susah banget nyarinya. Siapa tahu kamu bisa mendapatkannya. Dan kata teman-teman Bokap yang suka perkutut, burung itu bisa membawa keberuntungan, tapi juga sebaliknya."&lt;br /&gt;"Mahal nggak burungnya?"&lt;br /&gt;"Ya, mahal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih apel seperti biasa ke rumah Lili, walaupun aku belum mendapatkan burung yang dimintanya. Beberapa pasar burung sudah kudatangi, tapi jawab penjual burung, burung itu sudah lama tak dijual orang. Kalau pun ada, harganya bisa mencapai lima jutaan. Dengan sedih dan tersinggung, hal itu kuceritakan pada Lili. Lili yang sudah tahu seluk beluk burung, tertawa penuh kemenangan. Perasaanku semakin jelas berkata, Lili tak mencintaiku. Dia lebih mencintai burung-burungnya. Lantas kenapa aku mesti apel terus? Atau ini semcam ujian untukku? Agar aku berusaha terus? Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku melihat seekor burung perkutut yang sangat indah di pohon cemara depan rumah. Burung itu memiliki jambul yang aneh di atas kepalanya. Hm, pasti punya orang yang terlepas. Atau, jangan-jangan sengaja dikirim malaikat untukku? Tanpa pikir panjang, aku mulai mencari akal untuk menangkap burung itu.&lt;br /&gt;Aku segera membangunkan Pak Toyip, tukang kebun kami. Melihat burung itu, Pak Toyip sendiri senang bukan main. Aku segera disuruhnya naik ke pagar halaman. Baru saja aku naik pagar, eh burung perkutut yang memiliki jambul seperti bunga itu, malah turun ke halaman garasi.&lt;br /&gt;"Hati-hati," ujar Pak Toyip, takut burung yang cantik dan anggun itu pergi.&lt;br /&gt;Aku segera turun dari pagar halaman, pelan-pelan kudekati burung itu hingga dekat sekali. Tapi begitu hendak kucekal, dia kembali terbang. Kali ini dia hinggap di dahan bougenvil yang rendah. Aku pun berjingkat pelan-pelan tanpa menimbulkan suara. Bahkan napasku pun tak boleh terdengar. Aku benar-benar serius. Setelah dekat, kembali tangan kananku beraksi untuk meringkus perkutut yang indah itu, tapi hanya ekornya yang terasa sedikit bersentuhan dengan tanganku. Selanjutnya burung itu hinggap di kabel telepon. Beberapa detik kemudian, kulihat burung itu melesat tinggi ke arah barat.&lt;br /&gt;"Pak Toyip! Pak Toyip!" teriakku kecewa. Aku segera berlari ke jalan raya. "Yah, gimana nih, Pak Toyip?! Pak Toyip sih, nggak punya akal untuk menjerat burung itu," ujarku kesal.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasakan ada yang mengguncang tubuhku. Ya, ampun! Ternyata aku bermimpi.&lt;br /&gt;"Kenapa kamu, Den? Emangnya Pak Toyip sudah pulang?" tanya Mama yang mengguncang tubuhku tadi. Aku tak segera menjawab, kulihat weker di meja belajarku. Pukul dua dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pagi di sekolah, aku segera menemui Lili di kelasnya. Segera kutarik lengannya sambil berjalan keluar kelas. Kuceritakan mimpiku tadi malam.&lt;br /&gt;"Ya ampun, Den! Kamu beruntung sekali. Burung perkutut kayak gitu suka menjadi petunjuk bagi orang yang bakalan dapat jodoh atau dapat pacar yang setia. Aku aja pemerhati burung, nggak pernah mimpiin itu."&lt;br /&gt;"Tapi, Li. Ketika mau kutangkap, dia terus terbang?"&lt;br /&gt;Lili tersenyum. "Itu tandanya, cinta yang hendak kamu raih, nggak kesampaian," ujarnya tanpa perasaan apa-apa.&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata itu, aku lantas terdiam. "Seandainya dia bisa kutangkap?" gumamku kemudian.&lt;br /&gt;Lili mendengar gumamamku. Dia menanggapi. "Kamu bakalan dapat pacar yang baik dan setia."&lt;br /&gt;"Aku kurang percaya," ujarku tegas sambil geleng kepala.&lt;br /&gt;"Aku juga kurang percaya. Aku kan tahunya juga dari Bokap," ujar Lili, kemudian masuk ke kelasnya, meninggalkan aku sendirian. Dari dalam kulihat dia tersenyum sambil melambaikan tangan.&lt;br /&gt;Sukar dipercaya kalau burung perkutut yang punya jambul mirip bunga itu berbaik hati datang mengabari nasibku.&lt;br /&gt;Ah... rasanya aku memang nggak bisa meraih Lili.&lt;br /&gt;Antara percaya dan nggak, aku menyadari, Lili sama seperti perkutut itu. Nggak bisa kuraih.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-4988489951835131142?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/4988489951835131142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/carikan-aku-perkutut-berjambul-bunga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4988489951835131142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/4988489951835131142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/carikan-aku-perkutut-berjambul-bunga.html' title='Carikan Aku Perkutut Berjambul Bunga'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3cGdVCgmI/AAAAAAAAAPE/wJXnUPPe1b4/s72-c/merpati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-3880889864772299257</id><published>2009-08-11T08:47:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T09:38:55.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>An Easy Way to Win at Online Gambling</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SoGebwOdQjI/AAAAAAAAAQo/iCBVvBEvXao/s1600-h/usa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 140px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SoGebwOdQjI/AAAAAAAAAQo/iCBVvBEvXao/s320/usa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368746430441538098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Casino games are very funny. There are several types of casino games including blackjack, poker, roulette, and others this is more and more people visit the casino. In addition to the bonds is the main reason why people are always interested in the casino.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Today, with the development of online game can also be found on the Internet. If you are the people who want to know what is happening in the online casino game, you are invited to visit a fellow Casinogamblingindex.com. This website can be a source of knowledge for information about online casino games. By visiting this site, you can choose an &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.casinogamblingindex.com/Usa-Casino-Reviews/"&gt;online casino us&lt;/a&gt; online in our list. If you are not a normal game and how to play this game, because this site is the ideal place to learn about easily, because you will receive instructions for the benefit of online roulette and you can get some tips on &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.casinogamblingindex.com/online-roulette-guide/"&gt;how to win at online roulette&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many of them, you can visit this site to learn more about the function and as a way to &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.casinogamblingindex.com/online-casino-games-guide/"&gt;download casino games for fun&lt;/a&gt;. For more information, visit Casinogamblingindex.com.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-3880889864772299257?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/3880889864772299257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/easy-way-to-win-at-online-gambling.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/3880889864772299257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/3880889864772299257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/easy-way-to-win-at-online-gambling.html' title='An Easy Way to Win at Online Gambling'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SoGebwOdQjI/AAAAAAAAAQo/iCBVvBEvXao/s72-c/usa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-7483447452743926082</id><published>2009-08-09T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T00:00:02.257-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ganda Pekasih'/><title type='text'>Membunuh Siluman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3ZpY1kOhI/AAAAAAAAAO8/cAC3OUYEIWU/s1600-h/siluman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 270px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3ZpY1kOhI/AAAAAAAAAO8/cAC3OUYEIWU/s320/siluman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367685635960486418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Barjo nyaris terperosok lubang yang runtuh tiba-tiba dari dinding lubang yang digalinya kalau saja dia tidak cepat berpegangan pada akar kayu yang menjuntai di atas galian. Barjo menghentikan pekerjaannya dan terheran-heran.&lt;br /&gt;     Di samping lubang galian hasil pekerjaannya yang dalamnya kini sudah mencapai satu setengah meter itu menganga lubang baru pada dindingnya, seukuran sarang buaya-buaya muara di Karang Pencah.&lt;br /&gt;     Barjo berdebar memperhatikan lubang yang cukup besar itu. Perlahan dia mengintip mendekatkan wajahnya ke permukaan lubang. Bau aneh dan misterius menyergap hidungnya. Barjo naik ke atas penggalian dengan menggapai akar kayu, jantungnya berdebar kencang.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;     Di atas lubang, dia tidak melihat ada orang yang melihatnya, Barjo mencoba tenang. Lalu pelan-pelan Barjo kembali turun, dia merasa seperti akan mendapatkan sesuatu yang berharga, tapi dia berharap bukan seperti yang telah didapatkan orang-orang dari Desa Pengging yang dibencinya.&lt;br /&gt;     Barjo memasukkan kepalanya ke mulut lubang yang menganga, beberapa tanah di sekelilingnya runtuh, lubang itu tambah menganga. Barjo seperti disergap kekuatan lubang misterius itu disertai bau aneh dan sunyi. Lalu dia rasakan seperti ada yang mengisyaratkannya untuk masuk, tapi Barjo tak berani. Barjo kembali naik ke atas lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Malam ini Barjo duduk bersemedi sehabis sembahyang, dia ingin tahu gerangan lubang apa yang ada di belakang rumahnya itu yang semula ia menggali lubang untuk membuat sumur. Maghrib tadi, Minten, istri Barjo, ikut membantu menutup lubang itu dengan dinding gedhek agar tidak diketahui orang. Belum lama mereka membeli gubuk sederhana setelah menjual rumah mereka di Desa Pengging.&lt;br /&gt;Bukan karena di sana mereka tak tahan hidup miskin, sementara tetangga tetangganya semakin banyak yang kaya raya karena usaha mereka berhasil, tapi karena mereka tak ingin jadi budak setan. Bahkan Si Sarmin yang kerjanya cuma mencari kodok kini sudah bisa membeli motor, padahal rawa-rawa tempat dia mencari rezeki lebih sering tandus ketimbang berair. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau Desa Pengging terkenal dengan banyak petilasan tempat meminta kekayaan.&lt;br /&gt;     Kini malah tersiar kabar kalau Desa Pengging telah menjadi salah satu tempat persinggahan gejok—balatentara roh halus—yang mengiringi Nyai Layonsari mencari abdi dalem, hingga saatnya nanti semua orang Pengging akan menjadi abdi dalem sang Nyai. Tapi sudah bukan rahasia, orang-orang di Pengging memiliki borok di salah satu tubuhnya yang tak bisa disembuhkan. Awal mulanya hanya luka seperti di patuk ular.&lt;br /&gt;      Makhluk-makhluk gaib berupa ular, monyet, tuyul, setiap malam menetek di luka itu menghisap darah. Dan gilanya, apa saja kini di Pengging bisa dijual kepada pendatang, sebuah keris berkarat, secuil batu makam, bahkan sepotong akar beringin bisa sangat berharga. Orang-orang mengaku dengan gampang sebagai juru kunci petilasan anu, kuncen makam keramat anu, kuncen pohon anu, kuncen situ anu, dan semua tempat kini seperti sudah menjadi kapling-kapling petilasan.&lt;br /&gt;     Dan sebelum keluarganya menjadi pengikut gejok—balatentara roh halus, sekalipun ditawari sendiri oleh Nyai menjadi abdi dalem-nya, Barjo tak akan tertarik. Barjo lalu cepat menyingkir dari Pengging. Carik Desa Gondel ketika pertama kali Barjo dan istrinya Minten datang, mensyaratkan orang-orang dari Pengging yang mau tinggal di desanya tidak boleh mempunyai luka bekas patukan ular, sekecil apa pun. Maka dengan satu syarat itu, Barjo pun diterima.&lt;br /&gt;     "Besok malam aku akan masuk ke lubang itu, kau awasi di atas, jangan ada penduduk yang tahu," kata Barjo setelah usai bersemedi.&lt;br /&gt;     "Memangnya mau ngapain, Pak?"&lt;br /&gt;     "Aku punya firasat kita akan kaya!"&lt;br /&gt;     "Kaya?!"&lt;br /&gt;     "Sstt... jangan keras-keras, nanti kedengaran orang."&lt;br /&gt;     "Kok, Bapak malah ikut orang-orang Pengging, nyari pesugihan biar kaya? Apa kita akan mengorbankan cucu kita? Kita pindah ke sini kan supaya kita tidak termasuk golongan mereka."&lt;br /&gt;     "Bukan begitu, Bu. Itu bukan lubang pesugihan. Menurutku itu lubang harta karun. Bagaimana rupanya kalau kita dapat harta karun?"&lt;br /&gt;     "Jangan percaya, Pak. Itu daya tipu setan. Kan, Bapak pernah bilang, habib yang pernah mampir ke Pengging kalau ceramah ya melulu tentang syaitan yang kerjanya siang-malam hanya memperdaya manusia."&lt;br /&gt;     "Sudahlah, kau tidur saja, lubang itu lubang harta, bukan lubang siluman apalagi lubang Genderuwo."&lt;br /&gt;     Minten beringsut masuk kamar sambil bersungut-sungut Gara-gara lubang itu dia cemas, suaminya kali ini mungkin saja akan terpedaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Barjo masuk ke dalam lubang dengan membawa lentera, keesokan harinya, menjelang senja, saat matahari mulai tenggelam di kaki-kaki bukit Marengas, tanah harapan mereka terakhir untuk sekedar menyambung hidup yang rencananya akan mereka tanami semangka.&lt;br /&gt;     Minten dengan ragu menunggu di atas penggalian mengawasi dengan dada berdebar. Dia berharap Barjo tak menemukan apa-apa. Tapi Barjo berhasil merayunya bahwa tidak ada orang yang boleh tahu soal lubang itu sebelum mereka mengetahui apa isinya. Barjo tercengang, sementara jantungnya berdebar saat dia melihat ada anak tangga terbuat dari batu walau tampak tidak sempurna karena batu-batu itu sudah pecah bercampur tanah. Barjo yakin batu-batu itu suatu ketika dulu pernah disusun menjadi tangga. Kaki-kaki? Selasar-selasar?&lt;br /&gt;     Lalu dia menemukan terowongan yang lain. Ini pasti bagian dari istana raja-raja zaman dulu, pikir Barjo. Barjo tak ingat sudah berapa puluh langkah dia masuk, menyinari langit-langit lubang, dan dinding-dindingnya dengan lentera minyaknya. Dan dia sungguh terpesona karena tergambar jelas kini, bahwa tempat ini bukan gua yang diciptakan alam, tapi sebuah tempat yang sengaja dibikin oleh manusia.&lt;br /&gt;     Ada anak tangga, ada dinding yang berukir dengan garis-garis aneh. Ada air yang mengucur dari atas dan di bawahnya ada tanah landai yang menampung cucuran air itu. Ada selasar-selasar bercabang? Hahaha! Sebentar lagi aku akan menemukan sesuatu yang berharga, pikirnya gembira. Maka dalam pikirannya, tempat ini seketika menjelma seperti bagian dari sebuah istana yang luas, yang mungkin pernah terkubur oleh letusan Gunung Merbabu.&lt;br /&gt;     Keluar dari lubang itu, Barjo membawa beberapa pecahan batu-batu berukir sekepalan tangan. Minten kembali menutup lobang di samping galian itu dengan gedhek lalu buru-buru masuk ke rumah, penasaran dengan apa yang dibawa Barjo.&lt;br /&gt;     "Cuma batu-batu itu, Pak?"&lt;br /&gt;     Barjo tertawa. "Otakmu juga sudah dipenuhi pikiran untuk kaya, kan? Lalu, kalau kita kaya kamu mau beli apa?"&lt;br /&gt;     "Eling, Pak. Eling!" Minten masih berusaha menyadarkan suaminya.&lt;br /&gt;     "Mulanya memang batu-batu ini, tapi kalau terus digali kita akan menemukan sumber kekayaan kita."&lt;br /&gt;     "Tapi, Pak... lubang itu bukan milik kita. Lagian kalau kita kaya, orang-orang Pengging pasti menyangka kita juga muja Pak."&lt;br /&gt;     "Biarkan saja."&lt;br /&gt;     "Astagfirullah! Eling, Pak. Bapak sudah kemasukan roh jahat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Barjo pulang ke Gendol dengan riang, beberapa benda-benda yang ditemukannya di selasar sekitar lubang laku dijual kepada pedagang barang antik yang tertarik. Mereka memang telah menanti barang yang akan dijual Barjo selanjutnya seperti yang dijanjikan Barjo—bahwa dia akan menjual barangnya hanya kepada si Pedagang Tionghoa itu. Tapi siang harinya saat Barjo pulang, Minten kesurupan, matanya melotot marah, dia berlaku seperti seekor ular yang sangat besar yang hendak membelit Barjo.&lt;br /&gt;     Barjo tak segera memberi tahu penduduk kampung, sempat dia berpikir untuk memanggil Carik Desa Gendol, atau seorang yang bergelar kiai di kampung itu untuk mengusir makhluk yang merasuki Minten. Tapi pikirannya seketika berubah, lebih baik makhluk yang menempati Minten diajak berdialog dan bekerja sama untuk mengetahui apakah banyak benda-benda berharga di lubang itu, sekaligus meminta izinnya untuk mengambil barang-barang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Barjo seperti melayang saat sebongkah benda berkarat berupa piring yang ternyata emas muda dibayar dua juta rupiah oleh Tong Kian, babah gemuk penjual barang-barang antik terkenal di kota. Tapi Barjo melihat senyum licik di mata manusia berkepala botak itu, maka Barjo tidak langsung pulang menemui Minten di Gendol, tapi dia jalan-jalan dulu ke Pengging, menikmati wedang kopi Mbah Mirjan di pinggir jalan Desa Wetan langganannya. Sempat pula dia didatangi dua orang yang mengaku dari Mojokerto.&lt;br /&gt;     Barjo diminta untuk mencarikan mereka kuncen yang bisa mempertemukan mereka dengan Nyi Layonsari. Barjo tersenyum tenang, dan dia menjelaskan bahwa dia bukan orang yang tepat untuk orang putus asa seperti mereka. Mampuslah kalian, mau saja diperbudak setan! maki Barjo dalam hati.&lt;br /&gt;     Malam hari, saat Barjo tak melihat ada orang yang mencurigakan yang mengikutinya, Barjo bergegas pulang ke Gendol. Kali ini Minten sangat gembira karena dia yakin Barjo mendapatkan uang bukan karena muja seperti kebanyakan orang-orang Pengging, tapi karena ketiban rezeki nomplok menemukan harta pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Barang-barang yang dijual Barjo terus mendatangkan uang yang melimpah. Dengan sekejap mereka bisa menggaji beberapa orang menggarap kebun semangka dan menyewa tanah garapan ratusan meter. Mereka juga membeli beberapa ekor kambing dan sapi, memperbaiki rumah gubuk mereka serta membeli mesin pompa air.&lt;br /&gt;     Setiap mendapatkan uang, biasanya Barjo berjalan-jalan dulu ke Pengging menikmati wedang kopi Mbah Mirjan kesukaannya sambil menghabiskan senja, mengobrol terkekeh-kekeh dengan orang tua itu, di bawah keteduhan beberapa batang sawo tua tempat banyak orang berteduh di siang hari sehabis pulang berjualan di pasar kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pino, cucu tunggal mereka yang sering menginap setelah rumah mereka semakin rapi, suatu hari saat tidur siang, hilang tak tahu rimbanya. Balita mungil yang kini montok karena terus dibelikan susu sapi murni oleh Barjo dan Minten hilang tak berbekas seperti raib ditelan Bumi. Barjo dan Minten panik, mereka mencari ke segenap Desa Gendol. Desa yang tenang jadi geger.&lt;br /&gt;     Seorang tetua desa menyuruh penduduk memukul bunyi-bunyian menjelang maghrib, katanya Pino diambil makhluk halus, maka ramailah penduduk desa memukuli apa saja; panci, ember, kentongan. Tapi hingga malam tiba tak ada tanda-tanda Pino ditemukan. Minten berkata pada Barjo, jangan-jangan Pino diambil makhluk penjaga harta karun itu.&lt;br /&gt;     Barjo tersadar, bukankah beberapa bulan lalu dia bernegosiasi dengan makhluk yang menempati Minten untuk dibantu mengambil harta-harta itu. Dan kini dia meminta imbalan. Benarkah? Barjo panik, Minten pun kalang-kabut. Barjo masuk ke dalam lubang itu tengah malam dengan lentera minyak, dengan memelas dia meminta Tino dikembalikan, tapi tak ada jawaban.&lt;br /&gt;     Barjo sempat melihat sesuatu bergerak berwarna hijau keemasan, berdiri dengan sepasang tanduk dan mata nyalang, tubuhnya laksana naga, dia bergerak mendekati Barjo, Barjo menjerit ketakutan dan berlari keluar lubang.&lt;br /&gt;     Dengan berat hati, Barjo dan Minten terpaksa merelakan Pino, tapi Sarmih, ibu Pino yang suaminya bekerja di Mojekerto tak bisa menerima kalau anak mereka diambil makhluk berbentuk naga itu. Barjo dan Minten disuruh mengembalikan apa-apa yang pernah mereka ambil dari lubang makhluk itu. Tapi bagaimana caranya?! Barjo tak mungkin menebus kembali barang-barangnya kepada Tong Kian.&lt;br /&gt;     Beberapa hari kemudian, saat Barjo pulang dari Pengging malam hari menghabiskan senja di sana bersama Mbah Mirjan dan kopi wedangnya, kabut aneh berwarna kelam muncul di langit Gendol. Barjo merasa kabut itu pertanda buruk. Tiba di rumah, Barjo melihat bukan Minten yang menyambutnya seperti biasa di pintu rumah, tapi makhluk mistik itu. Dia berdiri angkuh, hijau keemasan kulitnya, berkilau diterpa lampu minyak tanah yang mulai kehabisan minyaknya.&lt;br /&gt;     Barjo memanggil Minten, tapi tak ada sahutan. Barjo mengeluarkan pisaunya. Saatnya makhluk ini mampus dan aku yang menggantikannya menguasai lubang itu! seru Barjo dalam hati dengan nada kalap. Satu tikaman mengena, pisau itu menancap. Satu kelebatan parang bagai kilat yang diayunkan Barjo memotong kepala makhluk itu.&lt;br /&gt;     Tubuh Jejadian itu terkulai jatuh ke tanah dengan suara jeritan aneh. Barjo bersorak kegirangan. Tapi suatu keajaiban terjadi. Makhluk itu bukan 'naga jejadian', namun sepersekian detik berganti menjadi sosok Minten, istrinya! Kepala minten terlempar jauh di lantai, terlepas dari batang tubuhnya dengan bersimbah darah kental menghitam, di tengah temaram lampu minyak tanah, di malam celaka yang berkabut aneh di langit Gendol.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-7483447452743926082?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/7483447452743926082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/membunuh-siluman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7483447452743926082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/7483447452743926082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/membunuh-siluman.html' title='Membunuh Siluman'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3ZpY1kOhI/AAAAAAAAAO8/cAC3OUYEIWU/s72-c/siluman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-683227769303231920</id><published>2009-08-06T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T12:20:08.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kurnia Effendi'/><title type='text'>Sepanjang Braga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3Pm0M2NeI/AAAAAAAAAO0/OTn_dHqwld0/s1600-h/braga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 217px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3Pm0M2NeI/AAAAAAAAAO0/OTn_dHqwld0/s320/braga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367674596650005986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perasaanku dibungkus kesunyian luar biasa. Dua jam termangu dalam kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat minyak. Ada jendela terbuka ke arah sungai, tempat mengalir udara segar. Termasuk suara belalang dan kerisik bunga rumput. Hanya pada bidang itu, aku tak bisa melukis apa pun. Di seberangnya terdapat langit, yang mudah berubah rona. Hijau daun, merah senja, atau sesekali lintasan burung. Tapi sejak pameran terakhir, jendela itu belum menyumbangkan kegairahan.&lt;br /&gt;Apakah harus menyesal, ketika mendapatkanmu di ruang pameran? Mula-mula yang kulihat adalah punggungmu. Engkau memandang lukisan yang mungkin menyemburkan sejumlah episode masa lalu, tentang hubungan kita yang lebih banyak melalui surat. Separuh dari kenangan itu masih tersimpan, untuk sewaktu-waktu kubaca ulang. Sebagian yang lain menjadi lukisan dalam berbagai ukuran.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Aku senang kamu sempat datang,"&lt;br /&gt;Kamu menoleh dan memandang dengan rasa bersalah. Seakan-akan perlu undangan resmi, dan ditegur karena berada di tempat yang 'barangkali' mustahil.&lt;br /&gt;Galeri Soemardja memang kecil. Dalam sekejap bisa kulihat semua yang hadir hanya dengan memutar kepala. Mereka bukan orang asing. Beberapa dosen, mahasiswa seni rupa, dan kawan-kawan yang selama ini demikian dekat. Sehingga tentu segera kukenali dirimu, bahkan hanya dengan hembusan parfummu. Sesuatu yang tak berubah sejak bertemu muka, sekitar lima atau enam tahun lalu.&lt;br /&gt;"Kau memang tidak mengundangku," katamu, tidak tampak kaget. Kita bergenggaman tangan. Berjuta bingkai diorama berputar. Gambar yang meloncat-loncat. Sejak Braga Permai, Concurrent Jewelery, Kafe Datumuseng, Pantai Losari, Somba Opu, sampai Benteng Fort Rotterdam?&lt;br /&gt;"Padahal, ini hampir semua tentang kamu."&lt;br /&gt;Engkau menghela napas panjang. "Aku tahu. Tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat buatku." Kamu seperti ingin menghindar. Mengkhawatirkan sesuatu. Aku pun merasa tak bisa berbuat banyak, meski segera kutangkap tanganmu.&lt;br /&gt;"Kita harus merayakan pertemuan?"&lt;br /&gt;"Maaf, Mas, ini pasti di luar perkiraanmu. Mungkin lebih baik?"&lt;br /&gt;"Please," kuperkeras genggamanku. "Kau bahkan belum memberitahu kapan datang dan di mana menginap."&lt;br /&gt;Beberapa kawan muncul silih-berganti, menjabat tangan, mengucapkan selamat. Ini memang hari pertama pameran "Sepanjang Braga" dibuka. Tema yang seharusnya kukonfirmasi kepadamu. Tapi aku bimbang. Hal-hal yang menyangkut perempuan lain bisa jadi aneh dan mengerikan untuk dibahas. Apalagi tentang pelukis dan pecinta lukisan. Aku hampir tak membicarakan dengan istriku. Padahal perasaanku santai saja jika sesekali kugambar model perempuan telanjang di studio.&lt;br /&gt;"Sepanjang Braga," kau bergumam begitu aku terbebas dari kawan-kawan. Kilatan cahaya blitz kadang-kadang melampaui kepala kita. Seperti benderang lampu petir yang mengerjap di langit petang, saat kita diguyur gerimis di Jalan Braga. Saat itu, di antara kita belum ada siapa pun. Andaikata dada kita transparan, mungkin terlihat kembang api jingga setiap kita bicara. Karena yang terlompat dari mulut, meski terdengar seperti perdebatan, adalah upaya saling menggosok batu api. Sejak itu, setelah komunikasi terdiri atas berlembar-lembar surat, tumbuh perasaan saling menyayangi.&lt;br /&gt;"Aku akan datang ke tempatmu, apakah nanti malam punya waktu?"&lt;br /&gt;Kau tersenyum. Seperti menyindir. Tapi juga menyiratkan kebijaksanaan. "Seharusnya aku yang tanya, apakah kau punya waktu? Kau tahu, aku belum terikat siapa pun. Setidaknya sampai hari ini. Tapi, it's okay, kau bisa telepon dulu. Aku menginap dekat Dago Tea House." Kau memberiku sebuah kartu nama guest house.&lt;br /&gt;Sejak kutulis tentang Chiara, dulu, muncul nuansa lain dalam hubungan kita. Aku merasa: ada seseorang yang juga dekat denganmu. Meskipun tidak kau ceritakan, kecuali ketika putus menjelang tunangan, justru setelah aku menikah.&lt;br /&gt;"Aku jatuh hati sejak pandangan pertama," demikian suratku. "Ia seorang pembaca puisi, pasti memiliki apresiasi yang kuat tentang seni. Beberapa kali kukirimi sketsa, tapi tidak tahu apakah dipasang di kamarnya?"&lt;br /&gt;Waktu ngoceh seperti itu, aku lupa, bagaimana perasaanmu? Seolah-olah engkau ibuku. Terlebih ketika nada suratmu biasa-biasa saja. Bahkan mendorong untuk meraih setiap harapan. "Memang sudah waktunya, Mas. Kudoakan semoga berhasil. Aku yakin, ia pasti cantik." Cantik memang relatif, seperti halnya lukisan.&lt;br /&gt;Kabarku masih terkirim dengan rentang makin panjang. Lantas lama tidak bertukar kabar. Saat itulah aku kembali suka berjalan-jalan di sepanjang Braga. Tidak dengan Chiara. Seringkali justru bersama Acep Zamzam Noor, Diyanto, atau Tia Lesmana dan Soni Farid Maulana. Di tempat itu, juga di tempat lain, aku ingat kau. Ingat pertemuan yang hanya beberapa hari tapi bagai berbulan-bulan. Ditemani gerimis, jarum air yang menabur rambut kita, dan cahaya senja yang memantul dari dinding pertokoan Braga. Kita pernah berteduh di Majestic, menertawakan pasangan yang mencuri kesempatan dalam gelap bioskop. Rasanya percakapan kita sangat berbeda. Aku suka marah oleh kritikanmu. Belakangan kusadari, semua itu membentuk kekuatan goresan, karakter yang kini dibicarakan banyak orang.&lt;br /&gt;"Bagaimana kabar Baby?" Pertanyaanmu membuyarkan lamunan.&lt;br /&gt;"Oh, ia mulai sekolah. Kelas bermain."&lt;br /&gt;"Aku masih menyimpan fotonya waktu bayi. Hampir tiga tahun lalu. Betapa bahagianya Chiara. Apakah ia masih sibuk dengan jasa-boganya?"&lt;br /&gt;"Ya, apalagi ini musim menikah. Sementara kau masih sendiri, sejak berpisah dengan pemuda dari bursa efek." Aku mengambil dua cangkir teh. Kita minum sambil berdiri.&lt;br /&gt;"Bukan keinginanku. Tapi mudah-mudahan itu yang terakhir."&lt;br /&gt;Terkadang aku kagum padamu, karena tidak serapuh dugaanku. Waktu kau ceritakan patah hati yang pertama, tersirat ungkapan syukur. Sambil menikmati pisang epek di pantai Losari, Makassar, kita berbagi kisah. Ada semacam keajaiban. Setelah lama saling bersurat, kegiatan budaya mempertemukan kita di Bandung. Catatanmu yang melukai perasaan di buku tamu pameran lukisan, telah memaksaku terbang ke Makassar. Begitu tiba di teras rumahmu, pertanyaan pertama yang muncul adalah: "Bagaimana kabar Braga?"&lt;br /&gt;"Aku sedang menggarap semacam proyek tentang Braga. Rasanya tak akan sempurna tanpa diskusi denganmu."&lt;br /&gt;Kini, seratus lukisan telah selesai. Seperti yang kujanjikan pada diri sendiri. Hanya Chiara dan Baby yang jadi saksi prosesnya. Atau satu-dua kawan dekat. Aku memang mengerjakannya setengah diam-diam.&lt;br /&gt;"Oke, aku pulang dulu," katamu, sambil mengambil selembar katalog dan memasukkan ke dalam saku blazer.&lt;br /&gt;"Tidak mengikuti diskusi? Pak Pirous dan Bang Hardi yang bicara."&lt;br /&gt;Kamu menggeleng. "Aku banyak urusan," tersenyum dan pergi menjauh. "Jangan lupa, telepon dulu."&lt;br /&gt;Kulambaikan tangan, sebelum bergabung dengan peserta diskusi di ruang Bulu Domba. Seorang moderator mendekat, mengkonfirmasi biodata. Sepuluh menit kemudian acara berlangsung, dan baru berakhir pukul dua. Semalam aku hanya tidur sekitar tiga jam. Akumulasi keletihan itu sangat terasa begitu sampai di rumah.&lt;br /&gt;Rupanya aku menyimpang dari perjanjian. Selepas petang kukatakan pada Chiara: seorang wartawan asing ingin berjumpa di Dago Tea House. Aku langsung melaju ke penginapanmu. Di ruang tamu yang temaram, kau main piano sendirian. Baru kali ini, sepanjang kita kenal, kulihat kau mengenakan baju tidur warna pastel.&lt;br /&gt;"Kenapa tidak telepon dulu, Mas?" tanganmu terangkat dari tuts piano.&lt;br /&gt;"Apa bedanya? Toh kau ada di tempat." Aku membanting diri di sofa.&lt;br /&gt;"Kita mau bicara di sini atau di kamar?"&lt;br /&gt;"Apa bedanya? Yang penting isi pembicaraannya, bukan tempatnya."&lt;br /&gt;Tapi sebuah dorongan bawah sadar membawa langkahku ke dalam kamar. Kau hendak ganti baju yang pantas untuk menerima tamu. Namun peristiwa yang berlangsung kemudian berbeda. Sangat berbeda. Sungguh di luar seluruh pikiran-pikiran kita selama ini. Ke mana jalinan persahabatan itu?&lt;br /&gt;Mungkin ini percintaan paling panas. Kita bagai berenang di antara ombak biru, di bawah matahari tropik, dengan angin pesisir yang berarak-arak. Pulau yang ditempuh masih jauh di ujung cakrawala. Timbul-terbenam, diayun buih samudera. Kita memburu dan mengejarnya, ingin meraih. Namun perjalanan bagai tak hendak selesai sampai nyaris tenggelam, dan tiba-tiba kudengar lengking panjang. Kutangkap tanganmu, matamu terpejam dengan kelopak bibir terbuka, tersenyum. Wajahku terasa hangat dan basah kuyup?&lt;br /&gt;Tangis itu terdengar lagi. Tapi bukan dari mulutmu. Suara itu dekat dengan telinga, membuatku terjaga. Aku terperanjat menangkap warna-warni lukisan.&lt;br /&gt;Ya Tuhan, ini mimpi! Tapi wajahku benar-benar basah dan hangat. Dalam keremangan senja, celah jendela memberikan sedikit cahaya. Kulihat Baby terisak dengan mata masih terpejam.&lt;br /&gt;Anakku ngompol! Kucoba mengingat asal-usul kejadian ini. Ya. Keletihan membuat aku tergeletak di atas karpet—satu-satunya tempat dalam studio yang bebas tetesan cat. Sebelum lelap, Baby memanggilku, mendekat dan berbaring dekat kepala.&lt;br /&gt;Astaga, jam berapa ini? Aku punya janji denganmu! Apa yang baru kita lakukan dalam mimpi? Kugunakan T-shirt untuk mengusap pipis Baby di wajah, sebelum kubangunkan ia. "Kenapa ngompol lagi, sayang? Ayo kita mandi."&lt;br /&gt;Kulihat Chiara sedang menerima telepon di ruang tengah. Ia memberi isyarat dengan tangannya. Aku mendekat. "Ada seorang kolektor Filipina hendak memborong semua lukisanmu. Mau langsung bicara dengannya?"&lt;br /&gt;Kesadaranku belum pulih benar. Tapi ini mengejutkan. Sekaligus terdengar mustahil, seperti mimpi yang baru saja berakhir. "Aku akan menelepon kembali, minta nomornya. Lihat! Baby ngompol."&lt;br /&gt;Chiara tertawa sebelum memasang kembali gagang telepon ke telinganya. Sepanjang siraman air shower, berdua Baby, aku belajar percaya kabar aneh itu. Seorang kolektor memborong seluruh koleksi "Sepanjang Braga"! Apa katamu nanti? Chiara seharusnya tidak hanya berunding denganku, tapi juga denganmu. Tapi, apa itu mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah larut ketika akhirnya aku menemukan suaramu di telepon penginapan. "Ke mana saja?" Aku kesal. Tapi bukan hakku untuk memintamu tetap berada di tempat yang aku mau.&lt;br /&gt;"Sorry, Mas. Seseorang mendadak mengajak makan malam. Aku memang tidak menelepon, karena satu dan lain hal. Aku ingin bahagia, seperti juga kau, Mas. Dan kebahagiaan kita tidak perlu mengganggu kebahagiaan orang lain."&lt;br /&gt;"Aku mencarimu. Pertama, karena janji tadi siang. Tapi ada yang lebih penting. Seluruh lukisan "Sepanjang Braga" dibeli seorang kolektor. Aku... aku bahkan belum pernah mengenal orang itu."&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Aku harus minta izinmu. Sebelum kupikir bahwa ini sesuatu yang hampir tidak masuk akal. Koleksi itu seharusnya tidak pernah dijual."&lt;br /&gt;"Itu tidak rasional, Mas. Apa kata Chiara nanti?" Benar katamu. Jika seratus lukisan itu hanya untuk disimpan, akan menimbulkan pertanyaan dan layak diusut. Berapa puluh juta rupiah investasi dan waktu yang tertimbun di dalamnya?&lt;br /&gt;"Ini memang pilihan yang sulit." Aku mengeluh.&lt;br /&gt;"Tapi, benarkah kau hendak meminta izinku?" tanyamu untuk meyakinkan.&lt;br /&gt;"Tentu. Aku tak ingin melakukan kesalahan dua kali."&lt;br /&gt;"Jangan merasa bersalah, karena memang tidak bersalah."&lt;br /&gt;"Setelah seratus lukisan itu terjual, aku mungkin tak punya lagi kenang-kenangan itu. Cobalah mengerti perasaanku."&lt;br /&gt;"Aku sangat mengerti perasaanmu, Mas. Pertanyanku, benarkah kau meminta izinku?" tanyamu manja.&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;"Aku seratus persen mengizinkan, Mas. Aku tak keberatan kau menjual semuanya. Tapi sebaiknya kau bertemu dengan pembelinya, sebelum ia membawanya pergi. Pameran masih berlangsung tujuh hari lagi, bukan?"&lt;br /&gt;Aku terdiam. Bukan oleh suara gerimis di luar. Aku merasa pilu mendadak. Sangat tidak menduga, engkau merelakan nostalgia tentang kita dibawa orang. Kita tak punya apa-apa lagi. Mungkin aku menyesal telah memasang price list dalam katalog.&lt;br /&gt;"Mas, boleh aku tidur? Besok aku harus pulang ke Makassar."&lt;br /&gt;"Secepat itu?" Aku terkesiap. Putus asa. "Aku jadi ragu. Kenapa kau?" Kupikir aku lebih cengeng dibanding perempuan mana pun di dunia. Kau, pemilik separuh kenangan, sudah tidak mempersoalkan hal-hal yang sentimentil. Mengapa aku bertahan pada ilusi yang hanya mirip guratan nama di daun kaktus? Atau pada poci keramik yang kelak retak seperti kata Goenawan Mohamad?&lt;br /&gt;"Aku minta maaf," katamu berbisik.&lt;br /&gt;"Ya." Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Kututup telepon dengan kecewa.&lt;br /&gt;Kuhampiri Chiara yang meringkuk di ranjang. Kuletakkan badanku pada seprei yang masih rapi, telentang, memandang langit-langit. Tubuh di sampingku berbalik. Dalam ketidaksadaran ia mendesakkan wajahnya ke leherku. Dan kupeluk sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;Barangkali tak pernah kupejamkan mata sampai pagi datang. Aku menjadi sedikit pendiam, namun tidak menarik perhatian Chiara. Sehabis sarapan, telepon berdering, dan Chiara mengatakan tentang kolektor Filipina itu. Aku hanya memberi anggukan, tanda setuju.&lt;br /&gt;Selesai bicara, wajah Chiara berseri-seri. Ia menciumku dengan hangat. "Hampir setengah miliar! Empat ratus delapan puluh enam juta, setelah dipotong PPh." Ia tidak merasakan, alangkah hancur hatiku. Tapi buat apa? Aku tidak ingin merana sendirian. "Ia bilang, nanti siang ditransfer. Lukisan akan dikemas hari Minggu, setelah penutupan. Baby?! Baby?! Ayo beri selamat kepada Ayah!"&lt;br /&gt;Gadis kecil itu meloncat ke pangkuan. Kupeluk ia dan seolah-olah aku mendapatkan pengganti dari semua yang hilang.&lt;br /&gt;Chiara pamitan ke kantor, Baby berangkat ke Tadika Puri. Aku terdiam di kursi, mendengarkan rekaman Tony Prabowo. Membayangkan gelas-gelas yang ditabuhnya pecah berkeping-keping. Menggambarkan perasaanku. Aku terbius. Sampai kudengar teleponmu dari bandara.&lt;br /&gt;"Sepuluh menit lagi aku berangkat. Sorry, aku memang tak ingin diantar. Aku tinggalkan kartu pos dan undangan di receptionist galeri. Apa rencanamu hari ini, Mas?"&lt;br /&gt;Nada suaramu menunjukkan kelegaan, bahkan kegembiraan. Sungguh ganjil, atau menyakitkan? Membuatku meradang: "Apa yang kau tulis dalam kartu pos itu? Banyak orang bisa membacanya!"&lt;br /&gt;"Yang paling kaucemaskan pasti jika Chiara melihatnya, bukan?" Kudengar kau tertawa, di antara gemuruh suara pesawat yang landing. Aku merasa baru mengenalmu. "Aku cuma memberitahu bahwa "Sepanjang Braga" sudah jadi milikku. Seluruhnya, Mas! Feliciano membelinya untukku, sebagai maskawin, atau kami tidak menikah sama sekali. Kaget? Maaf, aku tak mungkin bilang dari awal, karena aku sulit melupakanmu. Aku hanya ingin semuanya beres, sejak kubaca berita budaya di koran. Pameran itu pasti untukku, tanpa kau memberitahu?"&lt;br /&gt;"Ya, Tuhan?" Aku terperangah.&lt;br /&gt;"Benar, itu memang kehendak Tuhan. Itulah sebabnya aku harus segera pulang ke Makassar, untuk menyiapkan pesta sederhana. Aku tak boleh ingkar dan menyakiti hati Feliciano. Semua syarat telah ia penuhi."&lt;br /&gt;Bagai ada segelas embun yang melintas ke tenggorokan. Mungkin aku benar-benar kehilangan kamu. Tapi tidak kehilangan "Sepanjang Braga ".&lt;br /&gt;"Kau sudah mempersiapkan sejak lama, bukan? Undangan pernikahan tak mungkin dibuat secepat itu."&lt;br /&gt;"Benar. Maksudku, undangan itu hanya berupa print-out yang kubuat di sekretariat FSRD. Kalau hal itu membuatmu tidak datang, aku mesti bilang apa? Oke, tampaknya aku harus masuk pesawat. Salam untuk Chiara dan Baby."&lt;br /&gt;Seminggu setelah teleponmu itu, kupasang kanvas baru. Menyiapkan semua botol cat, kuas, dan minyak pengencer. Tapi, telah dua jam aku di sini: pada sebuah kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat. Dalam keadaan ngungun. Perasaanku dibungkus kesunyian luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-683227769303231920?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/683227769303231920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/sepanjang-braga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/683227769303231920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/683227769303231920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/sepanjang-braga.html' title='Sepanjang Braga'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3Pm0M2NeI/AAAAAAAAAO0/OTn_dHqwld0/s72-c/braga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-8820774306078500246</id><published>2009-08-02T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T12:12:10.707-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kurnia Effendi'/><title type='text'>13.32</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3Nz5t5HOI/AAAAAAAAAOs/ZKsFIqLBKJs/s1600-h/13.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3Nz5t5HOI/AAAAAAAAAOs/ZKsFIqLBKJs/s320/13.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367672622445829346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gadis itu bernama Ozi. Aku mengenalnya di sebuah plaza, akhir musim dingin enam bulan lalu. Wajahnya mirip Isabella Rosselini. Kulitnya halus dan kuning langsat. Bicara Indonesianya lancar. Padahal semula kusangka ia dari Perancis atau Italia.&lt;br /&gt;Aku menawarkan pop-corn. Ia menggeleng sambil terus menikmati sebungkus cornflakes. Bibirnya kelihatan lebih sensual ketika mengunyah perlahan-lahan.&lt;br /&gt;Aku tidak bisa pura-pura memandang salju di kejauhan, karena sudah mulai menghilang. Bahkan daun-daun mapel mulai semi di sana-sini. Tak dapat kupingkiri, ternyata lebih sedap menatap mata yang berkilauan di depanku di banding lanskap sekitar.&lt;br /&gt;"Bonjour, Mademoiselle!" Aku mengulurkan tangan. Kegugupan bicaraku menjadi kontras dengan ketenangannya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, aku dari Indonesia. Hampir limabelas tahun tinggal di Bandung. Kukira lebih baik menggunakan bahasa kita." Mulutnya berhenti mengunyah dan menggantinya dengan senyum yang menggemaskan. Isi kalimatnya yang nekat itu mendorong aku untuk segera akrab.&lt;br /&gt;"Oya?" Gelombang pesona dan rasa surprais memenuhi rongga dadaku. Dari Bandung? Amboi! Ibarat 'mabuk dicinta arak tiba!'.&lt;br /&gt;Dulu aku sulit mempercayai cinta pada pandangan pertama. Ternyata hal itu bisa terjadi. Bukan sekadar emosional sebagaimana ketika bertemu gadis-gadis lain sepanjang perjalanan. Dan cinta rupanya tidak selalu tumbuh melalui persahabatan yang panjang.&lt;br /&gt;Kugenggam tangan halus itu dengan pikiran sedikit kacau. Berbagai harapan berlompatan di benakku. "Namaku Gantama."&lt;br /&gt;"Ozi," disebutnya nama singkat yang kedengaran indah. Dia melemparkan bungkus makanannya ke tong sampah.&lt;br /&gt;"Agaknya kau tahu persis aku dari Indonesia...." Rasa heran tak kusembunyikan lagi.&lt;br /&gt;"Kulihat lencana burung garuda di jaketmu."&lt;br /&gt;"Ini justru pemberian Beth, dari Monaco. Ia pelajar teladan di Quebec yang jadi volunteer di Victoria Union Hospital. Kami berkenalan di gelanggang rekreasi Prince Albert." Kuceritakan pengalamanku dengan sedikit bangga. "Kau pasti tidak percaya kalau kubilang aku dari Bandung."&lt;br /&gt;"Benarkah? Kau harus bisa meyakinkanku!" tantangnya.&lt;br /&gt;"Setiap kawula muda Bandung yang mendengar radioku akan mengenalku. Apalagi tahun lalu aku menjadi programmer terbaik."&lt;br /&gt;Kusimpan gemerlap mata Ozi yang menyimpan kekaguman.&lt;br /&gt;"Dalam rangka apa kau kemari?"&lt;br /&gt;"Aku pun ingin tanya hal yang sama denganmu."&lt;br /&gt;"Aku memang tinggal bersama orangtua di sini. Kami menempati perumahan staf perusahaan minuman di Rose Town." Ozi menyibak rambutnya yang menurut penglihatanku, selembut sutera. "Aku sedang menunggu kawan. Janji mau nonton sirkus." Dirapatkannya jaketnya. "Heh, kau belum jawab pertanyaanku!"&lt;br /&gt;"O, sori! Aku cuma berlibur sekitar dua bulanan. Pamanku bekerja di entertainment club. Beliau punya dua trip-ticket yang mesti dipergunakan sebelum kadaluwarsa. Begitulah, aku dijemput untuk keliling Amerika. Sebelum kemari, bermalam sepekan di L.A. Kini kami tinggal sementara di Prince Albert. Aku kemari didorong oleh keinginan bawah sadar. Rupanya malaikat ingin mempertemukan aku dengan gadis Indonesia yang rupawan."&lt;br /&gt;Ozi tersipu. "Tujuanmu tentu mengunjungi radio swasta terbaik di sini," bantahnya. "Betul, kan? Tapi ada maksud lain yang nggak bisa kau pungkiri. Kau menggoda gadis-gadis di grand-park itu, kan? Hampir dua jam kuamati tingkahmu dari sini."&lt;br /&gt;Sesaat aku tercengang oleh 'tuduhannya'. "Heh, aku jadi curiga padamu. Jangan-jangan kau sengaja menungguku. Kenapa nggak terus terang? Aku juga mau nonton sirkus." Aku mencoba memikatnya.&lt;br /&gt;"Ayolah! Kita beli coklat dulu. Dan lupakan kawan imajimu itu!"&lt;br /&gt;Ozi menatapku seperti terjebak magnet segitiga Bermuda. Ditengoknya arloji di tangan kanan. Ia memang tak perlu berdusta lagi, seandainya memang berdusta. Buat apa? Aku toh kawan baru yang menyenangkan. Dari tanah air yang sama pula!&lt;br /&gt;"Oke!" sahutnya mengejutkan. "Tunggu empat menit lagi, ya?"&lt;br /&gt;Dua tanda-tanya muncul sekaligus di benakku. Kenapa tidak berbasa-basi menolak? Kenapa menunggu empat menit lagi? Benarkah dia menanti seseorang? Astaga! Kalau bentrok bakalan repot.&lt;br /&gt;Tapi siapa tahu Ozi memang menyukai adegan-adegan seru semacam petualangan James Bond atau Indiana Jones. Pasti lebih meriah jika dua cowok bertemu dan sama-sama berminat kencan dengannya. Tapi bisa jadi kawan Ozi ternyata cewek. Artinya aku harus berperan sebagai Agen OO7 dengan dua gadis di samping kiri dan kanan!&lt;br /&gt;"Aku cuma minta kau menunggu pukul 13.32." Ozi seperti memahami rasa penasaranku.&lt;br /&gt;"13.32...? Itu... heh, how come?" Aku kaget sekaligus tak tahan menyimpan rasa ingin tahu. Kenapa Ozi menyebut pukul tiga belas, bukan pukul satu lewat tigapuluh dua p.m. lazimnya dipakai di luar negeri?!&lt;br /&gt;"Ada beberapa sebab, dan belum saatnya kamu tahu."&lt;br /&gt;"Jangan bikin aku penasaran."&lt;br /&gt;"Tidak. Percayalah. Aku tak akan mencelakaimu." Ia tertawa melihatku keki. "Aku hanya ingin menyaksikan Garuda Indonesia melayang rendah di balik pohon-pohon mapel itu. Aku ingin mencium aroma spaghetti dari restoran Italia yang baru buka itu...."&lt;br /&gt;"Kamu mempermainkan aku!"&lt;br /&gt;"Tidak! Sungguh!" Ia ngotot. "Kukira masih ada permainan lain yang lebih lucu daripada menggoda kawan setanah air. Apa untungnya?"&lt;br /&gt;"Oke! Aku mengalah," ujarku akhirnya. "Tapi, itu merupakan angka gelombang di Bandung!"&lt;br /&gt;"Hei, really? Kok ajaib sekali?"&lt;br /&gt;"Sudahlah, kita tak perlu debat. Tapi... kamu yakin apa yang kau bilang tadi terjadi sekitar empat menit lagi?"&lt;br /&gt;"Berulang kali aku membuktikan. Karena itu aku mengingatnya. Semua yang terjadi pukul 13.32 akan kukenang dengan baik. Dan aku ingin selalu mengawali peristiwa yang berkesan pada 13.32."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu bernama Ozi. Sampai usia remaja tinggal di kawasan Setrasari, Bandung. Menjelang SMA, ia ke Kanada bersama orangtuanya. Itu pengakuannya kepadaku setelah beberapa jam saling kenal. Ia ceritakan di antara berbagai aktraksi para pemain sirkus di arena.&lt;br /&gt;Kepergiannya ke Kanada tentu merupakan 'petualangan' yang banyak diimpikan oleh remaja Indonesia yang abroad-minded. Pada mulanya tak terlintas dalam pikiran Ozi, bahwa ia akan hidup di benua Amerika. Pengalaman besar itu menjadi alasan yang kuat untuk mencatat peristiwa penting dalam hidupnya. Setidaknya untuk dibaca ulang pada masa-masa mendatang.&lt;br /&gt;Ketika roda Boeing 747 bergerak meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, Ozi melihat arloji di tangannya. Lantas ia mencatat: "Berangkat dari Indonesia pukul 13.32 WIB."&lt;br /&gt;Mungkin cuma kebetulan, ketika ia menelepon mantan wali kelasnya, dan bertanya: "Jam berapa di tanah air dan berapa di Bandung saat ini?"&lt;br /&gt;Jawaban Bu Inggrid: "Pukul 13 lebih 32."&lt;br /&gt;Sejenak Ozi sempat terpana, sebelum melanjutkan obrolan.&lt;br /&gt;Begitulah. Ozi pun mulai menghapal beberapa kejadian yang berlangsung sekitar jam 13.32. Misalnya kuis olahraga pada salah satu radio favoritnya di Rose Town. Juga episode-episode pendek 'Duck Tales' di televisi swasta Kanada. Termasuk jadwal take-off salah satu penerbangan Garuda Indonesia ke Bueno Aires, Argentina. Atau restoran Italia yang mulai mengudarakan harum spaghetti-nya.&lt;br /&gt;"Teleponlah aku pukul 13.32!" pinta Ozi selalu.&lt;br /&gt;Dan anehnya aku menuruti keinginannya. Sungguh, aku mencintai gadis yang hobi mengirim kartu-pos itu. Tulisannya banyak mengenang musim semi di Amerika. Kalimat-kalimatnya mirip puisi suasana, sekalipun dilakukan tanpa sengaja. Ketika kubacakan beberapa lirik Goenawan Mohammad, ia kurang mengenalnya. Meski bilang: bagus sekali!&lt;br /&gt;Surat-suratnya mengingatkan suasana kota yang penuh irama. Sisa daun yang jatuh, butir-butir salju terakhir di Kanada, secara sentimentil Ozi selalu menyebutnya berjumlah 1332....&lt;br /&gt;Aku ingat betul irama kota yang sibuk, hentakan jiwa sewaktu berjalan bersama Ozi. Semua itu ingin kujadikan kenang-kenangan. Kukekalkan keindahan sepanjang boulevard, di berbagai subway, saat menunggu shuttle-bus dengan pipi berbelepotan krim atau saus.&lt;br /&gt;Pada salah satu program acara sesudah siaran berita, penuh semangat kuucapan. "Tepat pukul 13.32, lagu pertama dari Radio Ozi Town Beat...." suaraku segera ditelan musik yang dinamis. Bergetar menghajar telinga pecinta musik Bandung Raya. Mereka boleh kepayang di rumah, atau di mobil masing-masing sejak pukul 13.32 WIB, dengan jarum receiver tepat di garis gelombang 13.32 Khz. "Setelah Backstreet Boys, kini kita undur sebentar untuk menikmati tembang lawas dari Whitney Houston...."&lt;br /&gt;Kuputar nomor telepon Ozi di Kanada. Suaranya yang nyaring, di kejauhan, mengalir begitu riang. Padahal di sana larut malam.&lt;br /&gt;"Heh, Gantama. Aku punya CD baru, yang pasti kamu belum pernah mendengarnya. Ada sesuatu yang membuatmu akan sangat surprais. Tapi lebih baik aku nggak bilang siapa penyanyinya."&lt;br /&gt;"Aha, aku ingin segera menerimanya."&lt;br /&gt;"Jangan khawatir. Sudah kukirim lewat paket tercepat. Besok mungkin sudah berada di tanganmu. Dan Bandung Raya pasti heboh!"&lt;br /&gt;"Oke, aku tak ingin mengganggumu. tidurlah kembali. Bye!"&lt;br /&gt;Kuturunkan volume satu, dan kukeraskan volume dua di mixer. "Baiklah kawula muda, sekarang kita simak tembang anyar dari Hilary Duff yang berjudul Stranger. Dan jangan lupa, Radio Ozi Town Beat senantiasa menampilkan lagu-lagu terdepan...!"&lt;br /&gt;Sementara Yoppy, sang operator, sudah terlena di kursinya dengan kaki terjulur ke meja. Sejumlah lagu dan iklan spot sudah diprogramnya di komputer. Memang saat itu udara di luar panas, meski Bandung berada lebih tinggi dibanding kota-kota besar lain. Dalam ruang ber-AC berdinding kaca gelap segalanya jadi nikmat. Apa salahnya mengantuk? Dan apa salahnya kuputar lagu-lagu yang enerjik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu, Ozi, memang tak bisa kulupakan. Semangatnya seperti mengalir dalam darahku. Semalam kubaca ulang surat-suratnya yang kenes, puitis, menggoda. Hampir tak bosan-bosannya. Entah kenapa, sepulang dari acara ulangtahun Ungu Band di Bumi Sangkuriang, aku tak bisa tidur. Sementara sungguh sulit kuhubungi Ozi. Mungkin dia ada di kampus, atau di mall sedang membolos dengan teman-temannya, atau duduk di taman plaza sambil makan cornflakes dan menunggu cowok lain yang akan menyapanya.&lt;br /&gt;Astaga, kenapa aku tiba-tiba dibakar api cemburu dan punya prasangka buruk? Akhirnya aku terlelap juga dengan CD Mozart masih menyala. Dan bangun kesiangan, kalau saja tidak ada yang menggedor pintu kamarku keras-keras. Pasti Si Kinoy! Habis siapa lagi? Kami cuma tinggal berdua di paviliun ini.&lt;br /&gt;"Gantama, ada kiriman paket dari Ozi!"&lt;br /&gt;Ozi?! Wow, pasti CD itu! Kubuka pintu secepat kilat. Kinoy memberikan sepucuk telegram, yang membuatku mengerutkan kening. "Kau bilang...?"&lt;br /&gt;"Ini baca dulu, siapa tahu penting! Baru nanti paketnya dibuka," ujar Kinoy. Aku mendadak berdebar-debar.&lt;br /&gt;Aku ragu membuka telegram internasional itu. Tidak kukenal pengirimnya, tapi berasal dari Kanada. Dan darahku berdesir.&lt;br /&gt;"Ozi, passed away in Green Hospital, Rose Town, at 01.32 p.m., after the accident...." Ya, Tuhan! Mataku gelap mendadak. Ozi... Ozi! Gemetar kuterima paket CD, tapi aku sudah kehilangan semangat. Sampai hampir satu jam aku terduduk lemas, sementara kulihat Kinoy hanya memandangku tanpa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;"Telegram itu dari siapa?" tanyanya perlahan.&lt;br /&gt;Kembali kubaca isi beritanya, seraya masih tak percaya. Ada nomor telepon pengirimnya jika aku ingin menghubungi. Maka itu yang segera kulakukan untuk memastikan semuanya.&lt;br /&gt;"Could I speak with Miss... Berthoziane Robb...."&lt;br /&gt;"Speaking."&lt;br /&gt;"I'm Gantama. I just receive your telegram...."&lt;br /&gt;Lalu suara wanita di sana menjelaskan sedikit peristiwa kecelakaan Ozi sepanjang yang diketahuinya. Dan ia pikir, ia harus memberitahu kepada semua kerabat Ozi, termasuk kartu nama Gantama yang terselip di dompet Ozi.&lt;br /&gt;"Oh, no! Last night I called her, and she was still...."&lt;br /&gt;Hatiku serasa disayat-sayat. Tak tahu apa lagi yang harus kulakukan, kecuali menerima kenyataan yang tak disangka-sangka. Inforwoman itu mempersilakan aku datang ke Kanada untuk ziarah.&lt;br /&gt;"Thank you, Miss... Bertho...."&lt;br /&gt;"Just call me, Ozi, Gantama! Okay. I'm sorry about it. And you're wellcome."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-8820774306078500246?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/8820774306078500246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/1332.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8820774306078500246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8820774306078500246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/08/1332.html' title='13.32'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn3Nz5t5HOI/AAAAAAAAAOs/ZKsFIqLBKJs/s72-c/13.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-6941585146349679466</id><published>2009-07-30T07:45:00.000-07:00</published><updated>2009-07-30T08:06:31.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BV'/><title type='text'>PKR Bonus at www.flopturnriver.com</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SnG2aALl5pI/AAAAAAAAAMc/pPnIWmgRQls/s1600-h/PKR.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 247px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SnG2aALl5pI/AAAAAAAAAMc/pPnIWmgRQls/s320/PKR.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364269189016446610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nice to meet you with an interesting article. Online interest in winning. So that the game is the best way to do it. Poker game is a game, so you can use the money through the game.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;While browsing Internet I came on a site that many of the Fire f poker site and their comments. City of &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.flopturnriver.com/reviews/Online-Poker-PKR.php"&gt;PKR review&lt;/a&gt; your comments and opinions with the recommendations of the poker game, and also have additional victims. You have many bonus offers that we know when a page &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.flopturnriver.com/PKR-Bonus.php"&gt;PKR&lt;/a&gt;&lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.flopturnriver.com/PKR-Bonus.php"&gt; Bonus&lt;/a&gt;. They offer a bonus of 100% up to $ 600 and you can also use the bonus code on this site. You have to do is visit the site and PKR in the game site, and the only way, because his name, the amount of the deposit and the &lt;a style="color: rgb(51, 102, 255);" href="http://www.flopturnriver.com/PKR-Bonus-Code.php"&gt;PKR bonus code&lt;/a&gt;, up to $ 50.&lt;br /&gt;Web site offers a guide to help you play poker and PKR are also screenshots of the game directly involved in the game presentation process. For more information visit www.flopturnriver.com!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-6941585146349679466?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/6941585146349679466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/pkr-bonus-at-wwwflopturnrivercom.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6941585146349679466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6941585146349679466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/pkr-bonus-at-wwwflopturnrivercom.html' title='PKR Bonus at www.flopturnriver.com'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SnG2aALl5pI/AAAAAAAAAMc/pPnIWmgRQls/s72-c/PKR.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-8587014000106187361</id><published>2009-07-30T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T09:55:08.319-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reni Erina'/><title type='text'>Gelas Kristal dan Sepotong Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2tjSH3SmI/AAAAAAAAAOk/L4kPnZzVdgg/s1600-h/gelas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2tjSH3SmI/AAAAAAAAAOk/L4kPnZzVdgg/s320/gelas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367637152567347810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Ke rumahku, yuk! Kita bikin pe-er bareng-bareng!"&lt;br /&gt;"Tapi aku harus pulang dulu. Kalo nggak pamit sama Mama, uh, bisa-bisa kupingku bengkak tujuh hari!"&lt;br /&gt;Imel terkikik. "Ya, sudah. Aku tunggu di rumah sore nanti, ya?"&lt;br /&gt;"Hai, semua!"&lt;br /&gt;Imel dan Rista kontan menoleh ke arah sumber suara yang amat mereka kenal. Tak jauh dari tempat mereka, nampak senyum Bastian mekar menghampiri kumpulan teman-temannya. Beberapa detik kumpulan itu bertambah riuh dengan derai canda. Apalagi Bastian memang terkenal dengan gaya humornya. Konyol tapi simpatik. Dan dua gadis itu saling lirik menyembunyikan kekagumannya diam-diam.&lt;br /&gt;"Yuk. Bisnya datang, tuh."&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keduanya melompat naik. Tapi diam-diam sudut mata keduanya masih sempat mencuri pandang ke arah kumpulan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uaaahhh! Akhirnya...!"&lt;br /&gt;Rista meregangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap kecil. Lalu berbaring di karpet lembut.&lt;br /&gt;"Lega kan, kalo pe-er sudah kelar? Nah, sekarang enaknya kita ngapain, ya?" Imel menutup bukunya. Dinyalakannya disc-player. "Mau tambah minum lagi?"&lt;br /&gt;Rista mengangguk. Membiarkan Imel beranjak keluar kamar, sementara dia asyik memeluk Teddy Bear. Tembang-tembang lembut itu malah membuai rasa kantuknya.&lt;br /&gt;"Ini dia! Sekalian aku bawa botol jusnya biar kamu bisa nambah sepuasnya, tanpa aku harus repot bolak balik. Dan ini ada banyak cemilan kesukaan kamu."&lt;br /&gt;"Dari tadi, kek!" Dengan antusias Rista mencomot biskuit coklat yang kalengnya masih dalam dekapan Imel. Imel sampai melotot gemas.&lt;br /&gt;"Kalo ngerjain pe-er sambil ngemil, nggak bakalan beres. Apalagi kamu! Eh, tahu Tutu kelas sebelah kan? Lihat perubahan badannya, nggak?"&lt;br /&gt;"Tutu? Nah, itu dia yang aku heran. Dia kok sekarang langsing, ya? Diet?"&lt;br /&gt;"Tauk! Tapi dia jadi kelihatan cantik, ya?"&lt;br /&gt;"He-eh, sih. Pasti Heru si Mata Keranjang itu termasuk salah satu yang kecantol."&lt;br /&gt;Imel terkikik. "Kok, Heru? Kenapa juga nggak kamu sebutin Si Roy, Agus, Kim, atau Bastian?"&lt;br /&gt;"Soalnya Heru itu nggak bisa lihat jidat bagus sedikit. Tapi kalo cowok model si... Roy, atau... Bastian...." Rista menelan ludah saat menyebut nama terakhir itu. "Mereka bukan tipe seperti itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak cewek cakep di sekolah kita yang histeris banget ngejar-ngejar mereka? Toh, mereka nggak peduli! Apalagi kalo cuma Si Tutu!"&lt;br /&gt;"Kamu kepingin nggak jadi cewek tercantik di sekolah?"&lt;br /&gt;"Maksudnya?" Rista mencomot biskuit coklat kedua.&lt;br /&gt;"Supaya kamu bisa jadi idola."&lt;br /&gt;Rista nyengir. Menjawil pipi Imel gemas.&lt;br /&gt;"Bodoh amat sih, kalo aku nggak punya impian seperti itu. Dengan menjadi cewek tercantik, rasanya aku akan mudah mendapatkan cowok mana pun yang aku suka."&lt;br /&gt;"Tapi cantik saja belum cukup ya, Ris?"&lt;br /&gt;"Ya. Benar juga," Rista menarik napas. Dia jadi kurang semangat mengunyah biskuitnya. Bayang Bastian menari-nari.&lt;br /&gt;"Abangku, Reinhard, pernah bilang, yang menarik dari cewek adalah kepribadian yang baik dan tutur kata yang manis. Kecantikan fisik memang daya tarik pertama. Tapi bukan yang utama dan terpenting."&lt;br /&gt;"Kepribadian yang baik itu yang kayak apa, sih?"&lt;br /&gt;"Yaaaang...," Imel mulai usil. "Yang nggak doyan ngemil kayak kamu!"&lt;br /&gt;Rista nyengir. Menyambit Imel dengan Teddy Bear. Tapi meleset. Teddy Bear itu melayang ke arah meja sudut dekat ranjang. Untungnya Imel cepat menangkapnya. Sebelum Teddy Bear itu memporak-porandakan yang ada di atas meja sudut.&lt;br /&gt;"Hei, awas! Nanti kena gelas kristalku!"&lt;br /&gt;"Oups! Sori, Mel. Eh, tapi... gelas kristal?" Dengan dahi berkerut bola mata Rista berpindah ke arah meja sudut. "Kenapa pindah ke situ, Mel? Biasanya gelas kristal itu kan kamu pajang di lemari kaca? Dengan meletakkannya di atas meja itu, resiko pecahnya besar, Mel!"&lt;br /&gt;"Tak akan pecah kalo tidak ada yang melempar Teddy Bear-ku seperti tadi." Imel mendelik lucu. "Cuma ganti suasana saja kok, Ris. Tapi jadi cantik kan di meja itu?"&lt;br /&gt;"Hei!" Rista tiba-tiba mendekati meja sudut dan menyentuh bibir gelas kristal itu dengan ujung jarinya hati-hati. Gelas itu berisi air putih.&lt;br /&gt;"Jangan disentuh!" Imel melesat, menarik tangan Rista dengan gemas.&lt;br /&gt;Rista meringis. Kedua alisnya terangkat tinggi.&lt;br /&gt;"Sejak kapan kamu minum di gelas kristal? Hihihi, pingin seperti Putri Cinderella, ya? Pesta dansa dengan anggur dalam gelas kristal? Tapi itu kok, bukan anggur?"&lt;br /&gt;"Ngaco! Siapa yang mimpi jadi Cinderella? Sini! Aku ceritakan sesuatu." Imel menarik Rista ke bibir ranjang. Dipandanginya sahabatnya itu dengan raut ragu. "Janji jangan menertawakan aku?"&lt;br /&gt;"Oke." Rista memasang wajah serius. Tapi detik berikutnya dia malah terbahak.&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Daripada tertawanya nanti dan kamu tersinggung, sebaiknya tertawa sekarang."&lt;br /&gt;"Ah, sinting! Kamu percaya pada sesuatu yang bersifat...." Imel mengedikkan bahu. Dia bingung dan belum menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kalimat supranatural yang dimaksud. "Bersifat...."&lt;br /&gt;"Mistik? Dongeng? Tahayul? Apa, dong?"&lt;br /&gt;"Entahlah! Tapi minggu lalu nenekku kedatangan kawan lamanya. Kawan nenekku itu menyarankan agar aku selalu menyediakan segelas air putih dalam gelas kristal tiap malam sebelum aku tidur, sambil berdoa dan memohon apa pun keinginanku."&lt;br /&gt;"Teruuus...?"&lt;br /&gt;"Bila aku bermimpi tentang sesuatu yang berhubungan dengan doa dan permohonanku itu, maka begitu terbangun, aku harus meminum air itu sampai habis."&lt;br /&gt;"Maksudnya, biar mimpi itu jadi kenyataan?"&lt;br /&gt;Imel mengangguk. Tapi Rista malah ngakak.&lt;br /&gt;"Gimana hasilnya?"&lt;br /&gt;"Aku baru melaksanakan anjuran itu tiga hari ini. Selama tiga hari ini, aku belum bermimpi apa pun. Apalagi yang berhubungan dengan doa dan permohonanku."&lt;br /&gt;"Terus, air putih ini?"&lt;br /&gt;"Kawan nenekku itu bilang, jangan diminum sebelum aku bermimpi apa pun."&lt;br /&gt;"Jadi, umur air ini sudah tiga hari?"&lt;br /&gt;"Ya. Tapi air nggak kenal basi. Apalagi kalau nggak ada kamu di sini, kamarku ini steril, lho? Anti-kuman."&lt;br /&gt;Rista kembali ke karpet. Menuangkan jus dalam gelas dan meneguknya.&lt;br /&gt;"Sebenarnya, kalo boleh aku tahu apa sih permohonan kamu?"&lt;br /&gt;Imel meringis. Dia menggeleng. "Tak akan aku sebutkan!"&lt;br /&gt;"Tapi salah satunya pingin jadi cewek tercantik, kan?"&lt;br /&gt;"Hm... nggak juga!"&lt;br /&gt;Imel nyengir. Hatinya mendadak bermekaran. Tak akan dia sebutkan bahwa salah satunya adalah berharap Bastian punya sedikit perhatian untuknya! Sayangnya, dia tak pernah bermimpi tentang yang satu itu. Hati Imel mendadak luluh. Diliriknya gelas kristalnya.&lt;br /&gt;"Resep itu boleh juga kamu coba, Ris."&lt;br /&gt;"Tak akan! Kayak anak kecil. Percaya sama tahayul macam itu. Sekarang bukan zaman dukun-dukunan lagi, Non! Sudah, ah. Aku pulang dulu. Trims ya, jangan lupa baca mantera sebelum tidur. Dan siapkan juga bola kacanya, ya? Hihihi...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, di kamarnya, Rista malah terbengong-bengong. Segelas air putih dalam gelas kristal? Meminumnya kalau kita bermimpi tentang permohonan kita? Hih, aneh! Bola mata Rista menyapu langit-langit kamar. Seandainya aku mempercayai 'tradisi' itu, kira-kira permohonan apa yang akan aku minta sebelum tidur itu, ya? Minta supaya aku jadi juara kelas? Atau minta supaya Bastian jadi pacarku? Atau....&lt;br /&gt;Rista senyum-senyum sendiri. Kok jadi ketularan sintingnya Imel, ya?! Minta supaya Bastian jadi pacarku, mungkin terlalu jauh. Tapi paling tidak Bastian punya sedikit perhatian padaku. Mau menyapaku, atau mau mengajakku ngobrol di kantin. Aha! Rasanya boleh juga dicoba.&lt;br /&gt;Tergesa Rista bangkit. Dia menuju ke ruang tengah. Kebetulan Mama punya satu set gelas kristal kiriman Om Yon dari Hongkong. Mama tentu tak akan kehilangan jika dia mengambilnya satu.&lt;br /&gt;Setelah diisi dengan air putih dari dispenser, dibawanya gelas itu ke kamar. Diletakkan di sisi tempat tidur. Rista mulai menarik selimutnya. Jam sepuluh saat dia melirik weker. Dipanjatkannya sejuta permohonan tentang Bastian dengan tangan dilipat di dada dan mata memejam. Semoga saja malam ini dia benar-benar memimpikan Bastian. Tapi Imel tidak boleh tahu hal ini! Oh, Bastian! Cowok paling keren, paling simpatik, dan paling lucu! Apa lagi kalau sedang menggiring bola basket di lapangan. Apa lagi kalau sedang berkutat dengan buku-buku di perpustakaan. Apa lagi kalau sedang tertawa dan bercanda bersama teman-temannya. Apa lagi kalau....&lt;br /&gt;Rista terlelap. Dengan sejuta angan tentang Bastian dibawanya dalam tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi saat Imel menjejakkan kaki di halaman sekolah, hatinya demikian kacau. Bahagia, resah, ragu, berbaur satu. Semalam, untuk yang pertama kalinya sejak dia menerapkan anjuran kawan neneknya tentang air putih dalam gelas kristal tiga hari yang lalu itu, dia bermimpi. Ini adalah mimpi yang terindah yang selama ini dia panjatkan. Bastian datang dan memberi bunga. Waw! Dan bunga itu dipersembahkan Bastian di halaman samping sekolah! Waktu pagi tadi dia terbangun, segera saja air putih dalam gelas kristal di meja sudut itu diteguknya sampai habis!&lt;br /&gt;Lalu apa yang akan terjadi hari ini, ya? Imel melangkah dengan keresahan yang setengah mati dia sembunyikan. Semoga mimpi itu jadi kenyataan, Tuhan!&lt;br /&gt;Sampai di kelas ternyata sudah ada Rista. Duduk bertopang dagu dengan mata menerawang.&lt;br /&gt;"Ngelamuni siapa?"&lt;br /&gt;Olala, Rista nyaris terlompat kaget. Dia melotot kesal. Lamunannya tentang mimpi semalam buyar. Imel pengacau! Tak tahukah anak ini bahwa mimpi indah semalam itu akan terus dia kenang? Heh, hebat juga. Sekali dia berdoa sebelum tidur, malamnya Bastian datang dalam mimpi. Mendekatinya dan mengajaknya minum di kantin. Begitu dia terbangun pagi tadi, air putih dalam gelas kristal itu diteguknya sampai habis. Semoga menjadi kenyataan. Tapi si Pengacau ini datang mengganggu lamunannya. Huh!&lt;br /&gt;"Tumben pagi sekali kamu datang?"&lt;br /&gt;"Biar nggak kena macet."&lt;br /&gt;"Ke kantin, yuk!"&lt;br /&gt;Rista menahan napas. Ke kantin? Bagaimana kalau bertemu Bastian? Jangan-jangan cowok itu urung mengajaknya minum karena ada Imel? Biasanya, di kencan pertama, cowok akan merasa risih bila ada orang ketiga.&lt;br /&gt;"Nanti saja!"&lt;br /&gt;"Aku mau beli permen, nih. Yuk, sebelum bel."&lt;br /&gt;Rista ragu-ragu mengikuti langkah Imel. Bola matanya mencari-cari sepanjang langkah mereka menuju kantin dimana si Keren Bastian? Oups! Itu dia! Bersandar di dekat pintu kantin. Sendirian. Mungkinkah Bastian menunggunya? Rista serba salah. Ditariknya tangan Imel&lt;br /&gt;"Nggak usah ke kantin, deh!"&lt;br /&gt;Imel bingung. Kenapa juga Si Rista ini! Dan Imel mendadak panik saat menangkap bayang Bastian yang beranjak menuju halaman samping. Mimpi itu! Oh, mungkinkah? Imel menarik tangannya dari cengkeraman Rista.&lt;br /&gt;"Aku ada perlu sebentar!"&lt;br /&gt;"Ke mana?"&lt;br /&gt;"Ke kelasnya Tutu. Kamu tunggu saja di kelas."&lt;br /&gt;Imel ngibrit meninggalkan Rista yang manyun-manyun karena kesal.&lt;br /&gt;Tiba di halaman samping, Imel melihat Bastian duduk sendirian di bangku taman. Dia pura-pura berjalan menuju perpustakaan. Inikah saatnya, Tuhan?! Ah, semoga Bastian memanggilnya dan....&lt;br /&gt;"Mel!"&lt;br /&gt;Jantung Imel hampir copot. Tapi suara itu bukan suara Bastian. Tapi Dodo! Hah, pengacau!&lt;br /&gt;"Ada waktu?" Dodo tergopoh-gopoh menghampirinya.&lt;br /&gt;"Untuk?"&lt;br /&gt;Dodo menarik sikutnya agak ke tepi.&lt;br /&gt;"Ulangtahunmu dua minggu lalu, sebenarnya aku mau memberikan sesuatu untukmu. Tapi aku ragu. Dan kupikir, mungkin sekarang waktu yang tepat."&lt;br /&gt;Imel ternganga saat Dodo mengulurkan tiga tangkai bunga mawar plastik mungil yang terbungkus dalam bentuk buket. Cantik sekali.&lt;br /&gt;"Aku senang kalau kamu mau menerimanya. Kutelepon malam nanti, ya?"&lt;br /&gt;"Tapi...."&lt;br /&gt;Dodo sudah kabur. Imel tertegun di tempatnya. Dodo? Diliriknya Bastian yang masih duduk sendirian entah menunggu siapa. Hah, kenapa Dodo? Rasanya semalam yang dia sebutkan dalam doa adalah Bastian.&lt;br /&gt;Hati Imel nelangsa. Apa lagi saat dirasakannya Bastian sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya di situ. Cowok itu malah asyik membuka-buka catatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bel pulang berdering, Rista begitu antusias mengemasi buku-bukunya. Berbeda dengan Imel yang nampak lesu.&lt;br /&gt;"Ada apa sih, Mel? Dari tadi cemberuuut saja. Ngomong, dong! Aku kan bingung?"&lt;br /&gt;Imel menggeleng. "Cuma lagi malas saja bawaannya."&lt;br /&gt;"Benar? Nggak ada apa-apa?"&lt;br /&gt;"Ya. Aku mau ke perpustakaan sebentar, mengembalikan buku."&lt;br /&gt;"Kalau begitu, aku tunggu di kantin ya?"&lt;br /&gt;"Oke."&lt;br /&gt;Rista lega. Barangkali inilah kesempatannya. Bukankah setiap bel pulang dia sering melihat Bastian menuju kantin?&lt;br /&gt;Di kantin Rista duduk memesan es jeruk. Dadanya berdebar resah. Terutama saat melihat Bastian masuk ke kantin. Tapi cowok itu bersama teman-temannya. Doa Rista bertebaran di hati. Semoga mimpi itu menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;"Hai? Sendirian?"&lt;br /&gt;Duh! Rista mengumpat dalam hati. Kenapa si Mata Keranjang Heru yang mengambil tempat di depannya?&lt;br /&gt;"Boleh aku traktir minumnya?"&lt;br /&gt;"Terima kasih, tapi aku sudah bayar kok."&lt;br /&gt;"Mana Imel? Nggak bareng dia?"&lt;br /&gt;"Di perpustakaan." Rista mengaduk-aduk es jeruknya dengan hati tak karuan. Cepatlah pergi, Mata Keranjang, karena tempat itu untuk Bastian!&lt;br /&gt;"Kalau lain kali aku mengajakmu keluar, mau?"&lt;br /&gt;"Terima kasih!" Rista mulai memasang wajah tak suka. Dan hatinya perlahan luluh lantak saat dilihatnya Bastian dan teman-temannya meninggalkan kantin. Oh, mimpi itu!&lt;br /&gt;Untung saja Imel segera muncul sebelum Heru bertambah menjengkelkan. Cowok itu beranjak saat Imel memintanya pergi dengan halus.&lt;br /&gt;"Ternyata asyik berduaan, ya?" ledek Imel.&lt;br /&gt;Rista cemberut. "Ini hari yang menyebalkan!" rungutnya. Tapi jauh di dasar hatinya dia masih berharap mimpi itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.&lt;br /&gt;"Aku juga merasakan hal yang sama. Menjengkelkan! Lihat!" Imel mengeluarkan bunga mawar plastik dari tasnya.&lt;br /&gt;"Waw, cantiknya!" Rista mengelus bunga itu. "Dari siapa? Harusnya kamu bahagia, dong?"&lt;br /&gt;"Ya, kalau saja yang memberikannya bukan Dodo!"&lt;br /&gt;"Hah? Dodo?" Riska cekikikan.&lt;br /&gt;"Diam! Ayo kita pulang!"&lt;br /&gt;Di dalam bis, Rista masih cekikikan meledek Imel.&lt;br /&gt;"Seandainya bukan Dodo yang memberi bunga itu?" gumam Rista.&lt;br /&gt;"Siapa misalnya?" tanya Imel dalam nada malas.&lt;br /&gt;Rista mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin seseorang yang kamu harapkan."&lt;br /&gt;"Akan menjadi lain!" Imel tersenyum kecut. "Tadi pagi aku bahagia sekali. Seperti yang kusebutkan dalam doa dan permohonan, aku memimpikan seseorang memberiku seikat bunga. Seseorang yang membuatku simpatik selama ini. Air putih dalam gelas kristal itu langsung aku teguk. Tapi ternyata...."&lt;br /&gt;"Boleh aku tahu, siapa?"&lt;br /&gt;Imel menatap Rista ragu. "Bastian!"&lt;br /&gt;Tenggorokan Rista tersekat. Jadi selama ini permohonan mimpi mereka sama? Tentang Bastian? Haruskah dia menceritakan juga mimpinya semalam dan 'resep' air putih dalam gelas kristal yang diconteknya dari Imel?! O, tidak! Dia tidak mau Imel menertawakannya!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-8587014000106187361?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/8587014000106187361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/gelas-kristal-dan-sepotong-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8587014000106187361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/8587014000106187361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/gelas-kristal-dan-sepotong-cinta.html' title='Gelas Kristal dan Sepotong Cinta'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2tjSH3SmI/AAAAAAAAAOk/L4kPnZzVdgg/s72-c/gelas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-6494272848971115246</id><published>2009-07-26T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T09:51:13.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reni Erina'/><title type='text'>Mata Telaga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2srRxmzII/AAAAAAAAAOc/7lLkEU5pTkM/s1600-h/telaga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2srRxmzII/AAAAAAAAAOc/7lLkEU5pTkM/s320/telaga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367636190401318018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;Seperti jentera ia bergulir&lt;br /&gt;pergi bersama bayang-bayang&lt;br /&gt;pekikmu selaras rekwin&lt;br /&gt;menembus tubir cinta&lt;br /&gt;yang tak berhujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pertama&lt;br /&gt;oh, cinta pertama&lt;br /&gt;mestikah kau rancapkan gulana ini&lt;br /&gt;pada sebilah hati nan putih&lt;br /&gt;: atau kubiarkan saja ia mati&lt;br /&gt;seperti mawar nan layu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat mataku, Reta!&lt;br /&gt;sejuta cinta beterbangan&lt;br /&gt;bagai kunang-kunang&lt;br /&gt;meski bukan gemintang&lt;br /&gt;tapi ia 'kan menerangimu&lt;br /&gt;: dengan ketulusan&lt;br /&gt;hingga akhir hayat ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Reta dan Cinta Pertama&lt;br /&gt;Effendy wongso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu biasa saja. Tidak terlalu cantik. Tapi sepasang mata yang dimilikinya mempunyai pesona yang luar biasa. Dalam hitungan detik Berno bisa menemukan keajaiban yang terpancar di sana, yang baru ia sadari saat suatu kali mereka bersirobok pandang.&lt;br /&gt;Mata itu bagai telaga. Begitu dalam dan damai. Seolah mampu melapangkan pepat dadanya. Membuatnya ingin berlama-lama menatapnya. Tapi mata itu juga bagai ombak. Mampu mendebarkan jantungnya dengan sirat geloranya. Membuat ia selalu saja melengos cepat-cepat untuk dapat menguasai diri. Dan dalam mata itu juga ia menemukan misteri. Seolah mendesaknya untuk menyelami hati gadis itu lebih dalam.&lt;br /&gt;Tapi ia mengutuki diri kemudian. Saat pesona mata itu semakin kuat menariknya, ia hanya bisa terpaku. Bukan karena gadis itu terlalu jauh untuk dapat ia gapai, tetapi karena bentangan tali menghadang langkahnya.&lt;br /&gt;"Aku ingin mendapatkannya!" ujarnya suatu kali saat ia mulai tak kuasa berdiam diri.&lt;br /&gt;"Nekat. Dia pacar sahabat kita. Pacar Surya!"&lt;br /&gt;Ia benci dengan kalimat itu. Suatu kali nanti, geramnya dalam hati. Seolah mengerti apa yang dipikirkan, Tedi terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;"Kamu mengharapkan mereka putus?"&lt;br /&gt;Berno melengos. Mengalihkan tatapnya dari dua sosok di depan perpustakaan itu.&lt;br /&gt;"Apa kata Surya nanti kalau tahu kamu macarin mantannya?"&lt;br /&gt;Cinta memang aneh. Seringkali datang tak kenal kompromi. Susah payah ia menyingkirkan perasaannya atas nama persahabatan. Tapi seringkali pula ia nyaris gagal, saat kerap mendapati mata telaga itu berurai basah. Ia tak rela.&lt;br /&gt;"Surya memang keterlaluan," lapor Indah, sahabat gadis bermata telaga itu, "Ngaku sayang Reta, tapi nggak pernah bersikap manis. Heran, kenapa Reta bisa tahan pacaran sama Surya!"&lt;br /&gt;Berno mengeluh dalam-dalam. Ia juga cuma bisa menarik napas saat di kesempatan lain uraian tak sedap ditangkapnya dari mulut Surya.&lt;br /&gt;"Lama-lama dia nggak asyik lagi. Nggak tahu, apa akunya yang udah bosen atau memang kita nggak cocok lagi!"&lt;br /&gt;Berno memilih yang pertama. Ia tahu betul kwalitas cinta Surya. Sejak tahun pertama kuliah, sudah belasan hati dibuatnya patah. Tapi untuk hati yang satu ini ia tak rela Surya membuatnya patah juga.&lt;br /&gt;Tapi Surya adalah Surya. Sahabat yang sangat ia kenal. Yang tak bergeming walau dengan isak tangis. Yang tetap pada langkahnya walau ada cinta yang tak ingin ia tinggalkan. Surya juga tidak sekedar pergi. Ia menorehkan luka dengan membawa serta hati yang lain.&lt;br /&gt;Saatnya untuk menggapai hatinya. Bisik batin Berno. Tapi apakah bijak? Sementara mata telaga itu masih menyisakan tangis, ia hadir seolah mempergunakan kesempatan itu! Ia juga terbelenggu ragu. Sudut hatinya masih mengatasnamakan persahabatan, sedangkan sudut hatinya yang lain mendesak atas nama cinta. Dalam dilema, batinnya tak mampu menguasai diri. Ia memilih yang terakhir. Atas nama cinta, ia datang. Mencoba menghadirkan sosoknya dalam hari-hari gadis bermata telaga. Menyisipkan satu demi satu kepingan harapnya untuk kemudian menjadi sebentuk cinta yang utuh. Tapi sungguh, mata itu benar-benar sebuah telaga. Ketenangannya seringkali menjebak. Berno tak pernah tahu kalau mata telaga itu meredam kejut atas kehadirannya. Membendung tanya dan resah yang akhirnya melahirkan praduga meski tak ingin; Apakah Berno akan membalas sakit hatinya, karena dulu kekasih Berno pernah terjerat tali simpati Surya?&lt;br /&gt;"Ia mendatangiku!" Mata telaga itu mengadu pada Indah.&lt;br /&gt;"Jangan peduli. Dia cuma kasihan sama kamu!" tepis Indah.&lt;br /&gt;Karena kasihan? Satu lagi tanya bertambah dalam praduga si mata telaga. Membuatnya semakin terombang-ambing. Tetapi ia adalah sebuah telaga. Selalu menghadirkan kesan tenang pada permukaannya. Membiarkan laki-laki itu menampakkan sosoknya pada pantulan bayang laksana cermin. Menunggu. Melihat. Pelan-pelan merasakan. Suatu kali menyadari ada sentuhan lembut yang menciptakan kecipak gelombang pada permukaan datarnya. Ia semakin resah dan berlindung pada Teratainya.&lt;br /&gt;"Kasihan atau balas dendam?" Ia mengerang.&lt;br /&gt;"Itu sebabnya kenapa aku ingatkan, abaikan saja Berno. Kamu tak ingin terluka kedua kali kan? Berno sahabat Surya. Bisa saja mereka setali tiga uang!" ujar Indah.&lt;br /&gt;Ia berada di persimpangan. Terluka tapi masih menyintai Surya. Waspada tapi sudah terbuai kelembutan Berno. Dan karena keduanya ia menangis.&lt;br /&gt;Sementara Berno terus mengalunkan getar cintanya. Tak peduli mata telaga itu tetap pada tatap penuh misterinya. Ia meyakinkan lewat mata dan senyum. Mengalirkan lewat jejak langkah. Cinta Berno memang tidak bicara dengan kata.&lt;br /&gt;Suatu kali Surya mendatanginya tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Angin membawa kabar itu ke telingaku. Aku tak mengira, karena kamu terlalu rapih untuk menampakkan. Aku tidak mau menuduh ini. Tapi, apa kamu ada di antara aku dan Reta saat itu?"&lt;br /&gt;Berno menggeleng.&lt;br /&gt;"Hei, kita sobatan! Sahabat selalu jujur, kan? Kumaafkan jika benar."&lt;br /&gt;Berno tetap menggeleng. "Aku datang pada saat kamu sudah pergi!"&lt;br /&gt;"Yang benar saja!" Surya tersenyum kecut.&lt;br /&gt;"Bukankah sahabat selalu jujur?"&lt;br /&gt;Surya menatapnya lekat. "Mungkin kamu perlu tahu, aku kembali pada Reta."&lt;br /&gt;Berno tertegun.&lt;br /&gt;"Kuharap kamu mengerti!" Surya menepuk bahunya.&lt;br /&gt;"Kamu terlalu mudah berpindah dari satu hati dan mematahkan yang lain. Tapi jika kamu benar-benar kembali pada Reta, kupastikan aku tak akan mengganggu lagi!"&lt;br /&gt;"Terima kasih. Kubuktikan ucapanmu."&lt;br /&gt;Akhirnya ia tak perlu terkejut dan tak berhak mendebatnya, saat mendapati Surya dan Reta kembali menjalin hari. Seperti yang terpancar di mata telaganya, gadis itu memiliki cinta yang dalam, yang kedamaiannya mampu membasuh luka yang pernah ditorehkan Surya. Atas nama persahabatan dan cinta, ia memilih membiarkan bentangan tali itu menghadang langkahnya lagi. Menguatkan hatinya yang mulai retak.&lt;br /&gt;Tapi diam-diam ia menangis kalah. Memaki dan mengutuki diri. Mempersalahkan cintanya yang tak juga mau pergi. Bentangan hari tak mampu membuatnya bisa melupakan.&lt;br /&gt;"Reta tak pernah kapok!" suatu hari Indah membawa berita, "Tak pernah sadar bahwa Surya bukan orang yang tepat."&lt;br /&gt;Ia tersentak. Tapi ia ingat janjinya pada Surya. Ia pun menulikan telinganya.&lt;br /&gt;"Surya lagi-lagi membuatnya menangis!"&lt;br /&gt;Ia tak bergeming. Bolak-balik Indah membawakan berita-berita itu.&lt;br /&gt;"Surya meninggalkannya lagi."&lt;br /&gt;Ia berusaha tak mendengar. Ia pura-pura tidak tahu. Melengos resah tak ingin melihat luka di mata telaga itu. Membekukan nuraninya walau tak pernah rela. Tapi suatu kali saat mata telaga itu merebak tangisnya ia tak kuasa untuk terus berdiam diri.&lt;br /&gt;"Kamu tidak sungguh-sungguh!" ia menagih janji Surya.&lt;br /&gt;"Kenapa? Bukankah artinya sekarang kamu bisa mendapatkannya, lagi?" Surya menekan kata terakhir itu. "Ambilah. Aku sudah tidak tertarik!"&lt;br /&gt;Ingin sekali ia melayangkan tinjunya.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian ia memilih menenangkan diri. Dalam kesendirian ia mempertanyakan cintanya. Apa masih sebesar dulu?&lt;br /&gt;Suatu kali tanpa diduga gadis bermata telaga itu mendatanginya, mengurai praduga. "Kamu mendekatiku karena kasihan atau balas dendam? Bukankah kekasihmu dulu tertarik pada Surya?"&lt;br /&gt;"Aku tidak suka kata-kata itu. Tapi kalau memang benar, sudah dari dulu kurampas kamu darinya."&lt;br /&gt;"Jadi kamu sungguh-sungguh mencintaiku?"&lt;br /&gt;Berno tak pandai berkata cinta. Ia cuma mengangguk. Anggukan itu yang kemudian malah membawa mata telaga menjadi miliknya. Miliknya!&lt;br /&gt;"Tak mudah bagi Reta melupakan aku!" Surya mengejeknya saat mengetahui hubungan mereka.&lt;br /&gt;"Aku tahu. Tapi sayang, kamu sudah menyia-nyiakannya."&lt;br /&gt;"Kalau saat ini ia memilihmu, itu karena dia merasa kesepian. Kita lihat berapa lama kamu dapat mempertahankannya."&lt;br /&gt;Berno tak peduli pada pisau yang coba ditusukkan Surya ke dadanya. Dalam balutan cinta, ia lalui hari penuh warna bersama si mata telaga. Sampai beberapa waktu kemudian mata telaga itu harus melanjutkan studinya di luar negeri setelah berhasil mendapatkan program bea siswa.. Meski berat, atas nama cinta, Berno melepasnya pergi.&lt;br /&gt;"Tunggu aku! Aku pasti kembali untukmu!" gadis itu menyemat janji saat Berno melepasnya di bandara.&lt;br /&gt;Rindu mengepungnya. Sepi menjeratnya. Kekhawatiran menyiksanya. Tapi cinta Berno tetap berpijar. Di tengah pergantian musim, terpaan hujan serta sengat matahari. Ia terus menunggu. Mengalunkan doa dan pengharapannya. Sampai pada masa penantiannya usai. Setengah melonjak ia sambut hari dimana mata telaga itu kembali. Memeluknya erat seolah menebus rentangan waktu yang terhalang jarak. Tapi ia tercenung tiba-tiba. Merasakan ada yang berbeda pada pelukan si mata telaga. Tak perlu berlama-lama. Dengan mata telaganya yang bening, gadis itu tak pandai menyimpan kebohongan.&lt;br /&gt;"Maafkan aku!"&lt;br /&gt;Berno siap mendengarkan di hari pertama mereka bertemu lagi.&lt;br /&gt;"Aku tak setia, Berno. Kami bertemu lagi di Perth."&lt;br /&gt;"Lagi?" Alis Berno terangkat.&lt;br /&gt;"Ternyata aku masih menyintainya. Begitu juga dia."&lt;br /&gt;Lagi? Masih? Berno menduga-duga.&lt;br /&gt;"Kami akan bertunangan. Surya akan melamarku bulan depan."&lt;br /&gt;Berno terpekik. Waktu yang terentang sekian lama serta jarak antar benua, ternyata masih saja menyisipkan satu nama usang itu! Bagaimana bisa!&lt;br /&gt;Tapi cinta soal hati. Tak ada yang bisa menghalangi. Juga cinta mata telaga itu pada Surya. Berno pun tertegun sendiri. Atas nama cinta ia biarkan gadis itu memilih langkahnya. Kebahagiaan si mata telaga jauh di atas segalanya. Ia lenyapkan kecewa hatinya. Ia tutup luka di dadanya. Ia lewati hari-hari yang mestinya sangat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berno memeluknya semakin erat. Ia tak mengira cintanya pada mata telaga itu begitu besar. Lebih besar dari yang diduganya sendiri!&lt;br /&gt;Wanita itu menatap rimbunan Melati di depannya. Tapi pikirannya tidak di sana. Garis-garis halus di beberapa bagian wajahnya menampakkan kematangan di rentang usianya yang tak bisa lagi di sebut muda. Wajah itu harusnya tak terlihat setua itu. Tubuhnya yang semestinya masih sehat dan bugar, terkulai lemah di atas kursi roda. Tapi sepasang mata telaga yang dimilikinya tetap menyimpan pesona yang luar biasa. Sama seperti lima belas tahun lalu! Setidaknya untuk Berno!&lt;br /&gt;"Waktunya minum obat!"&lt;br /&gt;Seorang perawat muncul dengan cawan berisi butiran obat dan segelas air. "Boleh saya yang memberikannya, Sus?" pinta Berno.&lt;br /&gt;"Silakan."Berno menatap mata telaga itu lekat-lekat. Tapi si empunya mata bagai tak menyadari. Ia tetap menatap rimbunan Melati di depannya.&lt;br /&gt;"Kau harus minum obat," bisik Berno lembut.&lt;br /&gt;Tak ada reaksi. Bahkan sekedar kedipan mata. Berno menyentuh dagu itu pelan. Memasukan butiran obat pada mulut yang sudah terbuka.&lt;br /&gt;"Minumlah!"&lt;br /&gt;Wanita itu meneguk air yang disodorkan Berno dengan mata yang tidak berpindah.&lt;br /&gt;"Kamu mau Melati itu? Biar kupetikkan." Dua tangkai Melati di sodorkan Berno. Mata telaga itu bergerak. "Aku bisa memberikan berapa pun Melati yang kau mau. Tapi kupinta, bangunlah Reta. Jangan terpuruk seperti ini!"&lt;br /&gt;Mata telaga itu perlahan merebak. Tangannya menyentuh dua tangkai Melati itu. Senyumnya tipis mengembang. Angannya bermain terbang. Pada suatu masa di mana ia menjadi permaisuri. Permaisuri yang harus berkali-kali menangis, tertawa, menangis lagi dan... suatu kali harus terus menangis. Saat sang raja sungguh-sungguh pergi meninggalkan, tak menerima saat vonis menjatuhkan ia terkena kanker payudara!&lt;br /&gt;"Surya?" ia berbisik terengah. Mata telaganya bergerak mencari-cari. "Suamiku?"&lt;br /&gt;Berno menarik napas dalam-dalam. Mengutuki sang raja berhati beku. Yang melanglang bersama dayang-dayang. Meninggalkan permaisuri saat sakit, bagai habis manis sepah dibuang.&lt;br /&gt;"Surya?"&lt;br /&gt;"Ia tak di sini!" bisik Berno.&lt;br /&gt;"Dimana? Dia tidak sungguh-sungguh meninggalkan aku kan? Dia... dia akan kembali, kan?"&lt;br /&gt;Berno menghapus butiran itu dengan jarinya.&lt;br /&gt;"Surya bilang aku tidak akan sembuh... Surya bilang... aku tinggal menunggu mati. Dia... dia... tidak menginginkan aku lagi... aku sakit... katanya...!"&lt;br /&gt;Berno merengkuh bahu itu. Beberapa bulan lalu saat reuni kampus, ia mendengar semua berita tentang mata telaga. Surya menikahinya, menyakitinya berkali-kali dan benar-benar meninggalkannya dalam keadaan sekarat! Tak menyia-nyiakan waktu, ia melesat ke sini. Menempuh jarak antarbenua. Menahan sesak rindu dan penyesalannya atas kabar buruk itu. Dan di sini, ia tebus sakit hatinya atas derita si mata telaga, dengan mendampinginya, menyemangatinya. Meyakinkan bahwa sisa harinya masih teramat panjang dan amat sayang jika dilalui dengan keterpurukan. Tapi mata telaga tetap membeku. Bahkan ia tak pernah tahu yang ada di sisinya sepanjang beberapa hari ini adalah Berno, orang yang tak pernah berhenti mencintainya.&lt;br /&gt;"Suryaa!" Mata telaga itu menangis lagi. "Jangan tinggalkan aku! Pulang... Surya...!"&lt;br /&gt;Berno memeluknya semakin erat. Ia tak mengira cintanya pada mata telaga itu begitu besar. Lebih besar dari yang diduganya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-6494272848971115246?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/6494272848971115246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/mata-telaga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6494272848971115246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/6494272848971115246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/mata-telaga.html' title='Mata Telaga'/><author><name>Chimeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02518063724136217278</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/SQlea2pW72I/AAAAAAAAAAc/B5H5n3nwQ3w/S220/666.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2srRxmzII/AAAAAAAAAOc/7lLkEU5pTkM/s72-c/telaga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8782558404027311364.post-2577536355839543367</id><published>2009-07-23T00:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T09:44:48.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reni Erina'/><title type='text'>Yang Tak Bisa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2qzzvAMoI/AAAAAAAAAOU/2PZgY1aE9u8/s1600-h/father.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZFQio7nb7pM/Sn2qzzvAMoI/AAAAAAAAAOU/2PZgY1aE9u8/s320/father.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367634137932903042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;Bintang akan bercerita, Ara&lt;br /&gt;tentang cinta masa lalu&lt;br /&gt;tentang cinta pertama&lt;br /&gt;dan cinta yang buta&lt;br /&gt;juga cinta yang tak pernah mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bintang tak pernah membiarkanmu&lt;br /&gt;menitikkan airmata&lt;br /&gt;atas cinta masa lalu&lt;br /&gt;yang hilang dan bergulir&lt;br /&gt;bagai jentera bayang-bayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat dan tatap binar mataku, Ara!&lt;br /&gt;mungkin tak sebenderang gemintang&lt;br /&gt;tapi ini cinta&lt;br /&gt;yang akan menuntunmu&lt;br /&gt;dari gulita cinta masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemara,&lt;br /&gt;: atas nama cinta&lt;br /&gt;aku akan menjadi gemintang&lt;br /&gt;yang akan menerangimu sepanjang masa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Cemara dan Gemintang&lt;br /&gt;Effendy Wongso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tolol banget, sih!"&lt;br /&gt;Ya, ampun! Kenapa juga kuntilanak jelek ini muncul sambil sewot begitu? Alis Cemara bertaut.&lt;br /&gt;"Kamu udah ngelewatin satu kesempatan emas, Ara! Duuh, bego amat sih!"&lt;br /&gt;"Na?" Cemara menempelkan punggung tangannya ke kening Nana. Tapi Nana cepat menepisnya.&lt;br /&gt;"Kasihan Riko dong, Ra!" cetus Nana lagi.&lt;br /&gt;Bibir Cemara membentuk bulatan kecil. Mengerti dia. Segala hal tentang Riko dengan mudah mempengaruhi emosi Nana. Sayang betul Nana dengan sahabatnya itu. Dan Nana pasti tahu soal penolakannya akan ajakan Riko tentang makan malam kemarin.&lt;br /&gt;"Kenapa? Bukan karena kamu nggak punya baju bagus atau kamu lagi nggak enak badan, kan?"&lt;br /&gt;"Aku lapar!" Cemara malah menggandeng sahabatnya itu ke arah kantin, "kita makan bakso, ya?"&lt;br /&gt;"Ra!" Nana melotot.&lt;br /&gt;"Aduh, ini siang bolong, Na. Ngapain sih marah-marah?"&lt;br /&gt;Nana menarik napas dan menghembuskannya kasar.&lt;br /&gt;"Mmm," Cemara mendelik dengan senyum di ujung bibirnya, " Jadi kamu lebih sayang Riko daripada aku?"&lt;br /&gt;"Aku sayang kalian! Tapi kamu sering ngecewain dia. Kasihan, kan?"&lt;br /&gt;"Memang dia ngadu apa ke kamu?"&lt;br /&gt;"Dia nggak pernah ngadu apa-apa. Tapi aku punya mata dan kuping yang banyak untuk hal-hal yang menyangkut sahabat-sahabatku."&lt;br /&gt;Cemara mendengus. "Tapi aku belum siap jalan berdua aja. Apa lagi untuk makan malam."&lt;br /&gt;"Yeaah, kita selalu jalan bertiga." Nana cemberut. "Riko itu baik dan sabar! Dia suka kamu. Dia cinta berat sama kamu. Kamu sendiri pernah bilang kalo kamu juga suka dia. Apa lagi?"&lt;br /&gt;"Aku kan perlu waktu, Na."&lt;br /&gt;"Sampai kamu benar-benar bisa ngelupain Kim?" decak Nana, "Dia udah nyebur ke laut, Ra! Udah dimakan hiu!"&lt;br /&gt;Cemara tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya aku lelah, Kim. Bisiknya pada bintang-bintang itu. Dan menyadari betapa aku begitu bodoh, membiarkan waktu terlewat dengan sebuah penantian yang tak pasti. Tapi cinta ini begitu besar.&lt;br /&gt;Nana, sahabat sekaligus teman satu kelasnya itu mengenalkannya pada Riko, dua bulan lalu. Sejak itu mereka selalu bertiga. Sampai kemudian lewat Nana Cemara tahu tentang perasaan Riko.&lt;br /&gt;Riko memang baik. Selain tampan dan berotak cemerlang, Riko adalah orang yang menyenangkan. Alasan yang bagus bagi Nana untuk membujuknya membuka hatinya buat Riko. Ya, apa lagi yang kurang dari Riko? Pernah juga—secara bercanda—Cemara mengatakan kalau dia juga suka Riko. Tapi kalau untuk membuka hatinya dan menerima cinta Riko, Cemara terpaksa menggeleng kuat-kuat. Dia belum siap untuk hal satu itu.&lt;br /&gt;"Cuma makan malam aja, Ra! Selama ini kita kan selalu bertiga. Nonton, belanja, cari buku.." bujuk Nana lagi siang tadi "Kamu perlu waktu buat berdua. Sekali, dua kali..., sampai kemudian kamu bisa menerima dia pelan-pelan. Aku yakin, kamu bisa jatuh cinta beneran sama dia! Ayolah, Cuma makan malam. Apa susahnya?"&lt;br /&gt;Memang nggak susah. Tinggal ganti baju terus cabut. Lalu duduk manis di dekat Riko yang tampan!&lt;br /&gt;Bukan itu masalahnya. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba Riko mengutarakan perasaannya. Tentang tiga kata sakti yang paling ditakutinya.&lt;br /&gt;"Dia nggak akan ngomong soal itu di makan malam pertama kalian! Percaya, deh. Dia bukan tipe gegabah."&lt;br /&gt;"Tapi artinya aku udah menanam harapan buat dia, kan?"&lt;br /&gt;"Jalani aja dulu, Ra!"&lt;br /&gt;"Kenapa sih kamu ngebet amat jodohin aku sama dia?"&lt;br /&gt;"Kupikir kalian punya banyak kesamaan. Tapi satu hal pasti, karena kalian sama-sama pernah disakiti."&lt;br /&gt;Cemara menarik napas dalam-dalam. Merapatkan piyamanya tanpa beranjak dari duduknya di beranda samping. Langit lengang dengan hanya beberapa bintang nun jauh di sana. Mata Cemara mengerjap. Menatap satu persatu pijaran cahaya-cahaya itu. Apakah salah satu di antaranya dapat melihat Kim yang jauh di sana, di belahan Timur negeri ini?&lt;br /&gt;Cemara menarik nafas lagi. Apa kabar laki-laki itu? Apakah dia masih ingat pada kata-katanya sendiri sebelum pergi dulu?&lt;br /&gt;"Kamu bisa lihat bintang-bintang itu kalau kangen aku. Bintang-bintang itu akan menyampaikannya ke aku."&lt;br /&gt;"Kok bisa?"&lt;br /&gt;"Langit itu luas. Dia menyimpan segala rahasia hati manusia. Dan bintang-bintang itu yang mengutarakannya pada kita."&lt;br /&gt;"Waw, sentimental amat, sih!"&lt;br /&gt;"Dan bintang-bintang itu juga akan menyampaikan rasa kangenku ke kamu."&lt;br /&gt;"Tapi kamu akan kembali kan, Kim?"&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;Tapi ternyata tanah Maumere telah menenggelamkannya. Dua tahun berlalu dan tanah Maumere seakan tak mau mengembalikan Kim padanya! Cuma sepuluh bait sms dan empat dering telepon di dua bulan pertama sebelum dia benar-benar raib!&lt;br /&gt;Masihkah Kim mengingatnya, atau setidaknya pernahkah? Satu atau dua kali saja?&lt;br /&gt;Cemara menebarkan pandangnya lagi ke atas. Memilih satu bintang yang paling terang. Menatapnya lama. Dan seolah tengah berbicara padanya, diungkapkannya segala tanya dan rindunya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia menggeram. Membuang pandangnya dan merutuki diri.&lt;br /&gt;Sudah kali berapa dia begini? Berharap dan berdoa semoga Kim kembali? Mengurung diri dan berkhayal bahwa Kim masih miliknya? Masih mengingat dan mencintainya? Dan sudah kali keberapa dia akhirnya kecewa?&lt;br /&gt;Shit! Dia begitu lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita mau makan es krim!"&lt;br /&gt;Mata Nana mengerjap. Ada sorot setengah memaksa di sana.&lt;br /&gt;"Dan es krim lezat itu nggak bakal jadi masuk perutku kalo kamu mengacaukannya!"&lt;br /&gt;Cemara merengut.&lt;br /&gt;"Aku harus pulang cepat. Kali ini tanpa aku, deh!"&lt;br /&gt;Nana menyeretnya ke pojok.&lt;br /&gt;"Kamu pikir Riko mau mentraktir untuk apa? Untuk mencari kesempatan supaya bisa lebih lama sama kamu!"&lt;br /&gt;"Kamu bener-bener memanfaatkan aku, ya!" Cemara merengut.&lt;br /&gt;"Katakanlah begitu!" Nana mengendikkan bahu tanpa merasa bersalah.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Riko sudah ada di belakang mereka.&lt;br /&gt;"Gimana? Jadi? Yuk!"&lt;br /&gt;Cemara cuma bisa menurut waktu Nana sudah menariknya masuk ke mobil Riko. Dan seperti biasa Nana akan setengah memaksa menyediakan tempat Cemara di depan, di sisi Riko.&lt;br /&gt;"Es krim ini terkenal dari dulu, lho!" Riko menstarter mobilnya, "Dari jaman orang tuaku muda dulu. Kalian pasti ketagihan!"&lt;br /&gt;"Tapi jangan lama-lama ya, Ko," ujar Cemara. Entahlah, sejak tahu isi hati Riko dari Nana, dia jadi merasa tak nyaman lagi.&lt;br /&gt;"Kenapa? Kena tugas ngepel di rumah?"&lt;br /&gt;"Kok tahu, sih?"&lt;br /&gt;"Tenang, nanti aku bantuin nimba airnya!"&lt;br /&gt;Cemara tersenyum. Dia suka gaya Riko yang santai tapi begitu dewasa. Diliriknya Riko sekilas. Dalam hal apa pun, dia sebanding dengan Kim. Tapi kenapa hatinya masih ragu untuk terbuka dan menerima kehadiranya?&lt;br /&gt;"Dulu orang tuaku pacarannya di sini."&lt;br /&gt;Mereka tiba di sebuah resto kecil yang nyaman. Riko memilihkan tempat di sisi dekat kolam mungil berisi koi-koi lucu.&lt;br /&gt;"Kok kamu tahu? Emangnya orang tua kamu selalu cerita soal masa pacaran mereka?" tanya Nana.&lt;br /&gt;"He-eh. Tapi sebetulnya aku yang banyak nanya. Siapa tahu aku bisa belajar dari mereka." Riko cengengesan.&lt;br /&gt;"Belajar apa? Belajar untuk bisa memahami dan memperlakukan wanita, begitu?" kerling Nana, "Pantas banyak cewek jungkir-balik sama kamu!"&lt;br /&gt;"Kata siapa ada cewek jungkir balik karena aku! Mungkin memang mereka itu pesenam! Hehe!" Riko geleng-geleng.&lt;br /&gt;"Ada banyak cewek yang terpuruk, Riko. Yang gagal dapetin perhatian kamu!"&lt;br /&gt;"Nggak, aku nggak pernah sengaja membuat mereka begitu. Aku berusaha nggak akan penah mempermainkan perasaan orang. Aku nggak bisa menyakiti siapa pun."&lt;br /&gt;Cemara menatapnya sekejap sebelum mengalihkan perhatiannya pada koi-koi. Nana tiba-tiba beranjak dari duduknya dan pamit ke toilet.&lt;br /&gt;"Memangnya kamu pernah disakiti, Ko?" Tanya Cemara ragu.&lt;br /&gt;Riko menggeleng. "Mudah-mudahan nggak akan pernah!" Dia tergelak dan menatap Cemara. "Kalau pun ada yang menyakitiku, aku akan berusaha untuk tidak mengingatnya. Jadi aku nggak tahu siapa-siapa yang penah menyakitiku."&lt;br /&gt;"Semudah itu?"&lt;br /&gt;"Tentu aja nggak, Ara!"&lt;br /&gt;Cemara tercenung. Memainkan sendoknya.&lt;br /&gt;"Kenapa, Ara?"&lt;br /&gt;Cemara mengangkat wajahnya. "Sebenarnya aku juga takut kalau ada orang lain yang terluka karena aku."&lt;br /&gt;"Kalau yang kamu maksud soal penolakanmu tentang makan malam tempo hari...."&lt;br /&gt;"Ya, di antaranya."&lt;br /&gt;"Ara, aku memang kecewa. Tapi aku nggak mungkin terluka cuma karena soal itu. Hei, aku dididik untuk menjadi orang yang berbesar hati."&lt;br /&gt;"Syukurlah! Tapi...."&lt;br /&gt;"Mungkin aku akan bersiap-siap untuk satu hal lagi yang lebih hebat."&lt;br /&gt;Cemara menelan ludah. Satu hal lagi? Yang lebih hebat? Tenggorokannya terasa kering. Di depannya Riko menatapnya. Ada sesuatu yang akan terucap di mata itu dan mungkin sudah di ujung lidah. Ah, dia takut sekali. Takut untuk mengatakan tidak. Takut berbohong pada dirinya sendiri bahwa dia mulai menyukai Riko lebih dari kemarin-kemarin. Juga takut karena sisi hatinya masih menyimpan kenangan seorang Kim! Masih berharap kalau-kalau laki-laki itu muncul dan kembali mengisi hari-harinya.&lt;br /&gt;Dan dia tersadar kalau Nana sudah terlalu lama meninggalkan mereka.&lt;br /&gt;"Kemana anak itu?" ujarnya.&lt;br /&gt;"Kamu membenciku, Ara?" Tanya Riko, tiba-tiba dan tak terduga.&lt;br /&gt;Alis Cemara terangkat tinggi.&lt;br /&gt;"Tentu aja nggak, Riko. Kenapa?"&lt;br /&gt;"Tapi juga tidak mencintaiku, kan?"&lt;br /&gt;Cemara sampai berhenti bernapas. Cara Riko mengungkapkan isi hatinya memang berbeda. Tentang tiga kata yang amat ditakutinya. Tapi tetap saja membutuhkan jawaban!&lt;br /&gt;"Aku lelah, Ara. Aku nggak mau mengatakan ini sebenarnya dan akan menyimpannya. Tapi aku lelah. Dan aku tak peduli apa pun jawabanmu!"&lt;br /&gt;Cemara menelan ludah.&lt;br /&gt;"Dan semoga kamu pun lelah menunggu seseorang di sana, Ara. Setelah penantian panjangmu."&lt;br /&gt;Cemara ternganga.&lt;br /&gt;"Maaf. Nana yang menceritakannya setelah kudesak. Itukah sebabnya kenapa kamu menjaga jarak? Kamu masih menunggunya? Masih setia berharap? Masih yakin bahwa suatu saat angin akan membawanya kembali?"&lt;br /&gt;"Itu urusanku!" cetus Cemara tersinggung.&lt;br /&gt;"Aku iri, Ara. Dan aku cuma berharap kamu lelah menunggunya dan mencoba membuka hati buatku."&lt;br /&gt;Cemara tergugu. Matanya basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya Cemara kembali tercenung di beranda. Kembali menatap satu-satu bintang di langit sana. Dan kembali berbicara pada mereka.&lt;br /&gt;Sebetulnya aku lelah, Kim. Bisiknya pada bintang-bintang itu. Dan menyadari betapa aku begitu bodoh, membiarkan waktu terlewat dengan sebuah penantian yang tak pasti. Tapi cinta ini begitu besar. Kutelan segala gelisah, rindu dan caci maki. Kucoba yakin pada kekuatan cinta yang katanya bisa menyatukan dua hati walau terhalang benteng, jarak dan waktu. Tapi keyakinan itu seringkali terkikis dan nyaris habis. Cinta bukan cuma membutuhkan keyakinan.&lt;br /&gt;Tolong, Kim. Untuk yang kesekian ribu kalinya, aku mohon. Kabari aku. Apa pun itu. Aku sudah menelan rasa sakit dari rindu yang terbendung. Aku sudah membendung keraguan dari cinta yang tak jelas. Ternyata rindu itu menyakitkan dan aku sudah begitu lelah!&lt;br /&gt;Angin malam yang menerpa wajahnya yang basah terasa menggigit dingin. Cemara menghapus air matanya seiring dering telepon dan teriakan mama dari dalam.&lt;br /&gt;"Telepon, Ra!"&lt;br /&gt;Kalau itu dari Riko rasanya dia belum siap menerimanya. Tapi Mama tentu tidak mau tahu.&lt;br /&gt;"Apa kabar, Peannut?"&lt;br /&gt;Peannut?! Suara itu dan satu-satunya orang yang memanggilnya begitu adalah....&lt;br /&gt;"Kim?!"&lt;br /&gt;Cemara gemetar menyebut nama itu. Setelah dua tahun?&lt;br /&gt;"Ya, kalau memang masih ada nama itu di kepalamu!"&lt;br /&gt;"Tentu saja, bodoh!" desisnya. Rasa senang yang meluap membuat matanya basah. "Dan aku berharap bisa memarahimu segera. Kamu dimana?"&lt;br /&gt;"Masih di Maumere."&lt;br /&gt;Cemara tertegun sesaat. Segera membuang jauh-jauh angan yang sudah memenuhi kepalanya tadi. Ternyata jarak masih saja menghalangi!&lt;br /&gt;"Katakan saja ada kabar apa?" ujarnya hampir menangis.&lt;br /&gt;Sesaat sunyi.&lt;br /&gt;"Kamu menelepon bukan untuk mengatakan kalau kamu kangen aku, kan?" suara Cemara pelan dan ragu.&lt;br /&gt;Masih sunyi. Sesaat kemudian agak tersendat karena ragu terdengar suara Kim.&lt;br /&gt;"Ara, seandainya pun aku mengatakan itu, kamu masih percaya?"&lt;br /&gt;"Tentu aja nggak!"&lt;br /&gt;"Ya, aku tahu. Aku salah." Terdengar Kim menarik napas berat. "Sudah ada seseorang di sana, Ra?"&lt;br /&gt;Gila! Cemara merutuk. Bahkan memikirkannya pun tidak. Oh, ingin sekali ia marah dan memaki. Ingin juga ditumpahkannya segala tanya yang selama ini mengganggunya. Tapi kemana kalimat-kalimat yang tersusun kala ia menatap bintang-bintang di langit itu?&lt;br /&gt;"Ara, maafkan aku...."&lt;br /&gt;"Untuk menelantarkan aku selama ini? Tanpa kabar apa pun?"&lt;br /&gt;"Ara? Kamu...? Kamu selalu menungguku?"&lt;br /&gt;"Kim! Tentu saja! Dan seperti janji kamu dulu, tentang bintang-bintang itu! Kamu lupa? Kamu bahkan nggak ingat kata-kata kamu sendiri!"&lt;br /&gt;"Salah, Ara!"&lt;br /&gt;"Salah? Oh, kalau saja aku ingat makian apa yang sudah kususun sejak dulu! Oke, Kim. Kuberikan kesempatan kamu untuk bela diri!"&lt;br /&gt;"Ara, kalau saja kamu tahu bahwa selama ini aku begitu tersiksa. Selama ini aku berjuang melupakan kamu. Selama ini mati-matian aku mengubur segala kenangan kita. Tahu kenapa? Karena kupikir jarak yang membentang itu akan menyurutkan segala rasa yang ada di hatimu. Kupikir waktu akan pelan-pelan mengikisnya dan membuatmu melupakan aku seiring dengan datangnya orang lain. Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi menghubungimu dari pada aku harus mendengar kalau kamu sudah punya yang lain. Aku menghilang di sini. Mencoba menenggelamkan diri dan mengubur semua. Dan ternyata aku gagal," ujar Kim bertubi-tubi.&lt;br /&gt;Cemara tertegun.&lt;br /&gt;"Aku masih dan selalu ingat kamu. Hanya saja aku tidak punya keyakinan bahwa kisah kita akan berlanjut terus."&lt;br /&gt;"Kenapa, Kim?"&lt;br /&gt;"Karena aku nggak mungkin kembali ke sana, Ara. Hidup dan masa depanku di sini. Ya, ada banyak alasan kenapa kulakukan ini. Menghilang dan mengubur semua tentang kita."&lt;br /&gt;"Jadi..., apa maksud kamu menelepon?"&lt;br /&gt;"Aku terlalu lelah. Aku cuma ingin mendengar suaramu. Sebentar saja. Dan setelah ini semoga aku kuat...."&lt;br /&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;"Sekali lagi maafkan aku. Lupakan aku."&lt;br /&gt;Cemara membanting teleponnya. Dia menghambur ke kamar dan tersedu di bantalnya. Ribuan caci maki melompat di sela tangisnya. Inikah hadiah dari penantiannya selama ini? Nana benar. Cowok itu sudah nyebur ke laut dan dimakan hiu! Terlalu pengecut!&lt;br /&gt;Cemara menengadah. Lewat jendela yang terbuka dapat dilihatnya bintang-bintang. Tentang kata-kata Kim yang omong kosong semua!&lt;br /&gt;"Telepon, Ra!"&lt;br /&gt;Cemara enggan beranjak. Tapi Mama terus memanggilnya. Semoga bukan Kim lagi!&lt;br /&gt;"Ini aku!"&lt;br /&gt;Riko!&lt;br /&gt;"Maaf mengganggu malammu. Tapi saat ini aku sedang di teras dan melihat banyak bintang. Bagus banget, Ra. Coba kamu keluar dan lihatlah! Pilih salah satu yang paling terang dan indah menurutmu. Barangkali aja pilihan kita sama!"&lt;br /&gt;Mata Cemara semakin basah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8782558404027311364-2577536355839543367?l=www.naga-sari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.naga-sari.co.cc/feeds/2577536355839543367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/yang-tak-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2577536355839543367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8782558404027311364/posts/default/2577536355839543367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.naga-sari.co.cc/2009/07/yang-tak-bisa.html' title='Yang Tak Bisa'/><author><name>Chimeng</name><uri>htt
